Daftar Isi
- Dari Kampus UNUSIDA ke Kampung Halaman Bawangan
- Keresahan Mahasiswi: Melihat Kampung Kehilangan Hijau
- Prinsip Tawazun: Menyeimbangkan Pembangunan dan Konservasi
- Merencanakan Reforestasi dengan Anggaran Mahasiswa
- Pelaksanaan: Menanam 5 Pohon Bersama Warga Bawangan
- Refleksi Akademik: Aswaja sebagai Panduan Hidup
- Pembelajaran untuk Mahasiswa dan Masyarakat
- Kesimpulan: Membangun Hunian Hijau Berkelanjutan
Oleh: Mustika Dwi Sari, Mahasiswa UNUSIDA Sidoarjo
Minggu pagi, 30 November 2025, Saya—Mustika Dwi Sari—berdiri di tengah lahan hunian Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, dengan lima bibit pohon yang siap ditanam: satu tabebuya dengan bunga kuningnya yang ikonik, dua mangga yang kelak akan berbuah manis, dan dua jambu biji yang cepat tumbuh. Ini bukan sekadar kegiatan penghijauan biasa—ini adalah implementasi nyata dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang saya pelajari di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).
Sebagai mahasiswi yang lahir dan besar di Jombang, saya menyaksikan perubahan dramatis kampung halaman. Lahan-lahan kosong yang dulu penuh pepohonan rindang kini berubah menjadi perumahan padat tanpa ruang hijau memadai. Suhu semakin panas, udara terasa pengap, dan saat musim hujan air menggenang di mana-mana karena daya serap tanah berkurang drastis. Inilah yang memicu saya untuk melakukan reforestasi lahan hunian sebagai bagian dari tugas mata kuliah Aswaja sekaligus bentuk kepedulian terhadap kampung tercinta.
Program reforestasi lahan hunian ini saya rancang dengan prinsip tawazun (keseimbangan)—salah satu pilar utama dalam ajaran Aswaja. Dalam konteks lingkungan, tawazun berarti menyeimbangkan kebutuhan pembangunan hunian dengan pelestarian alam. Kita tidak bisa menghentikan pembangunan karena itu kebutuhan manusia, tetapi kita juga tidak boleh mengeksploitasi alam tanpa batas. Solusinya adalah integrasi—membangun hunian yang ramah lingkungan dengan vegetasi yang cukup.
Keresahan Mahasiswi: Melihat Kampung Kehilangan Ruang Hijau
Sebagai mahasiswi yang pulang kampung setiap akhir pekan, saya merasakan langsung perubahan kualitas lingkungan di Desa Bawangan. Kampung yang saya kenal sejak kecil—dengan pohon-pohon mangga raksasa di setiap pekarangan, sawah hijau membentang, dan udara sejuk—perlahan berubah menjadi kawasan padat hunian dengan minimal vegetasi.
Data yang Mengkhawatirkan
Dari diskusi dengan aparat desa dan observasi pribadi, saya menemukan beberapa fakta mengkhawatirkan:
- Tutupan Hijau Menurun 40% – Dalam 10 tahun terakhir, lahan hijau di Desa Bawangan berkurang dari 35% menjadi hanya 21% akibat konversi untuk perumahan dan infrastruktur
- Suhu Meningkat 2-3°C – Warga mengeluh rumah semakin panas, konsumsi listrik untuk kipas angin dan AC meningkat signifikan
- Banjir dan Genangan – Area yang dulu tidak pernah banjir kini tergenang setiap hujan deras karena berkurangnya area resapan air
- Kualitas Udara Memburuk – Debu dan polutan meningkat, insiden ISPA pada anak-anak naik 25% dalam 5 tahun terakhir (data Puskesmas Ploso)
Refleksi Personal: Rumah Tanpa Pohon
Ketika saya kecil, halaman rumah kami penuh dengan pohon: mangga, jambu air, rambutan, dan belimbing. Setiap sore, anak-anak kampung berkumpul bermain di bawah rindangnya. Namun, saat Ayah membangun rumah tambahan untuk saudara yang menikah, sebagian besar pohon ditebang. Halaman yang dulu teduh kini panas menyengat. Inilah yang membuat saya sadar: pembangunan hunian tanpa perencanaan vegetasi yang baik akan mengorbankan kenyamanan jangka panjang.
Pengalaman pribadi ini diperkuat oleh materi yang saya pelajari di mata kuliah Aswaja. Dosen kami, Ustadz Dr. H. Sholehuddin sering menekankan bahwa Islam mengajarkan tawazun—keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Manusia boleh memanfaatkan alam, tetapi harus disertai tanggung jawab untuk melestarikannya. Inilah fondasi teologis dari proyek reforestasi lahan hunian yang saya lakukan.
Baca Juga :
Reforestasi Lahan Hunian: 7 Manfaat Luar Biasa untuk Kualitas Hidup Berkelanjutan
Prinsip Tawazun Aswaja: Menyeimbangkan Pembangunan dan Konservasi
Salah satu pembelajaran paling berharga dari mata kuliah Aswaja di UNUSIDA adalah konsep tawazun—prinsip keseimbangan yang menjadi ciri khas pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam konteks lingkungan, tawazun memiliki beberapa dimensi:
1. Tawazun antara Hak Manusia dan Hak Alam
Islam mengakui bahwa manusia memiliki hak untuk memanfaatkan sumber daya alam guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman:
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu…” (QS Al-Baqarah: 22)
Namun, hak ini bukan tanpa batas. Alam juga memiliki “hak” untuk dijaga kelestariannya. Dalam perspektif Aswaja, eksploitasi berlebihan yang merusak keseimbangan ekosistem adalah bentuk israf (pemborosan) dan fasad (kerusakan) yang dilarang dalam Islam.
Program reforestasi lahan hunian di Bawangan adalah aplikasi dari prinsip ini. Warga tetap bisa membangun rumah untuk tempat tinggal (hak manusia), tetapi harus menyisakan ruang untuk vegetasi yang cukup (hak alam). Dengan menanam 5 pohon di lahan komunal seluas 200 m², kami mencoba menyeimbangkan kepadatan hunian dengan kebutuhan ekologi.
2. Tawazun antara Kebutuhan Generasi Sekarang dan Masa Depan
Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang populer saat ini sebenarnya sudah lama diajarkan dalam Islam melalui prinsip tawazun. Kita tidak boleh menghabiskan sumber daya alam hanya untuk kepentingan jangka pendek, tetapi harus memastikan generasi mendatang juga bisa menikmatinya.
Pohon mangga dan jambu yang saya tanam mungkin baru akan berbuah 3-5 tahun lagi. Saat itu, mungkin saya sudah lulus dan bekerja di luar kota. Tetapi anak-anak Desa Bawangan yang lahir hari ini akan bisa menikmati buahnya, bermain di bawah rindangnya, dan menghirup udara bersih yang dihasilkannya. Ini adalah investasi jangka panjang yang mencerminkan nilai tawazun antar-generasi.
3. Tawazun antara Ilmu dan Amal
Dalam tradisi Aswaja, ilmu tanpa amal adalah sia-sia. Di kampus, kami belajar teori-teori indah tentang pelestarian lingkungan, fikih alam, dan tanggung jawab khalifah fil ardh. Tetapi semua itu hanya akan menjadi wacana kosong jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Reforestasi lahan hunian ini adalah upaya saya untuk menyeimbangkan ilmu yang saya peroleh di kelas dengan amal konkret di masyarakat. Saya tidak ingin menjadi mahasiswi yang pintar berteori tetapi tidak pernah turun tangan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Thabrani)

Merencanakan Reforestasi dengan Anggaran Mahasiswa yang Terbatas
Sebagai mahasiswi dengan uang saku terbatas, merencanakan reforestasi lahan hunian membutuhkan kreativitas dan efisiensi. Total anggaran yang saya alokasikan adalah Rp 220.000—angka yang terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat dampak nyata jika dikelola dengan baik.
Tahap Perencanaan: Dari Ide hingga Aksi
Fase 1: Konsultasi dengan Dosen Pembimbing (1 Minggu)
Saya mulai dengan konsultasi bersama Ustadz Dr. H. Sholehuddin untuk memastikan bahwa proyek ini align dengan pembelajaran mata kuliah Aswaja. Beliau sangat mendukung dan memberikan beberapa masukan berharga:
- Fokus pada implementasi nilai tawazun dan khalifah fil ardh
- Libatkan warga lokal sejak tahap perencanaan untuk memastikan sustainability
- Dokumentasikan proses untuk pembelajaran mahasiswa lain
- Lakukan refleksi akademik pasca-kegiatan untuk memperdalam pemahaman
Fase 2: Koordinasi dengan Warga Desa (1 Minggu)
Saya menghubungi Pak RT, Bapak Mulyono, untuk meminta izin dan dukungan. Pak Mulyono sangat antusias dan menawarkan diri untuk membantu:
“Alhamdulillah, Mbak Tika. Kami sudah lama ingin menghijaukan kampung tapi tidak tahu mulai dari mana. Kalau ada anak muda yang peduli seperti Mbak, kami pasti dukung penuh. Saya siap bantu koordinasi dengan warga dan cari lokasi yang tepat.”
Dukungan dari tokoh masyarakat ini sangat krusial. Tanpa keterlibatan mereka, proyek reforestasi lahan hunian akan sulit berkelanjutan setelah saya kembali ke Sidoarjo.
Fase 3: Pemilihan Jenis Pohon dan Penyedia Bibit
Untuk reforestasi lahan hunian, saya memilih tiga jenis pohon berdasarkan kriteria tertentu:
| Jenis Pohon | Jumlah | Kriteria Pemilihan | Manfaat Utama |
|---|---|---|---|
| Tabebuya | 1 batang | Estetika tinggi, toleran polusi, pertumbuhan sedang | Keindahan visual, meningkatkan nilai estetika hunian |
| Mangga | 2 batang | Multifungsi (buah, peneduh), umur panjang, akar kuat | Buah untuk konsumsi, kanopi rindang, penyerap COâ‚‚ tinggi |
| Jambu Biji | 2 batang | Cepat berbuah, perawatan mudah, cocok lahan sempit | Buah kaya vitamin C, habitat burung, tumbuh cepat |
Saya membeli bibit dari Toko Pertanian “Sumber Berkah” di Jombang dengan harga total Rp 100.000 untuk 5 bibit (tabebuya Rp 20.000, mangga dan jambu @ Rp 20.000 per batang). Harga cukup terjangkau karena saya membeli bibit lokal, bukan impor.
Breakdown Anggaran: Efisiensi Maksimal
| Komponen | Rincian | Biaya | Sumber Dana |
|---|---|---|---|
| Bibit Tabebuya | 1 batang tinggi 60 cm | Rp 20.000 | Iuran panitia (dana pribadi) |
| Bibit Mangga | 2 batang varietas Arumanis | Rp 40.000 | |
| Bibit Jambu Biji | 2 batang (1 sumbangan warga) | Rp 40.000 | |
| Konsumsi | 4 kotak nasi bungkus + lauk | Rp 60.000 | Dana pribadi |
| Air Mineral | 1 galon untuk penyiraman dan minum | Rp 60.000 | Dana pribadi |
| TOTAL | Rp 220.000 | Rp 180.000 pribadi + Rp 40.000 warga | |
Menariknya, salah satu warga—Ibu Siti—menyumbangkan 1 bibit jambu biji setelah mendengar rencana reforestasi lahan hunian ini. Beliau berkata:
“Saya ikut sumbang bibit jambu ya, Mbak. Senang lihat anak muda sekarang peduli lingkungan. Dulu pas muda, kami tidak kepikiran hal-hal begini. Sekarang baru sadar pentingnya pohon.”
Kontribusi spontan dari warga ini menunjukkan bahwa aksi kecil bisa memicu partisipasi kolektif—sesuai dengan prinsip maslahah dalam Aswaja.
Pelaksanaan: Menanam 5 Pohon Bersama Warga Bawangan
Minggu, 30 November 2025, adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Pagi itu, langit cerah—kondisi ideal untuk penanaman pohon. Saya berangkat dari rumah pukul 07.30 WIB menuju lahan yang sudah ditentukan: area kosong seluas 200 m² di tengah permukiman yang rencananya akan dijadikan taman RT.
Timeline Pelaksanaan Reforestasi Lahan Hunian
08.00 – 08.15 WIB: Persiapan Alat dan Bibit
Setiba di lokasi, Pak Mulyono dan dua warga lain—Pak Joko dan Pak Bambang—sudah menunggu dengan peralatan: cangkul, sekop, ember, dan karung goni bekas untuk mulsa. Kami langsung mengecek kondisi 5 bibit yang saya bawa dari toko pertanian.
Pak Mulyono, yang ternyata pernah bekerja di Dinas Pertanian Jombang, memberikan tips praktis:
“Untuk penanaman pohon di lahan hunian, yang penting adalah jarak dari bangunan. Mangga minimal 5 meter dari rumah karena akarnya kuat. Jambu bisa lebih dekat, 3 meter cukup. Tabebuya bisa di pinggir jalan karena tidak terlalu besar. Kita juga harus perhatikan arah sinar matahari—pohon di sisi timur akan memberikan naungan sore hari.”
08.15 – 08.25 WIB: Koordinasi dan Penentuan Titik Tanam
Kami berdiskusi untuk menentukan lokasi optimal setiap pohon. Pertimbangan utama:
- Jarak dari Bangunan – Hindari konflik dengan fondasi rumah atau saluran air bawah tanah
- Pencahayaan Matahari – Semua pohon membutuhkan sinar matahari minimal 6 jam/hari
- Drainase – Area tidak boleh tergenang air karena akan membusukkan akar
- Aksesibilitas – Mudah dijangkau untuk perawatan rutin
- Estetika – Susunan yang enak dipandang dan fungsional
Setelah survei lapangan, kami sepakat:
- Tabebuya – Di pinggir jalan utama kampung sebagai penanda visual
- 2 Mangga – Di sudut timur dan barat taman dengan jarak 8 meter (untuk kanopi maksimal saat dewasa)
- 2 Jambu – Di sisi utara dekat rumah warga dengan jarak 4 meter antar pohon
08.25 – 09.45 WIB: Penanaman Bibit Pohon
Inilah fase inti dari reforestasi lahan hunian—penanaman fisik. Kami bekerja gotong royong dengan pembagian tugas:
- Pak Mulyono & Pak Joko – Menggali lubang tanam
- Pak Bambang – Menyiapkan campuran tanah, kompos, dan pupuk kandang
- Saya – Menempatkan bibit, memadatkan tanah, dan menyiram
Proses penanaman mengikuti prosedur standar:
- Penggalian Lubang – Ukuran 60x60x60 cm untuk mangga, 40x40x40 cm untuk jambu dan tabebuya
- Pemberian Pupuk Dasar – Campuran kompos 2 kg + pupuk kandang 1 kg per lubang
- Penanaman Bibit – Bibit dikeluarkan dari polybag, akar diluruskan, ditanam tegak lurus
- Pemadatan dan Penyiraman – Tanah dipadatkan perlahan, disiram 5 liter air per pohon
- Pemasangan Ajir – Tongkat bambu sebagai penopang agar pohon tidak miring
Selama proses penanaman, beberapa anak-anak kampung berkumpul menonton dengan antusias. Salah satunya, Dimas (7 tahun), bertanya dengan polos:
“Kak Tika, apa nanti pohonnya besar seperti pohon mangga di rumah Mbah Kakung?”
Saya tersenyum dan menjawab:
“Iya, Dimas. Tapi butuh waktu lama, mungkin 10-15 tahun. Saat kamu SMA nanti, pohon ini sudah besar dan berbuah. Kamu harus bantu Kak Tika rawat ya, siram kalau sedang kemarau.”
Interaksi sederhana ini membuat saya menyadari bahwa reforestasi lahan hunian bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran di generasi muda. Ini adalah implementasi dari nilai maslahah—manfaat yang berkelanjutan lintas generasi.
09.50 – 10.00 WIB: Pembersihan Lokasi dan Dokumentasi
Setelah semua pohon tertanam, kami membersihkan area dari sisa-sisa plastik polybag, potongan tali rafia, dan sampah lain. Saya mengambil foto dokumentasi dari berbagai sudut:
- Close-up setiap bibit yang baru ditanam
- Panorama keseluruhan area dengan 5 pohon
- Foto bersama dengan Pak Mulyono dan warga
- Video singkat pesan untuk masa depan
Dokumentasi ini penting bukan untuk dipamerkan di media sosial, tetapi sebagai baseline untuk monitoring pertumbuhan dan bahan refleksi akademik untuk mata kuliah Aswaja.
BAca Juga :
Penanaman Mangrove Sidoarjo: Khidmah untuk Bumi Pesisir yang Memberdayakan Petani Tambak
Refleksi Akademik: Aswaja sebagai Panduan Hidup, Bukan Sekadar Mata Kuliah
Sepulang dari lokasi penanaman, dalam perjalanan kembali ke kos di Sidoarjo, saya merefleksikan pengalaman yang baru saja dilalui. Ada perbedaan signifikan antara mempelajari Aswaja di ruang kelas dengan mengimplementasikannya di lapangan.
Pembelajaran yang Tidak Bisa Didapat dari Buku
1. Tawazun itu Kompleks dan Penuh Kompromi
Di kelas, konsep tawazun terdengar indah dan straightforward: seimbangkan antara dua hal yang berbeda. Tetapi dalam praktik reforestasi lahan hunian, saya belajar bahwa keseimbangan itu rumit dan penuh negosiasi:
- Harus kompromi antara keinginan menanam banyak pohon dengan keterbatasan lahan
- Harus menyeimbangkan antara memilih pohon yang cepat tumbuh (jambu) dengan yang lambat tetapi lebih beneficial (mangga)
- Harus balance antara anggaran terbatas dengan kualitas bibit yang baik
- Harus mengakomodasi preferensi warga (mereka lebih suka pohon berbuah) dengan kebutuhan ekologis (perlu pohon peneduh)
Tawazun bukan formula matematis yang rigid, tetapi seni bernegosiasi dengan realitas yang fleksibel. Inilah yang membuat ajaran Aswaja sangat aplikatif—karena mengakui kompleksitas dunia nyata.
2. Khalifah Fil Ardh adalah Tanggung Jawab, Bukan Privilege
Selama ini saya memahami konsep khalifah fil ardh (manusia sebagai pemimpin di bumi) sebagai privilege—kita punya otoritas untuk mengelola alam. Tetapi setelah pengalaman ini, saya menyadari bahwa itu adalah tanggung jawab yang berat.
Ketika menanam 5 pohon, saya merasa beban tanggung jawab: bagaimana jika mati karena kurang perawatan? Bagaimana jika lokasi salah sehingga tidak tumbuh optimal? Bagaimana memastikan warga merawatnya setelah saya kembali ke Sidoarjo?
Inilah esensi khalifah fil ardh: bukan hanya menanam, tetapi memastikan apa yang kita tanam survive dan memberikan manfaat. Ini membutuhkan komitmen jangka panjang, bukan sekadar aksi simbolis sekali waktu.
3. Khidmah itu Merendahkan Diri, Bukan Menunjukkan Superioritas
Saat merencanakan kegiatan ini, saya sempat tergoda untuk memposisikan diri sebagai “mahasiswi berpendidikan yang membawa perubahan ke kampung”. Tetapi ketika bekerja bersama Pak Mulyono dan warga, saya justru banyak belajar dari mereka:
- Pak Mulyono lebih tahu tentang karakteristik tanah lokal
- Pak Joko punya pengalaman praktis merawat pohon buah
- Ibu Siti memiliki kearifan tentang waktu ideal penyiraman
Saya menyadari bahwa khidmah sejati adalah datang dengan kerendahan hati, bukan arogansi intelektual. Kita datang untuk belajar sambil berbagi, bukan menggurui. Ini adalah pelajaran penting yang tidak pernah saya temukan di silabus mata kuliah.
Integrasi Teori dan Praktek: Laporan untuk Dosen Aswaja
Untuk laporan tugas mata kuliah Aswaja, saya menyusun refleksi yang mengintegrasikan teori dengan pengalaman lapangan:
| Konsep Aswaja (Teori) | Implementasi Reforestasi (Praktek) | Insight Personal |
|---|---|---|
| Tawazun (Keseimbangan) | Menyeimbangkan pembangunan hunian dengan kebutuhan vegetasi | Keseimbangan bukan 50-50 kaku, tetapi optimal sesuai konteks |
| Khalifah Fil Ardh | Tanggung jawab memilih, menanam, dan merawat pohon yang tepat | Leadership ekologis dimulai dari keputusan kecil yang bijaksana |
| Khidmah (Pengabdian) | Gotong royong dengan warga, berbagi ilmu, belajar dari kearifan lokal | Khidmah efektif = kerendahan hati + konsistensi |
| Maslahah (Kemanfaatan) | Memilih pohon multifungsi yang bermanfaat untuk banyak orang jangka panjang | Maslahah kolektif > kepuasan individual |
Pembelajaran untuk Mahasiswa dan Masyarakat
Setelah mempresentasikan pengalaman reforestasi lahan hunian di kelas Aswaja, banyak teman-teman yang tertarik melakukan hal serupa. Bahkan ada yang berencana membentuk komunitas “Mahasiswa Hijau UNUSIDA” untuk melakukan aksi konservasi secara rutin.
Pesan untuk Mahasiswa: Jangan Hanya Jadi Konsumen Ilmu
Kepada teman-teman mahasiswa, khususnya di UNUSIDA dan kampus berbasis nilai Islam lainnya, saya ingin berbagi beberapa pembelajaran:
- Tugas Kuliah Bisa Menjadi Proyek BermaknaJangan melihat tugas mata kuliah sebagai beban yang harus diselesaikan asal-asalan. Reforestasi lahan hunian saya mulai dari tugas Aswaja, tetapi dampaknya melampaui nilai akademik—ada kontribusi nyata untuk masyarakat dan kepuasan personal yang tidak ternilai.
- Dana Terbatas Bukan Alasan untuk Tidak BerbuatDengan Rp 220.000 saja, saya bisa menanam 5 pohon yang akan tumbuh puluhan tahun dan memberikan manfaat bagi ratusan orang. Yang penting bukan seberapa besar dana, tetapi seberapa efektif kita menggunakannya.
- Kampung Halaman adalah Laboratorium TerbaikTidak perlu jauh-jauh mencari lokasi pengabdian masyarakat. Kampung halaman yang kita kenal sejak kecil adalah tempat ideal untuk implementasi ilmu karena kita memahami konteks lokal dan punya ikatan emosional.
- Kolaborasi dengan Warga Lokal adalah Kunci SustainabilityTanpa dukungan Pak Mulyono dan warga Bawangan, proyek ini akan berhenti setelah saya kembali ke Sidoarjo. Tapi karena mereka terlibat sejak awal, mereka merasa memiliki dan akan terus merawat pohon-pohon tersebut.
Pesan untuk Masyarakat: Mari Hijau Dimulai dari Rumah
Kepada masyarakat, khususnya warga Jombang dan kawasan dengan tingkat urbanisasi tinggi:
- Setiap Rumah Idealnya Punya Minimal 2-3 Pohon – Tidak perlu lahan luas, pohon dalam pot pun sudah membantu
- Pilih Pohon Multifungsi – Mangga, jambu, rambutan memberikan buah sekaligus peneduh dan oksigen
- Libatkan Anak-Anak – Ajak mereka menanam dan merawat, ini pendidikan karakter terbaik tentang tanggung jawab dan kesabaran
- Manfaatkan Lahan Komunal – Area RT/RW, tanah kas desa, atau lahan tidur bisa dijadikan taman hijau bersama
Rencana Tindak Lanjut
Program reforestasi lahan hunian di Bawangan ini bukan kegiatan satu kali selesai. Saya sudah menyusun rencana tindak lanjut:
- Monitoring Rutin – Kunjungi setiap bulan selama tahun pertama, dokumentasi pertumbuhan
- Pelatihan Perawatan – Sosialisasi ke warga tentang cara pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama
- Replikasi di RT Lain – Ajak RT lain di Desa Bawangan untuk melakukan hal serupa
- Pembentukan Komunitas Hijau – Inisiasi kelompok peduli lingkungan berbasis masjid atau PKK
- Scaling Up – Proposal ke Pemerintah Desa untuk program penghijauan massal dengan bantuan bibit gratis
Kesimpulan: Membangun Hunian Hijau Berkelanjutan dengan Nilai Aswaja
Pengalaman reforestasi lahan hunian di Desa Bawangan ini mengajarkan saya bahwa nilai-nilai Aswaja—khususnya tawazun, khalifah fil ardh, dan khidmah—bukan hanya doktrin teologis kuno, tetapi panduan hidup yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan lingkungan kontemporer.
Pembangunan dan konservasi tidak harus konflik. Dengan prinsip tawazun, keduanya bisa berjalan harmonis: kita membangun hunian untuk kebutuhan manusia, tetapi tetap menyediakan ruang hijau yang cukup untuk keseimbangan ekosistem. Lima pohon yang saya tanam—satu tabebuya, dua mangga, dua jambu—adalah simbol dari keseimbangan ini.
Sebagai mahasiswi UNUSIDA, saya bangga bahwa kampus kami tidak hanya mengajarkan Aswaja secara teoritis, tetapi mendorong implementasi praktis di masyarakat. Dosen-dosen kami, khususnya Ustadz Dr. H. Sholehuddin selalu menekankan bahwa Islam adalah agama amal, bukan sekadar wacana. Reforestasi lahan hunian adalah bukti kecil dari komitmen ini.
Ajakan untuk Generasi Muda
Kepada generasi muda, khususnya mahasiswa Muslim di seluruh Indonesia, saya mengajak:
“Mari kita buktikan bahwa agama kita bukan hanya soal ritual ibadah, tetapi juga tanggung jawab ekologi. Mari kita tunjukkan bahwa konsep khalifah fil ardh bukan wacana kosong, tetapi misi konkret untuk menyelamatkan bumi. Mari kita mulai dari yang kecil: tanam pohon di halaman rumah, rawat dengan penuh tanggung jawab, dan ajak tetangga untuk melakukan hal yang sama. Jika setiap mahasiswa menanam 5 pohon, bayangkan dampaknya bagi Indonesia!”
Saya menutup refleksi ini dengan doa dan harapan:
Ya Allah, jadikanlah lima pohon yang kami tanam di Desa Bawangan ini tumbuh subur, berbuah lebat, dan memberikan manfaat bagi banyak makhluk-Mu. Jadikanlah usaha kecil ini sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Berikanlah kami kekuatan dan konsistensi untuk terus menjaga kelestarian alam-Mu, sebagai wujud syukur atas nikmat yang Engkau berikan. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Barakallahu fiikum. Semoga kisah sederhana ini menginspirasi aksi konkret yang lebih besar dan berkelanjutan.
Tentang Penulis
Mustika Dwi Sari adalah mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai Aswaja. Lahir dan besar di Jombang, ia memiliki kepedulian khusus terhadap isu lingkungan hidup di kawasan hunian. Ia berharap bisa menjadi bagian dari gerakan mahasiswa hijau yang mengintegrasikan spiritualitas Islam dengan aksi konservasi lingkungan.
Artikel ini adalah refleksi pribadi berdasarkan pengalaman lapangan dan tidak mewakili posisi resmi UNUSIDA Sidoarjo.











