Share

persiapan menghadapi bencana dalam islam dengan tas siaga darurat keluarga muslim

PERSIAPAN MENGHADAPI BENCANA DALAM ISLAM

Pendahuluan: Tawakal Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha

Ketika BMKG mengeluarkan peringatan dini gempa megathrust untuk wilayah Aceh pada awal 2025, sebagian orang berkata: “Sudah takdir Allah, ngapain repot-repot persiapan? Yang penting tawakal.” Pernyataan ini SALAH BESAR dan bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Persiapan menghadapi bencana dalam Islam adalah kewajiban karena termasuk dalam konsep ikhtiar (usaha maksimal) yang harus dilakukan sebelum tawakal (berserah diri kepada Allah). Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan doa, antara persiapan fisik dan spiritual, antara akal dan iman.

Allah SWT berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS Al-Anfal: 60)

Meskipun ayat ini tentang persiapan perang, prinsip dasarnya berlaku untuk semua ancaman, termasuk bencana alam. Kita diperintahkan untuk mempersiapkan diri semaksimal mungkin dengan segala kemampuan yang kita miliki.

Rasulullah SAW bersabda:

اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah (untamu), lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi: 2517 – Hasan)

Hadits ini mengajarkan bahwa tawakal harus didahului dengan ikhtiar. Kita harus mengikat unta (melakukan persiapan), baru kemudian bertawakal kepada Allah. Bukan langsung pasrah tanpa usaha.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari 10 persiapan fisik dan 10 persiapan spiritual menghadapi bencana alam berdasarkan syariat Islam, sunnatullah (hukum alam), dan best practice dari BNPB. Mari kita jadi Muslim yang cerdas: kuat secara fisik, kuat secara spiritual.

📊 Fakta Mengejutkan: Menurut BNPB (2024), hanya 23% masyarakat Indonesia yang memiliki tas siaga bencana di rumah. Padahal Indonesia adalah negara dengan tingkat bencana tertinggi di dunia (ring of fire). Sebagai Muslim, kita harus lebih baik dari statistik ini!

Baca Juga :
Zakat untuk Korban Bencana Alam: Hukum & Tata Cara


10 persiapan spiritual menghadapi bencana alam menurut islam
Panduan lengkap persiapan spiritual sebelum bencana datang

1. Prinsip Dasar: Ikhtiar Maksimal + Tawakal Penuh = persiapan menghadapi bencana dalam islam

Sebelum membahas persiapan detail, pahami dulu 3 prinsip dasar persiapan bencana dalam Islam:

Prinsip 1: Ikhtiar adalah Kewajiban, Bukan Pilihan

Ikhtiar (usaha/persiapan) adalah wajib dalam Islam sebelum kita bertawakal. Orang yang pasrah tanpa usaha bukanlah tawakal, melainkan tawakul palsu atau malas.

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi: 2344 – Shahih)

Perhatikan: Burung tidak tinggal diam di sarang menunggu makanan datang. Burung terbang mencari makanan (ikhtiar), lalu Allah beri rezeki (tawakal). Begitu juga dengan bencana: kita harus bersiap maksimal, lalu Allah tentukan hasilnya.

Prinsip 2: Sunnatullah (Hukum Alam) Harus Dipahami

Allah menciptakan alam dengan hukum sebab-akibat:

  • Jika rumah dibangun tidak tahan gempa → roboh saat gempa
  • Jika tidak ada jalur evakuasi → korban jiwa meningkat
  • Jika tidak punya tas siaga → kesulitan saat mengungsi

Memahami sunnatullah adalah bagian dari iman. Orang yang mengabaikan hukum alam dengan alasan “sudah takdir” adalah mengingkari kebijaksanaan Allah dalam menciptakan sistem alam.

Prinsip 3: Hasil Akhir Tetap di Tangan Allah

Setelah ikhtiar maksimal, serahkan hasilnya kepada Allah. Jangan sombong jika selamat (“ini karena persiapanku bagus”), dan jangan putus asa jika tertimpa musibah (“percuma aku sudah bersiap”).

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.” (QS Ali Imran: 126)

Baca Juga :
Sedekah untuk Korban Bencana: Keutamaan & Cara


2. 10 Persiapan Fisik Menghadapi Bencana dalam Islam

Berikut 10 persiapan fisik yang wajib dilakukan sebagai bentuk ikhtiar menghadapi bencana:

Persiapan Fisik 1: Tas Siaga Bencana (Go Bag)

Hukum: Wajib kifayah (minimal 1 per keluarga)

Isi tas siaga bencana menurut BNPB + perspektif Islam:

Kategori Survival:

  • Air minum kemasan (3 liter per orang untuk 3 hari)
  • Makanan kaleng/kering yang tahan lama (termasuk kurma)
  • Obat-obatan pribadi + P3K
  • Pakaian ganti (termasuk mukena/sarung untuk shalat)
  • Selimut/sleeping bag
  • Senter + baterai cadangan
  • Power bank + kabel charger
  • Radio portable (untuk info dari BNPB)
  • Peluit darurat

Kategori Islami (PENTING!):

  • Al-Qur’an saku atau Juz Amma
  • Sajadah lipat yang mudah dibawa
  • Tasbih untuk dzikir
  • Daftar doa-doa perlindungan (ditulis/difoto)
  • Uang tunai (termasuk untuk sedekah darurat)

Kategori Dokumen:

  • Fotokopi KTP, KK, Akte Lahir (dalam plastik waterproof)
  • Buku nikah (jika sudah menikah)
  • Sertifikat rumah/tanah
  • Polis asuransi (jika ada)
  • Kontak darurat keluarga

Catatan Penting: Tas siaga harus mudah dijangkau (dekat pintu keluar) dan semua anggota keluarga tahu lokasinya.

Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu bersiap bahkan dalam perjalanan:

تَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah: 197)

Persiapan Fisik 2: Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul

Hukum: Wajib diketahui oleh seluruh anggota keluarga

Langkah-langkah:

  1. Identifikasi bahaya di wilayah Anda:
    • Zona merah gempa? (dekat patahan)
    • Zona tsunami? (< 5 km dari pantai)
    • Rawan banjir? (dekat sungai/dataran rendah)
    • Rawan longsor? (lereng bukit)
  2. Tentukan jalur evakuasi primer dan sekunder:
    • Jalur utama: Rute tercepat ke tempat aman
    • Jalur cadangan: Jika jalur utama tertutup
  3. Tentukan titik kumpul keluarga:
    • Titik kumpul 1: Di halaman rumah (jika aman)
    • Titik kumpul 2: Di masjid/lapangan terdekat
    • Titik kumpul 3: Di posko pengungsian resmi
  4. Latihan evakuasi rutin:
    • Minimal 2 kali setahun
    • Libatkan anak-anak agar terbiasa
    • Hitung waktu: Target evakuasi < 5 menit

Dalil:

خُذُوا حِذْرَكُمْ

“Berhati-hatilah kalian (dengan persiapan).” (QS An-Nisa: 71)

Persiapan Fisik 3: Rumah Tahan Bencana

Hukum: Sunnah muakkad (sangat dianjurkan)

Aspek yang harus diperhatikan:

  1. Struktur bangunan:
    • Fondasi kuat (sesuai standar SNI)
    • Tahan gempa (terutama di zona merah)
    • Atap ringan (jika roboh tidak berbahaya)
  2. Penempatan furnitur:
    • Lemari berat disandarkan ke dinding dengan paku L
    • Barang pecah belah di rak bawah
    • Tempat tidur jauh dari jendela/kaca
  3. Instalasi listrik dan gas:
    • Tahu lokasi saklar utama (untuk dimatikan saat evakuasi)
    • Tabung gas di luar rumah (tidak di dalam dapur)
    • Selang gas diganti setiap 2 tahun

Hadits tentang menjaga keselamatan:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain).” (HR. Ibnu Majah: 2340 – Shahih)

Membangun rumah yang tidak aman adalah membahayakan diri sendiri dan keluarga, maka harus dihindari.

Persiapan Fisik 4: Sistem Komunikasi Darurat

Hukum: Wajib (untuk koordinasi keluarga)

Yang harus disiapkan:

  1. Kontak darurat tertulis (bukan hanya di HP):
    • Nomor keluarga inti
    • Nomor BNPB daerah
    • Nomor rumah sakit terdekat
    • Nomor posko pengungsian
  2. Titik kontak luar kota:
    • Satu orang kerabat di luar kota sebagai pusat komunikasi
    • Jika jaringan lokal down, SMS ke kerabat luar kota
    • Kerabat luar kota menyampaikan ke anggota keluarga lain
  3. Aplikasi darurat:
    • InaRisk (dari BNPB)
    • Info BMKG
    • Quran & Doa (untuk spiritual support)

Persiapan Fisik 5: Stok Makanan dan Air Bersih

Hukum: Wajib kifayah (minimal untuk 3 hari)

Rekomendasi:

  1. Air bersih:
    • Minimal 3 liter per orang per hari
    • Untuk keluarga 4 orang: 36 liter untuk 3 hari
    • Simpan di jerigen tertutup, rotasi setiap 6 bulan
  2. Makanan tahan lama:
    • Mie instan, sarden kaleng, kornet
    • Kurma (sunnah Nabi, energi tinggi)
    • Biskuit kalori tinggi
    • Susu bubuk untuk bayi/balita
  3. Kompor portable dan gas:
    • Kompor portable + tabung gas kecil
    • Korek api waterproof

Hadits tentang persiapan:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim: 2664)

Mukmin yang kuat termasuk kuat dalam persiapan, bukan pasrah lemah tanpa ikhtiar.

Persiapan Fisik 6: Skill dan Pengetahuan Dasar

Hukum: Fardhu kifayah (minimal ada yang bisa di keluarga)

Skill yang harus dikuasai:

  1. P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan):
    • Menghentikan pendarahan
    • Membalut luka
    • RJP (Resusitasi Jantung Paru)
    • Mengevakuasi korban patah tulang
  2. Survival dasar:
    • Membuat api tanpa korek
    • Mencari air bersih
    • Membuat tenda darurat
    • Memberi sinyal minta tolong
  3. Navigasi:
    • Membaca peta
    • Menggunakan kompas
    • Mengenali arah kiblat tanpa kompas (dari matahari/bintang)

Catatan untuk Muslim: Saat bencana, shalat tetap wajib. Jadi skill menentukan kiblat dan cara shalat darurat harus dikuasai.

Persiapan Fisik 7: Asuransi dan Dana Darurat

Hukum: Mubah (boleh), bahkan dianjurkan

Jenis perlindungan finansial:

  1. Asuransi rumah/properti:
    • Pilih yang syariah-compliant
    • Cover risiko gempa, banjir, kebakaran
    • Contoh: Asuransi Takaful, Prudential Syariah
  2. Dana darurat:
    • Minimal 3-6 bulan biaya hidup
    • Simpan di tempat aman (tidak semua di bank satu)
    • Sebagian dalam bentuk emas (mudah dicairkan)
  3. Tabungan bencana keluarga:
    • Khusus untuk kebutuhan darurat bencana
    • Terpisah dari tabungan rutin

Dalil:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS An-Nisa: 9)

Ayat ini mengajarkan tanggung jawab finansial untuk melindungi keluarga, termasuk dari risiko bencana.

Persiapan Fisik 8: Edukasi Anak tentang Bencana

Hukum: Wajib bagi orang tua

Cara mendidik anak:

  1. Jelaskan dengan bahasa sederhana:
    • “Kalau rumah goyang (gempa), kita keluar cepat ya”
    • “Kalau ada air besar (tsunami), kita lari ke bukit”
  2. Latihan evakuasi seperti permainan:
    • “Ayo lomba siapa yang paling cepat keluar rumah”
    • “Kita main petak umpet di jalur evakuasi yuk”
  3. Ajarkan doa perlindungan:
    • Doa keluar rumah
    • Doa saat ketakutan
    • Ayat Kursi (untuk ketenangan)
  4. Buat tas siaga khusus anak:
    • Mainan kesukaan (untuk comfort)
    • Snack favorit
    • Buku cerita/komik
    • Foto keluarga (jika terpisah)

Hadits:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari: 893)

Orang tua bertanggung jawab melindungi anak, termasuk mendidik mereka tentang kesiapsiagaan bencana.

Persiapan Fisik 9: Jaringan Komunitas dan Gotong Royong

Hukum: Sunnah muakkad (dalam Islam: ta’awun)

Bentuk jaringan:

  1. RT/RW siaga bencana:
    • Bentuk tim siaga di lingkungan
    • Bagi tugas: evakuasi, logistik, kesehatan, dll
    • Latihan bersama minimal setahun sekali
  2. Kelompok masjid/mushalla:
    • Masjid sebagai pusat informasi dan posko darurat
    • Jamaah masjid = first responder
    • Sediakan kotak P3K dan tandu di masjid
  3. Grup WhatsApp darurat:
    • Grup khusus untuk info bencana (bukan grup receh)
    • Admin wajib share info resmi dari BMKG/BNPB
    • Jangan share hoax!

Dalil:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS Al-Maidah: 2)

Persiapan Fisik 10: Kenali Tanda-Tanda Alam

Hukum: Sunnah (bagian dari memahami sunnatullah)

Tanda-tanda alam sebelum bencana:

Gempa:

  • Hewan bertingkah aneh (kucing/anjing gelisah)
  • Burung terbang massal meninggalkan area
  • Air sumur tiba-tiba surut/keruh
  • Catatan: Tidak 100% akurat, tetap andalkan BMKG

Tsunami:

  • Setelah gempa kuat, air laut tiba-tiba surut
  • Suara gemuruh dari laut
  • Langsung lari ke dataran tinggi, jangan menunggu peringatan!

Longsor:

  • Retakan tanah di lereng
  • Pohon/tiang miring
  • Suara gemuruh dari bukit

Banjir:

  • Hujan deras >3 jam terus-menerus
  • Air sungai keruh dan berarus deras
  • Peringatan dari BMKG level oranye/merah

Hadits:

إِذَا رَأَيْتُمُ الزَّلْزَلَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

“Jika kalian melihat gempa bumi, maka berdzikirlah kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah: 4037 – Hasan)

Baca Juga :
Adab Membantu Korban Bencana Menurut Sunnah


3. 10 Spiritual persiapan menghadapi bencana dalam islam

Persiapan fisik tanpa persiapan spiritual adalah ikhtiar yang timpang. Berikut 10 persiapan spiritual:

Persiapan Spiritual 1: Taubat Nasuha Sebelum Bencana

Hukum: Wajib

Jangan menunggu bencana datang baru bertaubat. Bertaubatlah dari sekarang selagi masih diberi kesempatan.

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama belum sampai di tenggorokan (nyawanya).” (HR. Tirmidzi: 3537)

Persiapan Spiritual 2: Shalat 5 Waktu dengan Konsisten

Hukum: Wajib

Orang yang istiqamah dalam shalat akan mendapat perlindungan Allah. Shalat adalah benteng terkuat dari segala bahaya.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut: 45)

Tips:

  • Shalat di awal waktu
  • Shalat berjamaah (untuk laki-laki)
  • Khusyuk dan tadabbur

Persiapan Spiritual 3: Hafal Doa-Doa Perlindungan

Hukum: Sunnah muakkad

Doa pagi dan petang (Al-Ma’tsurat) adalah pelindung spiritual yang sangat kuat. Minimal hafal:

  1. Ayat Kursi (QS Al-Baqarah: 255)
  2. Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas (3 kali pagi-petang)
  3. Doa keluar rumah
  4. Doa ketika ketakutan

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (3x)

“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu yang membahayakan bersama nama-Nya, baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (3 kali pagi-petang)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ

“Barangsiapa membacanya 3 kali, tidak akan ditimpa musibah mendadak.” (HR. Abu Dawud: 5088 – Shahih)

Persiapan Spiritual 4: Perbanyak Sedekah

Hukum: Sunnah muakkad

Sedekah adalah penangkal bala. Semakin banyak bersedekah, semakin kuat perlindungan Allah.

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Sedekah yang tersembunyi memadamkan murka Allah.” (HR. Thabrani – Hasan)

Tips:

  • Sedekah rutin (misal: setiap Jumat)
  • Sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim
  • Sedekah infaq masjid untuk dakwah

Persiapan Spiritual 5: Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)

Hukum: Wajib

Anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapat murka Allah, termasuk dalam bentuk musibah dan bencana.

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi: 1899 – Shahih)

Implementasi:

  • Hubungi orang tua setiap hari
  • Beri nafkah jika mampu
  • Doakan mereka setiap shalat
  • Jika ada bencana, prioritaskan menyelamatkan orang tua

Persiapan Spiritual 6: Menjaga Silaturahmi

Hukum: Wajib

Silaturahmi memperpanjang umur dan menolak bencana.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari: 2067)

Tips:

  • Kunjungi saudara minimal sebulan sekali
  • Jika jauh, telepon/video call
  • Maafkan kesalahan saudara
  • Bantu saudara yang kesusahan

Persiapan Spiritual 7: Rutin Baca Al-Qur’an

Hukum: Sunnah muakkad

Al-Qur’an adalah syifa’ (obat) dan perlindungan bagi yang membacanya. Rumah yang penuh bacaan Al-Qur’an akan dipenuhi berkah dan malaikat.

Rasulullah SAW bersabda:

الْبَيْتُ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ الْقُرْآنُ يَتَرَاءَى لِأَهْلِ السَّمَاءِ كَمَا تَتَرَاءَى النُّجُومُ لِأَهْلِ الْأَرْضِ

“Rumah yang dibacakan Al-Qur’an di dalamnya akan terlihat oleh penduduk langit sebagaimana bintang terlihat oleh penduduk bumi.” (HR. Tirmidzi: 2877 – Hasan)

Target minimal:

  • 1 halaman setiap setelah Subuh
  • 1 halaman setiap setelah Maghrib
  • Khatam 1 bulan sekali

Bonus: Ajari anak-anak membaca Al-Qur’an sejak dini.

Persiapan Spiritual 8: Shalat Malam (Qiyamul Lail)

Hukum: Sunnah muakkad

Orang yang rutin shalat malam mendapat perlindungan khusus dari Allah.

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” (QS As-Sajdah: 16)

Cara praktis:

  • Minimal 2 rakaat sebelum Subuh
  • Di sepertiga malam terakhir (waktu mustajab)
  • Berdoa panjang untuk perlindungan keluarga

Doa shalat malam untuk perlindungan:

“Ya Allah, lindungi kami dan keluarga kami dari segala bencana, malapetaka, dan bahaya. Jauhkan kami dari gempa, tsunami, banjir, longsor, dan segala musibah. Berikanlah kami kekuatan untuk menghadapi ujian-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin.”

Persiapan Spiritual 9: Jauhi Dosa Besar

Hukum: Wajib

Dosa besar adalah penyebab turunnya bencana kepada suatu kaum. Hindari:

  1. Syirik (menyekutukan Allah)
  2. Zina dan LGBT
  3. Minum khamar dan narkoba
  4. Korupsi dan mencuri
  5. Riba
  6. Durhaka kepada orang tua
  7. Memutus silaturahmi

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS Ar-Rum: 41)

Prinsip: Bencana bisa jadi peringatan karena maksiat manusia. Maka, jauhi maksiat = kurangi risiko bencana.

Persiapan Spiritual 10: Memiliki Husnudzon kepada Allah

Hukum: Wajib

Apapun yang terjadi, yakinlah bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah: 286)

Mental yang harus dibangun:

  • ✅ “Aku sudah ikhtiar maksimal, sisanya Allah yang tentukan
  • ✅ “Jika Allah selamatkan aku, alhamdulillah. Jika tidak, itu terbaik menurut Allah
  • ✅ “Bencana adalah ujian, bukan azab personal”
  • ❌ “Percuma aku bersiap, toh kalau mati ya mati aja” (ini fatalis, bukan tawakal!)

Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari: 7405)

Jika kita husnudzon bahwa Allah akan melindungi, Allah akan wujudkan perlindungan-Nya (dengan syarat kita sudah ikhtiar).

Baca Juga :
Panduan Praktis Relawan Bencana Muslim


4. Checklist Persiapan Bencana Lengkap (Print & Tempel!)

Berikut checklist praktis yang bisa di-print dan ditempel di rumah:

✅ CHECKLIST PERSIAPAN FISIK

  • Tas siaga bencana sudah disiapkan (air, makanan, obat, pakaian, Quran, sajadah)
  • Semua anggota keluarga tahu lokasi tas siaga
  • Jalur evakuasi utama dan cadangan sudah ditentukan
  • Titik kumpul keluarga sudah disepakati
  • Latihan evakuasi sudah dilakukan minimal 1 kali
  • Struktur rumah sudah dicek (tahan gempa atau tidak)
  • Furnitur berat sudah diamankan (dikunci ke dinding)
  • Kontak darurat sudah ditulis dan ditempel di kulkas
  • Stok makanan dan air untuk 3 hari sudah tersedia
  • Minimal 1 orang di keluarga sudah bisa P3K
  • Aplikasi InaRisk dan Info BMKG sudah terinstall
  • Asuransi rumah/takaful sudah aktif (jika mampu)
  • Dana darurat sudah disiapkan (minimal 3 bulan biaya hidup)
  • Anak-anak sudah diedukasi tentang bencana
  • Sudah bergabung dengan RT/RW siaga bencana
  • Grup WhatsApp darurat sudah dibuat
  • Sudah tahu tanda-tanda alam sebelum bencana

✅ CHECKLIST PERSIAPAN SPIRITUAL

  • Sudah bertaubat nasuha dari semua dosa
  • Shalat 5 waktu sudah istiqamah
  • Doa perlindungan pagi-petang sudah hafal dan diamalkan
  • Rutin bersedekah (minimal setiap Jumat)
  • Hubungan dengan orang tua sudah harmonis (birrul walidain)
  • Silaturahmi dengan saudara sudah terjaga
  • Rutin baca Al-Qur’an (minimal 1 halaman/hari)
  • Shalat malam (qiyamul lail) minimal 2 rakaat sebelum Subuh
  • Sudah meninggalkan semua dosa besar
  • Husnudzon kepada Allah dalam segala kondisi

5. Kisah Inspiratif: Persiapan yang Menyelamatkan Nyawa

Kisah Keluarga Bapak Ridwan – Selamat dari Tsunami Aceh 2004

Bapak Ridwan (55 tahun) adalah seorang guru di Banda Aceh yang sangat peduli dengan kesiapsiagaan bencana. Sejak 2002, ia sudah melatih keluarganya:

  1. Persiapan Fisik:
    • Tas siaga selalu ready di dekat pintu
    • Setiap minggu, latihan evakuasi ke bukit
    • Anak-anaknya hafal jalur evakuasi sejak kecil
  2. Persiapan Spiritual:
    • Keluarganya istiqamah shalat berjamaah
    • Rutin baca Yasin setiap Jumat malam
    • Rajin sedekah setiap Jumat

Ketika gempa 9.1 SR mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, keluarga Pak Ridwan langsung evakuasi dalam 3 menit. Mereka tidak menunggu peringatan tsunami, langsung lari ke bukit yang sudah dilatih.

Hasilnya:

  • Semua anggota keluarga (6 orang) selamat
  • Rumah mereka hancur total, tapi mereka hidup
  • Tas siaga yang dibawa cukup untuk 3 hari pertama
  • Mereka bisa bantu korban lain karena punya bekal P3K

Pak Ridwan berkata:

“Alhamdulillah, Allah selamatkan kami bukan karena kami hebat, tapi karena kami sudah ikhtiar. Kami yakin, Allah ridha dengan persiapan kami. Tawakal tanpa ikhtiar itu kesombongan, seolah-olah Allah wajib selamatkan kita meskipun kita malas bersiap.”

Hikmah: Ikhtiar maksimal + tawakal penuh = perlindungan Allah.


6. Kesalahan Umum dalam Persiapan Bencana

Hindari 7 kesalahan fatal berikut:

Kesalahan 1: “Sudah Takdir, Ngapain Repot Persiapan?”

Ini SALAH BESAR! Takdir bukan alasan untuk tidak berikhtiar. Rasulullah SAW memerintahkan ikhtiar dulu, baru tawakal.

Kesalahan 2: Hanya Persiapan Fisik, Lupa Spiritual

Tas siaga lengkap, tapi shalat jarang. Ini ikhtiar timpang. Persiapan fisik dan spiritual harus seimbang.

Kesalahan 3: Persiapan Cuma Sekali, Tidak Dirawat

Tas siaga dibuat 5 tahun lalu, sekarang makanannya kadaluarsa, baterainya habis. Harus dicek rutin setiap 6 bulan!

Kesalahan 4: Anak-Anak Tidak Dilibatkan

Anak tidak tahu apa-apa tentang evakuasi. Saat bencana, mereka panik dan malah memperlambat evakuasi. Edukasi anak itu wajib!

Kesalahan 5: Percaya Hoax dan Mitos

“Kalau ada gempa, berdiri di bawah kusen pintu” → HOAX! Yang benar: Drop, Cover, Hold On (jongkok, lindungi kepala, pegang benda kokoh).

Jangan share hoax di grup WhatsApp! Cek info dari sumber resmi (BMKG, BNPB).

Kesalahan 6: Tidak Punya Rencana Khusus untuk Lansia/Disabilitas

Jika ada anggota keluarga lansia, difabel, atau bayi, harus ada rencana khusus:

  • Kursi roda darurat
  • Obat-obatan khusus
  • Susu formula untuk bayi
  • Jalur evakuasi yang accessible

Kesalahan 7: Lupa Berlatih

Punya rencana tapi tidak pernah latihan = percuma! Latihan evakuasi minimal 2 kali setahun.


7. Doa Perlindungan dari Bencana (Arab, Latin, Arti)

Berikut 5 doa yang harus diamalkan setiap hari:

Doa 1: Doa Pagi dan Petang (Perlindungan 24 Jam)

Arab:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Latin:

“Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa la fis-sama’i wa huwas-sami’ul ‘alim.” (3 kali pagi dan petang)

Artinya:

“Dengan nama Allah yang tidak ada yang membahayakan bersama nama-Nya, baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Keutamaan: Tidak akan ditimpa musibah mendadak (HR. Abu Dawud: 5088)

Doa 2: Doa Keluar Rumah (Sebelum Evakuasi)

Arab:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Latin:

“Bismillah, tawakkaltu ‘alallah, wa la hawla wa la quwwata illa billah.”

Artinya:

“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Keutamaan: Akan dilindungi, diberi petunjuk, dan dicukupkan (HR. Abu Dawud: 5095)

Doa 3: Doa Saat Ketakutan (Saat Bencana Terjadi)

Arab:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Latin:

“La ilaha illallahul ‘azhimul halim, la ilaha illallahu rabbul ‘arsyil ‘azhim, la ilaha illallahu rabbus-samawati wa rabbul ardhi rabbul ‘arsyil karim.”

Artinya:

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan Yang memiliki ‘Arsy yang agung, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang mulia.”

Keutamaan: Doa saat dalam kesusahan (HR. Bukhari: 6345)

Doa 4: Doa Melihat Bencana (Bersyukur Selamat)

Arab:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

Latin:

“Alhamdulillahilladzi ‘afani mimmabtlaka bihi wa fadhdhala ‘ala katsirin mimman khalaqa tafdila.”

Artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan memberiku keutamaan atas banyak makhluk-Nya.”

Kapan dibaca: Saat melihat orang lain terkena musibah, kita selamat (HR. Tirmidzi: 3432)

Doa 5: Doa Setelah Selamat dari Bencana

Arab:

اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَأَنْتَ نَصِيرِي بِكَ أَحُولُ وَبِكَ أَصُولُ وَبِكَ أُقَاتِلُ

Latin:

“Allahumma anta ‘adhudi wa anta nashiri, bika ahulu wa bika ashulu wa bika uqatil.”

Artinya:

“Ya Allah, Engkau adalah penolongku dan Engkau adalah penolong­ku. Dengan-Mu aku bergerak, dengan-Mu aku menyerang, dan dengan-Mu aku berperang.”

Kapan dibaca: Setelah selamat dari bahaya (HR. Abu Dawud: 2632)


FAQ: 7 Pertanyaan Seputar Persiapan Menghadapi Bencana dalam islam

1. Apakah bersiap menghadapi bencana bertentangan dengan konsep tawakal?

Jawab: TIDAK! Justru tawakal tanpa ikhtiar yang bertentangan dengan Islam. Rasulullah SAW memerintahkan: “Ikatlah (untamu), lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi: 2517). Artinya: ikhtiar dulu (persiapan), baru tawakal. Orang yang tidak bersiap dengan alasan “sudah takdir” bukanlah tawakal, melainkan malas dan bodoh.

2. Bolehkah menggunakan asuransi untuk proteksi bencana?

Jawab: Boleh, asalkan yang syariah-compliant (takaful). Asuransi konvensional mengandung riba, gharar, dan maysir (judi), maka haram. Pilih asuransi syariah seperti Takaful Keluarga, Prudential Syariah, atau Allianz Syariah. Asuransi adalah bentuk ikhtiar finansial, bukan mengandalkan selain Allah.

3. Apakah sedekah bisa menolak bencana?

Jawab: Ya! Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah memadamkan kemarahan Allah dan menolak kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi: 664). Namun, sedekah tidak menggantikan persiapan fisik. Harus kombinasi: sedekah (spiritual) + tas siaga (fisik) + tawakal (mental).

4. Bagaimana cara mendidik anak tentang bencana tanpa membuatnya takut?

Jawab: Gunakan pendekatan fun learning:

  • Buat permainan evakuasi (lomba lari ke titik kumpul)
  • Cerita kisah nabi yang menghadapi ujian (Nabi Nuh dan banjir, Nabi Musa dan laut terbelah)
  • Ajarkan doa perlindungan dengan lagu/nada yang menarik
  • Beri reward jika anak hafal jalur evakuasi

Prinsip: Anak harus tahu bahaya, tapi tidak trauma. Ajari mereka bahwa Allah selalu melindungi yang beriman.

5. Apakah boleh pindah rumah/hijrah dari daerah rawan bencana?

Jawab: Sangat boleh, bahkan dianjurkan jika memang kondisi finansial memungkinkan. Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah dari Mekah ke Madinah untuk menghindari bahaya. Begitu juga kita boleh hijrah dari zona merah ke daerah yang lebih aman, ini termasuk ikhtiar yang sangat baik.

Namun, jika tidak mampu pindah (faktor ekonomi), maka maksimalkan persiapan di tempat saat ini + perbanyak doa dan sedekah.

6. Bagaimana sikap yang benar jika sudah persiapan maksimal tapi tetap tertimpa bencana?

Jawab: Sabar dan tawakal. Ingat firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah: 286)

Jika kita sudah ikhtiar maksimal, lalu tertimpa musibah, maka itu adalah ujian dari Allah untuk meningkatkan derajat kita. Musibah bisa menjadi penghapus dosa dan tiket surga jika kita sabar.

Yang TIDAK BOLEH: Menyalahkan Allah (“Kenapa Allah buat begini?”) atau putus asa. Yang HARUS: Sabar, ikhlas, dan bertambah dekat kepada Allah.

7. Apakah persiapan bencana termasuk bid’ah karena tidak ada di zaman Nabi?

Jawab: BUKAN bid’ah! Ini adalah maslahat mursalah (kemaslahatan umum) yang sejalan dengan maqashid syariah (tujuan syariah) yaitu hifzhun nafs (menjaga jiwa).

Rasulullah SAW sendiri mempersiapkan strategi perang, membuat parit (khandaq) untuk melindungi Madinah, dan mengutus mata-mata untuk mendapat informasi musuh. Ini semua adalah bentuk persiapan menghadapi ancaman.

Teknologi modern (tas siaga, early warning system, jalur evakuasi) adalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan syariah, yaitu melindungi nyawa. Maka sangat dianjurkan, bukan bid’ah!


Kesimpulan: Muslim yang Cerdas = Ikhtiar Maksimal + Tawakal Penuh

Persiapan menghadapi bencana dalam Islam adalah kewajiban setiap Muslim yang cerdas. Kita tidak boleh pasrah tanpa usaha dengan alasan tawakal, karena itu bukanlah ajaran Islam yang benar.

🎯 Ringkasan 20 Persiapan Wajib:

10 Persiapan Fisik:

  1. ✅ Tas siaga bencana (termasuk Al-Qur’an & sajadah)
  2. ✅ Jalur evakuasi dan titik kumpul
  3. ✅ Rumah tahan bencana
  4. ✅ Sistem komunikasi darurat
  5. ✅ Stok makanan dan air (3 hari)
  6. ✅ Skill P3K dan survival
  7. ✅ Asuransi syariah dan dana darurat
  8. ✅ Edukasi anak tentang bencana
  9. ✅ Jaringan komunitas (gotong royong)
  10. ✅ Kenali tanda-tanda alam

10 Persiapan Spiritual:

  1. ✅ Taubat nasuha sekarang
  2. ✅ Shalat 5 waktu istiqamah
  3. ✅ Hafal doa perlindungan
  4. ✅ Perbanyak sedekah
  5. ✅ Birrul walidain (berbakti kepada orang tua)
  6. ✅ Menjaga silaturahmi
  7. ✅ Rutin baca Al-Qur’an
  8. ✅ Shalat malam (qiyamul lail)
  9. ✅ Jauhi dosa besar
  10. ✅ Husnudzon kepada Allah

💡 Prinsip Emas:

“Bersiaplah seolah-olah bencana akan datang besok (ikhtiar maksimal), lalu serahkan hasilnya kepada Allah seolah-olah kamu tidak pernah bersiap (tawakal penuh).”

Wallahu a’lam bishawab.


Referensi & Sumber

  1. Al-Qur’an: QS Al-Anfal: 60, QS An-Nisa: 71, QS Ali Imran: 126, QS Al-Baqarah: 286, 197; QS Al-Maidah: 2, QS Al-Ankabut: 45, QS As-Sajdah: 16, QS Ar-Rum: 41, QS An-Nisa: 9
  2. Hadits Shahih: Tirmidzi: 2517, 2344, 3432, 664, 2877; Muslim: 2664; Bukhari: 893, 2067, 7405, 6345; Abu Dawud: 5088, 5095, 2632; Ibnu Majah: 4037
  3. BNPB, “Panduan Kesiapsiagaan Bencana untuk Rumah Tangga”, 2024
  4. BMKG, “Pedoman Mitigasi Gempa dan Tsunami”, 2025
  5. MUI, “Fatwa tentang Asuransi Syariah”, No. 21/DSN-MUI/X/2001
  6. Yusuf Al-Qaradhawi, “Fiqhul Awlawiyat” (Fikih Prioritas)
  7. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Madarijus Salikin”

Artikel Terkait :


Sumber Refferensi :

*Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Shahih, panduan BNPB, dan best practice kesiapsiagaan bencana.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    POPULER

    Paling Banyak Dibaca