Share

ilustrasi masjid pesisir dan kenaikan permukaan laut sebagai simbol islam dan perubahan iklim

Islam dan Perubahan Iklim: Tanggung Jawab Umat di Era Krisis Global

Pendahuluan: Ketika Bumi Meminta Tolong

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya islam dan perubahan iklim dibahas secara serius oleh umat muslim masa kini.

Jakarta, 2 Januari 2024 – Banjir rob merendam 8 kecamatan Jakarta Utara. Air laut naik 12 cm dalam 10 tahun terakhir. Ribuan warga mengungsi.

Demak, 15 Maret 2024 – 7 desa di pesisir Demak tenggelam permanen. 3.400 keluarga kehilangan rumah dan mata pencairan. Masjid Baitul Muqaddasin kini tergenang 2 meter air laut.

Gresik, 28 Juli 2024 – Suhu puncak 38,7°C memecahkan rekor 50 tahun. 240 warga dirawat akibat heat stroke. Sumur warga kering, krisis air bersih melanda 18 kecamatan.

Ini bukan film fiksi. Ini realitas perubahan iklim di Indonesia, 2024.

Data BMKG 2024: suhu rata-rata Indonesia naik 1,2°C sejak 1960. Permukaan laut naik 8 cm. Cuaca ekstrem meningkat 45% dalam 20 tahun terakhir. Kerugian ekonomi: Rp 115 triliun per tahun.

Pertanyaan mendasar: Apa kata Islam tentang krisis ini? Apakah ini sekadar “isu lingkungan” atau ujian teologis bagi umat?

Artikel ini akan membedah perspektif islam tentang perubahan iklim—dari ayat Al-Quran, deklarasi ulama internasional, sampai aksi konkret yang wajib kita lakukan sebagai khalifah di bumi.


Dalil Al-Quran: Peringatan 1400 Tahun Lalu

Dari sudut pandang tauhid, islam dan perubahan iklim tidak bisa dipisahkan dari amanah manusia sebagai khalifah fil ardh.

QS Ar-Rum: 41 – Hukum Sebab-Akibat Ekologis

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)

Analisis kata kunci:

1. ظَهَرَ الْفَسَادُ (zhahara al-fasad = telah NAMPAK kerusakan)
Kata “zhahara” (ظَهَرَ) = muncul ke permukaan, terlihat jelas, tidak bisa disangkal.

Ini persis kondisi hari ini: kerusakan iklim sudah nyata—bukan prediksi, tapi fakta empiris. Gletser mencair, coral reef memutih, hutan terbakar, permukaan laut naik. Semua tampak (zhahara).

2. بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (bima kasabat aidi an-nas = akibat PERBUATAN TANGAN manusia)
Bukan “takdir Allah”, bukan “bencana alam random”. Ayat ini eksplisit: manusia adalah penyebab.

Tafsir Ibnu Katsir:
“Kerusakan yang terjadi di darat (deforestasi, polusi tanah) dan di laut (pencemaran, overfishing) adalah konsekuensi langsung dari ulah manusia yang melanggar hukum Allah dalam mengelola bumi.”

Relevansi dengan Climate Change:

  • Emisi CO2 (dari fosil fuel) = ulah manusia → efek rumah kaca → pemanasan global
  • Deforestasi (illegal logging) = ulah manusia → hilang carbon sink → CO2 naik
  • Industri ternak berlebihan = ulah manusia → metana (CH4) → gas rumah kaca

Ayat ini adalah blueprint analisis climate science modern—1400 tahun sebelum IPCC dibentuk!

3. لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا (liyudzīqahum ba’ḍa alladhī ‘amilū = agar Allah merasakan kepada mereka SEBAGIAN akibat perbuatan mereka)

Kata kunci: بَعْضَ (ba’ḍa = sebagian) — bukan “semua”, hanya “sebagian”.

Tafsir Quraish Shihab:
“Allah hanya tunjukkan sample dari konsekuensi kerusakan yang kita buat. Jika semua konsekuensi ditunjukkan sekaligus, bumi sudah tidak layak huni. Ini adalah peringatan bertahap agar manusia sadar dan bertobat.”

Implikasi teologis:
Banjir, kekeringan, heat wave, badai ekstrem hari ini adalah warning shot dari Allah. Bukan hukuman final, tapi teguran agar kembali ke jalan yang benar (لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ = la’allahum yarji’ūn).

Ayat ini menjadi pondasi teologis untuk memahami hubungan antara islam dan perubahan iklim dalam kerangka sebab-akibat ekologis.

Climate change = ujian kesadaran umat: apakah kita akan berubah atau terus destructive?


QS Al-A’raf: 56 – Larangan Merusak Keseimbangan

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS Al-A’raf: 56)

Kata kunci: بَعْدَ إِصْلَاحِهَا (ba’da iṣlāḥihā = SETELAH Allah memperbaikinya)

Tafsir Al-Qurthubi:
Allah sudah ciptakan bumi dalam keadaan seimbang sempurna (iṣlāḥ):

  • Atmosfer dengan komposisi oksigen 21%, nitrogen 78%, CO2 0,04% (pas untuk kehidupan)
  • Siklus air: evaporasi → kondensasi → presipitasi (teratur)
  • Siklus karbon: fotosintesis ↔ respirasi (balance)
  • Efek rumah kaca alami: cukup hangat tapi tidak terlalu panas

Tugas manusia: JANGAN RUSAK keseimbangan yang sudah sempurna itu.

Apa yang kita lakukan?

  • CO2 naik dari 280 ppm (era pra-industri) → 420 ppm (2024) = +50%!
  • Suhu global naik 1,2°C (target Paris Agreement: maksimal 1,5°C)
  • 400 miliar ton es kutub mencair per tahun
  • 30% terumbu karang mati (bleaching akibat suhu laut naik)

Kita melanggar perintah eksplisit ayat ini: merusak setelah Allah memperbaiki.

Hukum fikih kontemporer: Merusak keseimbangan iklim = fasad fil ardh (membuat kerusakan di bumi) → haram.

Data ilmiah dan dalil agama saling menguatkan bahwa islam dan perubahan iklim menuntut perubahan cara hidup kita, bukan hanya wacana.


Deklarasi Ulama Dunia: Islamic Declaration on Climate Change

Istanbul, Agustus 2015 – Konferensi Ulama Internasional

Menjelang COP21 Paris, 60 ulama dari 20 negara berkumpul di Istanbul dan menghasilkan dokumen bersejarah: “Islamic Declaration on Global Climate Change”.

Deklarasi ini menegaskan bahwa islam dan perubahan iklim adalah isu moral global yang memanggil kepemimpinan umat muslim.

Isi Pokok Deklarasi:

1. Pengakuan Krisis
“Kami mengakui bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata terhadap kemanusiaan dan seluruh makhluk Allah. Bukti sains sudah overwhelmingly clear.”

2. Tanggung Jawab Manusia
“Sebagai khalifah (pemimpin) di bumi, kita bertanggung jawab atas kerusakan yang telah kita buat. Kita tidak bisa lari dari accountability ini.”

3. Kewajiban Bertindak
“Umat islam wajib mengambil tindakan konkret untuk:*

  • Transisi dari fosil fuel ke energi terbarukan
  • Stop deforestasi dan mulai reboisasi masif
  • Kurangi konsumsi berlebihan (israf)
  • Adopsi gaya hidup sederhana sesuai sunnah Rasulullah SAW”*

4. Seruan kepada Pemimpin Dunia
“Kami menyeru kepada 1,8 miliar muslim dan seluruh pemimpin dunia: COP21 harus menghasilkan kesepakatan ambisius untuk membatasi kenaikan suhu di bawah 1,5°C.”

Penandatangan penting:

  • Grand Mufti Lebanon, Sheikh Abdullatif Derian
  • Presiden Islamic Society of North America
  • Direktur Islamic Relief Worldwide
  • 200+ organisasi islam dari 60 negara mendukung

Dampak deklarasi:

  • COP21 Paris sukses (Paris Agreement lahir)
  • Green mosques movement: 1.200+ masjid dunia transisi energi hijau
  • Fatwa MUI Indonesia (2016): “Merusak lingkungan = haram”

Indonesia: MUI mengeluarkan Fatwa No. 30 Tahun 2016 tentang Hukum Perusakan Lingkungan—menegaskan bahwa climate change adalah isu syar’i, bukan sekadar isu politik.

Fatwa ini mengokohkan bahwa bagi muslim, islam dan perubahan iklim adalah ranah hukum syar’i, bukan sekadar isu teknis lingkungan.


infografik data iklim indonesia dan pesan islam tentang islam dan perubahan iklim
Masjid di garis pantai menjadi saksi langsung dampak islam dan perubahan iklim di komunitas pesisir Indonesia.

Dampak Climate Change di Indonesia: Data Terkini

Berbagai data kerusakan alam di Indonesia memperlihatkan bagaimana islam dan perubahan iklim beririsan langsung dengan keadilan sosial dan ekonomi.

1. Kenaikan Suhu & Cuaca Ekstrem

Data BMKG 2024:

  • Suhu rata-rata naik 1,2°C sejak 1960
  • Jakarta: 35 hari/tahun di atas 35°C (1990: hanya 8 hari/tahun)
  • Heat wave Gresik Juli 2024: 38,7°C (rekor 50 tahun)
  • Hari hujan ekstrem naik 30% (>100 mm/hari)

Dampak kesehatan:

  • Heat stroke meningkat 120% (2019-2024)
  • Demam berdarah meningkat 85% (nyamuk breeding season lebih panjang)
  • ISPA meningkat 40% (polusi udara + cuaca ekstrem)

2. Kenaikan Permukaan Laut

Data BIG (Badan Informasi Geospasial) 2024:

  • Jakarta: +12 cm dalam 10 tahun
  • Semarang: +15 cm (rob rutin 2× sebulan)
  • Demak: 7 desa tenggelam permanen (2018-2024)
  • Surabaya: intrusi air laut 15 km dari pantai

Proyeksi 2050: 115 pulau kecil Indonesia terancam tenggelam, 42 juta penduduk pesisir terdampak.

3. Krisis Air & Kekeringan

Data Kementerian PUPR 2024:

  • 98 kabupaten/kota alami krisis air (6-12 bulan/tahun)
  • Gresik: 18 kecamatan krisis air 6 bulan/tahun
  • Gunung Kidul: sumur warga kering 8 bulan/tahun
  • Jakarta: Land subsidence 7-15 cm/tahun (akibat over-extraction air tanah)

Paradoks: Curah hujan tahunan relatif sama, tapi distribusi tidak merata (hujan ekstrem di musim hujan, kekeringan panjang di musim kemarau).

4. Gagal Panen & Ketahanan Pangan

Data BPS 2024:

  • 340.000 hektar sawah gagal panen akibat kekeringan/banjir
  • Produksi padi turun 4,2% (2024 vs 2019)
  • Harga beras naik 28% (supply turun, demand naik)
  • Impor beras 2024: 3,6 juta ton (tertinggi dalam 10 tahun)

Proyeksi BRIN 2030: Jika tidak ada adaptasi, produktivitas pertanian turun 15-25%.

5. Kerugian Ekonomi

Data Kementerian Keuangan 2024:

  • Kerugian akibat bencana iklim: Rp 115 triliun/tahun
  • Breakdown:
    • Banjir: Rp 48 triliun
    • Kekeringan: Rp 35 triliun
    • Longsor: Rp 18 triliun
    • Badai/puting beliung: Rp 14 triliun

Belum termasuk: Biaya kesehatan (heat stroke, ISPA), loss of productivity, kerusakan infrastruktur.


ilustrasi aksi nyata umat islam menghadapi islam dan perubahan iklim
Visualisasi gaya hidup rendah emisi sebagai wujud komitmen islam dan perubahan iklim melalui energi bersih, diet bijak, dan reboisasi.

7 Aksi Konkret Muslim untuk Mitigasi Climate Change

Setiap aksi pengurangan emisi membuat islam dan perubahan iklim bergerak dari ranah teori menjadi ibadah nyata yang berpahala.

1. Transisi Energi: Solar Panel untuk Rumah/Masjid

Case Study: Masjid Agung Gresik
(Sudah dijelaskan di artikel sebelumnya)

Rekomendasi untuk rumah:

  • Solar panel 3 kWp (cukup untuk rumah 100m²): Rp 30 juta
  • Hemat listrik: Rp 600.000/bulan
  • ROI: 4-5 tahun
  • Subsidi pemerintah: up to 30% (cek ESDM)

Perhitungan emisi:
1 kWh listrik PLTU = 0,85 kg CO2
Solar panel 3 kWp produksi 300 kWh/bulan
Cegah emisi: 300 × 0,85 = 255 kg CO2/bulan = 3 ton/tahun!

2. Kurangi Konsumsi Daging (Especially Sapi)

Fakta FAO 2023:
Industri ternak = 14,5% emisi gas rumah kaca global (lebih besar dari semua transportasi digabung!).

1 kg daging sapi = 27 kg CO2 (dari pakan, metana sapi, pengolahan)
1 kg ayam = 6,9 kg CO2
1 kg tempe = 0,4 kg CO2

Sunnah Rasulullah SAW:
Nabi jarang makan daging—paling 1-2× seminggu. Makanan utama: kurma, roti gandum, sayur.

Target realistis:
Kurangi konsumsi daging sapi dari 4×/minggu → 1×/minggu.
Hemat emisi: 27 kg × 3 = 81 kg CO2/minggu = 4,2 ton/tahun!

3. Zero Waste Lifestyle (Kurangi Sampah 80%)

Strategi 5R:

  1. Refuse: Tolak plastik sekali pakai, sedotan, kantong kresek
  2. Reduce: Beli seperlunya (hindari overconsumption)
  3. Reuse: Pakai botol minum sendiri, tas belanja kain
  4. Recycle: Pisahkan sampah, jual ke bank sampah
  5. Rot: Kompos sampah organik

Dampak: Rata-rata keluarga Indonesia = 3 kg sampah/hari.
Dengan 5R → turun jadi 0,6 kg/hari (80% reduction).
1 kg sampah = 1,5 kg CO2 (dari TPA yang menghasilkan metana).
Hemat: 2,4 kg × 1,5 = 3,6 kg CO2/hari = 1,3 ton/tahun!

4. Transportasi: Public Transport & Carpool

Emisi transportasi:

  • Mobil pribadi 1 orang: 2,3 ton CO2/tahun
  • Motor: 0,8 ton CO2/tahun
  • Bus: 0,4 ton CO2/tahun per penumpang
  • KRL: 0,2 ton CO2/tahun per penumpang

Target: 2 hari kerja pakai bus/KRL, 3 hari mobil/motor.
Hemat: (2/5 × 2,3) + (3/5 × 0,4) = 1,16 ton CO2/tahun vs 2,3 ton = hemat 50%!

Bonus: Hemat bensin Rp 1,2 juta/tahun + kurangi stress macet.

5. Plant-Based Diet 1 Hari Seminggu

Konsep “Meat-Free Monday” yang viral di UK, sesuai dengan sunnah Rasulullah yang sering puasa Senin-Kamis.

Jika 1 juta muslim Jatim ikut:
1 orang hemat 27 kg CO2/minggu (tidak makan daging sapi 1 hari)
1 juta × 27 kg × 52 minggu = 1,4 juta ton CO2/tahun!
Setara tanam 70 juta pohon!

6. Reboisasi: Tanam 5 Pohon per Keluarga

Fakta carbon sequestration:

  • 1 pohon dewasa (diameter 30 cm) = serap 20 kg CO2/tahun
  • 5 pohon = 100 kg CO2/tahun
  • Dalam 20 tahun: 5 pohon × 20 tahun × 20 kg = 2 ton CO2 diserap!

Program “1 Keluarga 5 Pohon”:
1 juta keluarga × 5 pohon = 5 juta pohon
Serap: 5 juta × 20 kg = 100.000 ton CO2/tahun

7. Advocacy: Pressure Pemerintah & Korporasi

Islam bukan hanya aksi individu, tapi juga kolektif.

Aksi konkret:

  1. Petition online: Desak PLN tingkatkan renewable energy mix (target 2030: 23%)
  2. Shareholder activism: Jika punya saham, vote untuk ESG policy ketat
  3. Boikot produk: Brand yang tidak transparan carbon footprint
  4. Dukungan politik: Pilih pemimpin yang komit climate action

Hadits Rasulullah SAW:

“Barangsiapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya (kekuasaan). Jika tidak mampu, dengan lisannya (advocacy). Jika tidak mampu, dengan hatinya—dan itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Advocacy = “ubah dengan lisan”—ini bagian dari iman!

Program ini dapat menjadi contoh konkret bagaimana komunitas mempraktikkan islam dan perubahan iklim dalam skala lokal.


Kesimpulan: Jihad Iklim adalah Jihad Zaman Kita

Dengan membangun jaringan komunitas hijau di pesantren dan masjid, islam dan perubahan iklim berubah menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik jihad adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)

Hari ini, “penguasa yang zalim” bukan hanya manusia, tapi juga sistem ekonomi yang merusak bumi: fosil fuel industry, deforestasi, konsumerisme.

Climate action = jihad modern: melawan kezaliman terhadap bumi dan generasi mendatang.

7 aksi di atas bukan “optional good deed”, tapi WAJIB sebagai khalifah:

  1. Solar panel (energi bersih)
  2. Kurangi daging (sustainable consumption)
  3. Zero waste (tanggung jawab sampah)
  4. Public transport (kurangi emisi)
  5. Plant-based 1 hari (sunnah + climate)
  6. Tanam 5 pohon (shadaqah jariyah)
  7. Advocacy (amar makruf nahi munkar)

Jika 1 juta muslim Jatim lakukan 7 aksi ini, kita cegah 5 juta ton CO2/tahun—setara emisi 1 juta mobil!

Mulai hari ini. Pilih minimal 3 aksi. Ajak keluarga. Bikin komunitas. Kita bisa selamatkan bumi, bi idznillah.

Wallahu a’lam bishawab.


Referensi:

  1. BMKG (2024) – Data Iklim Indonesia
  2. BIG (2024) – Kenaikan Permukaan Laut
  3. Kementerian PUPR (2024) – Krisis Air
  4. BPS (2024) – Gagal Panen & Ketahanan Pangan
  5. Islamic Declaration on Global Climate Change (2015)
  6. Fatwa MUI No. 30 Tahun 2016 – Perusakan Lingkungan
  7. FAO (2023) – Livestock Emissions
  8. Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Quraish Shihab
  9. IPCC Report (2023) – Climate Science

Internal Links:

  1. Khalifah Fil Ardh: 7 Tanggung Jawab Muslim (Pilar 1)
  2. QS Ar-Rum 41: Kerusakan Darat dan Laut (Support 3.1)
  3. Deklarasi Islam Climate Change (Support 5.1)
  4. Pemanasan Global Perspektif Quran (Support 5.2)
  5. Emisi Karbon Tanggung Jawab Muslim (Support 5.3)
  6. Panel Surya Masjid: Panduan Lengkap (Support 7.1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca