Share

Ibu Muslim berjilbab sedang membacakan buku dan memeluk anaknya, ilustrasi cara menjelaskan musibah dan kematian kepada anak dengan lembut.

Menjelaskan Musibah dan Kematian kepada Anak: Panduan Orang Tua Muslim


Cara Tepat Menjelaskan Musibah dan Kematian kepada Anak Menurut Islam

Ketika gempa mengguncang Palu tahun 2018, Zahra yang berusia 6 tahun melihat ibunya panik menggendongnya keluar rumah. Setelah guncangan berhenti, ia bertanya dengan polos: “Bu, kenapa bumi marah sama kita? Kita salah apa?” Pertanyaan ini membuat ibunya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain kota, Amir yang berusia 10 tahun kehilangan kakeknya yang tertimpa reruntuhan.

Ketika ia bertanya kemana kakek pergi, ayahnya hanya menjawab “kakek sudah tidur panjang” dengan harapan mengurangi kesedihan Amir. Namun jawaban ini justru membuat Amir takut tidur selama berminggu-minggu karena khawatir tidak akan bangun lagi seperti kakek. Dua cerita ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi orangtua: bagaimana menjelaskan musibah dan kematian kepada anak dengan cara yang jujur, empatik, dan sesuai dengan pemahaman mereka tanpa menimbulkan trauma tambahan atau kesalahpahaman yang kontraproduktif.

Anak-anak memiliki pemahaman yang berbeda tentang kematian dan musibah tergantung pada tahap perkembangan kognitif mereka. Menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry tentang Children and Grief anak usia 3-5 tahun belum memahami konsep kematian sebagai sesuatu yang permanen, anak usia 6-9 tahun mulai memahami permanensi tetapi sering mempersonifikasi kematian, sementara anak usia 10 tahun ke atas sudah bisa memahami kematian secara lebih abstrak dan universal.

Dalam konteks Islam, menjelaskan musibah dan kematian kepada anak bukan hanya tentang menyampaikan fakta, tetapi juga tentang membentuk pemahaman teologis yang sehat tentang takdir, kehidupan setelah mati, dan kasih sayang Allah yang tidak bertentangan dengan adanya ujian. Artikel ini akan memberikan panduan praktis yang menggabungkan prinsip-prinsip psikologi perkembangan anak dengan ajaran Islam untuk membantu orangtua berkomunikasi dengan anak tentang topik-topik sulit ini dengan cara yang healing, bukan traumatizing.

Ayah dan anak memandang kupu-kupu di taman, simbol cara alami menjelaskan musibah dan kematian kepada anak melalui ciptaan Allah.
Alam adalah guru pertama. Melihat siklus kehidupan bersama adalah cara bijak menjelaskan musibah dan kematian kepada anak.

Pemahaman Kematian Berdasarkan Tahap Perkembangan Anak

Sebelum menjelaskan kematian kepada anak, orangtua perlu memahami terlebih dahulu bagaimana anak pada usia tertentu memahami konsep kematian. Ini akan membantu Anda menyesuaikan bahasa dan penjelasan sesuai kapasitas kognitif mereka.

Anak Usia 3-5 Tahun (Pra-Sekolah): Pada usia ini, anak belum memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen dan irreversible. Mereka mungkin berpikir bahwa orang yang meninggal “tidur” dan bisa bangun lagi, atau “pergi” dan bisa kembali. Pemikiran mereka juga sangat egosentris—mereka mungkin merasa bahwa kematian seseorang adalah karena mereka melakukan sesuatu yang salah. Di usia ini, konsep “selamanya” belum bisa dipahami sepenuhnya. Mereka juga sangat literal dalam memahami kata-kata, sehingga euphemism seperti “pergi ke tempat yang lebih baik” atau “tidur panjang” bisa menimbulkan kebingungan atau ketakutan.

Anak Usia 6-9 Tahun (Sekolah Dasar Awal): Anak mulai memahami bahwa kematian adalah permanen dan bahwa tubuh orang yang meninggal berhenti berfungsi. Namun mereka sering mempersonifikasi kematian—membayangkan kematian sebagai sosok (seperti malaikat maut yang menakutkan) yang “mengambil” orang. Mereka sangat ingin tahu tentang detail fisik kematian: apa yang terjadi dengan tubuh, apakah orang yang meninggal bisa bernapas, apakah mereka merasa sakit. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan karena mereka tidak sensitif, tetapi karena mereka mencoba memahami secara konkret apa itu kematian. Di usia ini, mereka juga sudah bisa merasakan grief yang genuine dan memerlukan dukungan emosional yang serius.

Anak Usia 10 Tahun ke Atas (Pra-Remaja dan Remaja): Pemahaman mereka tentang kematian sudah mendekati pemahaman orang dewasa. Mereka memahami bahwa kematian adalah universal (semua orang akan mati), irreversible (tidak bisa kembali), dan melibatkan berhentinya fungsi biologis. Namun secara emosional, mereka mungkin sangat terpengaruh oleh kematian karena mereka sudah bisa membayangkan implikasi jangka panjang dari kehilangan tersebut. Remaja khususnya mungkin mengalami krisis eksistensial ketika menghadapi kematian, mempertanyakan makna hidup dan keadilan Tuhan. Mereka memerlukan ruang untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan filosofis ini dengan serius.

Memahami tahapan ini membantu orangtua untuk tidak memberikan penjelasan yang terlalu kompleks untuk anak kecil atau terlalu simplistik untuk remaja. Artikel tentang trauma pasca bencana dalam perspektif Islam juga memberikan konteks penting tentang bagaimana trauma mempengaruhi semua usia.

Prinsip Dasar: Kejujuran dengan Bahasa yang Lembut

Prinsip paling penting dalam menjelaskan musibah dan kematian kepada anak adalah kejujuran. Anak-anak sangat sensitif terhadap ketidakjujuran, dan ketika mereka merasa orangtua menyembunyikan sesuatu, mereka akan membuat asumsi sendiri yang sering kali jauh lebih menakutkan daripada kenyataan. Namun kejujuran bukan berarti brutal atau tanpa filter. Kejujuran yang healing adalah kejujuran yang dikemas dengan bahasa yang lembut dan empati.

Hindari Euphemism yang Membingungkan: Jangan mengatakan “kakek sudah tidur panjang” karena ini bisa membuat anak takut tidur. Jangan mengatakan “Allah mengambil kakek karena Dia menyayanginya” karena ini bisa membuat anak takut jika Allah menyayangi mereka. Jangan mengatakan “kakek pergi jauh” karena anak akan terus menunggu kepulangan. Sebaliknya, gunakan kata-kata yang jelas tetapi lembut: “Kakek sudah meninggal. Itu artinya tubuhnya berhenti bekerja dan rohnya kembali kepada Allah. Kakek tidak bisa kembali lagi, dan kita akan sangat merindukannya.”

Gunakan Analogi yang Sesuai Usia: Untuk anak kecil (3-5 tahun), Anda bisa menggunakan analogi sederhana: “Kamu tahu tanaman yang mati di taman? Tubuh orang yang meninggal juga seperti itu—sudah tidak bisa bergerak, makan, atau berbicara lagi. Tapi roh kakek yang adalah bagian kakek yang sebenarnya, sudah kembali kepada Allah dan ada di tempat yang sangat indah yang kita sebut surga.” Untuk anak yang lebih besar (6-9 tahun), Anda bisa lebih spesifik: “Ketika seseorang meninggal, jantungnya berhenti berdetak, otaknya berhenti bekerja, dan semua fungsi tubuhnya berhenti. Roh yang membuat tubuh itu hidup keluar dan kembali kepada Allah.”

Validasi Emosi Mereka: Setelah memberikan penjelasan, validasi perasaan anak: “Wajar kalau kamu sedih. Ibu juga sangat sedih kehilangan kakek. Boleh menangis. Boleh marah. Semua perasaan itu wajar.” Jangan pernah mengatakan “jangan sedih” atau “jangan menangis” karena ini mengajarkan anak untuk menekan emosi. Artikel tentang cara bangkit dari kehilangan menurut Islam memberikan konteks lebih lanjut tentang pentingnya memproses emosi dengan sehat.

Menjelaskan Konsep Takdir dan Ujian dalam Islam

Salah satu tantangan terbesar adalah menjelaskan konsep takdir dan ujian tanpa membuat anak merasa bahwa Allah tidak adil atau tidak menyayangi. Anak-anak cenderung berpikir dalam kategori hitam-putih: jika Allah baik, kenapa Dia membiarkan hal buruk terjadi? Penjelasan yang tidak hati-hati bisa membentuk pemahaman teologis yang rusak.

Jelaskan dengan Analogi Orangtua: Gunakan analogi yang dekat dengan pengalaman mereka: “Kamu ingat waktu Ibu tidak membelikan es krim kemarin karena kamu sedang flu? Kamu marah sama Ibu kan? Tapi sebenarnya Ibu menyayangi kamu, makanya tidak memberikan sesuatu yang bisa membuat kamu lebih sakit. Kadang Allah juga seperti itu. Dia sangat menyayangi kita, tapi kadang Dia tidak memberikan apa yang kita mau atau mengambil sesuatu yang kita sayangi karena ada hikmah yang kita belum mengerti. Tapi kasih sayang Allah lebih besar dari kasih sayang Ibu.”

Ajarkan bahwa Ujian Bukan Hukuman: Sangat penting untuk membedakan antara ujian dan hukuman. Jelaskan bahwa musibah bukan karena Allah marah atau karena kita berbuat salah. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Wa lanabluwannakum bisyai’in minal khaufi wal juu’i wa naqshim minal amwaali wal anfusi was-tsamaraati”

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Jelaskan dengan bahasa anak: “Ujian itu seperti soal ulangan di sekolah. Guru memberikan soal bukan karena marah atau tidak suka sama kamu, tapi untuk melihat seberapa kamu sudah belajar dan untuk membuat kamu lebih pintar. Allah juga memberikan ujian untuk membuat kita lebih kuat dan lebih dekat dengan-Nya. Kalau kita menghadapi ujian dengan sabar dan tetap percaya sama Allah, kita akan dapat pahala yang besar.”

Konsep Surga untuk Anak: Anak-anak sangat terbantu dengan penjelasan tentang surga karena memberikan harapan bahwa perpisahan dengan orang yang dicintai bukan akhir segalanya. Jelaskan dengan detail yang positif: “Kakek sekarang ada di surga, tempat yang sangat indah yang Allah siapkan untuk orang-orang baik. Di surga tidak ada sakit, tidak ada sedih, semua orang bahagia selamanya. Suatu hari nanti, kalau kita jadi anak yang baik dan sholeh, kita akan bertemu lagi dengan kakek di surga.” Namun hindari mengatakan “Allah mengambil kakek karena sayang” karena ini bisa membuat anak takut disayangi Allah.

Menjelaskan Musibah Natural: Gempa, Banjir, Kebakaran

Untuk musibah natural seperti gempa atau banjir, anak sering merasa bahwa alam “marah” kepada mereka atau bahwa mereka bisa mencegahnya dengan berperilaku baik. Penting untuk mengoreksi kesalahpahaman ini sambil memberikan sense of safety.

Jelaskan Secara Ilmiah Sesuai Usia: Untuk anak usia sekolah, berikan penjelasan sederhana tentang fenomena alam: “Gempa terjadi karena lapisan bumi bergerak. Ini bukan karena bumi marah atau karena kita berbuat salah. Ini adalah bagian dari cara bumi bekerja. Allah yang menciptakan bumi dengan cara ini, dan kadang gerakan itu membuat gempa.” Untuk anak yang lebih kecil, bisa lebih sederhana: “Bumi kadang bergerak, dan itu membuat rumah-rumah goyang. Bukan salah kita, itu cara alam bekerja.”

Berikan Sense of Control: Anak yang mengalami bencana sering merasa sangat tidak berdaya. Bantu mereka menemukan kembali sense of control dengan menjelaskan apa yang bisa dilakukan: “Meskipun kita tidak bisa menghentikan gempa, kita bisa belajar apa yang harus dilakukan kalau gempa terjadi lagi. Kita bisa menyiapkan tas darurat, kita tahu tempat aman di rumah, kita tahu cara menghubungi keluarga. Ini membuat kita lebih siap dan lebih aman.”

Ritual Keamanan: Ciptakan ritual yang memberikan rasa aman: doa perlindungan setiap pagi dan sebelum tidur, check-in rutin “bagaimana perasaanmu hari ini?”, dan aktivitas normal seperti membaca buku sebelum tidur. Rutinitas ini sangat penting untuk anak yang trauma karena memberikan predictability di tengah chaos. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menekankan pentingnya dukungan psikososial untuk anak-anak pasca bencana.

Menjawab Pertanyaan Sulit dengan Jujur

Anak-anak akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit, dan kadang orangtua tidak memiliki jawaban yang memuaskan. Tidak apa-apa untuk mengakui keterbatasan pengetahuan sambil tetap memberikan keamanan emosional.

Pertanyaan: “Apakah aku juga akan mati?” Jawaban: “Ya, suatu hari nanti semua orang akan mati, termasuk kamu dan Ibu. Tapi insyaAllah itu masih sangat lama sekali dari sekarang. Kebanyakan orang hidup sampai sangat tua, punya cucu, bahkan cicit. Yang penting adalah kita menggunakan waktu hidup kita dengan baik: berbuat baik, sayang sama keluarga, dan selalu ingat Allah.”

Pertanyaan: “Kenapa Allah membiarkan kakek mati? Kenapa Dia tidak menyelamatkan?” Jawaban: “Pertanyaan yang sangat bagus, dan Ibu juga kadang bertanya-tanya hal yang sama. Yang Ibu tahu adalah bahwa Allah sangat menyayangi kakek, bahkan lebih sayang dari kita. Kadang kita tidak mengerti kenapa sesuatu terjadi, tapi kita percaya bahwa Allah Maha Bijaksana dan pasti ada alasan yang baik meskipun kita belum bisa melihatnya sekarang. Yang penting, kakek sekarang sudah tidak sakit lagi dan bahagia di surga.”

Pertanyaan: “Apakah aku yang membuat kakek mati? Aku kan kemarin nakal?” (Ini sangat umum di anak 4-7 tahun yang masih egosentris) Jawaban: “Tidak, Sayang. Sama sekali bukan karena kamu. Kakek meninggal karena tubuhnya sudah tua dan sakit. Tidak ada yang kamu lakukan yang membuat kakek meninggal. Kamu anak yang sangat baik, dan kakek sangat sayang sama kamu sampai akhir.”

Pertanyaan: “Di mana kakek sekarang? Apakah kakek sendirian di dalam tanah?” Jawaban: “Tubuh kakek memang dikuburkan di tanah, tapi yang namanya kakek—rohnya, kepribadiannya, cinta-nya kepada kita—itu sudah kembali kepada Allah dan sekarang ada di tempat yang sangat indah bernama surga. Kakek tidak sendirian, dan kakek tidak merasa sakit atau takut. Kakek bahagia dan menunggu kita untuk bertemu lagi suatu hari nanti.”

Mendukung Anak Melalui Proses Berduka

Anak-anak berduka dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Grief mereka sering muncul dalam gelombang—mereka bisa sangat sedih sebentar, lalu tiba-tiba main dan tertawa seolah tidak terjadi apa-apa. Ini bukan berarti mereka tidak peduli, tetapi cara otak anak melindungi diri dari overwhelm emosional.

Izinkan dan Validasi Semua Emosi: Anak mungkin menunjukkan berbagai emosi: sedih, marah, bingung, bahkan cemberut atau bertingkah aneh. Semua ini wajar. Jangan menghakimi atau mengatakan “jangan marah” atau “kamu harusnya lebih kuat”. Sebaliknya: “Ibu tahu kamu marah. Boleh kok marah. Kita sama-sama sedih dan marah kehilangan kakek.”

Ekspresikan Emosi Anda Sendiri: Jangan berpura-pura kuat atau menyembunyikan air mata di depan anak. Ini justru mengajarkan mereka bahwa emosi harus disembunyikan. Katakan dengan jujur: “Ibu juga sangat sedih dan kadang menangis karena kangen kakek. Itu wajar. Kita boleh sedih bersama-sama.” Namun tetap yakinkan bahwa Anda masih bisa menjaga mereka: “Meskipun sedih, Ibu tetap di sini untuk kamu dan akan selalu menjaga kamu.”

Aktivitas Ekspresif: Bantu anak mengekspresikan perasaan melalui cara non-verbal: menggambar, bermain, atau menulis surat kepada orang yang telah meninggal. Ini sangat membantu untuk anak yang sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Anda bisa mengatakan: “Kalau kamu mau, kita bisa menggambar tentang kenangan indah bersama kakek. Atau kamu bisa menulis surat untuk kakek, menceritakan apa yang kamu rasakan sekarang.”

Pertahankan Rutinitas: Sebisa mungkin pertahankan rutinitas harian—waktu makan, waktu tidur, sekolah. Rutinitas memberikan sense of normalcy dan safety di tengah chaos. Namun beri fleksibilitas juga—jika anak tidak mau sekolah selama beberapa hari pertama setelah kehilangan, itu wajar.

Ritual Mengenang: Ciptakan cara sehat untuk mengenang orang yang telah pergi: menyalakan lilin (atau lampu) saat anniversary kematian, membaca Al-Fatihah bersama, berbagi cerita tentang almarhum saat makan malam keluarga. Ini mengajarkan bahwa kita bisa menghormati dan mengingat orang yang telah pergi tanpa stagnan dalam kesedihan. Untuk panduan lebih lengkap tentang dukungan keluarga, baca artikel <a href=”/peran-keluarga-dalam-pemulihan-trauma”>peran keluarga dalam pemulihan trauma</a>.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional

Kebanyakan anak akan pulih secara natural dengan dukungan keluarga yang baik. Namun ada tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa anak memerlukan bantuan profesional seperti psikolog anak:

Tanda-tanda yang memerlukan perhatian: (1) Perubahan perilaku drastis yang berlangsung lebih dari 6 bulan: anak yang tadinya ceria menjadi sangat menarik diri, atau sebaliknya menjadi sangat agresif, (2) Regresi perkembangan: anak yang sudah toilet trained kembali mengompol, anak yang sudah bisa tidur sendiri tiba-tiba tidak bisa, (3) Masalah akademis yang serius: nilai turun drastis, tidak mau sekolah sama sekali, kesulitan konsentrasi yang parah, (4) Gangguan makan atau tidur yang berlanjut: tidak mau makan sama sekali atau makan berlebihan, insomnia berkepanjangan, mimpi buruk hampir setiap malam, (5) Pikiran atau ucapan tentang ingin “menyusul” orang yang meninggal atau keinginan untuk mati, (6) Isolasi sosial total: menolak bertemu teman, tidak mau main, tidak mau berbicara dengan siapapun selama berminggu-minggu.

Jika Anda melihat tanda-tanda ini, jangan ragu untuk konsultasi dengan psikolog anak yang memahami trauma dan grief. Ini bukan berarti Anda gagal sebagai orangtua, tetapi menunjukkan bahwa Anda cukup peduli untuk mencari bantuan terbaik bagi anak.

Kesimpulan: Kejujuran Empatik Membangun Resiliensi

Menjelaskan musibah dan kematian kepada anak adalah salah satu tugas parenting yang paling berat, tetapi juga salah satu yang paling penting. Cara Anda menjelaskan topik ini akan membentuk pemahaman mereka tentang kehidupan, kematian, dan spiritualitas untuk seumur hidup. Prinsip utama adalah kejujuran empatik: jujur tentang fakta dengan bahasa yang sesuai usia, empati terhadap perasaan mereka, dan memberikan keamanan emosional bahwa mereka akan tetap dijaga dan dicintai meskipun dalam kesedihan.

Islam memberikan framework yang sangat kaya untuk ini: konsep takdir yang mengajarkan acceptance, konsep surga yang memberikan harapan, dan konsep ujian yang memberikan makna terhadap penderitaan. Ketika dikomunikasikan dengan cara yang age-appropriate dan penuh kasih sayang, ajaran-ajaran ini bisa menjadi sumber kekuatan besar bagi anak dalam menghadapi kehilangan. Yang terpenting, tunjukkan melalui tindakan bahwa meskipun sedih, kehidupan terus berlanjut dengan cara yang bermakna, dan bahwa mengingat orang yang telah pergi adalah bagian sehat dari hidup yang tidak harus melumpuhkan kita.


FAQ: Pertanyaan Umum tentang Menjelaskan Kematian kepada Anak

1. Apakah saya harus mengajak anak ke pemakaman?

Tergantung usia dan kesiapan anak. Untuk anak di atas 5-6 tahun, partisipasi dalam ritual pemakaman bisa membantu closure. Namun jelaskan dulu apa yang akan terjadi agar mereka tidak kaget: “Nanti kita akan ke pemakaman kakek. Akan ada banyak orang sedih dan menangis. Tubuh kakek akan dikuburkan di tanah. Ini cara kita mengucapkan selamat tinggal.” Berikan pilihan: “Apakah kamu mau ikut? Kalau tidak mau, kamu bisa tinggal dengan tante.” Jangan memaksa jika anak sangat takut atau resistant.

2. Anak saya terus bertanya pertanyaan yang sama berulang kali tentang kematian. Mengapa?

Ini sangat normal. Anak memproses informasi traumatis dengan cara berulang. Setiap kali bertanya, mereka sebenarnya mencoba memastikan bahwa realitas belum berubah dan mencari reassurance. Jawab dengan sabar dan konsisten setiap kali, bahkan jika pertanyaan yang kesekian kalinya. Ini adalah cara mereka me-regulate kecemasan.

3. Anak saya tidak menunjukkan kesedihan sama sekali. Apakah ini normal atau bermasalah?

Bisa normal, terutama untuk anak kecil yang belum sepenuhnya memahami permanensi kematian. Mereka mungkin akan bersedih nanti ketika pemahaman mereka berkembang. Namun tetap perhatikan—jika anak benar-benar tidak menunjukkan emosi apapun dan menjadi sangat menarik diri atau berubah perilaku drastis, ini bisa tanda mereka menekan emosi dan perlu bantuan professional.

4. Bolehkah saya mengatakan “Allah mengambil kakek karena Allah menyayanginya”?

Sebaiknya hindari frasa ini karena bisa membuat anak takut jika Allah menyayangi mereka atau orang yang mereka cintai. Lebih baik katakan: “Setiap orang punya waktu hidup yang sudah Allah tentukan. Waktu kakek sudah tiba untuk kembali kepada Allah. Allah sangat menyayangi kakek dan sekarang kakek ada di tempat yang sangat indah bernama surga.” Fokus pada kasih sayang Allah yang merawat kakek di surga, bukan kasih sayang sebagai alasan kematian.

5. Bagaimana jika anak bertanya tentang kematian saya sebagai orangtua?

Jawab dengan jujur tetapi menenangkan: “Semua orang akan mati suatu hari nanti, termasuk Ibu. Tapi insyaAllah itu masih sangat lama sekali. Kebanyakan orangtua hidup sampai sangat tua, sampai anak-anak mereka sudah dewasa dan punya keluarga sendiri. Yang penting, sekarang Ibu sehat dan akan selalu berusaha menjaga diri agar bisa menemani kamu tumbuh besar.” Jangan memberikan jaminan absolut “Ibu tidak akan mati” karena ini tidak jujur, tetapi berikan reassurance yang realistis.


Call to Action

Membantu anak memahami musibah dan kematian adalah investasi penting untuk kesehatan mental mereka seumur hidup. Simpan artikel ini sebagai panduan ketika Anda harus menjelaskan topik sulit kepada anak. Bagikan kepada orangtua lain yang mungkin membutuhkan, karena banyak yang bingung bagaimana berbicara tentang kematian dengan anak. Tinggalkan komentar tentang pengalaman Anda atau pertanyaan spesifik tentang situasi yang Anda hadapi. Subscribe untuk mendapatkan artikel-artikel lanjutan tentang parenting islami yang empatik dan trauma-informed.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca