Oleh: Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I (Widyaiswara BDK Surabaya, Instruktur Nasional Penguatan Moderasi Beragama dan Pengurus PW Ma’arif Jatim 2018-2025)

Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Pandu Ma’arif Nahdlatul Ulama menggelar “Scouting for Peace and Humanity” di Balai Diklat Keagamaan Surabaya selama enam hari (15-20/12/25). Dari 370 peserta ada yang menarik perhatian. Peserta putri yang membaur dengan peserta lain saat sesi foto bersama ini tidak mengenakan jilbab, namanya Claudia Montessa. Dia beragama Nasrani. Dia memang tidak bersekolah di sekolah Ma’arif tapi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Polewali Polewali Mandar Sulawesi Barat.
Claudia mendapat informasi adanya kegiatan kemah kemanusiaan dari Pembina Ambalan di sekolah. Pembina Ambalan dapat dari Kwartir Cabang (Kwarcab). Motivasinya ikut kegiatan karena ini sesuatu hal yang luar biasa. Dia meyakini belum tentu ada kesempatan lain. “Sesuatu yang terlewatkan bahkan hanya semenit tidak bisa diulang kembali. Jadi, Claudia ikut kegiatan ini karena tidak mau ketinggalan pengalaman pastinya”, ujarnya.

Selama ini dia sudah terbiasa hidup di komunitas beragam karena di sekolah negeri. Dia mengaku selama bersekolah di SMA Negeri, perlakuannya baik dan banyak pengalaman yang dia ambil dari sekolah Negeri. Karena itu dia ingin mencari pengalaman baru bagaimana bersosialisasi dengan komunutas pelajar Nahdlatul Ulama (NU). Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Claudia.
Nilai-nilai Moderasi Beragama dalam “Scouting for Peace and Humanity”
Moderasi Beragama sebagaimana disebutkan Perpres 58/2023 tentang PMB sebagai cara pandang, sikap dan praktik beragama dalam kehidupan berbangsa dengan mengejawantahkan esensi ajaran agama dan kepercayaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil dan berimbang serta menaati Pancasila dan UUD 45 sebagai kesepakatan bersama, penting terus dikembangkan melalui berbagai cara, salah satunya Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian (Scouting for Peace and Humanity).
“Scouting” merupakan gerakan pendidikan kepanduan internasional yang berfokus pada pengembangan karakter kaum muda. “Scouting” ini bisa menjadi prototipe dalam menciptakan suasana kebersamaan. Para peserta terlatih hadir utuh sadar penuh (presencing) seperti dalam teori “U” Otto Schamer. Presencing dalam bahasa Al Quran menjadi saksi antar satu dengan yang lain (Syuhada’ alannas) sebagai ciri umat moderat (ummatan wasatan). Jika selama ini ada Kemah Moderasi Beragama, “Scouting for Peace and Humanity” ini bisa menjadi alternatif, apa lagi di sini ada “sharing” pembekalan tentang moderasi beragama dan radikalisme. Saya bersama AKP. Jauhar dari Densus 88 memfasilitasinya.

Claudia selaku peserta merasa senang dan bangga bisa mengikuti kegiatan kemah kemanusiaan dan perdamaian ini. Banyak pengalaman penting dia dapatkan. Pengalaman itu menjadi praktik baik moderasi beragama di kalangan pelajar. Karena itu dengan penuh semangat tidak sekadar bersenang-senang tapi mengambil banyak pelajaran positifnya.
Pada saat mengikuti ziarah ke makam Gus Dur, dia sempat bertanya kepada Kak Dedeh Suryati, salah satu panitia pendamping dari Pandu Ma’arif NU. “Tadi dia bertanya, Kak untuk apa saya menziarahi makamnya Gus Dur ?”
“Saya jawab, “Untuk mendoakan beliau dan penghormatan kepada Tokoh Nasional dan Presiden RI”, ujar Kak Dedeh. Dia pun mengikuti arahan Kak Dedeh.
Prinsip ini penting, bahwa mendoakan kebaikan itu bisa dilakukan tanpa melihat agama. Para ahli Fikih berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan mutlak, ada yang membolehkan jika bukan doa untuk ampunan perbuatan syirik seperti pandangan Al Qulyubi.

Claudia juga merasakan pengalaman bekerjasama dengan teman lintas agama. “Kita hidup dalam keberagaman, dapat dilihat dari peserta perkemahan yang datang dari berbagai daerah, suku, dan agama. Kerja-sama tim, melakukan berbagai kegiatan dengan kerja-sama anggota yang berbeda agama. Dan, masih banyak lagi”, lanjutnya.
Pengalaman ini merupakan pelajaran penting dalam hidup di tengah keberagaman. Keberagaman adalah takdir, kebersamaan adalah pilihan. Maka sebagai modal kebersamaan di tengah keberagaman adalah nilai universal agama seperti kerjasama, tolong menolong (ta’awun) dan kasih sayang (rahmah).
Nilai universal adalah nilai yang bisa diterima oleh semua umat manusia, apapun agama dan sukunya. Nilai universal ini menjadi titik temu di tengah perbedaan. Moderasi Beragama hadir melalui substansi ajaran agama dan mengelola perbedaan. Itu semua didapatkan Claudia selama mengikuti kemah kemanusiaan dan perdamaian.

Claudia dan peserta lain juga belajar keberagaman budaya dari berbagai daerah, mulai Melayu, Bali, Lampung hingga Maluku dan Papua. Bahkan informasi yang didapatkan, ada sesi tukar pikiran (sharing session) budaya dengan pelajar asing dari UNISMA.
Mengenal budaya merupakan cara Tuhan membelajarkan manusia agar saling mengenal. Dari sini muncul sikap menghargai dan menghormati budaya. Menerima budaya lokal menjadi salah satu indikator moderasi beragama.
Tindak Lanjut: Sebuah Harapan
Claudia tidak ingin kegiatan ini menjadi yang terakhir. Sebagai gerakan, moderasi beragama adalah “never ending process“. Moderasi Beragama perlu tindak lanjut dan berkelanjutan. Karena itu, dia berharap ada kegiatan lanjutan yang lebih besar. “Semoga kegiatan ini tidak menjadi kegiatan terakhir dari Pandu Ma’arif NU. Kedepannya Pandu Ma’arif NU bisa mengadakan kegiatan yang lebih besar lagi”, pungkasnya.











