Share

"Penanaman Mangrove Sidoarjo di Kalanganyar oleh Petani Lokal"

Penanaman Mangrove Sidoarjo: Khidmah untuk Bumi Pesisir yang Memberdayakan Petani Tambak

Daftar Isi

  1. Penanaman Mangrove Sidoarjo: Khidmah untuk Bumi Pesisir
  2. Mengapa Penanaman Mangrove di Sidoarjo Sangat Penting?
  3. Penanaman Mangrove Sidoarjo dalam Perspektif Fikih Lingkungan Islam
  4. 5 Tujuan Utama Penanaman Mangrove di Desa Kalanganyar
  5. Pelaksanaan Penanaman Mangrove Sidoarjo: Dokumentasi Lengkap
  6. 7 Manfaat Luar Biasa Penanaman Mangrove untuk Petani Tambak
  7. Implementasi Nilai-Nilai Aswaja dalam Konservasi Lingkungan
  8. Dampak Ekonomi Penanaman Mangrove bagi Nelayan dan Petani Tambak
  9. FAQ: Pertanyaan Umum Penanaman Mangrove Sidoarjo
  10. Kesimpulan dan Ajakan Bertindak

Di tengah ancaman abrasi pantai yang semakin mengkhawatirkan, penanaman mangrove Sidoarjo muncul sebagai solusi hijau yang menggabungkan nilai ekologi dan ekonomi. Khususnya di Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, kegiatan penanaman mangrove Sidoarjo tidak hanya sekadar aksi lingkungan biasa—ini adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang mengajarkan prinsip khidmah (pengabdian) dan maslahah (kemanfaatan) untuk sesama dan alam.

Pada Rabu, 31 Desember 2025, sebuah inisiatif sederhana namun bermakna dilaksanakan di pesisir tambak Desa Kalanganyar. Penanaman mangrove di Sidoarjo ini melibatkan masyarakat lokal dengan menanam 20 batang bibit mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir. Lebih dari sekadar aktivitas konservasi, kegiatan ini menjadi bukti bahwa penanaman mangrove Sidoarjo dapat menjadi upaya pemberdayaan petani tambak dan nelayan yang bergantung pada ekosistem pesisir.

Wilayah pesisir Sidoarjo, terutama Desa Kalanganyar, menghadapi tantangan serius berupa abrasi pantai, intrusi air laut, dan degradasi kualitas lingkungan. Tanpa vegetasi pelindung alami seperti mangrove, area tambak masyarakat terancam rusak akibat gelombang laut yang terus mengikis garis pantai. Inilah yang membuat penanaman mangrove Sidoarjo menjadi sangat krusial—bukan hanya untuk ekologi, tetapi juga untuk keberlanjutan mata pencaharian ribuan keluarga petani tambak.

Mengapa Penanaman Mangrove di Sidoarjo Sangat Penting?

Kabupaten Sidoarjo memiliki garis pantai sepanjang 35 kilometer yang membentang dari Kecamatan Waru hingga Jabon. Mayoritas wilayah pesisir ini didominasi oleh tambak udang dan ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat lokal. Namun, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa kawasan pesisir Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, mengalami laju abrasi rata-rata 5-10 meter per tahun.

Kondisi ini diperparah oleh:

  • Degradasi ekosistem mangrove akibat konversi lahan untuk tambak dan pemukiman
  • Aktivitas penambangan pasir laut yang merusak struktur dasar laut
  • Perubahan iklim global yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut
  • Minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya vegetasi pelindung pantai

Desa Kalanganyar yang berbatasan langsung dengan Selat Madura menjadi salah satu area paling rentan. Oleh karena itu, program penanaman mangrove Sidoarjo di wilayah ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan lahan produktif tambak dan melindungi permukiman warga dari ancaman gelombang pasang.

Karakteristik Wilayah Pesisir Desa Kalanganyar

Sebagai kawasan pesisir utara Kabupaten Sidoarjo, Desa Kalanganyar memiliki karakteristik unik yang membuatnya sangat cocok untuk penanaman mangrove di Sidoarjo:

  1. Substrat lumpur berlempung – Cocok untuk pertumbuhan akar mangrove jenis Rhizophora dan Avicennia
  2. Salinitas air 15-30 ppt – Ideal untuk ekosistem mangrove yang sehat
  3. Pasang surut reguler – Membantu distribusi nutrisi alami untuk pertumbuhan mangrove
  4. Zona intertidal luas – Menyediakan ruang optimal untuk rehabilitasi hutan bakau
"Bibit Mangrove Jenis Rhizophora untuk Penanaman Mangrove Sidoarjo"
“Bibit mangrove berkualitas menjadi kunci sukses penanaman mangrove Sidoarjo jangka panjang”

Penanaman Mangrove Sidoarjo dalam Perspektif Fikih Lingkungan Islam

Yang membuat penanaman mangrove Sidoarjo ini istimewa adalah landasannya yang kuat dalam nilai-nilai Islam, khususnya perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam tradisi Aswaja, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya anjuran moral, tetapi kewajiban spiritual sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi).

Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ayat ini secara eksplisit menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan—termasuk abrasi pantai dan degradasi ekosistem pesisir—adalah konsekuensi dari tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penanaman mangrove di Sidoarjo adalah bentuk taubat ekologis dan upaya mengembalikan keseimbangan alam yang telah rusak.

Hadits Nabi tentang Pelestarian Lingkungan

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menanam pohon dalam sabdanya:

Jika hari kiamat telah tegak, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian terdapat biji kurma, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Hadits ini mengajarkan bahwa menanam—termasuk penanaman mangrove Sidoarjo—adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama tanaman tersebut memberikan manfaat bagi makhluk hidup. Setiap ikan yang berlindung di akar mangrove, setiap burung yang hinggap di rantingnya, setiap petani tambak yang terlindungi dari abrasi—semua itu menjadi pahala berkelanjutan bagi penanamannya.

Konsep Hablum Minal ‘Alam dalam Aswaja

Dalam perspektif Aswaja, hubungan manusia dengan alam disebut hablum minal ‘alam—ikatan harmonis dengan alam semesta. Konsep ini mengajarkan bahwa kesejahteraan manusia tidak terpisahkan dari kesehatan ekosistem. Penanaman mangrove Sidoarjo di Desa Kalanganyar adalah implementasi konkret dari konsep ini, di mana kepedulian terhadap lingkungan pesisir berujung pada peningkatan kesejahteraan petani tambak dan nelayan.

Lebih lanjut, tiga pilar nilai dalam Aswaja yang relevan dengan konservasi mangrove adalah:

  1. Khidmah (Pengabdian) – Melayani kebutuhan masyarakat dan lingkungan tanpa pamrih
  2. Maslahah (Kemanfaatan) – Mengutamakan tindakan yang membawa manfaat luas untuk umat
  3. Istishlah (Kemaslahatan Publik) – Mengambil keputusan yang menjaga kepentingan bersama jangka panjang

Ketiga nilai ini tercermin dalam setiap bibit mangrove yang ditanam di pesisir Kalanganyar, menjadikan penanaman mangrove di Sidoarjo bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi ibadah yang bermakna.

5 Tujuan Utama Penanaman Mangrove di Desa Kalanganyar

Program penanaman mangrove Sidoarjo yang dilaksanakan pada 31 Desember 2025 memiliki lima tujuan strategis yang saling berkaitan:

1. Konservasi Ekosistem Pesisir

Tujuan primer penanaman mangrove di Sidoarjo adalah menjaga dan melestarikan lingkungan pesisir melalui rehabilitasi vegetasi alami. Mangrove berfungsi sebagai:

  • Penahan abrasi dan erosi pantai
  • Penyaring alami polutan dan sedimen
  • Habitat bagi berbagai spesies laut dan burung
  • Penyerap karbon dioksida (blue carbon)

2. Proteksi Area Tambak dari Gelombang Laut

Dengan kondisi geografis yang langsung berhadapan dengan Selat Madura, tambak-tambak di Desa Kalanganyar sangat rentan terhadap gelombang tinggi terutama saat musim barat. Penanaman mangrove Sidoarjo menciptakan barier alami yang meredam energi gelombang hingga 75-90%, melindungi pematang tambak dari kerusakan struktural.

3. Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Individu

Melalui keterlibatan langsung dalam penanaman mangrove Sidoarjo, masyarakat—khususnya generasi muda—diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab lebih besar terhadap kelestarian lingkungan. Pendekatan partisipatif ini lebih efektif dibanding sekadar penyuluhan teoritis.

4. Manifestasi Nilai Aswaja dalam Aksi Nyata

Sebagaimana telah dijelaskan, penanaman mangrove di Sidoarjo ini berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa ajaran Aswaja bukan sekadar doktrin teologis, tetapi panduan hidup praktis yang relevan dengan isu-isu kontemporer seperti krisis ekologi.

5. Implementasi Prinsip Hablum Minal ‘Alam

Sebagai wujud tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan kehidupan sosial dan lingkungan, program penanaman mangrove Sidoarjo menjadi contoh bagaimana spiritualitas Islam dapat menjadi penggerak aksi perubahan positif di masyarakat pesisir.

Pelaksanaan Penanaman Mangrove Sidoarjo: Dokumentasi Lengkap

Kegiatan penanaman mangrove Sidoarjo dilaksanakan secara sederhana namun terorganisir dengan baik. Berikut detail pelaksanaannya:

Waktu dan Lokasi

  • Hari/Tanggal: Rabu, 31 Desember 2025
  • Waktu: Pukul 08.00 – 10.00 WIB
  • Tempat: Pesisir tambak Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

Peserta dan Penyelenggara

Meskipun penanaman mangrove di Sidoarjo ini merupakan inisiatif individu, namun mendapat dukungan penuh dari warga setempat:

  • Pelaksana kegiatan: Ulil Najwa (ketua dan sekretaris)
  • Warga pendamping: 1 orang petani tambak lokal
  • Dokumentasi: Anisa Lailatul Rahmadini
  • Total peserta: 2 orang pelaksana langsung

Rundown Acara Penanaman Mangrove Sidoarjo

WaktuKegiatanKeterangan
08.00 – 08.15 WIBPersiapan alat dan bibit mangrovePenyiapan 20 batang bibit Rhizophora sp. dan peralatan tanam
08.15 – 08.25 WIBKoordinasi dengan warga setempatPenentuan titik tanam optimal berdasarkan karakteristik substrat dan pola pasang surut
08.25 – 09.45 WIBPenanaman bibit mangrovePenanaman di zona intertidal dekat pematang tambak dengan jarak tanam 1,5 x 1,5 meter
09.45 – 09.55 WIBPenataan lokasi dan dokumentasiPembersihan area tanam dan pengambilan foto untuk laporan kegiatan
09.55 – 10.00 WIBPenyerahan buah tanganApresiasi kepada warga pendamping sebagai bentuk terima kasih dan silaturahmi

Anggaran Kegiatan Penanaman Mangrove di Sidoarjo

Seluruh biaya penanaman mangrove Sidoarjo ini ditanggung secara mandiri melalui dana pribadi, menunjukkan komitmen kuat terhadap kepedulian lingkungan:

Komponen BiayaRincianJumlah
Pembelian Bibit Mangrove20 batang @ Rp 3.000Rp 60.000
Konsumsi Sederhana2 orang @ Rp 20.000Rp 40.000
TransportasiPerjalanan ke lokasi pesisirRp 30.000
Buah Tangan WargaApresiasi untuk pendamping lokalRp 50.000
TOTAL ANGGARANRp 180.000

Dengan anggaran sangat terjangkau ini, penanaman mangrove Sidoarjo membuktikan bahwa aksi konservasi lingkungan tidak harus mahal—yang terpenting adalah niat tulus dan konsistensi.

"Sistem Silvofishery Hasil Penanaman Mangrove Sidoarjo di Area Tambak"
“Integrasi mangrove dan tambak melalui penanaman mangrove Sidoarjo meningkatkan produktivitas berkelanjutan”

7 Manfaat Luar Biasa Penanaman Mangrove untuk Petani Tambak

Dari perspektif ekologi dan ekonomi, penanaman mangrove Sidoarjo memberikan multiplier effect yang signifikan bagi komunitas pesisir:

Tabel Manfaat Penanaman Mangrove Sidoarjo

Kategori ManfaatDeskripsiDampak Langsung bagi Petani Tambak
1. Proteksi FisikAkar mangrove membentuk struktur kokoh yang menahan abrasi dan gelombangMengurangi kerusakan pematang tambak hingga 80%, menghemat biaya perbaikan infrastruktur
2. Peningkatan Produktivitas TambakEkosistem mangrove menjadi nursery ground bagi larva udang dan ikanMeningkatkan ketersediaan benih alami, mengurangi ketergantungan pada benih komersial
3. Perbaikan Kualitas AirMangrove menyerap polutan, nitrat, dan fosfat berlebih dari air tambakMengurangi risiko blooming algae dan penyakit udang, meningkatkan survival rate hingga 15%
4. Sumber Pakan AlamiSerasah daun mangrove menjadi sumber detritus dan planktonMenurunkan biaya pakan hingga 20% melalui food web alami
5. Mitigasi Perubahan IklimMangrove menyerap karbon 3-5 kali lebih efisien dibanding hutan daratMemenuhi kriteria tambak berkelanjutan, membuka akses pasar ekspor premium
6. Diversifikasi PendapatanProduk sampingan: kepiting bakau, kerang, ekowisataMenambah sumber penghasilan 15-30% dari total income keluarga petani tambak
7. Ketahanan Terhadap BencanaBuffer zone alami saat tsunami, storm surge, dan robMelindungi aset produktif dan permukiman dari kerugian akibat bencana pesisir

Data dari Kementerian Agama RI dalam program “Eco-Pesantren” juga mengonfirmasi bahwa integrasi nilai-nilai Islam dalam program konservasi lingkungan seperti penanaman mangrove di Sidoarjo meningkatkan partisipasi masyarakat hingga 60% dibanding program sekuler.

Implementasi Nilai-Nilai Aswaja dalam Konservasi Lingkungan

Keunikan dari penanaman mangrove Sidoarjo di Desa Kalanganyar terletak pada fondasinya yang kuat dalam prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. Berikut implementasi konkret nilai-nilai Aswaja dalam kegiatan ini:

1. Khidmah (Pengabdian Tanpa Pamrih)

Pelaksanaan penanaman mangrove di Sidoarjo dilakukan secara sukarela dengan dana pribadi, tanpa mengharapkan imbalan materi. Ini sejalan dengan konsep khidmah dalam Aswaja yang mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah yang dilakukan dengan ikhlas semata karena Allah.

2. Maslahah (Orientasi pada Kemaslahatan Umum)

Setiap bibit mangrove yang ditanam tidak hanya menguntungkan penanamannya secara individu, tetapi membawa maslahah bagi seluruh komunitas pesisir: petani tambak, nelayan, pedagang ikan, hingga generasi mendatang. Ini adalah aplikasi dari kaidah fikih:

Tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyah manutun bil maslahah” (Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus berorientasi pada kemaslahatan)

3. Tawazun (Keseimbangan)

Program penanaman mangrove Sidoarjo mencerminkan prinsip tawazun (keseimbangan) antara kepentingan ekonomi (produktivitas tambak) dan ekologi (kelestarian lingkungan). Aswaja mengajarkan bahwa kesejahteraan dunia dan akhirat harus seimbang, begitu pula antara eksploitasi dan konservasi alam.

4. Tasamuh (Toleransi dan Kolaborasi)

Meski berbasis nilai Islam, penanaman mangrove di Sidoarjo melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang. Ini sejalan dengan karakter Aswaja yang inklusif dan menghargai pluralitas dalam kebaikan bersama.

Dampak Ekonomi Penanaman Mangrove bagi Nelayan dan Petani Tambak

Studi dari International Blue Carbon Initiative menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove dapat meningkatkan produktivitas perikanan hingga 40% dalam radius 5 kilometer. Dalam konteks penanaman mangrove Sidoarjo, dampak ekonominya dapat diproyeksikan sebagai berikut:

Proyeksi Dampak Ekonomi dalam 5 Tahun

  1. Tahun 1-2 (Fase Pertumbuhan Awal)
    • Pengurangan biaya perbaikan pematang: Rp 2-3 juta/tahun per petani
    • Peningkatan survival rate udang: 5-8%
  2. Tahun 3-4 (Fase Produktif)
    • Ketersediaan benih alami meningkat 20%
    • Munculnya produk sampingan: kepiting bakau, kerang hijau
    • Pendapatan tambahan: Rp 5-8 juta/tahun
  3. Tahun 5+ (Fase Matang)
    • Ekosistem mangrove fully functional
    • Potensi ekowisata dan edukasi lingkungan
    • Total peningkatan pendapatan: 25-35% dari baseline

Dengan asumsi setiap keluarga petani tambak di Desa Kalanganyar memiliki lahan rata-rata 0,5 hektar, maka penanaman mangrove di Sidoarjo berpotensi menambah pendapatan kotor Rp 12-20 juta per tahun setelah ekosistem matang.

Studi Kasus: Keberhasilan Silvofishery di Kabupaten Demak

Sebagai referensi, program serupa di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa integrasi mangrove-tambak (silvofishery) meningkatkan:

  • Produktivitas udang dari 800 kg/ha menjadi 1.200 kg/ha
  • Harga jual premium 15-20% untuk produk “eco-certified”
  • Daya tahan terhadap rob dan banjir bandang

Model ini sangat relevan untuk dikembangkan dalam konteks penanaman mangrove Sidoarjo, mengingat kesamaan kondisi geografis dan sosio-ekonomi masyarakat pesisir.

FAQ: Pertanyaan Umum Penanaman Mangrove Sidoarjo

1. Apa saja jenis mangrove yang cocok untuk penanaman mangrove Sidoarjo?

Untuk penanaman mangrove Sidoarjo, jenis yang paling sesuai dengan kondisi pesisir Kabupaten Sidoarjo adalah Rhizophora mucronata (bakau merah), Avicennia marina (api-api), dan Sonneratia alba (pedada). Ketiga spesies ini toleran terhadap salinitas 15-30 ppt yang merupakan karakteristik perairan pesisir Sidoarjo. Dalam program penanaman mangrove di Sidoarjo di Desa Kalanganyar, digunakan bibit Rhizophora karena sistem akar tunjang yang kuat untuk menahan abrasi.

2. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk penanaman mangrove Sidoarjo skala kecil?

Berdasarkan dokumentasi kegiatan penanaman mangrove Sidoarjo di Desa Kalanganyar, biaya untuk 20 batang bibit berkisar Rp 60.000 (Rp 3.000 per bibit). Total anggaran keseluruhan termasuk transportasi, konsumsi, dan apresiasi warga hanya Rp 180.000. Ini membuktikan bahwa penanaman mangrove di Sidoarjo sangat terjangkau dan bisa dilakukan oleh individu maupun kelompok kecil tanpa memerlukan dana besar.

3. Bagaimana perspektif Islam tentang penanaman mangrove Sidoarjo?

Dalam pandangan Islam, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah, penanaman mangrove Sidoarjo adalah bentuk ibadah dan implementasi konsep khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). QS Ar-Rum ayat 41 secara eksplisit menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan adalah akibat tangan manusia, sehingga penanaman mangrove di Sidoarjo menjadi bentuk taubat ekologis dan upaya mengembalikan keseimbangan alam. Hadits Nabi tentang menanam pohon bahkan di akhir zaman menunjukkan urgensi konservasi lingkungan dalam ajaran Islam.

4. Apa manfaat ekonomi penanaman mangrove Sidoarjo bagi petani tambak?

Manfaat ekonomi penanaman mangrove Sidoarjo sangat signifikan bagi petani tambak: (1) Mengurangi biaya perbaikan pematang hingga Rp 2-3 juta/tahun, (2) Meningkatkan survival rate udang 5-15%, (3) Menyediakan benih alami sehingga menurunkan ketergantungan pada hatchery komersial, (4) Membuka peluang produk sampingan seperti kepiting bakau dan kerang, (5) Akses ke pasar ekspor premium untuk produk eco-certified. Total peningkatan pendapatan bisa mencapai 25-35% dalam 5 tahun pasca penanaman mangrove di Sidoarjo.

5. Di mana saya bisa mendapatkan bibit untuk penanaman mangrove Sidoarjo?

Untuk penanaman mangrove Sidoarjo, bibit bisa diperoleh dari: (1) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sidoarjo yang sering menyediakan bibit gratis untuk program konservasi, (2) Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) pesisir setempat, (3) Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah (BPHM) Jawa Timur, atau (4) membeli dari petani mangrove lokal dengan harga Rp 2.000-5.000 per bibit. Untuk informasi lebih lanjut tentang fikih lingkungan dan konservasi Islam, kunjungi yokersane.com.

Kesimpulan dan Ajakan Bertindak

Penanaman mangrove Sidoarjo di Desa Kalanganyar adalah bukti konkret bahwa aksi lingkungan tidak harus grand atau mahal—yang terpenting adalah konsistensi, keikhlasan, dan pemahaman mendalam tentang interkoneksi antara ekologi, ekonomi, dan spiritualitas. Melalui penanaman 20 batang bibit mangrove dengan anggaran hanya Rp 180.000, telah ditunjukkan bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk berkontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan pesisir.

Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah—khidmah, maslahah, dan hablum minal ‘alam—telah terbukti relevan dan aplikatif dalam menghadapi krisis ekologi kontemporer. Penanaman mangrove di Sidoarjo bukan sekadar proyek konservasi, tetapi manifestasi iman yang mengintegrasikan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial-ekologis.

Ajakan untuk Pembaca Yokersane.com

Jika Anda terinspirasi oleh kisah penanaman mangrove Sidoarjo ini, berikut beberapa langkah konkret yang bisa Anda lakukan:

  1. Mulai dari Lingkungan Terdekat – Identifikasi area di komunitas Anda yang memerlukan penghijauan atau rehabilitasi ekosistem
  2. Bentuk Tim Kecil – Ajak 2-5 orang teman/keluarga untuk memulai gerakan kecil seperti penanaman mangrove di Sidoarjo
  3. Dokumentasikan dan Bagikan – Ceritakan pengalaman Anda di media sosial dengan tagar #MangroveSidoarjo #FikihLingkungan #Yokersane
  4. Edukasi Berbasis Nilai Islam – Integrasikan dakwah lingkungan dengan kajian fikih di majelis taklim atau komunitas keagamaan
  5. Kolaborasi dengan Stakeholder Lokal – Hubungi Dinas Lingkungan Hidup, BPHM, atau Pokmaswas untuk mendapat dukungan teknis dan bibit
"Petani Tambak Desa Kalanganyar Setelah Penanaman Mangrove Sidoarjo"
“Penanaman mangrove Sidoarjo memperkuat solidaritas dan kesadaran ekologi masyarakat pesisir”

Penutup

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa menanam pohon adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, maka setiap bibit mangrove yang kita tanam hari ini adalah investasi untuk generasi mendatang. Penanaman mangrove Sidoarjo telah membuktikan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Mari bersama-sama menjadikan konservasi lingkungan sebagai bagian integral dari ibadah kita. Kunjungi yokersane.com untuk artikel-artikel inspiratif lainnya tentang Islam dan lingkungan hidup. Jangan lupa bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman, serta subscribe newsletter kami untuk update terbaru seputar fikih lingkungan dan konservasi pesisir.

Barakallahu fiikum. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap usaha kita dalam menjaga amanah-Nya di bumi ini.

📢 BAGIKAN ARTIKEL INI!

Bantu sebarkan kesadaran tentang pentingnya penanaman mangrove Sidoarjo dan nilai-nilai Aswaja dalam konservasi lingkungan. Klik tombol share di bawah!

👉 SUBSCRIBE NEWSLETTER YOKERSANE.COM

🌱 DUKUNG PROGRAM MANGROVE SIDOARJO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca