Pendahuluan: Ketika Al-Quran Berbicara tentang “Panas”
Fenomena di atas menunjukkan betapa mendesaknya pembahasan pemanasan global islam dalam kehidupan sehari-hari umat muslim.
Fenomena aneh di Gresik, Juli 2024:
Suhu mencapai 38,7°C—rekor 50 tahun. Jamaah masjid pingsan saat shalat Dzuhur. Aspal jalan meleleh. 240 warga dirawat akibat heat stroke.
Pak Haji Ahmad (67 tahun) berkata: “Saya lahir dan besar di Gresik. Tidak pernah sepanas ini. Rasanya seperti azab.”
Apakah ini sekadar “cuaca panas biasa” atau ada yang fundamental berubah?
Data BMKG: suhu rata-rata Indonesia naik 1,2°C sejak 1960. Hari dengan suhu >35°C naik 300%. Ini bukan fluktuasi, tapi trend sistemik—pemanasan global.
Pertanyaan: Apakah Al-Quran, yang diturunkan 1400 tahun lalu, punya perspektif tentang fenomena ini?
Jawabannya: Ya. Meskipun Al-Quran tidak menyebut “global warming” secara eksplisit, ada 8 ayat kunci yang berbicara tentang panas, keseimbangan atmosfer, dan konsekuensi merusaknya.

8 Ayat Kunci tentang Pemanasan Global
Melalui ayat ini, konsep pemanasan global islam tampak selaras dengan penjelasan ilmiah tentang panas matahari dan atmosfer bumi.
1. QS An-Naba: 12-13 – Matahari sebagai “Lampu yang Sangat Terang”
“Dan Kami jadikan matahari sebagai pelita yang amat terang (siraajan wahhaja). Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak mengalir.”
Analisis sains:
- سِرَاجًا وَهَّاجًا (siraajan wahhaja) = lampu yang sangat terang dan panas
- Matahari memancarkan 3,8 × 10²⁶ watt energi
- Bumi terima 1,74 × 10¹⁷ watt (0,00000005% dari total)
- Tapi cukup untuk panaskan seluruh planet!
Tafsir Ibnu Katsir:
Allah ciptakan matahari dengan ukuran dan jarak yang pas: tidak terlalu dekat (bumi terbakar) dan tidak terlalu jauh (bumi membeku). Ini adalah mizan (keseimbangan) sempurna.
Relevansi dengan global warming:
Energi matahari yang sampai ke bumi relatif konstan. Yang berubah adalah atmosfer bumi—CO2 naik → gas rumah kaca mengunci panas → suhu naik. Jadi, bukan matahari yang berubah, tapi “selimut” bumi yang kita tebalkan.
2. QS An-Naba: 14-16 – Siklus Air dan Vegetasi
“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak mengalir, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat.”
Keseimbangan siklus air yang digambarkan Al-Quran memperkuat argumen bahwa pemanasan global islam harus dibaca sebagai krisis spiritual dan ekologis sekaligus.
Siklus air:
Air laut menguap (evaporasi) → naik jadi awan (kondensasi) → turun jadi hujan (presipitasi) → mengalir ke sungai → kembali ke laut.
Tafsir Al-Qurthubi:
Siklus ini adalah sistem tertutup sempurna yang Allah design. Tapi hanya berfungsi optimal jika suhu stabil.
Dampak global warming pada siklus air:
- Evaporasi lebih cepat → kekeringan lebih parah
- Uap air di atmosfer lebih banyak → hujan ekstrem (>100 mm/hari)
- Distribusi hujan tidak merata → banjir di satu tempat, kekeringan di tempat lain
Data Indonesia 2024:
Curah hujan tahunan relatif sama, tapi 98 kabupaten alami krisis air karena distribusi tidak merata.
3. QS Ar-Rahman: 7-9 – Mizan (Keseimbangan) Atmosfer
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”
Kata kunci: الْمِيزَانَ (al-mizan)
Tafsir Quraish Shihab:
Mizan bukan hanya “timbangan perdagangan”, tapi hukum keseimbangan alam: gravitasi, siklus karbon, komposisi atmosfer, dll.
Atmosfer bumi pra-industri (mizan sempurna):
- Nitrogen: 78%
- Oksigen: 21%
- Argon: 0,93%
- CO2: 0,03% (280 ppm)
- Gas lain: 0,04%
Atmosfer bumi 2024 (mizan terganggu):
- CO2 naik jadi 0,042% (420 ppm) = +50%!
- Metana (CH4) naik 150%
- Nitrous oxide (N2O) naik 20%
Ayat ini adalah peringatan eksplisit: “Jangan melampaui batas mizan!”
Kita sudah melampaui → konsekuensi datang (pemanasan global).
Penjelasan tentang mizan atmosfer menjadikan pemanasan global islam bukan sekadar isu sains, tetapi amanah tauhid dalam menjaga tatanan kosmik.
4. QS Yasin: 38 – Matahari Beredar pada Garis Edarnya
“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
Tafsir modern (Dr. Zaghloul El-Naggar, geologi):
Matahari bergerak dalam orbitnya di galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 828.000 km/jam. Tapi dari perspektif bumi, matahari “beredar” dalam pola tahunan yang sangat teratur (musim).
Relevansi:
Orbit matahari tidak berubah. Seasonal pattern seharusnya predictable. Tapi global warming mengacaukan pola ini:
- Musim kemarau lebih panjang (di Indonesia: +2 bulan)
- Musim hujan lebih pendek tapi lebih ekstrem
- El Niño dan La Niña lebih sering dan intense
Petani Jawa: “Pranata mangsa (kalender tradisional Jawa) sudah tidak akurat lagi. Musim tanam kacau.”
5. QS Ibrahim: 32 – Hujan sebagai Rezeki dari Langit
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu.”
Tafsir Hamka:
Hujan adalah sistem distribusi rezeki Allah. Kalau sistem ini rusak (distribusi tidak merata akibat climate change), maka ketahanan pangan terancam.
Fakta 2024:
- Gagal panen 340.000 hektar (banjir/kekeringan)
- Produksi padi turun 4,2%
- Indonesia impor beras 3,6 juta ton (tertinggi 10 tahun)
Pemanasan global mengancam “rezeki dari langit”.
6. QS Al-Anbiya: 30 – Segala Sesuatu dari Air
“…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Krisis air yang meluas di berbagai wilayah muslim menguatkan relevansi pemanasan global islam sebagai ujian keimanan dan solidaritas sosial.
Fakta biologi:
Tubuh manusia 60-70% air. Tanpa air, sel mati dalam 3 hari.
Dampak global warming pada air:
- Gletser Himalaya mencair → 2 miliar orang Asia kehilangan sumber air
- Permukaan laut naik → intrusi air laut ke air tanah pesisir
- Kekeringan lebih sering → sumur warga kering
Jika air = kehidupan, maka krisis air akibat pemanasan global = krisis eksistensial.
7. QS Al-Hijr: 19-20 – Bumi Dihamparkan dengan Gu nung sebagai Pasak
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup.”
Deforestasi gunung dan hilangnya carbon sink membuat pembahasan pemanasan global islam tidak bisa dipisahkan dari tema kezaliman struktural terhadap bumi.
Tafsir geologi modern:
Gunung berfungsi sebagai stabilizer (pasak) lempeng tektonik. Tapi gunung juga carbon sink (hutan pegunungan menyerap CO2).
Deforestasi hutan gunung:
- Kalimantan: 68.000 hektar hilang (2014-2024)
- Carbon sink berkurang
- Banjir & longsor meningkat
Merusak gunung = ganggu “pasak” yang Allah pasang untuk stabilitas bumi.
8. QS An-Nazi’at: 31 – Bumi Dihamparkan Setelah Langit
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.”
Kata kunci: دَحَاهَا (dahaha = mehamparkan)
Tafsir Ibnu Katsir:
Bumi diciptakan dengan relief yang pas: gunung, lembah, sungai—semuanya untuk sirkulasi air dan iklim optimal.
Global warming ganggu relief system:
- Glasier mencair → sungai besar (Gangga, Brahmaputra, Yangtze) mengering
- Danau mengecil (Danau Chad Afrika mengecil 95%)
- Lahan basah (wetlands) kering → biodiversity hilang

Ayat tentang Azab Panas: Warning untuk Manusia
Ketika pola musim berubah, para ulama menafsirkan fenomena ini sebagai bagian dari tanda-tanda pemanasan global islam yang menuntut perubahan gaya hidup.
Ayat-ayat tentang azab panas neraka memberi konteks eskatologis bahwa pemanasan global islam adalah ‘peringatan dini’ agar manusia segera bertaubat dan mengubah perilaku emisinya.
QS At-Taubah: 81 – “Panas Neraka Jauh Lebih Panas”
“…Katakanlah: ‘Api neraka Jahanam itu lebih sangat panasnya.’ Kalau mereka mengetahui.”
Konteks: Orang munafik enggan jihad di Tabuk karena cuaca panas (40°C+).
Relevansi:
Jika panas dunia (38-40°C) saja sudah tidak tertahankan, bayangkan panas neraka. Tapi pesan tersirat: panas dunia yang kita rasakan hari ini (heat wave akibat global warming) adalah taste dari azab yang lebih besar.
Hadits Rasulullah SAW:
“Api dunia adalah 1/70 dari api neraka.” (HR. Bukhari-Muslim)
Jika heat wave 40°C membunuh ratusan orang (Eropa 2023: 60.000 kematian), bayangkan 40°C × 70 = 2.800°C (suhu neraka menurut tafsir klasik).
QS Al-Haqqah: 30-32 – Rantai Neraka Sepanjang 70 Hasta
“…kemudian belenggu dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan tidak pula mengajak orang memberi makan orang miskin.”
Tafsir Kontemporer (Dr. Khalid Basalamah):
Azab neraka bukan hanya karena “tidak shalat”, tapi juga karena tidak peduli orang miskin yang lapar.
Climate change = greatest injustice:
Negara miskin (Afrika, Bangladesh) yang paling terdampak, padahal mereka yang paling sedikit emisi CO2. Ini kezaliman masif yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Kesimpulan: Pemanasan Global adalah Ujian Iman
Dengan demikian, pemanasan global islam harus dipahami sebagai integrasi tafsir, sains iklim, dan gerakan etika lingkungan yang berpihak pada kaum lemah.
8 ayat di atas menunjukkan:
- Allah ciptakan bumi dengan keseimbangan sempurna (mizan)
- Matahari, air, atmosfer—semua terdesign presisi
- Manusia diberi amanah jaga keseimbangan itu
- Merusak keseimbangan = konsekuensi dunia (heat wave, banjir, kekeringan) + akhirat (azab neraka)
Rasulullah SAW bersabda:
“Dunia adalah ladang akhirat.” (HR. Baihaqi)
Artinya: Apa yang kita tanam di dunia (emisi CO2, deforestasi, konsumerisme), kita tuai di akhirat.
Pemanasan global bukan “isu lingkungan biasa”, tapi ujian iman:
Apakah kita percaya Allah ciptakan mizan yang harus dijaga? Atau kita percaya “freedom” manusia untuk eksploitasi tanpa batas?
Mulai hari ini: Pilih 3 aksi climate (artikel sebelumnya). Kurangi carbon footprint 20%. Ajak jamaah masjid. Selamatkan mizan, selamatkan iman.
Wallahu a’lam bishawab.
Referensi:
- Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, Hamka
- BMKG (2024) – Data Suhu Indonesia
- IPCC Report (2023) – Climate Science
- Dr. Zaghloul El-Naggar – Tafsir Ilmiah Al-Quran
Baca Juga Artikel terkait lain nya :











