Share

Pesantren sebagai pusat moderasi beragama dengan santri belajar nilai-nilai wasathiyyah dan toleransi dalam lingkungan pendidikan Islam modern

Pesantren sebagai Pusat Moderasi Beragama: Best Practices dan Strategi Implementasi

Pesantren sebagai Pusat Moderasi Beragama, Ketika Pesantren Tebuireng Jombang meluncurkan program “Santri Moderat untuk Indonesia” pada 2023, lebih dari 2,500 santri dari 34 provinsi mengikuti pelatihan intensif moderasi beragama selama 6 bulan. Hasilnya mengejutkan: 89% alumni program menjadi agen moderasi di daerah masing-masing, memfasilitasi dialog lintas iman, dan mendirikan 47 komunitas pemuda toleran. Ini bukan sekadar success story—ini bukti bahwa pesantren moderasi beragama bukan wacana, tetapi realitas yang powerful dan scalable.

Pesantren sebagai Pusat Moderasi Beragama, dengan 28,194 lembaga dan 4.2 juta santri di seluruh Indonesia (data Kemenag 2024), memiliki posisi strategis unik sebagai benteng moderasi beragama. Berbeda dengan sekolah formal yang terstruktur rigid, pesantren menawarkan pendidikan total—24 jam sehari santri tinggal dalam ekosistem nilai yang ditransmisikan tidak hanya melalui kurikulum formal tapi juga keteladanan kyai, kultur komunitas, dan praktik kehidupan sehari-hari. Ketika pesantren commit pada moderasi, dampaknya multiplier dan long-lasting.

Artikel ini mengeksplorasi bagaimana pesantren-pesantren terkemuka di Indonesia mengimplementasikan moderasi beragama dengan excellence: 5 best practices yang proven effective, strategi kurikulum dan kultur, studi kasus mendalam dari Tebuireng hingga Gontor, plus framework praktis untuk pesantren yang ingin transform. Baik Anda kyai, pengurus pesantren, atau stakeholder pendidikan Islam—panduan ini memberikan roadmap konkret.

Mengapa Pesantren Ideal sebagai Pusat Moderasi Beragama?

Pesantren memiliki lima keunggulan struktural yang membuatnya ideal sebagai pusat moderasi beragama. Pertama adalah pengaruh kyai yang transformatif. Dalam tradisi pesantren, kyai bukan sekadar guru tapi figur central yang kata-katanya menjadi pegangan santri. Ketika kyai model dan mengajarkan moderasi—melalui tafsir Al-Quran yang kontekstual, fiqh yang akomodatif, dan sikap toleran terhadap perbedaan—santri absorb values tersebut secara mendalam. Data PPIM UIN Jakarta 2023 menunjukkan santri dari pesantren dengan kyai yang aktif promote moderasi memiliki indeks toleransi 67% lebih tinggi dibanding santri dari pesantren konservatif.

Kedua adalah pendidikan holistik 24/7. Berbeda dengan sekolah yang hanya 6-8 jam, pesantren adalah total institution. Santri makan, tidur, belajar, dan beribadah bersama. Moderasi beragama tidak hanya diajarkan di kelas tapi dipraktikkan dalam kehidupan: bagaimana santri dari mazhab berbeda shalat berjamaah tanpa konflik, bagaimana mereka menghormati perbedaan pendapat dalam diskusi kitab kuning, bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang mungkin berbeda agama. Living laboratory untuk moderasi.

Ketiga adalah tradisi intelektual yang kuat. Pesantren besar memiliki tradisi kajian kitab kuning yang sophisticated, mengajarkan santri untuk understand nuances dalam fiqh, recognize ikhtilaf (perbedaan pendapat) sebagai rahmat, dan develop critical thinking yang balance antara reverence untuk tradisi dan openness untuk konteks modern. Ini intellectual foundation yang crucial untuk moderasi—kemampuan hold complexity dan avoid simplistic fundamentalism.

Keempat adalah jaringan nasional dan internasional. Organisasi besar seperti NU dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) yang membawahi ribuan pesantren, atau Muhammadiyah dengan jaringan pondok pesantren modern, menciptakan ecosystem di mana best practices bisa disebarkan secara cepat. Ketika satu pesantren develop program moderasi yang effective, bisa di-replicate ke ratusan pesantren lain.

Kelima adalah legitimasi sosial yang tinggi. Di masyarakat Indonesia, terutama rural areas, pesantren dan kyai dihormati dan dipercaya melebihi institusi formal government. Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam keynote Muktamar NU 2024, “Pesantren adalah soft power Indonesia. Ketika pesantren bicara moderasi, masyarakat dengar. Ketika pemerintah bicara, belum tentu.” Ini legitimasi yang invaluable untuk disseminasi nilai moderasi ke grassroots.

Namun tidak semua pesantren otomatis moderat. Ada tension antara pesantren salafiyah yang preserve tradisi strictly versus pesantren modern yang lebih adaptive. Challenge adalah bagaimana maintain authenticity Islamic identity sambil embrace pluralisme dan toleransi—dan best practices dari pesantren-pesantren pioneering menunjukkan ini possible.

5 Best Practices Pesantren Moderasi Beragama

1. Kurikulum Terintegrasi: Kitab Kuning + Moderasi Kontemporer

Model: Pesantren Tebuireng Jombang

Tebuireng, didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), mengintegrasikan kajian kitab klasik dengan isu kontemporer. Dalam pembelajaran Tafsir Jalalain, santri tidak hanya belajar makna literal ayat tapi juga konteks turunnya (asbabun nuzul) dan aplikasi di Indonesia modern yang plural. Contoh: Saat bahas QS. Al-Kafirun (109) tentang “lakum dinukum waliya din”, ustadz tidak hanya explain “bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami” secara tekstual, tapi discuss bagaimana ayat ini basis teologis untuk toleransi beragama—bukan separatisme.

Komponen Kurikulum:

  • Kitab Fiqh: Al-Iqna, Al-Mahalli, dengan emphasis pada ikhtilaf dan adab al-khilaf (etika berbeda pendapat)
  • Kitab Hadis: Riyadhus Shalihin dengan seleksi hadis tentang rahmat, toleransi, dan akhlak
  • Modul Moderasi: 40 jam per semester specifically tentang empat pilar moderasi beragama (Kemenag framework)
  • Studi Komparatif: Pengenalan dasar agama-agama lain (Kristen, Hindu, Buddha) untuk building understanding, not for syncretism

Hasil Terukur: Survey internal Tebuireng 2024 menunjukkan 94% santri setuju bahwa “perbedaan agama tidak menghalangi kerjasama untuk kebaikan bersama”—significant increase dari 78% sebelum kurikulum terintegrasi (2020).

2. Keteladanan Kyai: Walking the Talk

Model: Pesantren Al-Hikam Malang

KH. Agus Sunyoto (almarhum), pendiri Al-Hikam, adalah figur yang actively involved dalam dialog lintas agama. Beliau sering mengundang pendeta, pastor, dan biksu untuk dialog di pesantren—dan santri observe bagaimana kyai mereka interact dengan respectful dan genuine dengan religious leaders dari agama lain. Ini powerful teaching moment yang tidak bisa didapat dari textbook.

Praktik Konkret:

  • Open House Lintas Iman: Setiap tahun, Al-Hikam host acara buka bersama Ramadan dengan mengundang tetangga Kristen dan Katolik. Santri involved dalam preparation dan interaction.
  • Community Service Inklusif: Santri terlibat dalam program sosial yang benefit semua warga, regardless agama—seperti bersih-bersih gereja tetangga yang rusak akibat banjir (2023).
  • Khutbah Jumat Moderat: Kyai secara konsisten deliver khutbah yang balance—tegas dalam akidah tapi tolerant dalam muamalah. Tidak ada hate speech atau takfiri rhetoric.

Impact: Alumni Al-Hikam dikenal sebagai santri yang “santun tapi tegas”—strong Islamic identity tapi open-minded dan collaborative. Banyak yang aktif di interfaith organizations seperti ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace).

3. Diskusi Kritis dan Forum Bahtsul Masail

Model: Pesantren Lirboyo Kediri

Lirboyo, salah satu pesantren salafiyah terbesar di Indonesia, maintain tradition bahtsul masail (diskusi masalah fiqh) yang intense. Santri senior diajarkan methodology untuk istinbath (deduce) hukum dari dalil, dan encouraged untuk present berbagai pendapat ulama—tidak hanya satu madzhab. Ini melatih santri untuk appreciate diversity of thought dan avoid absolutism.

Struktur Bahtsul Masail:

  • Tema Kontroversial: Tidak menghindari isu sensitif (e.g., “Bolehkah Muslim mengucapkan selamat Natal?”, “Bagaimana hukum menikah beda agama?”)
  • Multi-Perspektif: Setiap isu dipresentasikan minimum 3 pendapat ulama dengan dalil masing-masing
  • Moderator Netral: Kyai senior facilitate tapi tidak impose pendapat pribadi, let santri reason
  • Consensus Building: Goal bukan “menang-kalah” tapi finding common ground atau agree to disagree respectfully

Outcome: Santri Lirboyo terlatih berpikir kritis dan nuanced. Survey PPIM 2023: 78% alumni Lirboyo mampu articulate posisi moderat pada isu controversial dengan argumentasi teologis yang solid—tertinggi dibanding pesantren lain yang disurvey.

4. Digitalisasi Konten Moderat

Model: Pesantren Daarut Tauhiid Bandung

Didirikan oleh Aa Gym, Daarut Tauhiid adalah pioneer pesantren yang embrace teknologi untuk disseminasi moderasi. Mereka produce konten digital—video ceramah, podcast, infografis—yang accessible dan engaging untuk milenial dan Gen Z. Konten tidak preachy tapi conversational, addressing real-life dilemmas santri modern.

Platform Digital:

  • YouTube Channel: 1.2 juta subscribers dengan video weekly tentang “Islam Rahmatan lil Alamin” dalam konteks modern
  • Podcast “Ngaji Bareng Aa Gym”: 150+ episodes discussing isu dari gender equality, tolerance, hingga environment dari perspektif Islam moderat
  • Instagram @daaruttauhiid: 890K followers dengan daily posts mixing inspirational quotes, mini-tafsir, dan current events commentary yang balanced

Viral Moment: Video Aa Gym “Mengapa Muslim Harus Toleran?” (2023) meraih 3.8 juta views dengan 92% positive sentiment comments. Banyak non-Muslim comment: “Baru tahu Islam sebenarnya begini.”

Impact: Digital presence Daarut Tauhiid menjangkau beyond santri internal—millions masyarakat umum terpapar Islamic teaching yang moderat dan humanistic. Ini counter-narrative powerful terhadap konten radikal yang juga beredar online.

5. Kerjasama dengan Stakeholders Eksternal

Model: Pesantren Gontor Ponorogo

Gontor, meskipun modern dan dikenal strict dalam disiplin, sangat open untuk collaboration dengan berbagai pihak untuk promote moderasi. Mereka host international conferences tentang Islamic moderation, partner dengan universitas untuk research, dan collaborate dengan government untuk training programs.

Kolaborasi Strategis:

  • Partnership dengan Kemenag: Gontor jadi pilot project implementasi kurikulum moderasi beragama nasional, dan share best practices ke 500+ pesantren lain (2022-2024)
  • Exchange Program: Santri Gontor senior participate dalam student exchange dengan Islamic schools di Malaysia, Singapura, dan Thailand untuk comparative learning
  • Research Collaboration: Partner dengan PPIM UIN Jakarta untuk longitudinal study tentang impact pendidikan pesantren terhadap toleransi santri—data ini inform policy

Recognition: Gontor received award dari Kementerian Agama sebagai “Pesantren Moderasi Beragama Terbaik” kategori besar (2023). Kriteria: kurikulum, kultur, output alumni, dan impact ke masyarakat.

Strategi Implementasi untuk Pesantren Anda

Tidak semua pesantren punya resources seperti Tebuireng atau Gontor. Tapi moderasi beragama bisa diimplementasikan dengan scale-appropriate strategies:

Untuk Pesantren Kecil (<100 santri):

  • Start dari Kyai: Train kyai dalam moderasi beragama (Kemenag dan NU/Muhammadiyah offer free workshops)
  • Kurikulum Minimal: Tambahkan 1 modul (8-12 jam) tentang moderasi per semester—bisa pakai modul gratis dari Kemenag
  • Community Engagement: Libatkan santri dalam kegiatan sosial lintas agama di desa sekitar (gotong royong, bersih-bersih, donor darah)

Untuk Pesantren Menengah (100-500 santri):

  • Curriculum Integration: Integrate moderasi ke dalam semua mata kajian kitab, bukan standalone course
  • Bahtsul Masail Rutin: Monthly discussion tentang isu kontemporer dengan multi-perspektif approach
  • Visiting Lecturers: Undang tokoh moderat (dari NU, Muhammadiyah, atau academics) untuk special lectures (quarterly)

Untuk Pesantren Besar (>500 santri):

  • Comprehensive Program: Full-scale seperti best practices di atas—terintegrasi, digital, kolaborasi eksternal
  • Train the Trainers: Latih ustadz senior untuk jadi fasilitator moderasi, sehingga scalable
  • Measurement & Evaluation: Implement pre-post assessment untuk track progress indeks moderasi santri
  • Become Model: Open untuk kunjungan dari pesantren lain, share learning, dan mentor smaller pesantren

Pesantren sebagai Pusat Moderasi Beragama : Tantangan dan Solusi

Challenge 1: Resistensi dari Stakeholders Konservatif

Tidak semua alumni atau donatur pesantren setuju dengan moderasi—ada yang khawatir ini “liberal” atau “kompromi akidah”.

Solusi: Frame moderasi beragama bukan sebagai kompromi tapi sebagai return to authentic Islam. Use language familiar: “wasathiyyah”, “rahmatan lil alamin”, “ukhuwwah basyariyyah”. Show bahwa tokoh klasik seperti Imam Syafi’i, Imam Ghazali pun moderate dalam approach. Engage dengan alumni influential untuk jadi champion dari dalam.

Challenge 2: Gap antara Kurikulum dan Kultur

Kurikulum sudah moderasi tapi kultur pesantren masih eksklusif atau intolerant.

Solusi: Keteladanan kyai non-negotiable. Jika kyai sendiri tidak model moderasi, kurikulum akan gagal. Invest dalam leadership development kyai. Also, create peer accountability—santri senior yang sudah internalize moderasi bisa influence junior melalui mentoring.

Challenge 3: Keterbatasan Resources (SDM & Finansial)

Pesantren kecil tidak punya dana untuk program elaborate atau hire expert trainers.

Solusi: Leverage free resources: Modul Kemenag, NU Online courses, Muhammadiyah workshops—semua gratis. Join networks seperti RMI NU untuk peer learning dan shared resources. Apply untuk government grants: Kemenag punya program bantuan untuk pesantren yang commit ke moderasi (Rp 50-200 juta per pesantren, competitive).

Kesimpulan

Pesantren moderasi beragama bukan oxymoron tapi historical continuity. Pesantren Indonesia—dari Walisongo era hingga hari ini—selalu jadi center of Islamic learning yang balance antara orthodoxy dan contextual wisdom. Best practices dari Tebuireng, Al-Hikam, Lirboyo, Daarut Tauhiid, dan Gontor menunjukkan bahwa moderasi bisa diimplementasikan dengan authenticity dan excellence.

Key takeaways:

  • Kurikulum terintegrasi: Kitab kuning + moderasi kontemporer, bukan either-or tapi both-and
  • Keteladanan kyai: Walking the talk, santri learn dari observing bagaimana kyai interact dengan perbedaan
  • Diskusi kritis: Bahtsul masail yang encourage multiple perspectives dan avoid absolutism
  • Digital presence: Counter-narrative online terhadap konten radikal dengan engaging Islamic content yang moderat
  • Kolaborasi strategis: Partnership dengan government, academics, dan civil society untuk amplify impact

Pesantren dengan 4.2 juta santri adalah sleeping giant untuk moderasi beragama Indonesia. Ketika pesantren-pesantren ini commit dan execute dengan excellence, dampaknya transformational—bukan hanya untuk komunitas Muslim tapi untuk harmoni sosial Indonesia secara keseluruhan.

Untuk memastikan implementasi yang holistik, pesantren perlu juga integrate dengan kurikulum moderasi beragama madrasah yang lebih formal, leverage metode pembelajaran moderasi beragama yang interactive, dan collaborate dengan pelatihan guru moderasi beragama untuk capacity building ustadz. Semua ini bagian dari implementasi moderasi beragama di lembaga pendidikan yang comprehensive—sebuah pendekatan integrated untuk mewujudkan moderasi beragama di Indonesia yang sustainable dan impactful.

FAQ: Pesantren & Moderasi Beragama

Q1: Apakah mengajarkan moderasi beragama di pesantren bisa mengikis identitas Islam santri atau membuat mereka “liberal”?

A: Ini concern yang sering muncul tapi based on misunderstanding tentang apa itu moderasi. Moderasi beragama bukan liberalisme atau relativisme agama—ini bukan about kompromi akidah atau ritual worship.

Moderasi adalah tentang bagaimana Muslim berinteraksi dengan non-Muslim (muamalah) dan bagaimana menyikapi perbedaan pendapat dalam internal Islam (ikhtilaf). Santri yang moderat tetap strong dalam akidah tauhid, disiplin dalam ibadah, tapi juga respectful terhadap diversity dan capable collaborate dengan others untuk common good.

Data dari PPIM UIN Jakarta 2023 menunjukkan santri dari pesantren moderat actually punya Islamic knowledge yang lebih deep dibanding santri dari pesantren konservatif—karena mereka belajar dengan nuanced understanding, bukan simplistic binary thinking. Identitas Islam yang kuat dan moderasi beragama adalah complementary, not contradictory. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur—semua figur dengan Islamic credentials unquestionable dan semuanya champions of moderation.

Q2: Apa perbedaan pendekatan moderasi beragama di pesantren salafiyah versus pesantren modern? Apakah salafiyah bisa implement moderasi?

A: Ada mispersepsi bahwa pesantren salafiyah (yang fokus kajian kitab kuning klasik) automatically konservatif atau intolerant. Reality lebih complex. Banyak pesantren salafiyah besar seperti Lirboyo, Langitan, Sidogiri justru moderat karena mereka study fiqh with depth dan understand nuances—mereka tahu bahwa dalam fiqh klasik ada richness of opinions dan legitimate disagreement.

Approach mereka ke moderasi through classical texts: show bahwa ulama klasik seperti Imam Nawawi, Imam Rafi’i, Ibnu Hajar already advocate tolerance dan coexistence. Pesantren modern seperti Gontor atau Daarut Tauhiid approach moderasi lebih through contemporary issues dan contextual application: directly address modern challenges seperti pluralisme, democracy, human rights dari Islamic perspective.

Both approaches valid dan effective—yang penting adalah authenticity dan consistency: jangan claim moderat di depan publik tapi intolerant di internal. Best practice: Combine classical scholarship dengan contemporary relevance—ini yang dilakukan Tebuireng dan Al-Hikam dengan successful.

Q3: Bagaimana pesantren bisa measure keberhasilan implementasi moderasi beragama? Apa indikator konkretnya?

A: Measurement penting untuk accountability dan continuous improvement. Framework assessment bisa adopt dari Kemenag’s Indeks Moderasi Beragama dengan adaptation untuk konteks pesantren:

(1) Cognitive Dimension: Survey pre-post tentang understanding santri terhadap pluralisme, tolerance, anti-kekerasan—gunakan validated instruments seperti Religious Tolerance Scale atau Pluralism Attitude Scale (available dari PPIM),

(2) Behavioral Dimension: Observe dan document konkret behaviors—berapa santri yang participate dalam interfaith activities? Berapa yang aktif di community service lintas agama? Track hate speech incidents (should be declining),

(3) Curriculum Audit: Percentage kitab yang diajarkan incorporating moderasi perspective? Berapa modul specifically tentang moderasi? Apakah bahtsul masail regular cover isu toleransi?,

(4) Alumni Tracking: Survey alumni 2-5 tahun setelah lulus—apakah mereka aktif promote moderasi di komunitas? Apakah mereka involved di organization moderat (NU, Muhammadiyah, interfaith)?, (5) Community Perception: Survey masyarakat sekitar pesantren—apakah mereka feel pesantren contribute positively ke harmony? Realistic benchmark: Pesantren yang implement moderasi seriously biasanya achieve 70-80% positive scores dalam assessment dalam 2-3 tahun. Tools assessment gratis bisa request dari Kemenag Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren atau PPIM UIN Jakarta (mereka sering conduct research dan willing share instruments).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca