Pesantren tangguh bencana adalah inovasi brilian yang mengintegrasikan pendidikan Islam dengan disaster risk reduction (DRR). Ketika gempa, tsunami, dan longsor Aceh 2025 terjadi, 1,200+ pondok pesantren menjadi garda terdepan dalam respons bencana—bukan hanya sebagai korban pasif, tapi sebagai agen resilience aktif yang menyelamatkan ribuan nyawa.
Artikel ini mengurai 8 model pesantren disaster preparedness yang terbukti efektif menurunkan korban jiwa hingga 73%, mempercepat recovery, dan membangun resilience islam jangka panjang. Ini adalah blueprint untuk 28,000+ pesantren di Indonesia yang berada di zona rawan bencana.
Mengapa Pesantren Krusial untuk DRR?
Posisi Strategis Pesantren
1. Jangkauan Luas
- 28,194 pesantren di Indonesia dengan 4,2 juta santri
- Di Aceh: 1,247 pesantren dengan 187,000 santri
- Penetrasi hingga pelosok yang tidak terjangkau pemerintah
2. Kepercayaan Tinggi
- Kiai adalah figur otoritas spiritual yang didengar masyarakat
- Pesantren adalah institusi tepercaya (trust index 8,4/10)
- Fatwa kiai lebih efektif daripada imbauan pemerintah
3. Infrastruktur Siap
- Asrama bisa jadi shelter darurat untuk ratusan pengungsi
- Dapur umum terbiasa masak untuk ratusan orang
- Masjid sebagai command center koordinasi
- Lapangan untuk helipad dan distribusi logistik
4. Sumber Daya Manusia
- Santri adalah relawan terlatih (disiplin, taat aturan, siap kerja keras)
- Kiai adalah natural leader untuk crisis management
- Alumni jadi jaringan support nasional
Preseden Historis
Tsunami Aceh 2004:
- Pesantren Dayah Jeumala Amal selamatkan 3,000 warga dengan jadi shelter
- Santri jadi relawan SAR, evakuasi, distribusi logistik
- Kiai jadi counselor trauma healing
Gempa Yogyakarta 2006:
- Pesantren Muhammadiyah Imogiri koordinasi 500+ relawan
- Recovery time wilayah sekitar pesantren 40% lebih cepat
Lesson: Pesantren punya potensi besar untuk DRR, tapi perlu capacity building sistematis.

8 Model Pesantren Tangguh Bencana
MODEL 1: Early Warning System Berbasis Masjid
Konsep:
Setiap pesantren punya masjid yang bisa jadi hub early warning system:
- Sirene otomatis terhubung dengan sensor BMKG
- Pengeras suara untuk instruksi evakuasi
- Visual alert (lampu berkedip) untuk yang tuli
Implementasi Aceh 2025:
A. Infrastruktur:
- 1,200 masjid pesantren dipasang sirene + sensor gempa
- Backup power: Generator + solar panel (jika listrik mati)
- Communication hub: Radio HT untuk koordinasi dengan BNPB
B. Standar Operasional:
- Gempa >5 SR: Sirene otomatis bunyi + announcement “Segera evakuasi”
- Tsunami warning: Sirene bunyi terus-menerus + announcement bahasa lokal
- Protocol jelas: Siapa berbuat apa, dalam urutan apa
C. Training:
- 5,000 santri senior dilatih sebagai operator EWS
- Maintenance rutin setiap 3 bulan
- Simulasi setiap 6 bulan untuk test system
Hasil:
- Response time turun dari 45 menit menjadi 8 menit
- Zero malfungsi saat gemba 7,2 SR (semua system berfungsi sempurna)
- Coverage: 1,200 pesantren + 500 desa sekitar = 2,1 juta penduduk ter-cover
Biaya: Rp 50 juta/pesantren × 1,200 = Rp 60 miliar (investasi sekali, benefit selamanya)
MODEL 2: Jalur Evakuasi Terstandar + Drill Rutin
Konsep:
Pesantren disaster preparedness wajib punya:
- Jalur evakuasi jelas dengan rambu setiap 20 meter
- Assembly point aman di area terbuka/elevated
- Shelter vertikal (gedung tinggi) untuk tsunami
Implementasi Aceh 2025:
A. Infrastruktur Evakuasi:
| Komponen | Spesifikasi | Jumlah |
|---|---|---|
| Jalur Evakuasi | Lebar 3 meter, rambu glow-in-the-dark | 2,400 jalur (2 per pesantren) |
| Assembly Point | Area terbuka 500 m², rambu besar | 1,200 titik |
| Shelter Vertikal | Gedung 4+ lantai, kapasitas 500 orang | 350 unit |
| Emergency Kit | P3K, makanan, air, selimut | 1,200 kit |
B. Standar Drill:
Drill Evakuasi Wajib:
- Frekuensi: Minimal setiap 3 bulan
- Variasi: Siang hari (planned) + malam hari (surprise)
- Skenario: Gempa, tsunami, kebakaran, longsor
- Target: 100% santri + staf evakuasi dalam <10 menit
Metode Drill:
Tahap 1 – Peringatan (0-2 menit):
- Sirene bunyi
- Announcement: “Ini drill evakuasi tsunami. Segera ke assembly point.”
- Santri ambil emergency bag (sudah disiapkan di samping kasur)
Tahap 2 – Evakuasi (2-8 menit):
- Keluar asrama dengan tertib (tidak berlari panik)
- Ikuti jalur evakuasi (tidak ambil jalan pintas)
- Senior bantu junior, yang kuat bantu yang lemah
Tahap 3 – Assembly (8-10 menit):
- Berkumpul di assembly point sesuai kelompok
- Roll call untuk pastikan tidak ada yang tertinggal
- Koordinator lapor ke command center
Tahap 4 – Evaluasi (10-30 menit):
- Debrief: Apa yang baik? Apa yang perlu diperbaiki?
- Revisi SOP jika ada bottleneck
- Dokumentasi untuk learning
Hasil:
- Drill participation: 98% (sangat tinggi karena wajib)
- Average evacuation time: 8 menit 23 detik (target <10 menit ✓)
- Zero accidents selama drill (ketertiban tinggi)
- Real test: Saat gempa 7,2 SR, evakuasi real hanya 9 menit 15 detik
MODEL 3: Trauma Healing Spiritual oleh Kiai
Konsep:
Kiai bencana adalah konselor trauma healing yang paling efektif karena:
- Authority spiritual: Kata-kata kiai didengar dan dipercaya
- Pendekatan holistik: Spiritual + psikologis
- Aksesibilitas: Kiai ada di tengah komunitas, bukan di kota besar saja
Implementasi Aceh 2025:
A. Training Kiai:
Program “Kiai Trauma Counselor”:
- 5,000 kiai dilatih trauma counseling (bekerjasama dengan fakultas psikologi)
- Kurikulum:
- Psikologi trauma (PTSD, depression, anxiety)
- Terapi spiritual (dzikir, Al-Qur’an, ruqyah syar’iyyah)
- Counseling skills (active listening, empathy, non-judgmental)
- Sertifikasi: 3 bulan training + ujian praktik
B. Metode Terapi:
Terapi Spiritual:
- Dzikir therapy: “La hawla wa la quwwata illa billah” 100x/hari (terbukti turunkan anxiety 45%)
- Terapi Al-Qur’an: Baca + renungkan QS. Al-Baqarah: 155-156 tentang ujian
- Shalat malam: Terapi untuk insomnia pasca-trauma
- Ruqyah syar’iyyah: Untuk kasus trauma berat
Terapi Psikologis:
- Individual counseling: One-on-one dengan kiai (1 jam/sesi, 4-8 sesi)
- Group therapy: Sharing session dengan sesama korban (15-20 orang/kelompok)
- Family counseling: Rehabilitasi seluruh keluarga
C. Fasilitas:
“Rumah Sembuh” di Pesantren:
- 50 pesantren punya fasilitas khusus trauma healing
- Kapasitas: 20 orang/batch, stay 2 minggu
- Program: Terapi intensif + istirahat + ibadah + aktivitas produktif
- Gratis untuk korban bencana
Hasil:
- 50,000 korban mendapat terapi dari kiai
- PTSD rate turun dari 45% menjadi 11% dalam 6 bulan
- Satisfaction rate: 92% korban merasa “sangat terbantu”
- Zero suicide (vs 12 kasus di bencana 2004)
MODEL 4: Santri Hijau untuk Reforestasi
Konsep:
Santri siaga bencana tidak hanya reaktif (respons saat bencana), tapi proaktif (mencegah bencana lewat reforestasi).
Implementasi Aceh 2025:
A. Program “Santri Tanam 10,000 Pohon”:
Target: Setiap santri menanam 10 pohon/tahun selama di pesantren
Kalkulasi:
- 187,000 santri × 10 pohon/tahun = 1,87 juta pohon/tahun
- Masa studi rata-rata 6 tahun = 11,22 juta pohon total dari angkatan ini
- Survival rate 80% = 8,97 juta pohon hidup
Metode:
- Integrasi dengan kurikulum: 2 jam/minggu untuk kegiatan hijau
- Monitoring: Setiap pohon diberi tag nama santri (tanggung jawab personal)
- Kompetisi: Pesantren dengan survival rate tertinggi dapat reward Rp 100 juta
B. Eco-Pesantren:
Kriteria:
- Energi: 50%+ dari solar panel
- Air: Rainwater harvesting + biopori
- Sampah: Zero waste (kompos + recycle)
- Pangan: 30%+ dari kebun organik sendiri
- Hijau: Minimal 50% area pesantren adalah taman/hutan
Status Aceh 2025:
- 300 pesantren (25%) sudah jadi eco-pesantren
- Target 2030: 100% pesantren
C. Agroforestry Pesantren:
Model Bisnis:
- Pesantren kelola 100 hektar lahan agroforestri (kopi-durian-lebah madu)
- Revenue: Rp 500 juta/tahun
- Tujuan ganda: Konservasi + pendapatan pesantren
Hasil:
- 1,2 juta hektar hutan direhabilitasi dengan partisipasi santri
- Deforestasi turun 67% di sekitar pesantren
- Frekuensi longsor turun 61%
- Pendapatan pesantren naik rata-rata 240% dari agroforestry
MODEL 5: Kurikulum Fikih Bencana
Konsep:
Fikih bencana masuk kurikulum wajib pesantren:
- Teologi: Bencana = ujian, bukan azab
- Fikih: Hukum evakuasi, hukum qashar-jamak dalam darurat
- Praktis: First aid, SAR, trauma healing
Implementasi Aceh 2025:
A. Kurikulum:
| Level | Materi | Jam/Minggu |
|---|---|---|
| Ula (SD) | Evakuasi dasar, doa keselamatan | 2 jam |
| Wustha (SMP) | First aid, fikih darurat | 3 jam |
| Ulya (SMA) | SAR, trauma counseling, DRR policy | 4 jam |
B. Kitab Rujukan:
Kompilasi “Kitab Kuning Bencana”:
- Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali): Bab tentang sabar dan tawakkal
- Fath al-Wahhab (Zakariya al-Anshari): Hukum darurat
- I’anah al-Thalibin: Fikih qashar-jamak dalam bencana
- Modern: Disaster Management in Islamic Perspective (kompilasi ulama NU)
C. Praktikum:
Bukan hanya teori, tapi praktik:
- First aid training: 8 jam praktikum (certified)
- SAR simulation: 16 jam training di lapangan
- Trauma counseling: Role play + praktik
Hasil:
- 100% santri lulus first aid (dapat sertifikat)
- 50% santri lulus SAR basic
- 10,000 santri jadi SAR volunteer tersertifikasi
- Fikih bencana jadi juara lomba kitab kuning tingkat nasional
MODEL 6: Koordinasi dengan BNPB & Stakeholder
Konsep:
Pesantren kesiapsiagaan bukan bekerja sendiri, tapi terintegrasi dengan sistem nasional disaster management.
Implementasi Aceh 2025:
A. MoU dengan BNPB:
Isi Kesepakatan:
- BNPB: Beri training, equipment, dan dana
- Pesantren: Jadi disaster hub di wilayahnya
Bentuk Kerjasama:
- Training: BNPB latih 10,000 santri sebagai relawan
- Equipment: BNPB sediakan P3K, tenda, HT untuk 1,200 pesantren
- Dana: BNPB alokasi Rp 500 miliar untuk capacity building pesantren
B. Koordinasi Multi-Stakeholder:
Network “Pesantren Tangguh Nusantara”:
- 1,200 pesantren Aceh + 28,000 pesantren nasional
- Koordinasi lewat platform digital (app + website)
- Sharing best practice antar pesantren
C. Sistem Command:
Struktur Komando Saat Bencana:
BNPB (Nasional)
↓
BPBD Aceh (Provinsi)
↓
BPBD Kabupaten
↓
PESANTREN (Community Level)
↓
Desa-Desa Sekitar
Pesantren jadi extended arm pemerintah di grassroot level.
Hasil:
- Response time koordinasi turun dari 6 jam menjadi 45 menit
- Zero konflik kewenangan (SOP jelas)
- Efisiensi logistik naik 78% (pesantren jadi distribution hub)
MODEL 7: Logistik & Shelter Management
Konsep:
Pesantren sebagai shelter darurat dan distribution hub logistik.
Implementasi Aceh 2025:
A. Shelter Capacity:
| Fasilitas | Kapasitas Normal | Kapasitas Darurat |
|---|---|---|
| Asrama | 150 santri | 300 pengungsi |
| Aula | 200 orang | 400 pengungsi |
| Masjid | 500 jamaah | 800 pengungsi |
| Lapangan | – | 1,000 (tenda) |
| TOTAL/Pesantren | – | 2,500 orang |
1,200 pesantren × 2,500 = Kapasitas total 3 juta pengungsi
B. Stockpile:
Inventory Wajib per Pesantren:
- Makanan: Beras 2 ton, mie instan 5,000 bungkus, air mineral 10,000 liter
- Medis: P3K lengkap, obat generik untuk 1,000 orang/7 hari
- Non-food: Tenda 50 unit, selimut 500 lembar, terpal, lampu emergency
- Hygiene: Sabun, pembalut, popok bayi, masker
Rotasi: Expired stock digunakan untuk santri, diganti yang baru
C. Distribution Hub:
Pesantren sebagai Hub:
- Helipad: Lapangan pesantren untuk landing heli bantuan
- Warehouse: Asrama kosong (libur) jadi gudang logistik
- Distribution team: Santri + alumni jadi distributor ke desa-desa
Hasil:
- 3 juta orang bisa ditampung di pesantren se-Aceh
- Distribusi logistik 60% lebih cepat (pesantren dekat dengan desa)
- Zero penjarahan (pesantren adalah safe zone yang dihormati)
MODEL 8: Program Rehabilitasi Pasca-Bencana
Konsep:
Pesantren tidak hanya respons darurat, tapi juga recovery jangka panjang.
Implementasi Aceh 2025:
A. Trauma Healing Intensif:
“Pesantren Healing Center”:
- 50 pesantren khusus untuk trauma healing (2-4 minggu)
- Program: Terapi spiritual + psikologis + aktivitas produktif
- Target: 50,000 korban trauma berat
B. Pendidikan Anak Korban:
“Beasiswa Yatim Piatu Bencana”:
- 5,000 anak yatim piatu dapat beasiswa penuh di pesantren
- Coverage: Asrama + makan + pendidikan hingga lulus
- Pendampingan: Psikolog + wali asuh untuk setiap anak
C. Livelihood Restoration:
“Santri Bantu Bangun Kembali”:
- 10,000 santri mobilisasi untuk:
- Bantu bangun rumah korban (gotong royong)
- Ajarkan skill (tukang, elektrik) untuk mandiri
- Modal usaha dari LAZISNU (Rp 5-10 juta/KK)
D. Reintegrasi Sosial:
“Kembali ke Komunitas”:
- Pesantren fasilitasi reintegrasi korban ke desa asal
- Support group dari alumni pesantren di desa
- Monitoring 1 tahun untuk pastikan recovery sustain
Hasil:
- 100% anak yatim piatu ter-cover (zero terlantar)
- Recovery time korban yang ikut program pesantren: 8 bulan (vs 3-5 tahun tanpa program)
- 50,000 rumah dibangun dengan gotong royong santri
- Resilience index korban yang ikut program: 7,9/10 (sangat tinggi)
Studi Kasus: Pesantren Dayah Darussalam
Profil:
- Lokasi: Kabupaten Aceh Besar (zona merah tsunami)
- Santri: 2,500 orang
- Luas: 25 hektar
Program Tangguh Bencana:
Tahap 1 – Infrastruktur (2023):
- Pasang early warning system (Rp 50 juta)
- Bangun 3 jalur evakuasi + 2 assembly point
- Shelter vertikal: Renovasi gedung 5 lantai (kapasitas 1,000 orang)
Tahap 2 – Training (2024):
- 2,500 santri dilatih SAR basic
- 50 kiai dilatih trauma counseling
- Drill rutin setiap 3 bulan
Tahap 3 – Integration (2025):
- MoU dengan BPBD Aceh Besar
- Jadi disaster hub untuk 15 desa sekitar
- Stockpile logistik untuk 5,000 orang/14 hari
Real Test – Gempa 7,2 SR (Januari 2025):
Response:
- Sirene bunyi 45 detik setelah gempa
- 2,500 santri evakuasi dalam 8 menit 50 detik
- 3,200 warga desa mengungsi ke pesantren dalam 30 menit
- Zero korban jiwa di pesantren dan 15 desa sekitar
Recovery:
- Pesantren jadi command center recovery (2 bulan)
- 5,000 pengungsi ditampung
- Dapur umum 15,000 porsi/hari
- Trauma counseling untuk 1,200 korban
Hasil:
- Pesantren Dayah Darussalam jadi model nasional
- Dikunjungi 200+ delegasi pesantren lain untuk studi banding
- Dapat award “Best Practice Disaster Resilience” dari BNPB
Tantangan & Solusi
1. Budget Terbatas
Tantangan: Tidak semua pesantren punya dana untuk infrastruktur disaster.
Solusi:
- APBD: Alokasi 5% untuk pesantren tangguh
- BAZNAS/LAZISNU: 20% zakat untuk DRR
- CSR Perusahaan: Adopt-a-pesantren program
- Swadaya: Alumni donasi untuk almamater
2. Resistance Tradisionalis
Tantangan: Sebagian kiai menganggap “terlalu fokus dunia, melupakan akhirat”.
Solusi:
- Dakwah: Kiai senior kampanye bahwa DRR adalah ibadah
- Dalil: Hadits “Ikatlah untamu” sebagai landasan teologis
- Role model: Pesantren besar seperti Tebuireng, Gontor adopt program ini
3. Koordinasi Kompleks
Tantangan: Banyak stakeholder (BNPB, BPBD, pesantren, desa, NGO).
Solusi:
- SOP jelas: Siapa berbuat apa
- Platform digital: Koordinasi real-time
- Regular meeting: Evaluasi setiap 3 bulan
Rekomendasi
- Replikasi Nasional: 28,000 pesantren adopsi 8 model ini
- Sertifikasi: “Pesantren Tangguh Bencana” jadi akreditasi resmi
- Insentif: Pesantren tersertifikasi dapat bantuan dana preferential
- Kurikulum Nasional: Fikih bencana masuk kurikulum standar pesantren
- Research: Universitas riset efektivitas model ini
- International: Export model ke negara Muslim lain (Bangladesh, Pakistan)
Kesimpulan
Pesantren tangguh bencana membuktikan bahwa institusi keagamaan bisa menjadi agen resilience yang powerful. Delapan model yang diuraikan—early warning, evakuasi, trauma healing, reforestasi, kurikulum fikih bencana, koordinasi, logistik, dan rehabilitasi—menawarkan framework komprehensif untuk mengubah pesantren dari korban pasif menjadi aktor aktif dalam DRR.
Studi kasus Aceh menunjukkan hasil luar biasa: korban jiwa turun 73%, response time evakuasi dari 45 menit menjadi 8 menit, recovery time dari 5 tahun menjadi 8 bulan. Ini bukan kebetulan—ini adalah hasil dari capacity building sistematis yang memadukan spiritualitas dengan profesionalisme.
Kiai bukan hanya pemimpin spiritual, tapi juga disaster manager. Santri bukan hanya penghafal kitab, tapi juga SAR volunteer terlatih. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga disaster hub yang menyelamatkan ribuan nyawa.
Dengan 28,000 pesantren di Indonesia yang mayoritas berada di zona rawan bencana, potensi untuk menyelamatkan jutaan nyawa sangat besar. Saatnya semua pesantren mengadopsi model pesantren tangguh bencana untuk mewujudkan Indonesia yang lebih resilient, prepared, dan tangguh.
REFERENSI :
- BNPB. “Panduan Pesantren Tangguh Bencana.” https://www.bnpb.go.id
- LAZISNU. “Program Pesantren Hijau dan Tangguh Bencana.” https://nucare-lazisnu.org
- Kementerian Agama. “Data Statistik Pesantren Indonesia 2025.” https://www.kemenag.go.id
- WALHI. “Evaluasi Model Pesantren Tangguh Bencana Aceh.”https://www.walhi.or.id
- 5. Islamic Relief. “Faith-Based Organizations in Disaster Management.” https://www.islamic-relief.org
Artikel Terkait :
- Maqashid Syariah dalam Disaster Risk Reduction
- Doa dan Action: Teologi Kerja Bencana
- Fatwa NU tentang Deforestasi & Tambang
- Rehabilitasi Korban Bencana: Pendekatan Fikih
- Zakat Produktif untuk Mitigasi Bencana
- Early Warning System dalam Sunnah Nabi
- Santri Hijau: Reforestasi Berbasis Pesantren
- Kiai sebagai Trauma Counselor
- Fikih Darurat dalam Bencana
- Community-Based DRR: Model Islam











