Share

Korwi BDK Surabaya Gelar Webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta Bersama Dr. Sholehuddin, M.Pd.I dan Hj. Maftuchah Mustiqowati

Korwi BDK Surabaya Gelar Webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta

Surabaya – Koordinatoriat Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya menggandeng MIZAMIA Learning Center menggelar webinar ekoteologi madrasah adiwiyata bertema “ Integrasi Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta ”, Selasa, 9 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang, mulai dari pendidik, widyaiswara, penyuluh, hingga pegiat lingkungan.

Acara dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Balai, Dr. Muslimin, yang menegaskan bahwa ekoteologi kini ditempatkan sebagai salah satu Asta Protas atau arah strategis pembangunan di lingkungan pendidikan keagamaan. Ia menilai penguatan perspektif ekoteologi selaras dengan kebijakan Kementerian Agama yang menyoroti isu lingkungan sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan agama dan keagamaan.

Plt. Kepala Balai, Dr. Muslimin secara resmi membuka acara webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta
Plt. Kepala Balai, Dr. Muslimin secara resmi membuka acara Webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta

Tekankan Relasi Manusia, Alam, dan Nilai Cinta

Dalam sambutannya, Dr. Muslimin menjelaskan bahwa ekoteologi tidak berhenti pada wacana teologis, melainkan menyentuh langsung cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Menurutnya, relasi manusia dengan lingkungan harus dibaca dalam bingkai tauhid dan cinta kasih, sehingga upaya pelestarian tidak hanya berdimensi teknis, tetapi juga moral dan spiritual.

“Isu kerusakan lingkungan sudah berada pada fase yang tidak bisa diabaikan. Mengintegrasikan ekoteologi ke dalam kurikulum berbasis cinta di madrasah menjadi langkah strategis agar kesadaran ekologis tumbuh sejak dini,” tegasnya dalam pengantar.

Narasumber Webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta, Dr. Sholehuddin dan Hj. Maftuchah Mustiqowati
Narasumber Webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta, Dr. Sholehuddin & Hj. Maftuchah Mustiqowati

Paparan Pakar: Ekoteologi sebagai Jawaban atas Krisis Lingkungan

Narasumber utama, Dr. Sholehuddin, widyaiswara BDK Surabaya yang juga dikenal sebagai pakar ekoteologi, memaparkan lahirnya ekoteologi dari keprihatinan atas meningkatnya kerusakan lingkungan dan bencana yang banyak dipicu ulah manusia. Ia memposisikan ekoteologi sebagai ikhtiar mengelola alam melalui perspektif agama, bukan sekadar gerakan teknis pelestarian.

Dalam paparannya, ia menekankan empat prinsip utama: tauhid, khalifah, amanah, dan berimbang. Empat pilar ini dinilai menjadi landasan normatif bagi warga madrasah untuk membaca alam sebagai ayat-ayat Tuhan yang harus dijaga dan dikelola secara adil. Konsep serupa juga ditekankan dalam pernyataan Kementerian Agama, yang memandang istilah khalifah sebagai mandat pengelolaan alam semesta dalam perspektif Islam.

“Alam adalah tajalli, perwujudan Keagungan Allah. Memperlakukan alam secara adil pada dasarnya adalah bentuk keadilan kepada Sang Pencipta,” urainya di hadapan peserta.

Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta: Dari Intra hingga Ekstrakurikuler

Lebih jauh, Dr. Sholehuddin menguraikan bagaimana ekoteologi dapat diintegrasikan ke dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah. Menurutnya, implementasi tidak bisa hanya mengandalkan satu jalur, tetapi perlu menyentuh intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler secara terpadu.

Pada ranah intrakurikuler, nilai ekoteologi dapat disisipkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Fikih, Akidah Akhlak, dan ilmu umum seperti IPA, dengan pendekatan yang menekankan hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ekstrakurikuler dapat diarahkan pada pembentukan kader lingkungan, bank sampah madrasah, gerakan menanam pohon, hingga kampanye hemat air dan listrik.

Sementara pada sisi kokurikuler, ia mendorong madrasah menghidupkan kegiatan proyek tematik, diskusi lintas kelas, dan kampanye publik yang melibatkan warga sekitar. “Yang tidak kalah penting adalah komitmen warga madrasah – guru, tenaga kependidikan, dan orang tua – untuk menjadi ekosistem ekoteologi yang hidup, bukan hanya slogan,” tandasnya.

Para Peserta Webinar Ekoteologi dalam Kurikulum Cinta bersama Narasumber Dr. Sholehuddin & Hj. Maftuchah Mustiqowati

Best Practice Madrasah Al Hikam: Adiwiyata yang Membumi

Narasumber kedua, Hj. Maftuchah Mustiqowati, Kepala Madrasah Al Hikam Jombang, hadir membagikan praktik baik implementasi ekoteologi melalui program madrasah adiwiyata di satuan pendidikan yang ia pimpin. Program tersebut diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan dan cinta alam di kalangan siswa dengan pendekatan bertahap dan partisipatif.

Ia memaparkan bahwa program Adiwiyata di madrasahnya tidak hanya berupa penghijauan dan kebersihan, tetapi juga pembiasaan sikap sehari-hari seperti pengurangan sampah plastik, pemilahan sampah, dan pemanfaatan ruang hijau sebagai laboratorium hidup. Pengalaman sejumlah sekolah Adiwiyata menunjukkan bahwa model seperti ini efektif menyatukan pendidikan lingkungan dengan aktivitas rutin sekolah.

Kegiatan belajar mengajar di Madrasah Al Hikam diperkaya dengan tugas proyek, observasi lingkungan sekitar, hingga refleksi keagamaan yang menautkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan fenomena alam. Menurutnya, pendekatan ini memudahkan siswa memahami bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari praktik keagamaan, bukan sekadar tugas sekolah.

Peserta dari Berbagai Daerah, Diskusi Hidup di Sesi Tanya Jawab

Antusiasme peserta terlihat dari keikutsertaan pendidik dan pegiat lingkungan dari berbagai daerah, di antaranya Manado, Tegal, Bali, dan Madiun. Mereka memanfaatkan sesi tanya jawab untuk mengangkat pengalaman, tantangan, sekaligus mencari solusi terkait penerapan ekoteologi di madrasah masing-masing.

Sejumlah pertanyaan mengemuka terkait keterbatasan sarana, belum meratanya pemahaman guru, hingga cara memasukkan indikator ekoteologi dalam penilaian pembelajaran. Narasumber menawarkan berbagai opsi, mulai dari pemanfaatan sumber daya lokal, integrasi dengan program Adiwiyata yang sudah ada, hingga kolaborasi dengan lembaga pemerintah dan komunitas lingkungan.

Menguatkan Arah Kebijakan dan Moderasi Beragama

Webinar ini juga dibaca sebagai bagian dari penguatan arah kebijakan pendidikan agama yang menempatkan isu lingkungan, toleransi, dan nasionalisme sebagai fokus utama. Kementerian Agama sebelumnya mendorong ekoteologi masuk ke kurikulum pendidikan agama sebagai cara menghadirkan perspektif agama yang ramah lingkungan dan moderat.

Bahasa agama dinilai efektif menumbuhkan kesadaran ekologis karena kerusakan lingkungan bukan hanya soal teknis, tetapi juga problem moral. Pesan bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah dan merusak lingkungan termasuk bentuk kemaksiatan menjadi narasi penting yang diangkat dalam berbagai forum pendidikan keagamaan.

Harapan: Ekosistem Ekoteologi di Madrasah Kian Menguat

Di penghujung acara, panitia menyampaikan harapan agar webinar ekoteologi madrasah adiwiyata ini menjadi pemantik lahirnya lebih banyak inisiatif di madrasah-madrasah seluruh Indonesia. Dengan pengalaman praktis yang dibagikan, penyelenggara berharap peserta tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan membawa pulang gagasan yang siap diterapkan sesuai konteks masing-masing.

Kegiatan semacam ini dinilai dapat memperkuat peran madrasah sebagai pusat pendidikan karakter yang tidak hanya mencetak generasi saleh secara ritual, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis. Dalam jangka panjang, madrasah diharapkan menjadi bagian penting dari gerakan pendidikan lingkungan nasional melalui skema Adiwiyata dan pengembangan kurikulum berbasis cinta.


Profil Narasumber

Profil Singkat Dr. Sholehuddin, M.Pd.I
Dr. Sholehuddin dikenal sebagai salah satu pakar ekoteologi dan pendidikan agama Islam yang aktif di berbagai level kelembagaan. Ia menjabat sebagai widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya, sekaligus dosen di IAI Al Khoziny dan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), serta terlibat dalam pengembangan moderasi beragama di lingkungan Kementerian Agama.

Latar belakang akademiknya menguatkan otoritas keilmuan di bidang pendidikan Islam, dengan jenjang magister dan doktor dalam pendidikan agama Islam yang ditempuh di UIN Sunan Ampel Surabaya. Di luar aktivitas akademik, ia juga aktif dalam organisasi keulamaan dan keilmuan seperti Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), yang memperkuat posisinya sebagai rujukan pemikiran ekoteologi berbasis tradisi keislaman.

Profil Singkat Hj. Maftuchah Mustiqowati
Hj. Maftuchah Mustiqowati merupakan Kepala Madrasah Al Hikam Jombang yang dikenal konsisten mengembangkan program madrasah adiwiyata. Di bawah kepemimpinannya, madrasah mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kegiatan belajar mengajar dan budaya sekolah, mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan, hingga pemanfaatan ruang terbuka sebagai media belajar siswa.

Pengalaman lapangan yang ia bawa ke dalam webinar memberikan sudut pandang praktis tentang bagaimana konsep ekoteologi diterjemahkan menjadi rutinitas sekolah yang sederhana namun berkelanjutan. Hal ini membuatnya sering dijadikan rujukan bagi madrasah lain yang ingin memulai atau menguatkan program Adiwiyata.

Fakta Singkat Ekoteologi dan Adiwiyata

Apa itu Ekoteologi?
Ekoteologi adalah pendekatan keagamaan yang menyoroti hubungan manusia, Tuhan, dan alam, dengan menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual. Dalam konteks pendidikan Islam, ekoteologi mendorong pembacaan ayat-ayat kauniyah (alam) sejajar dengan ayat-ayat qauliyah (teks suci), sehingga kepedulian ekologis menjadi bagian dari praktik keimanan sehari-hari.

Konsep ini sejalan dengan gagasan sejumlah tokoh dan kebijakan Kementerian Agama yang mendorong integrasi materi pelestarian alam ke dalam kurikulum pendidikan agama, baik di sekolah maupun madrasah.

Apa itu Program Sekolah/Madrasah Adiwiyata?
Program Adiwiyata merupakan inisiatif pemerintah yang bertujuan membentuk sekolah dan madrasah yang peduli dan berbudaya lingkungan melalui kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan sarana prasarana yang ramah lingkungan. Empat komponen utama yang sering ditekankan adalah: kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana pendukung yang berkelanjutan.

Berbagai laporan menunjukkan bahwa sekolah dan madrasah Adiwiyata tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga efisiensi penggunaan sumber daya, penghematan biaya operasional, dan kualitas iklim belajar yang lebih nyaman. Program ini sekaligus menjadi wahana pendidikan karakter yang menanamkan disiplin, kepedulian sosial, dan tanggung jawab ekologis sejak dini.

Baca Juga Artikel terkait Ekoteologi :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca