Pendahuluan: Nafas yang Semakin Berat
Sebagai muslim, memahami islam dan polusi udara bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga bagian dari ketaatan kita dalam menjaga amanah Allah atas bumi. Pagi ini saya shalat subuh di teras rumah. Biasanya udara sejuk, tapi kali ini ada yang berbeda—tenggorokan gatal, mata perih. Saya cek aplikasi Air Quality Index: PM2.5 = 67 µg/m³ (kategori “tidak sehat”).
Ini bukan lagi sekadar “udara kotor”. Ini ancaman kesehatan nyata.
Data BMKG Perak Surabaya 2024 mengejutkan: 180 hari per tahun kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif (anak-anak, lansia, ibu hamil). PM2.5 rata-rata 45 µg/m³—4,5× lipat standar WHO (10 µg/m³).
Studi Harvard-Greenpeace 2024: 3.400 kematian dini per tahun di Jawa Timur akibat polusi udara. Penyebab utama: penyakit jantung, stroke, kanker paru, ISPA.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-A’raf: 56:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”
Pertanyaan: Apakah polusi udara termasuk “kerusakan di bumi” yang dilarang Allah? Dan apa tanggung jawab kita sebagai muslim?
Dalil Al-Quran: Atmosfer adalah Desain Allah yang Sempurna
Topik islam dan polusi udara menunjukkan bahwa kualitas nafas juga bagian dari ibadah dan amanah menjaga bumi.
QS An-Naba: 6-7 – Langit yang Kokoh
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak? …Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh.”
Tafsir Ibnu Katsir:
السَّمَاءَ (as-sama’ = langit) dalam konteks sains modern = atmosfer berlapis: troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, dll. Allah ciptakan dengan presisi—lapisan ozon melindungi dari UV, efek rumah kaca jaga suhu, siklus oksigen-CO2 seimbang sempurna.
Implikasi:
Merusak atmosfer (polusi CO2, CFC merusak ozon, partikulat PM2.5) = merusak desain Allah. Ini bukan sekadar masalah lingkungan, tapi pelanggaran terhadap kesempurnaan ciptaan-Nya.
QS Ar-Rum: 41 – Kerusakan Darat dan Laut (dan Udara)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
Tafsir Quraish Shihab:
Meski ayat hanya sebut darat dan laut, udara tersirat karena ketiga elemen ini saling terhubung:
- Polusi udara → hujan asam → merusak tanah (darat)
- Emisi CO2 → pemanasan global → naiknya suhu laut
- Partikulat udara → jatuh ke laut → mencemari ekosistem
Hukum sebab-akibat ekologis:
Kita polusi udara → konsekuensi datang (ISPA naik, es kutub mencair, cuaca ekstrem).
Hadits Rasulullah: Menyingkirkan Gangguan = Shadaqah
Ketika membahas islam dan polusi udara, ulama menekankan larangan merusak bumi dan kewajiban mencegah gangguan bagi sesama.
Hadits Menyingkirkan Duri di Jalan
“Iman itu 70 lebih cabang. Yang paling tinggi adalah kalimat La ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)
Analisis:
الْأَذَى (al-adza = gangguan) mencakup segala yang mengganggu orang lain—termasuk polusi udara.
Aplikasi modern:
- Asap kendaraan di jalanan = gangguan bagi pejalan kaki
- Asap pabrik = gangguan bagi warga sekitar
- Bakar sampah = gangguan bau dan polusi
Jika menyingkirkan duri (gangguan kecil) = shadaqah, maka mengurangi polusi (gangguan besar) = shadaqah yang lebih besar!
Hadits Larangan Mengganggu Muslim Lain
Data kesehatan modern menguatkan pesan islam dan polusi udara bahwa setiap emisi yang merugikan orang lain bisa bernilai dosa jika diabaikan.
“Muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Perluasan makna:
“Tangannya” = perbuatan fisik—termasuk polusi yang kita hasilkan (asap kendaraan, pembakaran sampah, emisi AC/genset).
Kesimpulan fikih:
Memproduksi polusi yang merugikan orang lain (ISPA, kanker) = berpotensi haram jika dilakukan tanpa kebutuhan mendesak dan tanpa upaya mitigasi.
Realita Polusi Udara Jawa Timur
Data BMKG & Kemenkes 2024
Surabaya:
- PM2.5 rata-rata: 45 µg/m³ (standar WHO: 10 µg/m³)
- 180 hari/tahun kategori tidak sehat
- Penyumbang: kendaraan (40%), industri (35%), pembakaran (25%)
Gresik:
- PM10 rata-rata: 78 µg/m³ (standar WHO: 20 µg/m³)
- Polusi industri semen, petrokimia, PLTU
- Warga radius 5 km PLTU: ISPA 3× lipat nasional
Sidoarjo:
- Hotspot pembakaran sampah (data satelit NASA)
- 67% rumah tangga masih bakar sampah di pekarangan
- 1 kg sampah dibakar = 2 kg CO2 + polutan beracun
Dampak Kesehatan (Studi Harvard 2024)
3.400 kematian dini/tahun di Jatim:
- 1.420 dari penyakit jantung (polusi trigge
r aterosklerosis)
- 980 dari stroke (partikulat PM2.5 masuk pembuluh darah otak)
- 650 dari kanker paru (karsinogen di udara)
- 350 dari ISPA kronis (terutama anak-anak)
Biaya ekonomi: Rp 18 triliun/tahun (biaya kesehatan + hari kerja hilang).

Praktik Nyata: Masjid Agung Gresik dengan Solar Panel
Studi kasus solar panel masjid memberi gambaran konkret bagaimana islam dan polusi udara dapat dijawab lewat inovasi energi bersih.
Transisi Energi Bersih
Latar belakang:
Gresik = zona industri tinggi polusi. Masjid Agung sebagai simbol islam ingin beri contoh.
Instalasi (2022):
- 120 panel surya kapasitas 50 kWp
- Biaya investasi: Rp 550 juta
- Area atap: 400 m² (memanfaatkan ruang idle)
Operasional:
- Produksi listrik: 6.500 kWh/bulan
- Konsumsi masjid: 4.000 kWh/bulan
- Surplus 2.500 kWh → jual ke PLN (Rp 4,2 juta revenue)
Dampak lingkungan:
- Zero emisi karbon dari operasional masjid
- 1 kWh listrik PLTU = 0,85 kg CO2
- 6.500 kWh × 0,85 kg = 5.525 kg CO2 dicegah per bulan
- Setara tanam 276 pohon dewasa!
ROI: 6 tahun (dari hemat tagihan listrik + revenue surplus)
Sustainability: Panel bergaransi 25 tahun
Kiai takmir berkata:
“Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tapi juga teladan gaya hidup islami. Jika masjid pakai energi bersih, jamaah terinspirasi ikut di rumahnya.”

6 Cara Kurangi Jejak Karbon Pribadi
Enam langkah pengurangan jejak karbon ini membantu muslim menerjemahkan konsep islam dan polusi udara menjadi aksi nyata di rumah dan komunitas.
1. Transportasi Umum Minimal 2× Seminggu
Perhitungan emisi:
- Mobil pribadi (1.500cc): 2,3 ton CO2/tahun
- Motor (150cc): 0,8 ton CO2/tahun
- Bus TransJakarta: 0,4 ton CO2/tahun per penumpang
- KRL: 0,2 ton CO2/tahun per penumpang
Target realistis: Jika 2 hari kerja pakai bus, 3 hari mobil:
- (2/5 × 0,4 ton) + (3/5 × 2,3 ton) = 1,54 ton/tahun
- Hemat 0,76 ton CO2/tahun (33% pengurangan!)
2. Tanam 5 Pohon Pelindung di Halaman
Fakta sains:
- 1 pohon dewasa (diameter 30cm) serap 20 kg CO2/tahun
- 5 pohon = 100 kg CO2/tahun
- Pohon juga produksi O2, turunkan suhu, serap polutan
Rekomendasi untuk halaman rumah Jatim:
- Trembesi (king of CO2 absorption: 28 kg/tahun)
- Mahoni (cepat tumbuh, rindang)
- Angsana (tahan panas, bunga kuning cantik)
- Ketapang (daun lebar, teduh)
- Jambu air (buah + teduh)
3. Jangan Bakar Sampah (1 kg = 2 kg CO2)
Reaksi kimia pembakaran: Sampah organik (C, H, O) + O2 → CO2 + H2O + energi panas
Masalah:
- 1 kg sampah kering = 2 kg CO2 (plus CH4, N2O, dioksin)
- Dioksin = karsinogen kelas 1 (penyebab kanker)
- Polutan beracun: furan, benzene, formaldehyde
Alternatif:
- Sampah organik → kompos (zero emisi, malah serap CO2 saat tanaman tumbuh)
- Sampah plastik → bank sampah (didaur ulang, bukan dibakar)
4. Hemat Listrik = Kurangi Emisi PLTU
Fakta: 78% listrik Jatim dari PLTU batubara (emisi CO2 tinggi).
5 aksi hemat listrik:
- Ganti lampu LED (hemat 75% vs pijar)
- AC 24°C (setiap 1°C turun = naik 5% konsumsi)
- Cabut charger idle (tetap konsumsi listrik meski HP tidak di-charge)
- Kulkas jangan terlalu penuh (sirkulasi udara terhambat, kompresor kerja extra)
- Setrika sekaligus 1× seminggu (jangan setiap hari)
Impact: Hemat 100 kWh/bulan = cegah 85 kg CO2/bulan = 1,02 ton/tahun
5. Beli Kendaraan Listrik (atau Motor Irit)
Opsi realistis:
- Motor listrik (Volta, Selis, Gesits): Rp 15-25 juta
- Hybrid car (Toyota, Honda): Rp 300-500 juta
- Atau motor irit BBM: Honda Beat, Yamaha Mio (1:50 km/liter)
Perbandingan emisi (10.000 km/tahun):
- Motor konvensional: 500 kg CO2
- Motor listrik (charge dari PLN): 200 kg CO2 (60% lebih rendah!)
- Motor listrik (charge dari solar panel): 0 kg CO2!
6. Dukung Energi Terbarukan di Komunitas
Aksi kolektif lebih berdampak:
- Usulkan solar panel di masjid (tunjukkan case Masjid Agung Gresik)
- Ajak RT pasang lampu jalan solar cell (subsidi dari pemerintah)
- Support petisi pro-renewable energy (pressure ke PLN dan Pemda)
- Beli listrik green tariff (PLN luncurkan opsi ini 2024, hanya +Rp 150/kWh)
Kesimpulan: Setiap Nafas adalah Nikmat
Sebagai muslim, memahami islam dan polusi udara bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga bagian dari ketaatan kita dalam menjaga amanah Allah atas bumi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Nikmat yang paling banyak diabaikan adalah kesehatan.” (HR. Bukhari)
Setiap nafas kita adalah nikmat: Oksigen masuk, CO2 keluar, 20.000× per hari tanpa kita sadari.
Tapi apa yang kita hirup hari ini? PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon permukaan. Nafas yang seharusnya nikmat, kini jadi ancaman.
Muslim bertanggung jawab menjaga udara—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua makhluk yang bernafas: manusia, hewan, tumbuhan.
Mulai hari ini: Pilih 3 dari 6 cara di atas. Lakukan konsisten 30 hari. Hitung dampaknya dengan kalkulator karbon online.
Jika 1 juta muslim Jatim kurangi 100 kg CO2/tahun, kita selamatkan atmosfer dari 100.000 ton CO2!
Wallahu a’lam bishawab.
Referensi:
- BMKG Perak Surabaya (2024) – Data Kualitas Udara
- Harvard-Greenpeace (2024) – Studi Kematian Dini Polusi
- Tafsir Ibnu Katsir – QS An-Naba: 6-7
- Tafsir Quraish Shihab – QS Ar-Rum: 41
- Shahih Muslim – Hadits Iman 70 Cabang
- Case Study Masjid Agung Gresik
Baca Juga :











