Share

Pembukaan Bimtek Ekoteologi BDK Surabaya di Kemenag Gresik bersama Plt Kakan Kemenag dan peserta penyuluh serta penghulu

Wujudkan Moderasi Lingkungan, BDK Surabaya Gelar Bimtek Ekoteologi di Kemenag Gresik

​GRESIKBalai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya resmi menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoteologi bagi para aparatur dan tokoh agama di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik. Kegiatan yamg berkangsung selama dua hari Selasa-Rabu (10-11/3) ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas dengan kesadaran menjaga kelestarian alam.

Peserta Bimtek Ekoteologi BDK Surabaya di Kemenag Gresik berdiskusi merumuskan aksi nyata seperti pengelolaan sampah komunitas dan kampanye hemat energi
Peserta Bimtek merumuskan rencana aksi ekoteologi sebagai wujud moderasi lingkungan di tengah tantangan kawasan industri Gresik.

​Pembukaan dan Laporan Panitia

Acara dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, M. Ali Faiq. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran tokoh agama dalam mengedukasi masyarakat mengenai krisis lingkungan hidup dari perspektif iman.
​Sebelumnya, Sugiono selaku ketua panitia pelaksana dari BDK Surabaya, menyampaikan laporannya terkait teknis pelaksanaan. Dia menyebutkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari penyuluh agama dan penghulu dengan harapan dapat menjadi pionir gerakan ramah lingkungan di wilayah masing-masing.

​Arah Kebijakan dan Materi Inti

Kepala BDK Surabaya, Muchammad Toha, turut hadir memberikan pembinaan pelatihan. Dalam arahannya, beliau menggarisbawahi bahwa diklat ini bukan sekadar pemenuhan administrasi, melainkan upaya transformasi pola pikir.
​”Agama dan alam adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Melalui Ekoteologi, kita ingin memastikan bahwa kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga kesalehan sosial terhadap lingkungan,” ujar Muchammad Toha.

Pembukaan Bimtek Ekoteologi BDK Surabaya di Kemenag Gresik bersama Plt Kakan Kemenag dan peserta penyuluh serta penghulu
Plt. Kepala Kemenag Gresik membuka Bimtek Ekoteologi BDK Surabaya yang diikuti penyuluh dan penghulu sebagai garda depan gerakan ramah lingkungan.

​Mantan Kepala BDK Denpasar dan Semarang itu menyinggung bahwa para leluhur sudah memberi contoh cinta alam dam lingkungan. Untuk mendalami konsep tersebut, hadir sebagai narasumber utama, Widyaiswara BDK Surabaya, Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I. Arek Gresik tersebut memaparkan materi mengenai urgensi, landasan teologis dalam pelestarian alam serta internalisasi dan strategi implementasi program berbasis lingkungan di instansi keagamaan. Menurut Ketua PC ISNU Sidoarjo tersebut, selama ini ada kesalahpahaman makna khalifah yang diterjemahkan menguasai secara mutlak. Padahal, dibalik khalifah ada tauhid, amanah dan berimbang. “Seharusnya manusia memperlakukan alam sebagai mitra, bukan obyek”, tegasnya.
Alasannya, alam merupakan manifestasi keagungan-Tuhan (tajalliyat Allah).

Ekoteologi menurutnya adalah gerakan sosial dalam rangka menyelamatkan alam dengan pendekatan agama atau ketuhanan. Karena itu, dia mengajak peserta untuk merumuskan aksi nyata, seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas dan kampanye hemat energi, serta gerakan penghijauan bagi masyarakat binaan dan calon pengantin.

​Harapan Kedepan

Nailul Muna, salah satu peserta mengaku materi ekoteologi ini sangat penting. “Selama ini kita menganggap ekoteologi sederhana, ternyata setelah mengikuti proses, tidak sesederhana itu, buktinya tadi harus diperbaiki”, ungkapnya. Melalui Bimtek ini, Kankemenag Kabupaten Gresik diharapkan mampu menjadi percontohan dalam penerapan nilai-nilai ekoteologi, mengingat tantangan lingkungan di wilayah industri Gresik yang cukup kompleks.
Kegiatan Bimtek oleh BDK Surabaya selain digelar di Gresik juga di Kankemenag Kab. Jombang, Kab. Malang, Kab. Mojokerto, dan Kab. Pasuruan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca