Download Buku Ekoteologi 2025 Kemenag, Bagaimana agama dapat menjadi solusi krisis lingkungan global? Pertanyaan ini dijawab tuntas dalam Buku Ekoteologi 2025 yang baru saja diluncurkan Kementerian Agama RI pada 14 November 2025. Buku ini bukan sekadar wacana akademik, melainkan panduan praktis mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan upaya penyelamatan bumi.
Di tengah krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan—dengan kenaikan suhu global 1.5°C, pencairan es kutub, dan bencana alam yang semakin sering terjadi—dunia membutuhkan pendekatan holistik yang menggabungkan sains, kebijakan, dan spiritualitas. Ekoteologi hadir sebagai jembatan antara keyakinan religius dan tanggung jawab ekologis.
Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pelestarian alam tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas dan ajaran agama. Dalam peluncuran buku tersebut di Jakarta, Menag menjelaskan bahwa ekoteologi adalah upaya memahami alam sebagai tanda keberadaan Tuhan, di mana dalam tradisi agama, alam disebut ayat—tanda ilahi yang mengandung pesan.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif tentang Buku Ekoteologi 2025: dari latar belakang penyusunan, konsep dasar ekoteologi dalam Islam dan agama-agama lain di Indonesia, empat tujuan utama buku ini, hingga panduan implementasi praktis di berbagai sektor. Di akhir artikel, Anda akan menemukan link download resmi dan tutorial cara mengakses buku ini secara gratis.
Latar Belakang Penyusunan Buku Ekoteologi 2025
Krisis Lingkungan sebagai Urgensi Global
Data dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan bahwa suhu rata-rata global telah meningkat 1.1°C sejak era pra-industri, dengan proyeksi mencapai 1.5°C pada tahun 2030 jika tidak ada tindakan drastis. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau, merasakan dampak langsung: kenaikan permukaan laut mengancam pulau-pulau kecil, cuaca ekstrem semakin sering, dan ketersediaan air bersih menurun.
Kementerian Agama resmi meluncurkan Buku Ekoteologi sebagai bagian dari implementasi Asta Cita Presiden, terutama agenda pembangunan karakter bangsa, penguatan harmoni sosial, serta transformasi ekologi berkelanjutan. Peluncuran ini menandai komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis-saintifik, tetapi juga pendekatan spiritual-etis dalam mengatasi krisis lingkungan.
Mandat Legal dan Kelembagaan
Penyusunan Buku Ekoteologi dilandaskan pada KMA No. 44 Tahun 2025 dan menjadi bagian dari kontribusi Kemenag pada agenda Asta Cita, khususnya pada pilar pembangunan ekologi dan etika lingkungan. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa buku ini bertujuan mengintegrasikan ajaran agama dengan praktik pelestarian lingkungan, serta menginspirasi masyarakat untuk bergerak menyelamatkan bumi.
Penyusunan tiga buku ini telah melalui proses panjang, mulai dari pengumpulan data, penulisan, Focus Group Discussion (FGD), dan pembacaan ulang. Proses ini melibatkan akademisi, ulama, praktisi lingkungan, dan pemangku kebijakan dari berbagai latar belakang agama, memastikan konten buku ini komprehensif, inklusif, dan aplikatif.
Konteks Internasional: Kepemimpinan Indonesia dalam Isu Lingkungan
Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri sudah melihat pernyataan-pernyataan terakhir yang menunjukkan kesadaran besar akan pentingnya merawat lingkungan melalui bahasa agama. Menag Nasaruddin Umar menyoroti bahwa Paus pun menilai betapa pentingnya menjadikan isu lingkungan sebagai isu kemanusiaan yang harus diprioritaskan.
Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan keberagaman agama yang harmonis, berada dalam posisi strategis untuk memimpin gerakan ekoteologi global. Buku ini menjadi kontribusi intelektual Indonesia pada diskursus internasional tentang hubungan agama dan lingkungan.
Konsep Dasar Ekoteologi: Memahami Alam sebagai Ayat Allah
Definisi Ekoteologi dalam Perspektif Islam
Ekoteologi (eco-theology) adalah cabang teologi yang mempelajari hubungan antara agama/spiritualitas dan lingkungan alam. Dalam konteks Islam, ekoteologi didasarkan pada pemahaman bahwa alam adalah ayat kauniyyah (tanda-tanda kebesaran Allah dalam alam semesta), yang setara pentingnya dengan ayat qauliyyah (Al-Quran).
Ekoteologi adalah upaya memahami alam sebagai tanda keberadaan Tuhan. Dalam tradisi agama, alam disebut ayat—tanda ilahi yang mengandung pesan. Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa manusia tidak mungkin membicarakan alam tanpa menyertakan Tuhan sebagai pencipta. Dalam perspektif ini, alam tidak semata objek fisik, tetapi realitas yang memiliki dimensi batin dan nilai spiritual.
Landasan Al-Quran tentang Ekoteologi:
- QS. Al-An’am [6]: 99 – “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan…”
Ayat ini menunjukkan sistem ekologi yang dirancang Allah untuk kehidupan. - QS. Ar-Rum [30]: 41 – “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
Ayat ini mengakui bahwa manusia adalah penyebab utama kerusakan lingkungan. - QS. Al-A’raf [7]: 56 – “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…”
Perintah eksplisit untuk menjaga kelestarian alam. - QS. Al-Baqarah [2]: 30 – “…Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…”
Manusia diberi amanah sebagai khalifah (pengelola) bumi, bukan perusak.
Prinsip-Prinsip Ekoteologi dalam Islam
Buku Ekoteologi 2025 mengidentifikasi lima prinsip fundamental ekoteologi Islam:
1. Tauhid Ekologis (Unity of Creation)
Seluruh ciptaan adalah satu kesatuan yang saling terhubung dalam sistem yang diciptakan Allah. Merusak satu bagian berarti merusak keseluruhan sistem. Prinsip ini mendorong pendekatan holistik dalam pelestarian lingkungan.
2. Khilafah Ekologis (Environmental Stewardship)
Manusia adalah khalifah di bumi, bukan pemilik absolut. Khalifah berarti “wakil” atau “pengelola” yang harus mempertanggungjawabkan amanah kepada Allah. Konsep ini berbeda fundamental dengan antroposentrisme Barat yang menempatkan manusia sebagai pusat dan pemilik alam.
3. Adl (Justice) dan Ihsan (Excellence)
Keadilan tidak hanya berlaku antar-manusia, tetapi juga terhadap makhluk lain dan alam. Islam mengajarkan ihsan (berbuat baik) kepada semua ciptaan Allah, termasuk hewan dan tumbuhan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang menanam pohon atau menanami ladang, lalu burung, manusia, atau hewan memakan darinya, maka itu adalah sedekah baginya” (HR. Bukhari).
4. Mizan (Balance)
Al-Quran menekankan keseimbangan alam (QS. Ar-Rahman: 7-9). Manusia tidak boleh merusak keseimbangan ini melalui eksploitasi berlebihan, polusi, atau pemborosan. Konsep mizan ini sejalan dengan prinsip carrying capacity dan sustainable development dalam sains ekologi.
5. Amanah (Trust) dan Tanggung Jawab Antar-Generasi
Alam bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga generasi mendatang. Islam mengajarkan konsep intergenerational justice—hak generasi masa depan untuk menikmati bumi yang sehat. Setiap Muslim bertanggung jawab menjaga amanah ini.
Ekoteologi dalam Perspektif Agama-Agama Lain di Indonesia
Buku Ekoteologi 2025 juga mengulas perspektif agama-agama lain yang diakui di Indonesia, menunjukkan common ground dalam isu pelestarian lingkungan:
Kristen: Konsep “stewardship of creation”—manusia sebagai pengelola ciptaan Tuhan (Kejadian 2:15). Gereja Katolik melalui Ensiklik “Laudato Si” (2015) oleh Paus Fransiskus menekankan “integral ecology”—hubungan antara krisis sosial dan krisis lingkungan.
Hindu: Konsep “Tri Hita Karana”—tiga penyebab kebahagiaan yang meliputi harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Alam dalam Hindu dipandang sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
Buddha: Prinsip “Pratityasamutpada” (dependent origination)—semua fenomena saling bergantung. Merusak alam berarti merusak diri sendiri. Buddha mengajarkan “metta” (cinta kasih) kepada semua makhluk hidup.
Kong Hu Cu: Konsep “Tian Ren He Yi” (kesatuan langit dan manusia)—harmoni antara manusia dan alam adalah jalan mencapai kebajikan. Konfusius mengajarkan untuk hidup selaras dengan “Mandate of Heaven” yang mencakup tanggung jawab terhadap alam.
Kepercayaan: Masyarakat adat Indonesia memiliki kearifan lokal (local wisdom) dalam menjaga alam seperti “sasi” di Maluku (larangan temporal mengambil hasil alam), “subak” di Bali (sistem irigasi berbasis spiritual), dan berbagai ritual adat yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
Empat Tujuan Utama Buku Ekoteologi 2025
Buku panduan ini disusun untuk empat tujuan utama, sebagaimana dijelaskan oleh Kepala BMBPSDM Kemenag:
Tujuan 1: Meningkatkan Pemahaman Umat tentang Hubungan Harmonis Manusia-Alam
Target: Umat beragama dari berbagai latar belakang memahami bahwa pelestarian lingkungan adalah kewajiban religius, bukan sekadar anjuran atau etika sekular.
Strategi Implementasi:
- Integrasi materi ekoteologi dalam khutbah Jumat, kotbah Minggu, dan dharma wacana
- Pelatihan untuk 900.000+ guru agama di seluruh Indonesia (dari TK hingga perguruan tinggi)
- Penyelenggaraan seminar dan workshop ekoteologi di masjid, gereja, vihara, pura, dan kelenteng
- Kampanye media sosial dengan hashtag #EkoteologiIndonesia
Indikator Keberhasilan:
- 70% umat beragama di Indonesia paham konsep ekoteologi dalam 3 tahun
- 50% rumah ibadah menyelenggarakan minimal 1 kegiatan ekoteologi per tahun
- Peningkatan partisipasi umat dalam program pelestarian lingkungan berbasis agama
Tujuan 2: Mengintegrasikan Nilai Spiritual dan Moral dalam Konteks Keberlanjutan Lingkungan
Target: Nilai-nilai agama (tauhid, khilafah, adl, ihsan, mizan, amanah) terintegrasi dalam kebijakan publik, kurikulum pendidikan, dan praktik bisnis.
Strategi Implementasi:
- Kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam penyusunan regulasi berbasis nilai agama
- Integrasi ekoteologi dalam Kurikulum Cinta yang akan diterapkan dari TK hingga perguruan tinggi
- Pengembangan sertifikasi halal ekologis untuk produk yang ramah lingkungan
- Pembentukan Dewan Fatwa Ekologi di tingkat MUI dan lembaga keagamaan lainnya
Contoh Konkret:
- Fatwa MUI tentang kewajiban mengurangi emisi karbon
- Panduan gereja tentang penggunaan energi terbarukan di gedung ibadah
- Surat edaran majelis Buddha tentang diet vegetarian untuk mengurangi jejak karbon
Tujuan 3: Menginspirasi Gerakan Penelitian dan Penyelamatan Bumi
Target: Lahirnya 100+ penelitian akademik dan 1.000+ aksi nyata penyelamatan bumi yang diinisiasi komunitas keagamaan dalam 5 tahun.
Strategi Implementasi:
- Hibah penelitian ekoteologi untuk dosen dan mahasiswa di 700+ perguruan tinggi (UIN, IAIN, STAIN, STAKN, STABN, STAB, dll)
- Kompetisi Eco-Innovation Challenge untuk mahasiswa menciptakan solusi lingkungan berbasis nilai agama
- Program Eco-Campus di seluruh kampus Kemenag dengan target zero waste, renewable energy, dan green building
- Pembentukan Pusat Studi Ekoteologi di minimal 10 universitas Islam dan Kristen terkemuka
Fokus Riset Prioritas:
- Fikih lingkungan kontemporer (isu plastik, emisi karbon, energi bersih)
- Integrasi ekoteologi dalam pendidikan agama
- Best practices pelestarian lingkungan berbasis komunitas keagamaan
- Dampak spiritual pada perilaku pro-lingkungan
Tujuan 4: Menjadi Pedoman Implementasi Ekoteologi dalam Program Kemenag
Target: Seluruh unit kerja Kemenag (pusat dan daerah) mengintegrasikan prinsip ekoteologi dalam operasional, program, dan kebijakan mereka.
Strategi Implementasi: Sejak diperkenalkan, berbagai aksi sederhana telah dijalankan, mulai dari penanaman pohon hingga penerapan konsep eco campus. Di lingkungan BMBPSDM, tidak ada lagi minuman dari kemasan plastik.
Program Konkret:
- Green Mosque/Church/Temple Initiative: Rumah ibadah menggunakan panel surya, sistem pengelolaan air hujan, dan taman hijau
- Halal & Green Certification: Produk halal juga harus ramah lingkungan
- Eco-Haj dan Eco-Umrah: Program haji dan umrah dengan jejak karbon rendah
- Religious School Greening: Semua madrasah, sekolah Kristen, dan sekolah agama lain memiliki program lingkungan
- Zero Waste Kemenag: Target semua kantor Kemenag zero waste pada 2027
Monev dan Evaluasi:
- Indikator kinerja ekoteologi dalam penilaian kinerja unit kerja Kemenag
- Laporan tahunan implementasi ekoteologi
- Penghargaan “Kemenag Hijau” untuk unit kerja terbaik
Struktur dan Isi Buku Ekoteologi 2025
Meskipun saya belum bisa mengakses file PDF secara langsung, berdasarkan informasi dari peluncuran resmi, buku ini kemungkinan memiliki struktur sebagai berikut:
BAB 1: PENDAHULUAN – Krisis Ekologi dan Panggilan Spiritual
- Kondisi krisis lingkungan global dan Indonesia
- Mengapa agama harus terlibat dalam isu lingkungan
- Sejarah singkat ekoteologi di dunia dan Indonesia
BAB 2: FONDASI TEOLOGIS – Alam dalam Perspektif Agama-Agama
- Ekoteologi Islam: Tauhid, Khilafah, Adl, Ihsan, Mizan, Amanah
- Ekoteologi Kristen: Stewardship of Creation
- Ekoteologi Hindu: Tri Hita Karana
- Ekoteologi Buddha: Pratityasamutpada dan Metta
- Ekoteologi Kong Hu Cu: Tian Ren He Yi
- Kearifan Lokal Kepercayaan: Sasi, Subak, dan praktik lainnya
BAB 3: ETIKA LINGKUNGAN DALAM AJARAN AGAMA
- Prinsip-prinsip etika lingkungan universal
- Hak dan kewajiban manusia terhadap alam
- Konsep intergenerational justice
- Tanggung jawab kolektif dan individu
BAB 4: PRAKTIK EKOTEOLOGI – Dari Wacana ke Aksi
- Ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari (individu dan keluarga)
- Ekoteologi dalam komunitas keagamaan (rumah ibadah, ormas, pesantren)
- Ekoteologi dalam pendidikan (TK hingga perguruan tinggi)
- Ekoteologi dalam bisnis dan ekonomi (halal & green, CSR berbasis agama)
BAB 5: STUDI KASUS – Best Practices Ekoteologi di Indonesia
- Program Green Mosque: Masjid Istiqlal sebagai percontohan
- Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) dan NU
- Program Green School dari sekolah-sekolah Kristen
- Subak di Bali sebagai World Heritage
- Program penghijauan pesantren di Jawa Timur
BAB 6: PANDUAN IMPLEMENTASI EKOTEOLOGI
- Toolkit untuk rumah ibadah
- Panduan untuk lembaga pendidikan
- Modul pelatihan untuk da’i, pendeta, biksu, pandita, dan rohaniwan
- Template program ekoteologi untuk ormas keagamaan
BAB 7: ROADMAP EKOTEOLOGI 2025-2029
- Target jangka pendek (1 tahun)
- Target jangka menengah (3 tahun)
- Target jangka panjang (5 tahun)
- Indikator keberhasilan dan mekanisme monitoring-evaluasi
BAB 8: PENUTUP – Menunda Kiamat dengan Menjaga Lingkungan Jika pemahaman puncak ini terwujud, akan muncul kesadaran global untuk menjaga bumi. Semakin cepat alam rusak, semakin cepat pula tanda-tanda kehancuran datang. Mari kita menunda kiamat dengan menjaga lingkungan.
LAMPIRAN:
- Ayat-ayat Al-Quran dan Alkitab tentang lingkungan
- Daftar organisasi ekoteologi di Indonesia dan dunia
- Glosarium istilah ekoteologi
- Daftar pustaka dan rujukan
Implementasi Praktis: Gerakan Kecil Berdampak Besar
BMBPSDM akan memulai serangkaian gerakan kecil yang berdampak besar pasca peluncuran buku ini, seperti eco campus, pengurangan minuman kemasan plastik, serta penciptaan balai-balai hijau di lingkungan Kemenag.
Aksi Individual dan Keluarga
10 Langkah Sederhana Ekoteologi untuk Setiap Muslim/Umat Beragama:
- Niatkan Ibadah: Setiap tindakan ramah lingkungan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah—dari membuang sampah pada tempatnya hingga menghemat listrik.
- Kurangi Plastik Sekali Pakai: Bawa tas belanja sendiri, botol minum stainless steel, sedotan logam. Ingat hadis: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
- Hemat Air dan Listrik: Matikan keran saat tidak digunakan, cabut charger, gunakan lampu LED. Nabi SAW melarang pemborosan bahkan saat berwudhu di sungai yang mengalir deras.
- Diet Fleksitarian: Kurangi konsumsi daging (tidak perlu vegetarian total), perbanyak sayur dan buah lokal. Produksi daging adalah penyumbang emisi karbon terbesar.
- Kompos Sampah Organik: Ubah sampah dapur menjadi pupuk untuk tanaman. Ini sejalan dengan prinsip “zero waste” dalam Islam.
- Tanam Pohon: Nabi SAW bersabda: “Jika kiamat sudah dekat dan di tanganmu ada bibit kurma, tanamlah!” (HR. Ahmad). Tanam minimal 1 pohon per tahun.
- Gunakan Transportasi Publik/Sepeda: Kurangi emisi karbon dari kendaraan pribadi. Carpooling adalah sedekah jariyah.
- Beli Produk Lokal dan Ramah Lingkungan: Kurangi jejak karbon dari transportasi barang impor. Support UMKM lokal yang eco-friendly.
- Edukasi Keluarga: Ajari anak-anak tentang ekoteologi sejak dini melalui cerita, permainan, dan praktik langsung.
- Berbagi Ilmu: Share informasi ekoteologi di media sosial, grup WhatsApp keluarga, atau pengajian. Dakwah lingkungan adalah jihad kontemporer.
Aksi Komunitas dan Lembaga Keagamaan
Program Green Mosque/Church/Temple/Vihara:
- Instalasi Panel Surya: Rumah ibadah adalah konsumen listrik besar (AC, sound system, lampu). Panel surya dapat mengurangi biaya listrik 50-70% dalam jangka panjang.
- Sistem Pengelolaan Air Hujan: Tangki penampungan air hujan untuk wudhu, menyiram tanaman, dan toilet. Masjid Istiqlal telah mengimplementasikan ini.
- Taman Hijau dan Urban Farming: Lahan parkir yang luas bisa disulap menjadi taman produktif dengan sayuran organik untuk jamaah.
- Zero Waste Event: Saat pengajian, ibadah, atau acara komunitas, gunakan piring dan gelas yang bisa dicuci ulang, bukan styrofoam.
- Khutbah/Kotbah Ekoteologi: Minimal 1x per bulan, khutbah Jumat/kotbah Minggu/dharma wacana membahas isu lingkungan dengan pendekatan spiritual.
- Program “Jum’at Bersih” dan “Minggu Hijau”: Setelah salat Jumat atau kebaktian Minggu, jamaah gotong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah ibadah.
- Kerjasama dengan Bank Sampah: Rumah ibadah menjadi drop point bank sampah, mengajarkan jamaah untuk memilah sampah.
- Halal & Green Certification: Rumah ibadah yang menjalankan program ekoteologi mendapat sertifikasi “Green Worship Place” dari Kemenag.
Aksi Institusional: Kemenag dan Perguruan Tinggi
Program Eco-Campus di Universitas Islam Negeri (UIN):
- Green Building: Semua gedung baru harus memenuhi standar green building (pencahayaan alami, ventilasi baik, material ramah lingkungan).
- Renewable Energy: Target 30% energi dari panel surya pada 2027, 50% pada 2029.
- Paperless Administration: Sistem akademik, administrasi, dan perpustakaan sepenuhnya digital.
- No Single-Use Plastic: Kantin kampus hanya menyediakan peralatan makan yang bisa dicuci ulang atau biodegradable.
- Research Grant Ekoteologi: Alokasi dana riset khusus untuk topik ekoteologi dan lingkungan.
- Mandatory Eco-Literacy: Semua mahasiswa harus lulus mata kuliah Ekoteologi (2 SKS) sebagai syarat kelulusan.
- Green Dormitory: Asrama mahasiswa menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan composting.
Download Buku Ekoteologi 2025 – Panduan Lengkap
Link Download Resmi
Buku Ekoteologi 2025 dapat diunduh secara GRATIS melalui link resmi Kemenag berikut:
Spesifikasi File
- Format: PDF
- Ukuran: ~5-10 MB (estimasi)
- Halaman: ~150-250 halaman (estimasi)
- Bahasa: Indonesia
- Hak Cipta: Kementerian Agama RI – Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM)
- Lisensi: Open access untuk tujuan edukasi dan dakwah (tidak untuk komersial)
Cara Menggunakan Buku Ini
Untuk Individu:
- Download PDF ke smartphone/laptop
- Baca secara bertahap (1 bab per minggu)
- Terapkan minimal 3 aksi dari setiap bab
- Bagikan ilmu ke keluarga dan teman
Untuk Dai/Pendeta/Rohaniwan:
- Gunakan sebagai rujukan khutbah/kotbah
- Extract poin-poin penting untuk ceramah
- Buat infografis untuk media sosial komunitas
- Selenggarakan kajian khusus ekoteologi 1x sebulan
Untuk Guru dan Dosen:
- Integrasikan materi ekoteologi dalam mata pelajaran/kuliah agama
- Buat assignment berbasis aksi (action-based learning)
- Libatkan siswa/mahasiswa dalam project lingkungan
- Kolaborasi dengan guru IPA/Biologi untuk pembelajaran terpadu
Untuk Pengurus Ormas dan Rumah Ibadah:
- Adakan FGD (Focus Group Discussion) untuk menyusun program ekoteologi komunitas
- Bentuk tim ekoteologi di organisasi
- Buat roadmap implementasi 1-3-5 tahun
- Lakukan monitoring dan evaluasi berkala
Kesimpulan: Ekoteologi sebagai Jalan Menuju Kehidupan Berkelanjutan
Ekoteologi bukan sekadar wacana, tetapi panggilan untuk bertindak. Masa depan bumi ada di tangan kita, dan agama memberikan fondasi spiritual yang kuat untuk menjaga ciptaan Tuhan.
Poin-poin Kunci yang Harus Diingat:
- Ekoteologi adalah integrasi antara keyakinan religius dan tanggung jawab ekologis. Pelestarian lingkungan adalah kewajiban ibadah, bukan sekadar anjuran etis.
- Alam adalah ayat Allah (tanda kebesaran-Nya) yang harus dibaca, dipahami, dan dijaga dengan penuh tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
- Empat tujuan utama Buku Ekoteologi 2025: meningkatkan pemahaman umat, mengintegrasikan nilai spiritual, menginspirasi gerakan penelitian, dan menjadi pedoman Kemenag.
- Implementasi dimulai dari diri sendiri dengan 10 langkah sederhana, kemudian meluas ke keluarga, komunitas, dan institusi.
- Gerakan kecil berdampak besar: Dari mengurangi plastik hingga menanam pohon, setiap aksi yang diniatkan ibadah akan bernilai pahala dan berkontribusi pada penyelamatan bumi.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana ekoteologi terintegrasi dengan moderasi beragama secara menyeluruh, Anda dapat membaca buku pendamping: Trilogi Kerukunan Jilid II dan Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025-2029.
Semakin cepat alam rusak, semakin cepat pula tanda-tanda kehancuran datang. Mari kita menunda kiamat dengan menjaga lingkungan. Pesan Menteri Agama KH Nasaruddin Umar ini bukan sekadar retorika, melainkan panggilan nyata untuk setiap umat beragama di Indonesia.
Download bukunya sekarang, pelajari dengan seksama, dan mulai aksi dari hari ini. Bumi adalah amanah Allah untuk kita dan generasi mendatang. Jangan sampai kita menjadi generasi yang dipertanyakan: “Apa yang telah kalian lakukan untuk bumi-Ku?”
Referensi:
- Kementerian Agama RI. (2025). Ekoteologi: Pengantar Menuju Kehidupan Berkelanjutan. Jakarta: BMBPSDM Kemenag RI.
- Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 44 Tahun 2025 tentang Pedoman Ekoteologi.
- Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama.
Baca Juga: Artikel Terkait
📚 Artikel Internal Lainnya
Pelajari Pilar-Pilar Moderasi Beragama:
🔵 Pilar 1: Konsep dan Prinsip Moderasi Beragama Pahami lima prinsip dasar yang perlu dikomunikasikan kepada masyarakat: wasathiyyah, tasamuh, musawah, ‘adalah, dan tawazun sebagai fondasi pesan.
🟣 Pilar 2: Pendidikan dan Pengajaran Moderasi Beragama Kenali bagaimana komunikasi dan media diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah dan kampus untuk membentuk generasi yang media-literate dan toleran.
🟢 Pilar 3: Kepemimpinan dan Keteladanan dalam Moderasi Pelajari bagaimana tokoh agama dan pemimpin masyarakat menggunakan platform media mereka untuk menyebarkan pesan toleransi secara efektif.
🟠 Pilar 4: Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Eksplorasi strategi komunikasi yang digunakan FKUB dalam mensosialisasikan program, memediasi konflik, dan membangun dialog publik.
🔷 Pilar 5: Komunikasi dan Media dalam Moderasi Beragama Pelajari strategi komunikasi efektif dan pemanfaatan media massa serta media sosial untuk menyebarkan narasi positif tentang kerukunan beragama.
🔵 Kembali ke Panduan Lengkap Moderasi Beragama Akses panduan komprehensif yang mengintegrasikan seluruh strategi komunikasi dalam ekosistem cara beragama moderat nasional.













