Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan bencana tinggi membutuhkan sistem evakuasi yang tidak hanya efektif, tetapi juga mudah diakses dan dipercaya oleh masyarakat. Masjid, sebagai institusi keagamaan yang tersebar di setiap sudut negeri, memiliki potensi strategis sebagai pusat evakuasi bencana yang aman dan terpercaya. Artikel ini memberikan panduan operasional lengkap bagi takmir dan pengurus DKM tentang bagaimana mempersiapkan, mengaktifkan, dan mengelola masjid sebagai tempat evakuasi yang efektif sesuai prinsip syariah.
Baca Juga :
Prinsip Maqashid Syariah dalam Penanggulangan Bencana: Panduan 5 Asas Prioritas (Hifzh)
Mengapa Masjid Ideal Sebagai Pusat Evakuasi? (Landasan Historis & Sosiologis)
Sepanjang sejarah Islam, masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat peradaban yang melayani berbagai kebutuhan umat. Masjid Nabawi di Madinah menjadi contoh sempurna bagaimana masjid berperan sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, kesehatan, bahkan tempat berlindung bagi kaum Muhajirin yang mengungsi dari Mekah.
Di Indonesia, peran masjid sebagai pusat evakuasi bencana telah terbukti efektif dalam berbagai kejadian:
- Tsunami Aceh 2004: Ratusan masjid menjadi tempat berkumpul pertama korban selamat, terutama Masjid Raya Baiturrahman yang tetap berdiri kokoh.
- Gempa Palu 2018: Masjid Al-Ikhlas dan puluhan masjid lainnya menampung ribuan pengungsi selama masa tanggap darurat.
- Gempa Cianjur 2022: Masjid-masjid di daerah terdampak langsung berubah fungsi menjadi posko kesehatan dan distribusi bantuan.
Mengapa masjid sangat ideal sebagai titik evakuasi?
- Aksesibilitas Tinggi: Hampir setiap kampung memiliki masjid yang mudah dijangkau warga.
- Kepercayaan Publik: Masyarakat secara alamiah merasa aman dan nyaman berada di lingkungan masjid.
- Infrastruktur Memadai: Kebanyakan masjid memiliki ruang luas, halaman terbuka, fasilitas air dan sanitasi.
- Jaringan Sosial Kuat: Jamaah masjid sudah terbentuk sebagai komunitas yang solid dan saling mengenal.
- Sistem Koordinasi Tersedia: Takmir dan pengurus masjid sudah terbiasa mengorganisir kegiatan kolektif.

Landasan Syariah: Masjid Sebagai Pusat Peradaban dan Perlindungan Umat
Fungsi masjid sebagai tempat perlindungan memiliki landasan kuat dalam syariah Islam:
Dalil Al-Quran: Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah (9): 18, yang menyatakan bahwa orang yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Pemakmurann masjid tidak terbatas pada ritual ibadah, tetapi juga fungsi sosial yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Hadits Nabi: Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani). Mengaktifkan masjid sebagai pusat bantuan kemanusiaan adalah implementasi langsung dari hadits ini.
Kaidah Fiqih: Para ulama menetapkan kaidah: “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih” (Menolak kerusakan/bahaya lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan). Dalam konteks bencana, menyelamatkan jiwa dan memberikan perlindungan adalah prioritas tertinggi yang membolehkan penggunaan ruang masjid untuk kepentingan darurat.
Fatwa Kontemporer: Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui berbagai fatwanya menegaskan kebolehan, bahkan anjuran, penggunaan masjid dan fasilitas ibadah untuk kepentingan kemanusiaan dalam kondisi darurat, termasuk sebagai tempat evakuasi bencana, dengan tetap menjaga kesucian dan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.
Fase Persiapan: Menjadikan Masjid “Siaga Bencana”
Persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan masjid sebagai pusat evakuasi bencana. Fase persiapan ini dilakukan jauh sebelum bencana terjadi dan melibatkan seluruh elemen pengurus masjid serta jamaah.
Pembentukan Tim Siaga Bencana Masjid (Struktur & Tugas)
Setiap masjid yang berkomitmen menjadi titik evakuasi harus membentuk Tim Siaga Bencana Masjid dengan struktur organisasi yang jelas:
Struktur Organisasi:
- Koordinator/Komandan Posko (Imam/Ketua Takmir)
- Pengambil keputusan tertinggi saat bencana
- Koordinator dengan pihak eksternal (BPBD, PMI, TNI/Polri)
- Penanggung jawab keseluruhan operasional
- Divisi Logistik & Distribusi
- Mengelola penerimaan, penyimpanan, dan distribusi bantuan
- Membuat sistem pencatatan keluar-masuk barang
- Memastikan distribusi yang adil dan merata
- Divisi Kesehatan & Sanitasi
- Mengelola pos kesehatan dan P3K
- Memantau kondisi sanitasi dan kebersihan
- Berkoordinasi dengan tenaga medis dan puskesmas
- Divisi Keamanan & Evakuasi
- Mengatur lalu lintas pengungsi
- Menjaga keamanan area dan harta benda
- Memandu proses evakuasi darurat
- Divisi Hubungan Masyarakat & Dokumentasi
- Mengelola komunikasi dengan warga dan media
- Mendokumentasikan situasi dan kebutuhan
- Menyampaikan informasi perkembangan
- Divisi Spiritual & Konseling
- Mengatur jadwal ibadah berjamaah
- Menyelenggarakan kegiatan pengajian dan trauma healing
- Memberikan konseling keluarga dan psikososial
Kriteria Anggota Tim:
- Dewasa, sehat jasmani rohani
- Berdomisili dekat masjid (mudah dihubungi)
- Memiliki komitmen dan kesediaan waktu
- Idealnya telah mengikuti pelatihan dasar kebencanaan
Penyusunan Rencana Kontinjensi dan Peta Evakuasi
Rencana Kontinjensi Masjid adalah dokumen tertulis yang berisi prosedur lengkap menghadapi berbagai skenario bencana. Dokumen ini harus mencakup:
- Analisis Risiko Bencana Lokal
- Jenis bencana yang berpotensi terjadi (gempa, banjir, longsor, kebakaran, dll.)
- Frekuensi dan dampak historis
- Peta rawan bencana wilayah sekitar masjid
- Kapasitas Tampung
- Berapa jiwa yang dapat ditampung di ruang utama masjid?
- Berapa tenda dapat dipasang di halaman?
- Adakah ruangan tambahan (aula, kelas TPA, dll.)?
- Peta Evakuasi dan Jalur Akses
- Denah lengkap masjid dengan pembagian zona (zona tidur, makan, sanitasi, kesehatan, ibadah)
- Jalur evakuasi menuju masjid dari berbagai titik kampung
- Titik kumpul alternatif jika masjid tidak aman
- Rambu dan papan petunjuk yang jelas
- Daftar Kontak Darurat
- Nomor telepon seluruh anggota Tim Siaga Bencana
- Kontak BPBD, PMI, Polsek, Koramil, Puskesmas, Rumah Sakit
- Kontak tokoh masyarakat dan relawan terlatih
- Grup komunikasi (WhatsApp, Telegram) untuk koordinasi cepat
- Prosedur Operasional Standar (SOP)
- SOP aktivasi pusat evakuasi
- SOP penerimaan pengungsi
- SOP distribusi bantuan
- SOP penanganan kondisi darurat (kebakaran, kepanikan massal)
Sosialisasi dan Simulasi: Rencana kontinjensi tidak ada artinya jika tidak disosialisasikan. Lakukan:
- Papan informasi permanen di serambi masjid
- Penjelasan rutin setelah shalat Jumat
- Simulasi evakuasi minimal 2 kali setahun
- Pelibatan RT/RW dan sekolah dalam latihan
Pelatihan Dasar untuk Relawan Masjid (P3K, SAR Dasar, Psikologi)
Tim Siaga Bencana Masjid harus memiliki kompetensi minimal melalui pelatihan berkala:
1. Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
- Penanganan luka ringan, patah tulang, perdarahan
- Teknik resusitasi jantung paru (CPR)
- Penanganan trauma psikologis awal
- Koordinasi dengan PMI untuk mendapatkan pelatihan gratis
2. Pelatihan Search and Rescue (SAR) Dasar
- Teknik evakuasi korban dari reruntuhan
- Penggunaan alat-alat evakuasi sederhana
- Koordinasi dengan Basarnas atau tim SAR lokal
3. Pelatihan Manajemen Bencana
- Siklus manajemen bencana (mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, pemulihan)
- Sistem komando insiden
- Pendataan dan pelaporan
4. Pelatihan Psikologi dan Trauma Healing
- Mengenali gejala trauma pada pengungsi
- Teknik komunikasi empatik
- Psychological First Aid (PFA)
- Pendampingan anak dan lansia dalam krisis
Mitra Pelatihan:
- BPBD setempat (program pelatihan relawan)
- PMI cabang
- Tagana (Taruna Siaga Bencana)
- Organisasi kemanusiaan (ACT, PKPU, Dompet Dhuafa)
- Universitas (fakultas keperawatan, psikologi, teknik sipil)
Fase Aktivasi: Protokol Saat Bencana Terjadi
Saat bencana terjadi, kecepatan dan ketepatan respons menentukan efektivitas masjid sebagai pusat evakuasi. Fase aktivasi mencakup langkah-langkah kritis dalam 24 jam pertama.
Sistem Peringatan Dini dan Komunikasi dengan Warga
Mekanisme Peringatan Dini:
- Pemantauan Informasi Resmi
- Monitor kanal BMKG, BPBD, dan media resmi pemerintah
- Ikuti grup koordinasi RT/RW dan kelurahan
- Gunakan aplikasi peringatan dini (InaRISK, Info BMKG)
- Aktivasi Sistem Komunikasi Internal
- Koordinator segera menghubungi seluruh anggota Tim Siaga Bencana
- Aktifkan grup WhatsApp/Telegram darurat
- Tentukan waktu berkumpul di masjid
- Penyebaran Informasi ke Warga
- Gunakan pengeras suara (TOA) masjid untuk pengumuman
- Kirim pesan broadcast ke grup jamaah
- Aktifkan sistem kentongan atau sirine (jika ada)
- Libatkan RT/RW untuk door-to-door jika perlu
Contoh Skrip Pengumuman: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada seluruh warga Kampung [nama], telah terjadi [jenis bencana] di wilayah kita. Masjid [nama] telah diaktifkan sebagai pusat evakuasi. Bagi warga yang membutuhkan tempat berlindung, silakan segera menuju masjid dengan tertib. Bawa kebutuhan penting: identitas, obat-obatan pribadi, dan pakaian secukupnya. Tim masjid siap menerima dan melayani. Tetap tenang dan saling membantu. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Membuka Pintu Masjid: Tata Cara Menerima Pengungsi Pertama
Protokol Penerimaan Pengungsi:
1. Persiapan Fisik Masjid (30 menit pertama)
- Buka semua pintu akses
- Nyalakan semua lampu
- Pastikan air dan listrik berfungsi (atau siapkan genset dan tangki air)
- Siapkan area pendaftaran di pintu masuk
- Pasang rambu petunjuk: “Pendaftaran”, “Ruang Wanita”, “Ruang Pria”, “Sanitasi”, “Pos Kesehatan”
2. Pendaftaran dan Pendataan Setiap pengungsi yang datang harus dicatat:
- Nama lengkap dan NIK
- Jumlah anggota keluarga
- Alamat asal
- Kondisi kesehatan khusus (sakit, lansia, bayi, ibu hamil, disabilitas)
- Kebutuhan mendesak
Gunakan formulir sederhana atau aplikasi digital (Google Forms, Kobo Toolbox) jika memungkinkan.
3. Penempatan Berdasarkan Kebutuhan Khusus
- Ruang utama masjid: Prioritas untuk lansia, ibu hamil, anak kecil, dan keluarga
- Ruang serambi/aula: Keluarga besar atau laki-laki dewasa
- Tenda di halaman: Keluarga yang masih cukup sehat dan kuat
- Area isolasi: Untuk pengungsi yang sakit atau butuh privasi tinggi (ibu menyusui, dll.)
4. Distribusi Awal Segera berikan kepada setiap pengungsi:
- Air minum
- Kue atau makanan ringan
- Selimut atau tikar
- Informasi tentang fasilitas dan jadwal
5. Komunikasi dan Orientasi Koordinator atau divisi humas memberikan penjelasan singkat:
- Lokasi fasilitas (MCK, pos kesehatan, dapur umum)
- Jadwal kegiatan (makan, ibadah, briefing)
- Aturan dan etika (menjaga kebersihan, tidak merokok di dalam, dll.)
- Cara menyampaikan keluhan atau kebutuhan
Masjid Pusat Evakuasi Bencana, Fase Operasional: Mengelola Pusat Evakuasi
Setelah aktivasi, masjid memasuki fase operasional yang bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu. Pengelolaan yang baik menentukan kenyamanan dan keamanan pengungsi.
7 Fasilitas Wajib dan Penataannya (Air, Sanitasi, Logistik, Kesehatan, Ibadah, Konseling, Keamanan)
Berikut adalah 7 fasilitas wajib yang harus ada di setiap masjid yang berfungsi sebagai pusat evakuasi:
1. Sumber Air Bersih & Sanitasi (MCK)
Kebutuhan:
- Standar minimum: 15 liter air per orang per hari
- 1 toilet untuk setiap 20 orang
- Tempat wudhu yang cukup (bisa digunakan untuk cuci tangan)
Sumber Air:
- Sumur bor masjid (jika ada)
- Tangki air cadangan (minimal 5.000 liter)
- Koordinasi dengan PDAM atau truk tangki air dari BPBD/TNI
Sanitasi:
- MCK terpisah pria dan wanita
- MCK khusus untuk disabilitas
- Tempat sampah dengan pemilahan (organik dan non-organik)
- Area cuci piring dan pakaian terpisah
- Sabun dan hand sanitizer
- Disinfektan untuk pembersihan rutin
Pengelolaan:
- Jadwal pembersihan MCK setiap 3 jam
- Monitoring ketersediaan air dan sabun
- Edukasi pengungsi tentang pentingnya sanitasi
2. Logistik Makanan & Minuman
Fasilitas:
- Gudang logistik: Ruang kering dan aman untuk menyimpan bantuan
- Dapur umum: Area memasak dengan kompor, panci besar, dan peralatan memasak
- Area distribusi: Meja panjang untuk pembagian makanan dengan sistem antri tertib
Sistem Distribusi:
- Distribusi 3 kali sehari: sarapan, makan siang, makan malam
- Sistem kupon atau tanda untuk mencegah pengambilan ganda
- Prioritas untuk anak-anak, lansia, ibu hamil/menyusui
- Menu seimbang: karbohidrat, protein, sayur
- Sediaan khusus untuk bayi (susu formula, bubur bayi)
Pencatatan:
- Catat semua bantuan yang masuk (jenis, jumlah, pengirim, waktu)
- Catat distribusi harian
- Laporan harian ke BPBD atau koordinator bantuan
3. Pos Kesehatan & P3K
Fasilitas Minimal:
- Ruangan khusus dengan tikar/kasur untuk pemeriksaan
- Kotak P3K lengkap (perban, obat-obatan dasar, antiseptik)
- Tandu atau kursi roda
- Termometer, tensimeter, stetoskop
- Obat-obatan rutin (parasetamol, antibiotik, obat maag, diare)
- Vitamin dan suplemen
Tenaga:
- Relawan terlatih P3K dari masjid
- Koordinasi dengan puskesmas untuk tenaga medis
- Dokter atau perawat sukarelawan
- Sistem rujukan ke rumah sakit jika ada kondisi gawat darurat
Layanan:
- Pemeriksaan kesehatan umum
- Pemberian obat dan vitamin
- Konsultasi ibu hamil dan bayi
- Pertolongan pertama kecelakaan
- Pemantauan wabah penyakit (diare, ISPA, kulit)
4. Ruang Ibadah Terpisah
Meski masjid adalah tempat ibadah, dalam kondisi pengungsian perlu pengaturan khusus:
Pembagian Ruang:
- Ruang ibadah utama: Tetap difungsikan untuk shalat berjamaah. Jika perlu, dibatasi untuk shalat wajib saja, sementara ibadah sunnah di area lain.
- Area khusus wanita: Terpisah dengan hijab atau sekat untuk privasi, terutama untuk ibu menyusui.
- Tempat wudhu: Pastikan selalu bersih dan air tersedia.
Jadwal Ibadah:
- Adzan dan iqamah seperti biasa
- Shalat berjamaah 5 waktu
- Kajian singkat (kultum) setelah Maghrib atau Subuh
- Dzikir dan doa bersama untuk pengungsi
Penjagaan Kesucian:
- Pengungsi diminta melepas alas kaki di area masjid utama
- Jika ruang utama penuh, gunakan tirai/hijab untuk memisahkan area tidur dengan area shalat
- Bersihkan masjid secara rutin, terutama sebelum waktu shalat
5. Ruang Konseling & Trauma Healing
Bencana tidak hanya menyebabkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam. Masjid harus menyediakan layanan pendampingan psikososial:
Fasilitas:
- Ruang privat atau pojok tenang untuk konseling individual
- Area terbuka untuk kegiatan trauma healing kelompok (halaman, aula)
- Mainan dan alat tulis untuk anak-anak
Program:
- Konseling individual: Untuk korban yang mengalami kehilangan keluarga, harta benda, atau trauma berat
- Pengajian dan dzikir bersama: Menguatkan iman dan ketenangan hati
- Trauma healing anak: Melalui permainan, menggambar, menyanyi Islami
- Diskusi kelompok: Sharing pengalaman dan saling menguatkan
- Terapi relaksasi: Terapi napas, pijat ringan, olahraga ringan
Konselor:
- Ustadz/ustadzah masjid
- Psikolog sukarelawan
- Relawan terlatih trauma healing
- Koordinasi dengan lembaga seperti Dompet Dhuafa, ACT, atau organisasi sosial Islam
6. Sistem Keamanan & Penerangan
Keamanan:
- Tim keamanan 24 jam: Regu bergantian, minimal 2 orang per shift
- Penjagaan pintu gerbang: Catat setiap tamu atau pendatang baru
- Patroli area: Cegah pencurian atau tindak kriminal
- Sistem pelaporan: Hotline atau kontak darurat untuk melaporkan masalah
- Kotak harta benda: Untuk pengungsi yang ingin menitipkan barang berharga
Penerangan:
- Lampu penerangan di seluruh area (termasuk halaman dan MCK)
- Genset cadangan jika listrik PLN mati
- Lampu emergency atau senter untuk setiap keluarga
- Pastikan jalur evakuasi selalu terang
Komunikasi:
- Radio komunikasi (HT) untuk koordinasi internal
- Papan pengumuman untuk informasi terbaru
- Sistem pengeras suara untuk pemberitahuan umum
7. Titik Kumpul & Koordinasi (Command Center)
Fungsi:
- Pusat koordinasi seluruh operasional
- Tempat rapat harian tim
- Pusat informasi bagi pengungsi
- Tempat menerima tamu (relawan, media, pejabat)
Fasilitas:
- Meja dan kursi untuk koordinator
- Papan tulis atau whiteboard untuk peta situasi dan jadwal
- Alat komunikasi (telepon, radio, laptop)
- Peta wilayah dan denah masjid
- Buku catatan dan alat tulis
- Charging station untuk handphone (jika listrik ada)
Kegiatan Harian:
- Briefing pagi: evaluasi 24 jam terakhir, rencana hari ini
- Update data pengungsi
- Koordinasi dengan pihak eksternal (BPBD, PMI, donatur)
- Briefing sore: evaluasi hari ini, persiapan malam
Pendataan Pengungsi dan Sistem Distribusi yang Adil
Sistem Pendataan Berlapis:
- Pendaftaran awal (saat datang): Identitas dan jumlah anggota keluarga
- Pendataan detail (hari ke-2): Kondisi ekonomi, kebutuhan khusus, keterampilan yang bisa dimanfaatkan
- Update harian: Pengungsi yang masuk baru, pindah, atau pulang
Prinsip Distribusi Adil:
- Kesetaraan: Setiap jiwa mendapat jatah yang sama
- Prioritas kebutuhan: Anak, lansia, ibu hamil/menyusui mendapat perhatian khusus
- Transparansi: Umumkan jadwal dan jenis bantuan yang akan dibagikan
- Pencegahan korupsi: Sistem kupon atau tanda tangan, serta pengawasan oleh beberapa pihak
- Dokumentasi: Foto dan video distribusi untuk pertanggungjawaban
Menghindari Konflik:
- Jelaskan sistem distribusi secara terbuka
- Libatkan tokoh masyarakat sebagai pengawas
- Buat mekanisme pengaduan jika ada yang merasa tidak adil
- Tegakkan aturan dengan tegas namun bijaksana
Menjaga Kondisi Ruhani: Sholat Berjamaah, Pengajian, Trauma Healing
Kondisi ruhani yang kuat mempercepat pemulihan psikologis pengungsi. Masjid memiliki keunggulan dalam hal ini:
Sholat Berjamaah:
- Tetap laksanakan shalat berjamaah 5 waktu
- Imam menyampaikan doa-doa khusus untuk kesabaran dan pertolongan Allah
- Ajak pengungsi untuk ikut berjamaah, tanpa paksaan
Pengajian dan Kultum:
- Kajian singkat 10-15 menit setelah Maghrib atau Subuh
- Tema: kesabaran, tawakal, ujian sebagai penghapus dosa, optimisme
- Hindari tema yang menakut-nakuti atau menyalahkan korban
- Gunakan bahasa yang hangat dan menyejukkan
Dzikir Bersama:
- Wirid atau dzikir setelah shalat berjamaah
- Tahlil atau yasin untuk keluarga yang kehilangan anggota keluarga
- Shalawat Nabi untuk ketenangan hati
Kegiatan Anak-anak:
- Mengaji sore untuk anak-anak
- Permainan edukatif Islami
- Menggambar dan mewarnai dengan tema positif
- Menyanyi bersama (lagu anak Islami)
Dukungan Emosional:
- Beri ruang bagi pengungsi untuk menangis atau curhat
- Dengarkan dengan empati, tanpa menghakimi
- Ingatkan bahwa musibah adalah ujian dan Allah tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan hamba-Nya
- Tanamkan harapan dan rencana masa depan
Koordinasi dengan Pihak Eksternal (BPBD, PMI, TNI/Polri, Rumah Sakit)
Masjid tidak bisa bekerja sendiri. Koordinasi dengan pihak eksternal adalah kunci efektivitas pusat evakuasi bencana:
BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)
Fungsi Koordinasi:
- Laporkan status masjid sebagai titik evakuasi aktif
- Sampaikan data pengungsi (jumlah, kebutuhan)
- Minta bantuan logistik, tenda, dan peralatan
- Koordinasi distribusi bantuan dari pemerintah
Mekanisme:
- Hubungi hotline BPBD atau datang langsung ke posko utama
- Kirim laporan harian via WhatsApp atau email
- Ikut rapat koordinasi jika diundang
PMI (Palang Merah Indonesia)
Fungsi Koordinasi:
- Minta bantuan tenaga medis (dokter, perawat)
- Minta bantuan obat-obatan dan peralatan kesehatan
- Koordinasi donor darah jika ada korban luka berat
- Pelatihan P3K untuk relawan masjid
Mekanisme:
- Hubungi PMI cabang setempat
- Ajukan permintaan tertulis jika memungkinkan
- Sambut dan fasilitasi tim PMI yang datang
TNI/Polri
Fungsi Koordinasi:
- Minta bantuan pengamanan area evakuasi
- Minta bantuan distribusi bantuan (terutama jika jalanan sulit)
- Minta bantuan dapur umum dari TNI
- Koordinasi penanganan jenazah (jika ada)
Mekanisme:
- Hubungi Koramil atau Polsek setempat
- Sambut petugas dengan baik dan arahkan sesuai kebutuhan
Rumah Sakit dan Puskesmas
Fungsi Koordinasi:
- Rujukan pasien yang butuh perawatan intensif
- Minta bantuan tenaga medis sukarelawan
- Minta bantuan obat-obatan khusus (misalnya untuk penyakit kronis)
Mekanisme:
- Hubungi IGD atau bagian humas rumah sakit
- Buat sistem rujukan yang jelas: siapa yang antar, pakai apa, biaya dari mana
Organisasi Kemanusiaan dan Donatur
Fungsi Koordinasi:
- Terima bantuan dari lembaga seperti ACT, Dompet Dhuafa, PKPU, Lazismu, dll.
- Koordinasi program bersama (misalnya: pembangunan hunian sementara, program trauma healing)
- Laporkan penggunaan dana dan bantuan secara transparan
Mekanisme:
- Buat akun sosial media untuk transparansi
- Dokumentasikan setiap kegiatan
- Buat laporan pertanggungjawaban
Media Massa
Fungsi Koordinasi:
- Sampaikan kebutuhan melalui media agar bantuan mengalir
- Klarifikasi jika ada informasi tidak benar
- Jaga citra masjid dan Islam
Mekanisme:
- Tunjuk juru bicara resmi (divisi humas)
- Jangan berikan informasi yang belum terverifikasi
- Hormati privasi pengungsi (minta izin sebelum foto/video)
Studi Kasus: Best Practices Masjid di Cianjur, Palu, dan Aceh
Masjid Agung Cianjur – Gempa 2022
Kondisi: Gempa 5,6 SR mengguncang Cianjur pada November 2022. Ratusan rumah rusak, ribuan warga mengungsi.
Respons Masjid Agung:
- Dalam 1 jam pertama, masjid sudah aktif sebagai titik kumpul
- Halaman luas menampung 200+ tenda
- Dapur umum menyajikan 3.000 porsi per hari
- Pos kesehatan melayani 100+ pasien per hari
- Pengajian rutin setiap malam untuk menjaga semangat
Pembelajaran:
- Persiapan sejak lama: Tim masjid sudah terlatih karena wilayah Cianjur rawan gempa
- Koordinasi kuat: Langsung terhubung dengan BPBD, TNI, dan PMI
- Transparansi: Setiap bantuan dicatat dan diumumkan melalui papan pengumuman
Masjid Baiturrahman Palu – Gempa & Tsunami 2018
Kondisi: Gempa 7,4 SR diikuti tsunami meluluhlantakkan Palu. Masjid Baiturrahman yang baru dibangun rusak parah, namun sebagian struktur masih berdiri.
Respons:
- Meski rusak, halaman masjid tetap digunakan sebagai titik kumpul
- Koordinator masjid memimpin evakuasi massal ke tempat tinggi
- Masjid menjadi pusat koordinasi pencarian korban
- Setelah aman, halaman masjid menjadi area distribusi bantuan dan trauma healing
Pembelajaran:
- Struktur bangunan penting: Masjid yang dibangun dengan standar tahan gempa tetap bisa berfungsi
- Kepemimpinan kharismatik: Imam dan takmir masjid menjadi panutan warga dalam situasi chaos
- Fungsi non-fisik: Meski bangunan rusak, masjid tetap berfungsi sebagai “institusi” penyelamat
Masjid Raya Baiturrahman Aceh – Tsunami 2004
Kondisi: Tsunami Aceh menewaskan 230.000+ jiwa. Masjid Raya Baiturrahman yang kokoh tetap berdiri di tengah kehancuran.
Respons:
- Masjid menjadi simbol harapan dan ketahanan
- Ribuan orang berlindung di area masjid selama minggu-minggu pertama
- Masjid menjadi pusat koordinasi internasional (NGO dari berbagai negara)
- Pemakaman massal dengan prosedur Islami dilakukan di halaman masjid
Pembelajaran:
- Arsitektur kokoh: Investasi pembangunan masjid yang kuat terbukti menyelamatkan jiwa
- Simbol spiritual: Masjid yang tetap berdiri memberikan harapan dan kekuatan psikologis luar biasa
- Titik koordinasi global: Masjid besar bisa menjadi hub untuk bantuan internasional
Pelajaran Umum dari Ketiga Studi Kasus:
- Persiapan tidak bisa instant: Masjid yang efektif adalah yang telah berlatih dan memiliki sistem
- Kepemimpinan berintegritas: Takmir/imam yang dipercaya menjadi kunci
- Koordinasi multi-pihak: Masjid yang terbuka dan kooperatif lebih efektif
- Transparansi dan akuntabilitas: Mencegah konflik dan menjaga kepercayaan
- Kekuatan spiritual: Fungsi ruhani masjid adalah keunggulan komparatif yang tidak dimiliki shelter lain
Checklist Cepat: 15 Poin Persiapan Masjid Siaga Bencana
Untuk memudahkan, berikut checklist praktis yang bisa digunakan takmir masjid untuk mengaudit kesiapan:
| No | Item Persiapan | Status (✓/✗) | Catatan |
|---|---|---|---|
| 1 | Tim Siaga Bencana sudah dibentuk dengan struktur jelas | ||
| 2 | Rencana Kontinjensi tertulis sudah tersedia | ||
| 3 | Peta evakuasi dan denah zona sudah dibuat dan dipasang | ||
| 4 | Daftar kontak darurat lengkap dan ter-update | ||
| 5 | Simulasi evakuasi sudah dilakukan minimal 1x setahun | ||
| 6 | Anggota tim sudah mengikuti pelatihan P3K/SAR dasar | ||
| 7 | Kotak P3K dan obat-obatan tersedia dan tidak kadaluarsa | ||
| 8 | Sumber air cadangan (tangki/sumur bor) berfungsi baik | ||
| 9 | Genset dan bahan bakar tersedia untuk listrik darurat | ||
| 10 | Gudang logistik tersedia dengan kapasitas cukup | ||
| 11 | Tenda darurat (minimal 10 unit) tersimpan dengan baik | ||
| 12 | Sistem komunikasi (HT/radio/grup WA) sudah diujicoba | ||
| 13 | MOU/Kerja sama dengan BPBD, PMI, Puskesmas sudah ada | ||
| 14 | Dana cadangan atau rekening donasi siaga bencana ada | ||
| 15 | Sosialisasi rutin ke jamaah tentang prosedur evakuasi |
Scoring:
- 13-15 item (✓): Masjid SANGAT SIAP sebagai pusat evakuasi. Pertahankan dan evaluasi rutin.
- 9-12 item (✓): Masjid CUKUP SIAP. Lengkapi item yang masih kurang dalam 3 bulan.
- 5-8 item (✓): Masjid KURANG SIAP. Butuh perbaikan segera. Prioritaskan item kritikal (Tim, Rencana, Fasilitas).
- 0-4 item (✓): Masjid TIDAK SIAP. Mulai dari nol: bentuk tim, buat rencana, sosialisasi.
Kesimpulan: Membangun Ketangguhan Komunitas Berbasis Masjid
Masjid adalah aset sosial yang paling dekat dengan masyarakat Indonesia. Dengan persiapan yang matang, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai benteng perlindungan saat bencana datang.
Peran masjid sebagai pusat evakuasi bencana bukan hanya tentang menyediakan tempat berlindung fisik, tetapi juga memberikan perlindungan spiritual dan psikologis yang sangat dibutuhkan korban bencana. Kehadiran imam yang bijaksana, pengajian yang menenangkan, dan solidaritas jamaah yang kuat adalah kekuatan unik yang tidak bisa digantikan oleh shelter konvensional manapun.
Ajakan untuk Takmir dan DKM:
- Mulai hari ini: Jangan tunggu bencana datang. Bentuk tim, buat rencana, lakukan simulasi.
- Libatkan jamaah: Masjid siaga adalah masjid yang jamaahnya aware dan terlatih.
- Jalin kerja sama: Hubungi BPBD, PMI, dan pihak terkait untuk pelatihan dan koordinasi.
- Investasi fasilitas: Alokasikan dana untuk infrastruktur siaga bencana (tangki air, genset, kotak P3K, tenda).
- Dokumentasi dan evaluasi: Catat setiap latihan dan insiden, lalu evaluasi untuk perbaikan.
Visi Jangka Panjang:
Bayangkan jika setiap masjid di Indonesia menjadi titik ketangguhan komunitas—tempat yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga menjadi sumber kekuatan spiritual dan sosial. Ketika bencana datang, masyarakat tahu kemana harus berlindung, dan mereka merasa tenang karena tahu masjid sudah siap.
Ini bukan mimpi. Ini adalah peran historis masjid yang perlu kita hidupkan kembali. Masjid Nabawi, Masjid Al-Aqsha, dan masjid-masjid besar dalam sejarah Islam selalu menjadi pusat peradaban dan perlindungan. Kini giliran masjid-masjid kita, di kampung-kampung dan kota-kota Indonesia, untuk menunaikan peran yang sama.
Mari kita jadikan masjid bukan hanya rumah Allah untuk beribadah, tetapi juga benteng Allah untuk melindungi umat-Nya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Masjid Sebagai Pusat Evakuasi
1. Apa saja 7 fasilitas wajib di masjid pusat evakuasi?
Jawaban: 7 fasilitas wajib yang harus ada di masjid pusat evakuasi adalah:
- Sumber air bersih & sanitasi (MCK) – untuk kebutuhan dasar hidup dan kebersihan
- Logistik makanan/minuman – gudang, dapur umum, dan sistem distribusi
- Pos kesehatan/P3K – untuk penanganan medis dasar dan rujukan
- Ruang ibadah terpisah – menjaga fungsi utama masjid tetap berjalan
- Ruang konseling & trauma healing – untuk pemulihan psikologis
- Sistem keamanan & penerangan – menjamin keamanan 24 jam
- Titik kumpul & koordinasi (command center) – pusat operasional seluruh kegiatan
2. Bagaimana struktur tim siaga bencana masjid?
Jawaban: Struktur ideal Tim Siaga Bencana Masjid terdiri dari:
- Koordinator/Komandan Posko (Imam/Ketua Takmir) – pengambil keputusan tertinggi
- Divisi Logistik & Distribusi – mengelola bantuan dan distribusi
- Divisi Kesehatan & Sanitasi – pos kesehatan dan kebersihan
- Divisi Keamanan & Evakuasi – keamanan area dan proses evakuasi
- Divisi Hubungan Masyarakat & Dokumentasi – komunikasi dan pelaporan
- Divisi Spiritual & Konseling – ibadah dan pendampingan psikologis
Semua anggota harus dilatih dasar-dasar penanggulangan bencana (P3K, SAR, trauma healing).
3. Apakah halaman masjid boleh dipakai untuk tenda pengungsian?
Jawaban: Ya, sangat boleh bahkan dianjurkan. Halaman masjid adalah area terbuka yang ideal untuk tenda pengungsian. Yang perlu diperhatikan:
- Pilih area yang aman, rata, dan tidak menghalangi akses keluar-masuk
- Jaga jarak antar tenda (minimal 2 meter) untuk privasi dan sirkulasi udara
- Pastikan ada jalur evakuasi darurat jika terjadi kondisi berbahaya (kebakaran, gempa susulan)
- Prioritaskan pengungsi dengan kondisi khusus (lansia, ibu hamil, anak kecil) di dalam bangunan masjid, sementara yang masih kuat di tenda halaman
4. Bagaimana jika masjid juga rusak terkena bencana?
Jawaban: Jika masjid mengalami kerusakan dan tidak aman sebagai tempat evakuasi, maka:
- Aktivasi titik kumpul alternatif yang sudah ditetapkan dalam rencana kontinjensi (misalnya: sekolah, balai desa, lapangan terbuka)
- Pindahkan pengungsi dengan tertib ke lokasi yang lebih aman
- Laporkan kondisi ke BPBD agar mendapat bantuan tenda dan fasilitas darurat
- Tetap lakukan koordinasi – meski bangunan rusak, tim masjid tetap berfungsi sebagai koordinator komunitas
Ini sebabnya sangat penting setiap masjid memiliki rencana cadangan dan mitra evakuasi dengan masjid/tempat lain di sekitarnya. Koordinasi antar-masjid dalam satu kecamatan sangat dianjurkan.
5. Bagaimana cara menghubungi BPBD dan pihak terkait saat bencana?
Jawaban: Beberapa cara menghubungi pihak terkait:
- BPBD: Cari nomor hotline BPBD kabupaten/kota Anda (biasanya tertera di website resmi pemda). Simpan di kontak darurat masjid. Anda juga bisa datang langsung ke posko utama BPBD yang biasanya aktif 24 jam saat bencana.
- PMI: Hubungi PMI cabang setempat. Nomor biasanya ada di papan informasi PMI atau tanya ke puskesmas.
- TNI/Polri: Hubungi Koramil atau Polsek terdekat.
- Puskesmas/Rumah Sakit: Hubungi bagian IGD atau humas.
Tips: Buat daftar kontak darurat lengkap SEBELUM bencana terjadi, dan print serta tempel di tempat yang mudah dilihat di masjid. Jangan lupa masukkan juga ke grup WhatsApp koordinasi.
6. Dari mana sumber dana untuk mempersiapkan masjid siaga bencana?
Jawaban: Ada beberapa sumber dana yang bisa dimanfaatkan:
- Kas masjid: Alokasikan sebagian dana infak rutin untuk pos “Siaga Bencana”
- Zakat dan infak khusus: Sosialisasi ke jamaah tentang pentingnya persiapan bencana, ajak mereka berinfak khusus
- Wakaf tunai: Buka program wakaf tunai untuk pembangunan fasilitas siaga bencana (tangki air, genset, dll)
- Kerja sama dengan BPBD: BPBD kadang memiliki program hibah untuk desa/komunitas tangguh bencana
- Bantuan CSR perusahaan: Ajukan proposal ke perusahaan sekitar untuk bantuan peralatan
- Kerja sama dengan ormas Islam: NU, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainnya sering memiliki program pemberdayaan masjid
7. Apakah masjid harus memiliki izin khusus untuk menjadi pusat evakuasi?
Jawaban: Tidak ada izin khusus yang diwajibkan secara hukum. Namun, sangat dianjurkan untuk:
- Mendaftarkan masjid ke BPBD sebagai “Titik Kumpul Evakuasi” resmi agar masuk dalam peta evakuasi daerah
- Membuat MOU/Nota Kesepahaman dengan BPBD, PMI, dan Puskesmas untuk mempermudah koordinasi
- Melaporkan keberadaan ke kelurahan/desa agar pemerintah setempat aware
Dengan pendaftaran resmi, masjid akan lebih mudah mendapat bantuan, pelatihan, dan dukungan dari pemerintah saat bencana terjadi.
Wallahu a’lam bishawab. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi panduan praktis bagi para takmir dan pengurus masjid di seluruh Indonesia. Mari kita wujudkan masjid sebagai benteng perlindungan umat!











