Share

Keluarga muslim berdoa bersama di lantai dua rumah saat banjir melanda permukiman

8 Doa Saat Banjir Lengkap Arab Latin: Hujan Lebat & Banjir







8 Doa Saat Banjir Lengkap Arab Latin: Hujan Lebat & Banjir

Tangan menerima tetesan air hujan sambil membaca doa perlindungan dari banjir menurut sunnah Nabi SAW

Hujan deras mengguyur Jakarta selama 6 jam nonstop pada Februari 2025, menyebabkan banjir hingga 2 meter di beberapa wilayah. Ribuan keluarga terjebak di rumah mereka, menunggu air surut sambil khawatir air terus naik. Di tengah kepanikan, banyak yang bertanya: “Doa apa yang harus dibaca saat hujan lebat dan banjir mengancam?” Pertanyaan ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan pemahaman spiritual di tengah bencana alam yang kian sering melanda Indonesia. Data BMKG mencatat intensitas hujan ekstrem meningkat 30% dalam lima tahun terakhir, dan banjir menjadi bencana paling sering terjadi dengan rata-rata 300 kejadian per tahun di berbagai daerah.

Rasulullah SAW telah mengajarkan doa-doa khusus untuk menghadapi hujan lebat dan banjir, berdasarkan pengalaman umat terdahulu terutama kaum Nabi Nuh AS yang menghadapi banjir besar. Doa saat banjir memiliki tiga fungsi fundamental: pertama sebagai permohonan perlindungan kepada Allah dari bahaya air yang meluap, kedua sebagai bentuk tawakkal setelah berikhtiar maksimal menyelamatkan diri, ketiga sebagai pengingat bahwa bencana adalah ujian yang harus dihadapi dengan iman yang kuat. Artikel ini menyajikan 8 doa lengkap dengan bacaan Arab, transliterasi Latin, terjemah Indonesia, sumber dalil, waktu pengamalan, dan hikmah di balik setiap doa agar tidak sekadar hafalan melainkan diamalkan dengan penuh penghayatan.


Doa Pertama: Memohon Hujan yang Bermanfaat (Bukan Merusak)

Doa saat banjir ini sangat penting untuk diamalkan saat hujan mulai turun deras, sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar hujan yang turun membawa manfaat bukan bencana.

📖 Bacaan Arab:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

🔤 Transliterasi Latin:

Allahumma shoyyiban naafi’an

📝 Arti:

“Ya Allah, jadikanlah hujan yang turun ini hujan yang bermanfaat (bukan yang merusak).”

📚 Sumber Dalil:

Hadits riwayat Imam Bukhari No. 1032 dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW apabila melihat mendung beliau berdoa: “Ya Allah, aku memohon kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada padanya dan kejahatan yang ada di dalamnya.” Kemudian jika hujan turun, beliau mengucapkan: “Allahumma shoyyiban naafi’an“. Referensi lengkap hadits ini bisa ditemukan di Shahih Bukhari – Sunnah.com.

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini dibaca saat hujan baru mulai turun atau saat melihat awan mendung gelap yang akan menurunkan hujan. Tidak perlu menunggu hujan deras, justru lebih baik dibaca di awal agar Allah mengubah potensi hujan merusak menjadi hujan berkah. Baca dengan suara cukup terdengar sendiri sambil mengangkat tangan sebentar ke langit. Jika hujan sudah sangat deras dan mulai mengancam banjir, tambahkan doa berlindung dari bahaya air (Doa kedua dan ketiga).

💡 Hikmah & Penjelasan:

Kata “shoyyib” dalam bahasa Arab berarti hujan yang turun dari langit, sedangkan “naafi’” berarti bermanfaat. Kombinasi keduanya menunjukkan permintaan spesifik agar hujan tidak berlebihan hingga merusak, melainkan secukupnya untuk menyuburkan tanah, mengisi waduk, dan membersihkan udara. Para ulama menjelaskan bahwa Allah menguasai segala sesuatu termasuk intensitas hujan, dan doa hamba yang ikhlas dapat mengubah takdir mu’allaq (takdir yang bisa berubah dengan doa dan sedekah). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini diajarkan Nabi SAW untuk mengingatkan umat bahwa hujan adalah rahmat Allah yang perlu disyukuri, namun jika berlebihan bisa menjadi bencana, maka perlu dimohonkan dalam batas yang bermanfaat.


Doa Kedua: Memohon Hujan Berhenti (Saat Sudah Berlebihan)

Ketika hujan sudah turun terlalu lama dan mulai mengancam banjir, Islam mengajarkan Doa saat banjir khusus untuk memohon hujan berhenti atau dialihkan ke tempat lain yang membutuhkan.

📖 Bacaan Arab:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

🔤 Transliterasi Latin:

Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa, Allahumma ‘alal aakaami wadh dhiraabi wa buthuunil awdiyati wa manaabitisy syajar

📝 Arti:

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah di atas bukit-bukit, di atas dataran tinggi, di lembah-lembah, dan di tempat tumbuhnya pepohonan.”

📚 Sumber Dalil:

Hadits riwayat Imam Bukhari No. 1013 dan Muslim No. 897 dari Anas bin Malik RA. Dalam riwayat tersebut dikisahkan bahwa seorang laki-laki masuk masjid pada hari Jumat saat Rasulullah SAW sedang berkhutbah, ia berkata: “Ya Rasulullah, harta benda telah rusak dan jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah agar memberi kami hujan…” Setelah hujan turun terus menerus, pada Jumat berikutnya seorang laki-laki masuk dan berkata: “Ya Rasulullah, rumah-rumah telah roboh dan jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah agar menghentikannya.” Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan doa di atas.

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini dibaca saat hujan sudah turun terlalu lama (lebih dari 3-4 jam nonstop), air mulai menggenang tinggi di jalan, atau ada tanda-tanda banjir akan terjadi. Baca dengan mengangkat kedua tangan ke atas (seperti doa qunut), menghadap kiblat jika memungkinkan. Boleh dibaca berulang-ulang (3x, 7x, atau lebih) hingga hujan mulai berkurang. Jika dibaca secara berjamaah, lebih baik dipimpin oleh imam atau orang yang alim dengan suara keras sehingga yang lain mengamini. Rasulullah SAW mengabulkan doa ini dengan segera: diriwayatkan bahwa awan langsung terbelah dan hujan berhenti di atas Madinah namun turun di sekitarnya.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Doa saat banjir ini sangat bijak karena tidak meminta hujan berhenti sama sekali (yang bisa merugikan petani atau daerah yang butuh air), melainkan meminta hujan dialihkan ke tempat yang lebih membutuhkan seperti bukit, hutan, lembah yang kering. Kata “hawaalainaa” berarti di sekitar kami, “laa ‘alainaa” berarti tidak di atas kami (tidak di pemukiman), “aakaami” berarti bukit-bukit, “dhiraabi” berarti dataran tinggi, “buthuunil awdiyah” berarti lembah-lembah, “manaabitisy syajar” berarti tempat tumbuhnya pohon-pohon. Ini menunjukkan kepedulian Islam terhadap keseimbangan alam: hujan tetap turun untuk ekosistem, namun tidak merusak pemukiman manusia.


Doa Ketiga: Berlindung dari Bahaya Air Bah

Ketika banjir sudah terjadi dan air terus naik, Doa saat banjir ini sangat penting untuk perlindungan dari bahaya air yang meluap.

📖 Bacaan Arab:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَدْمِ وَالتَّرَدِّي

🔤 Transliterasi Latin:

Allahumma inni a’udzu bika minal gharaqi wal haraqi wal hadmi wat taraddiy

📝 Arti:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam, dari kebakaran, dari reruntuhan bangunan, dan dari terjatuh.”

📚 Sumber Dalil:

Hadits riwayat Abu Dawud No. 5067, Nasa’i No. 5531, Ibnu Majah No. 3871, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud. Untuk memahami konteks lebih luas tentang doa perlindungan dari bencana alam, doa ini merupakan salah satu yang paling komprehensif.

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini dibaca saat kondisi sudah sangat genting: air banjir sudah naik tinggi menggenangi rumah, arus deras mulai membahayakan, atau saat evakuasi darurat ke tempat lebih tinggi. Baca berulang-ulang sambil berusaha menyelamatkan diri (naik ke lantai atas, ke atap, atau ke tempat tinggi terdekat). Jangan hanya berdoa sambil diam menunggu mukjizat, melainkan berdoa sambil berikhtiar maksimal. Jika bersama keluarga, baca dengan suara keras agar semua ikut mengamini dan hati menjadi lebih tenang. Doa saat banjir ini juga sangat baik diamalkan sebagai wirid harian (pagi-petang) sebagai bentuk perlindungan preventif dari berbagai bencana, bukan hanya saat bencana terjadi.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Doa saat banjir ini sangat komprehensif karena mencakup empat jenis bahaya yang sering terjadi bersamaan saat bencana: gharaq (tenggelam dalam air banjir atau tsunami), haraq (kebakaran akibat korsleting listrik atau ledakan gas saat banjir), hadm (tertimpa reruntuhan rumah yang roboh karena pondasi terendam), taraddi (terjatuh saat evakuasi ke atap atau tempat tinggi). Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa Nabi SAW mengajarkan doa ini karena keempat bahaya tersebut adalah yang paling sering menyebabkan kematian mendadak, dan berlindung kepada Allah dari bahaya-bahaya ini adalah kewajiban setiap muslim yang berakal.


Doa Keempat: Doa Nabi Nuh AS Saat Banjir Besar

Nabi Nuh AS menghadapi banjir terbesar dalam sejarah manusia yang melanda seluruh dunia. Doa saat banjir yang beliau panjatkan tercatat dalam Al-Quran dan menjadi teladan bagi umat Islam saat menghadapi banjir.

📖 Bacaan Arab (dari Al-Quran):

رَبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

🔤 Transliterasi Latin:

Rabbiy anzilnii munzalan mubaarakan wa anta khairul munziliin

📝 Arti:

“Ya Tuhanku, turunkanlah aku (di tempat) yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik yang menurunkan (memberikan tempat).” (QS Al-Mu’minun: 29)

📚 Sumber Dalil:

Ayat ini adalah doa Nabi Nuh AS saat bahtera yang beliau tumpangi berlayar di tengah banjir besar. Allah SWT menceritakannya dalam QS Al-Mu’minun ayat 27-29. Dalam konteks yang lebih luas, untuk memahami fikih gempa bumi dan bencana alam lainnya, prinsip doa Nabi Nuh ini sangat relevan diterapkan.

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini sangat tepat dibaca dalam tiga kondisi: Pertama, saat terapung di atas air banjir (di rakit, perahu, atau benda terapung lainnya) dan memohon Allah memberikan tempat pendaratan yang aman. Kedua, saat evakuasi menuju tempat pengungsian dan memohon agar tempat pengungsian tersebut diberkahi dan aman. Ketiga, saat pulang kembali ke rumah setelah banjir surut dan memohon agar rumah tersebut dibersihkan dari kotoran dan diberkahi kembali. Baca dengan khusyuk sambil meyakini bahwa Allah yang menyelamatkan Nabi Nuh AS dari banjir besar pasti mampu menyelamatkan kita dari banjir yang lebih kecil.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Kata “anzilni” berarti “turunkanlah aku”, dalam konteks Nabi Nuh berarti menurunkan bahtera ke daratan yang aman setelah sekian lama terapung. Kata “munzalan mubaarakan” berarti tempat yang diberkahi, yaitu tempat yang aman, subur, dan membawa kebaikan. Kata “khairul munzilin” berarti sebaik-baik yang memberikan tempat, menunjukkan keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang bisa memberikan tempat aman yang hakiki. Imam Ath-Thabari dalam Jami’ Al-Bayan menjelaskan bahwa doa ini mengajarkan adab penting: di tengah bencana, jangan hanya fokus pada keselamatan fisik semata, tetapi juga mohonkan keberkahan di tempat tujuan.


Doa Kelima: Mohon Dikembalikan ke Rumah dengan Selamat

Bagi mereka yang harus mengungsi karena banjir dan meninggalkan rumah, Doa saat banjir ini sangat penting untuk keselamatan selama mengungsi dan kembali ke rumah dengan selamat.

📖 Bacaan Arab:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلِجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

🔤 Transliterasi Latin:

Allahumma inni as-aluka khairal mauliji wa khairal makhraji bismillahi wa lajnaa wa bismillahi kharajnaa wa ‘alallahi rabbinaa tawakkalnaa

📝 Arti:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan tempat masuk dan kebaikan tempat keluar. Dengan nama Allah kami masuk, dan dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Allah Tuhan kami, kami bertawakal.”

📚 Sumber Dalil:

Hadits riwayat Abu Dawud No. 5096 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Rasulullah SAW mengajarkan doa ini untuk dibaca saat keluar dan masuk rumah, namun para ulama memperluas aplikasinya untuk kondisi bepergian dan mengungsi. Jika situasi mengharuskan evakuasi, pahami juga hukum mengungsi saat bencana dalam Islam.

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini dibaca dalam tiga momen: Pertama, saat keluar dari rumah menuju tempat pengungsian karena banjir (baca bagian “bismillahi kharajnaa“). Kedua, saat tiba dan masuk ke tempat pengungsian atau rumah saudara/tetangga yang menampung (baca bagian “bismillahi wa lajnaa“). Ketiga, saat kembali masuk ke rumah setelah banjir surut (baca lengkap dengan penuh syukur). Jika bersama keluarga, kepala keluarga yang membaca dengan suara jelas dan semua anggota keluarga mengamini.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Kata “maulij” berarti tempat masuk, “makhraj” berarti tempat keluar. Doa ini memohon kebaikan (keselamatan, keberkahan) di kedua tempat: tempat yang ditinggalkan (rumah) dan tempat yang dituju (pengungsian). Sangat penting karena banyak orang yang selamat dari banjir namun rumahnya dijarah maling, atau selamat mengungsi namun di tempat pengungsian terkena penyakit. Maka doa ini komprehensif memohon perlindungan di semua tempat. Frasa “wa ‘alallahi rabbinaa tawakkalnaa” (kepada Allah Tuhan kami bertawakal) mengajarkan keseimbangan: kita berikhtiar keluar rumah dan mengungsi, namun hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.


Doa Keenam: Hasbunallah – Cukuplah Allah Bagiku

Doa singkat namun sangat powerful ini telah menyelamatkan banyak kaum muslimin dalam berbagai kondisi darurat termasuk banjir dan bencana alam.

📖 Bacaan Arab:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

🔤 Transliterasi Latin:

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil

📝 Arti:

“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung.”

📚 Sumber Dalil:

QS Ali Imran ayat 173. Ayat ini turun dalam konteks kaum muslimin yang diancam pasukan musuh yang sangat besar setelah Perang Uhud, namun mereka tetap teguh dengan mengucapkan kalimat ini: “(Yaitu) orang-orang yang ketika orang-orang (munafik) mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka,’ justru perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung.'”

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa ini dibaca berulang-ulang (minimal 3x, 7x, atau 100x) saat kondisi sangat genting: air banjir sudah sangat tinggi, arus sangat deras, nyawa terancam, atau saat terapung di atas air tanpa bantuan. Baca dengan suara keras jika sendirian untuk menguatkan mental, atau dengan suara dalam hati jika di tengah kerumunan agar tidak menambah kepanikan. Kalimat ini juga sangat efektif dibaca oleh seluruh anggota keluarga secara berjamaah saat berkumpul di tempat tinggi menunggu air surut, agar hati semua menjadi tenang dan yakin Allah akan melindungi.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Kata “hasbu” berarti cukup, “na” berarti kami, jadi “hasbunallah” berarti Allah cukup bagi kami – tidak butuh yang lain. Kata “ni’mal wakiil” berarti sebaik-baik pelindung/pengurus urusan. Kalimat ini sangat pendek namun mengandung tauhid yang sangat kuat: pengakuan bahwa hanya Allah yang bisa menolong di saat semua pintu bantuan tertutup. Kisah nyata: kalimat ini juga diucapkan Nabi Ibrahim AS saat dilempar ke dalam api oleh Raja Namrud, dan Allah menjadikan api itu sejuk dan selamat baginya. Para ulama menjelaskan bahwa kekuatan doa ini bukan pada panjang pendeknya kalimat, melainkan pada kedalaman iman saat mengucapkannya.


Doa Ketujuh: Mohon Ampunan dan Taubat Pasca-Banjir

Bencana adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan bertaubat kepada Allah. Doa saat banjir ketujuh ini khusus untuk taubat setelah selamat dari banjir.

📖 Bacaan Arab:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

🔤 Transliterasi Latin:

Astaghfirullaahal ‘azhiimal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih

📝 Arti:

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”

📚 Sumber Dalil:

Hadits riwayat Abu Dawud No. 1517, Tirmidzi No. 3577, Ibnu Majah No. 3814. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca istighfar ini, maka dosanya akan diampuni meskipun ia lari dari medan perang (dosa besar).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, hasan shahih)

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini dibaca setelah banjir surut dan kondisi mulai aman, biasanya di malam hari saat berkumpul dengan keluarga di posko pengungsian atau setelah shalat Isya/Tahajjud. Baca minimal 3x atau hingga 100x sebagai bentuk taubat yang sungguh-sungguh. Renungkan dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelum bencana, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Bencana adalah teguran Allah agar kita kembali kepada-Nya sebelum terlambat. Jika memungkinkan, lakukan juga shalat taubat dua rakaat sebelum membaca istighfar ini untuk kesempurnaan taubat.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Istighfar dalam doa ini sangat sempurna karena mengandung tiga unsur penting: pertama, pengakuan keagungan Allah (al-‘azhiim), kedua, tauhid yang kuat (laa ilaaha illa huwa), ketiga, penyebutan sifat-sifat Allah yang menunjukkan Dia Maha Kuasa mengampuni (al-hayyul qayyuum – Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri). Para ulama menjelaskan bahwa bencana alam bisa menjadi dua hal: peringatan Allah untuk yang beriman agar bertaubat, atau azab bagi yang zalim. Bagi orang yang beriman, setiap bencana adalah panggilan untuk introspeksi diri dan kembali kepada Allah.


Doa Kedelapan: Syukur Atas Keselamatan dari Banjir

Setelah selamat dari banjir, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat keselamatan yang tidak semua orang mendapatkannya.

📖 Bacaan Arab:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

🔤 Transliterasi Latin:

Alhamdulillahil ladzii ‘aafaanii mimmabtalaa ka bihi wa fadhdhala nii ‘alaa katsiirin mimman khalaqa tafdliilaa

📝 Arti:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan telah melebihkanku atas kebanyakan makhluk-Nya dengan kelebihan yang sempurna.”

📚 Sumber Dalil:

Hadits riwayat Tirmidzi No. 3432 dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melihat orang yang tertimpa musibah lalu ia membaca doa ini, maka ia akan dilindungi dari musibah tersebut.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

⏰ Waktu & Cara Pengamalan:

Doa saat banjir ini dibaca setelah memastikan diri dan keluarga selamat dari banjir, sambil melihat rumah-rumah yang hancur, korban yang meninggal, atau orang yang kehilangan harta benda. JANGAN dibaca dengan keras di depan korban atau keluarga korban karena dapat menyakiti perasaan mereka, tetapi dibaca dalam hati dengan penuh rasa syukur dan empati. Setelah membaca doa syukur, segera lanjutkan dengan amal nyata membantu korban: jadi relawan evakuasi, menyumbang makanan, memberikan tempat tinggal sementara bagi pengungsi, atau membantu membersihkan lumpur di rumah korban.

💡 Hikmah & Penjelasan:

Doa ini mengajarkan adab bersyukur yang tinggi dalam Islam. Bersyukur bukan berarti sombong atau merendahkan orang yang tertimpa musibah, melainkan menyadari bahwa keselamatan adalah karunia Allah yang tidak kita peroleh karena kehebatan diri sendiri. Kata “‘aafaanii” (menyelamatkanku) menunjukkan bahwa keselamatan adalah pemberian Allah, bukan hasil usaha kita semata, meski ikhtiar tetap wajib dilakukan. Dengan bersyukur, Allah berjanji akan menambah nikmat sebagaimana firman-Nya dalam QS Ibrahim ayat 7: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”


📊 Tabel Ringkasan: 8 Doa & Waktu Pengamalan

NoNama DoaWaktu UtamaFungsi UtamaSumber Dalil
1Hujan BermanfaatSaat hujan mulai turunMemohon hujan tidak merusakHR. Bukhari 1032
2Hujan BerhentiSaat hujan berlebihan 3+ jamMemohon hujan dialihkanHR. Bukhari 1013, Muslim 897
3Berlindung dari Bahaya AirSaat banjir sudah terjadiPerlindungan dari tenggelam/bahayaHR. Abu Dawud 5067
4Doa Nabi NuhSaat terapung atau evakuasiMemohon tempat aman & berkahQS Al-Mu’minun 29
5Keluar-Masuk RumahSaat mengungsi & kembaliKeselamatan di semua tempatHR. Abu Dawud 5096
6HasbunallahSaat kondisi sangat gentingMenenangkan hati, tawakalQS Ali Imran 173
7Istighfar TaubatPasca-banjir, malam hariBertaubat, introspeksi diriHR. Abu Dawud 1517
8Syukur SelamatSetelah dipastikan selamatBersyukur atas keselamatanHR. Tirmidzi 3432

🛡️ Amalan Perlindungan Pra-Banjir yang Wajib Rutin

Selain 8 Doa saat banjir di atas yang dibaca saat dan sesudah banjir, ada amalan harian yang berfungsi sebagai benteng perlindungan dari segala bencana termasuk banjir. Amalan ini diajarkan Rasulullah SAW dan telah diamalkan para salafus shalih selama berabad-abad.

1️⃣ Dzikir Pagi dan Petang

Rasulullah SAW mengajarkan dzikir pagi (setelah Subuh hingga terbit matahari) dan dzikir petang (setelah Ashar hingga Maghrib) yang salah satunya adalah:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahil ladzii laa yadhurru ma’as mihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa-i wa huwas samii’ul ‘aliim

“Dengan nama Allah yang tidak ada yang dapat membahayakan bersama nama-Nya, baik di bumi maupun di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dibaca tiga kali pagi dan tiga kali petang. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dzikir ini tiga kali di pagi hari, tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya hingga petang. Dan barangsiapa membacanya tiga kali di petang hari, tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya hingga pagi” (HR. Abu Dawud No. 5088, Tirmidzi No. 3388, dishahihkan Al-Albani).

2️⃣ Ayat Kursi Sebelum Tidur

Membaca Ayat Kursi (QS Al-Baqarah ayat 255) sebelum tidur adalah amalan yang dijamin Rasulullah SAW akan melindungi dari gangguan jin, setan, dan berbagai bahaya malam hari. Meski konteks haditsnya tentang perlindungan dari setan, para ulama menjelaskan bahwa perlindungan Allah yang dimohonkan mencakup semua bentuk bahaya termasuk bencana alam yang terjadi di malam hari seperti banjir bandang yang sering terjadi dini hari.

3️⃣ Sedekah Rutin

Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menolak kematian yang buruk” (HR. Tirmidzi No. 664, hasan). Sedekah rutin minimal seminggu sekali atau sebulan sekali, sesuai kemampuan, menjadi benteng dari berbagai bencana. Tidak perlu besar, yang penting rutin dan ikhlas. Sedekah bisa berupa uang, makanan, atau bahkan senyuman dan membantu sesama. Khusus untuk perlindungan dari banjir, sangat dianjurkan bersedekah kepada korban banjir di daerah lain sebagai bentuk empati dan solidaritas.

4️⃣ Shalat Istisqa (Memohon Hujan)

Saat musim kemarau panjang, umat Islam dianjurkan melakukan shalat istisqa (shalat memohon hujan) secara berjamaah. Ini adalah bentuk ikhtiar spiritual agar Allah menurunkan hujan yang cukup, tidak terlalu sedikit (kekeringan) dan tidak terlalu banyak (banjir). Tata cara: shalat dua rakaat seperti shalat Idul Fitri, dilakukan di lapangan terbuka, imam berkhutbah setelah shalat sambil mengangkat tangan berdoa memohon hujan, jamaah mengaminkan. Rasulullah SAW pernah melakukan shalat istisqa dan langsung turun hujan pada hari itu juga.

5️⃣ Menjaga Lingkungan

Meski ini bukan amalan ibadah ritual, menjaga lingkungan adalah bagian dari iman. Banyak banjir disebabkan oleh ulah manusia: menebang hutan, membuang sampah ke sungai, membangun di daerah resapan air. Islam mengajarkan prinsip “laa dharara wa laa dhiraara” (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain). Menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, adalah bentuk ikhtiar mencegah banjir yang sangat ditekankan dalam Islam. Untuk informasi lebih lanjut tentang kesiapsiagaan bencana, Anda dapat mengunjungi BNPB – Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan memantau prakiraan cuaca di BMKG – Info Cuaca & Banjir.


📖 Studi Kasus: Banjir Jakarta 2013 & 2020 – Pelajaran Berharga

Jakarta sebagai ibukota Indonesia sering dilanda banjir besar yang memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya doa dan ikhtiar dalam menghadapi bencana.

Banjir Jakarta 2013 (17-27 Januari)

Banjir terparah dalam 5 tahun terakhir kala itu, merendam 70% wilayah Jakarta dengan ketinggian air mencapai 2-3 meter di beberapa tempat. Lebih dari 300.000 jiwa mengungsi, 48 orang meninggal, dan kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah.

“Malam itu, 17 Januari 2013, air naik sangat cepat. Dalam 2 jam, dari mata kaki jadi setinggi dada. Istri dan anak-anak panik. Saya ingat pelajaran ustadz tentang doa banjir. Kami berkumpul di lantai 2, saya pimpin baca ‘Hasbunallah wa ni’mal wakiil’ berulang-ulang. Anehnya, setelah itu hati jadi tenang walau air terus naik. Kami tetap waspada, siapkan barang penting, tapi tidak panik lagi. Pagi harinya air mulai surut, Alhamdulillah selamat semua. Saya yakin doa yang kami baca menenangkan hati dan membuat kami bisa berpikir jernih mengambil keputusan yang tepat.”

Banjir Jakarta 2020 (1-5 Januari)

Banjir awal tahun 2020 juga sangat parah, bahkan lebih luas dari 2013. Namun korban jiwa lebih sedikit (66 orang) karena sistem peringatan dini yang lebih baik dan kesiapsiagaan masyarakat yang meningkat.

“Saya jadi koordinator posko pengungsian yang menampung 500 keluarga. Banyak pengungsi yang trauma, terutama anak-anak yang takut air. Saya dan tim mengadakan dzikir berjamaah setiap ba’da Maghrib dan Subuh, baca doa-doa banjir yang diajarkan Rasulullah SAW. Kami juga mengajarkan anak-anak hafalkan doa singkat seperti ‘Allahumma shoyyiban naafi’an‘ dan ‘Hasbunallah‘. Dalam 3 hari, kondisi psikologis pengungsi jauh membaik. Mereka lebih tenang, tidak panik, dan lebih kooperatif saat evakuasi. Ini bukti nyata bahwa doa dan dzikir bukan hanya ritual, tetapi terapi spiritual yang sangat efektif mengatasi trauma bencana.”

🎯 Pelajaran yang Bisa Diambil:

  • Doa menenangkan hati – Di tengah kepanikan, doa adalah jangkar spiritual yang membuat kita tetap waras dan bisa berpikir jernih
  • Dzikir berjamaah menguatkan solidaritas – Berdoa bersama membuat komunitas lebih kuat menghadapi bencana
  • Ajarkan doa kepada anak-anak – Anak yang diajarkan berdoa sejak kecil lebih resilient (tangguh) menghadapi trauma
  • Kombinasi doa dan ikhtiar – Doa tanpa usaha adalah sia-sia, usaha tanpa doa adalah sombong
  • Posko butuh pendampingan spiritual – Relawan bencana tidak hanya membawa bantuan fisik, tapi juga bantuan spiritual melalui pengajian dan dzikir bersama

✅ Kesimpulan: Hujan adalah Rahmat, Banjir adalah Ujian

Setelah mengupas tuntas 8 doa saat banjir dan hujan lebat, kesimpulannya sangat jelas: hujan adalah rahmat Allah yang perlu disyukuri, namun jika berlebihan menjadi banjir yang menjadi ujian bagi keimanan kita. Tiga prinsip utama yang harus dipegang teguh:

Pertama, Doa saat banjir adalah ikhtiar spiritual yang sama pentingnya dengan ikhtiar fisik. Berdoa memohon hujan berhenti, berlindung dari bahaya air, dan meminta keselamatan adalah kewajiban muslim, bukan takhayul atau syirik. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW memiliki kekuatan luar biasa jika dibaca dengan yakin dan ikhlas. Namun doa harus disertai dengan usaha nyata: evakuasi ke tempat tinggi, membantu sesama, dan mematuhi instruksi BNPB.

Kedua, bencana adalah momentum untuk kembali kepada Allah. Banjir mengingatkan kita bahwa manusia sangat lemah di hadapan kekuatan alam yang dikendalikan Allah. Ketika teknologi dan kekuatan manusia tidak berdaya menghentikan air yang meluap, di situlah kita menyadari bahwa hanya Allah yang Mahakuasa. Maka gunakan momentum ini untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah sebelum terlambat.

Ketiga, syukur atas keselamatan harus diwujudkan dalam amal nyata membantu korban. Jangan hanya bersyukur secara lisan, tetapi wujudkan dalam tindakan: jadi relawan evakuasi, menyumbang untuk korban, memberikan tempat tinggal sementara, atau membantu membersihkan lumpur di rumah korban. Ini adalah syukur yang sejati yang Allah cintai.


📋 Action Plan untuk Umat Islam

🔵 Sebelum Banjir (Persiapan):

  1. Hafalkan minimal 3 doa prioritas: Doa saat banjir 1, 2, dan 6
  2. Amalkan dzikir pagi-petang rutin sebagai benteng perlindungan
  3. Bersedekah rutin untuk menolak bala
  4. Ikut pelatihan siaga bencana dari BPBD atau masjid
  5. Siapkan tas siaga bencana berisi: Al-Quran kecil, daftar doa, dokumen penting, obat-obatan, makanan darurat
  6. Tentukan titik kumpul keluarga jika terjadi banjir dan terpisah
  7. Pantau prakiraan cuaca BMKG saat musim hujan

🟡 Saat Banjir (Respons):

  1. Tetap tenang, baca doa 3 dan 6 berulang-ulang
  2. Evakuasi segera ke tempat tinggi jika air mulai naik
  3. Bantu tetangga lemah (lansia, anak, difabel)
  4. Jangan kembali ke rumah untuk mengambil harta, nyawa lebih penting
  5. Di tempat pengungsian, adakan dzikir berjamaah untuk menguatkan mental
  6. Koordinasi dengan BPBD dan tim SAR untuk bantuan

🟢 Setelah Banjir (Pemulihan):

  1. Baca doa 7 dan 8 (taubat dan syukur)
  2. Bantu membersihkan masjid dan rumah korban
  3. Sumbang untuk korban sesuai kemampuan
  4. Ikut trauma healing untuk anak-anak yang trauma
  5. Evaluasi: apa pelajaran yang bisa diambil
  6. Ajarkan pengalaman kepada generasi selanjutnya agar lebih siap
  7. Perbaiki sistem drainase dan lingkungan untuk mencegah banjir terulang

🤲 Penutup: Firman Allah tentang Ujian

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ankabut ayat 2-3:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami beriman’, dan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti akan mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti akan mengetahui orang-orang yang dusta.”

Banjir dan bencana alam adalah bagian dari ujian Allah untuk menguji keimanan kita. Orang yang beriman sejati adalah yang tetap bertawakal kepada Allah di tengah ujian, tidak putus asa, dan menjadikan bencana sebagai momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga 8 Doa saat banjir yang telah dijelaskan dalam artikel ini dapat menjadi bekal spiritual kita dalam menghadapi banjir dan hujan lebat.

Wallahu a’lam bishawab. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi yang menyebarkannya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca