Table of Contents
- Pendahuluan: Keutamaan Menolong Sesama
- Adab #1: Niat Ikhlas Karena Allah, Bukan Viral
- Adab #2: Hindari Riya’ dan Ujub Saat Berdonasi
- Adab #3: Prioritas Bantuan – Siapa yang Didahulukan?
- Adab #4: Etika Foto & Video di Lokasi Bencana
- Adab #5: Menjaga Kehormatan dan Privacy Korban
- Adab #6: Koordinasi dengan Pihak Berwenang
- Adab #7: Jaga Ibadah dan Akhlak Saat Menjadi Relawan
- FAQ: 5 Pertanyaan Seputar Adab Membantu Bencana
Pendahuluan: Keutamaan Menolong Sesama {#pendahuluan}
Saat bencana Aceh 2025 melanda, ribuan relawan dari berbagai daerah berbondong-bondong datang membantu. Namun, tidak semua bantuan dilakukan dengan cara yang benar menurut syariat. Ada yang membantu sambil pamer di media sosial, ada yang merekam video korban untuk konten, ada yang memberikan bantuan dengan sikap merendahkan.
Adab membantu korban bencana bukan hanya soal teknis memberikan bantuan, tetapi bagaimana cara kita membantu sesuai dengan ajaran Islam—dengan ikhlas, penuh hormat, dan tanpa riya’.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah: 2)
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang mempermudah orang yang kesulitan, niscaya Allah akan mempermudahnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Artikel ini akan membahas 7 adab wajib yang harus dijaga oleh setiap relawan dan donatur Muslim saat membantu korban bencana, berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan praktik para ulama salaf.
Mengapa Adab Penting dalam Membantu?
- Menentukan diterima/tidaknya amal oleh Allah
- Menjaga kehormatan korban yang sedang terpuruk
- Memastikan bantuan tepat sasaran dan bermanfaat
- Menghindari riya’ yang merusak pahala
- Menjadi teladan relawan Muslim yang beradab

Adab #1: Niat Ikhlas Karena Allah, Bukan Viral {#niat-ikhlas}
Adab pertama dan paling fundamental dalam adab membantu korban bencana adalah niat yang ikhlas.
Bahaya Niat yang Tidak Ikhlas
Di era media sosial, banyak orang membantu korban bencana dengan niat:
- ❌ Agar dipuji orang (riya’)
- ❌ Agar viral di TikTok/Instagram
- ❌ Agar dipandang dermawan
- ❌ Untuk kepentingan politik/bisnis
- ❌ Agar dapat followers banyak
Semua niat ini MERUSAK PAHALA!
Dalil Keikhlasan
Dalil Al-Qur’an:
“Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS Al-Bayyinah: 5)
Dalil Hadits:
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits Keras tentang Riya’:
Rasulullah SAW bersabda:
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya’. Allah akan berfirman pada hari kiamat ketika Allah memberikan balasan kepada manusia atas amal mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian pamer-pamerkan amal di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala dari mereka.'” (HR. Ahmad – Shahih)
Ciri-Ciri Niat yang Ikhlas
✅ Niat Ikhlas:
- Membantu karena Allah semata
- Tidak peduli dipuji atau tidak
- Tidak perlu diketahui orang banyak
- Senang jika amal dirahasiakan
- Fokus pada manfaat untuk korban, bukan like/view
❌ Niat Riya’:
- Semangat membantu jika ada kamera
- Update status/story terus-menerus
- Sebut-sebut nominal bantuan
- Kecewa jika tidak dipuji orang
- Marah jika konten tidak viral
Cara Menjaga Keikhlasan
1. Rahasiakan Sebisa Mungkin
Allah SWT berfirman:
“Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” (QS Al-Baqarah: 271)
2. Jangan Sebut Nominal
- Cukup bilang “sedekah” atau “bantuan”
- Tidak perlu: “Aku sumbang 10 juta lho!”
3. Jangan Foto/Video Berlebihan
- Dokumentasi wajar: boleh
- Pamer ke medsos: makruh/haram
4. Ingat Mati Saat Membantu
- Bayangkan jika mati saat membantu
- Apakah Allah ridha dengan cara kita?
5. Doa Memohon Ikhlas
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allahumma inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam, wa astaghfiruka lima la a’lam
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syirik yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari (syirik) yang tidak aku ketahui.”
Adab #2: Hindari Riya’ dan Ujub Saat Berdonasi {#hindari-riya}
Riya’ (pamer) dan Ujub (bangga diri) adalah dua penyakit hati yang paling sering menyerang para relawan dan donatur.
Perbedaan Riya’ dan Ujub
Riya’:
- Melakukan amal agar dilihat/dipuji orang
- Contoh: Posting bantuan di Instagram agar dipuji
Ujub:
- Bangga diri karena merasa hebat
- Contoh: “Alhamdulillah aku sudah bantu korban, orang lain mana?”
Keduanya MERUSAK PAHALA!
Dalil Larangan Riya’ dan Ujub
Larangan Riya’:
“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi: 110)
Bahaya Ujub:
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga perkara yang membinasakan: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang bangga dengan dirinya (ujub).” (HR. Thabrani – Hasan)
Contoh Kasus Riya’ dan Ujub di Lapangan
Kasus 1: Relawan “Instagramable”
Ahmad datang ke lokasi bencana dengan kamera profesional. Setiap memberi bantuan, dia minta korban foto dulu. Videonya viral, dapat 100K views. Tapi di hati ada ujub: “Aku hebat ya udah bantu banyak orang!”
Hukum: Pahala berkurang drastis, bahkan bisa habis karena riya’ dan ujub!
Kasus 2: Donatur Pamer
Fatimah donasi Rp 50 juta ke BAZNAS untuk korban Aceh. Dia posting di semua media sosial: “Alhamdulillah bisa sumbang 50 juta untuk korban Aceh. Semoga bermanfaat.”
Hukum:
- Jika niat utama: pamer → pahala habis
- Jika niat utama: memotivasi orang lain → masih ada pahala (tapi lebih baik dirahasiakan)
Cara Menghindari Riya’ dan Ujub
1. Rahasiakan Sedekah
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits tentang 7 golongan yang dinaungi Allah:
“…dan seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
2. Jangan Sebut Nama Saat Donasi
Jika donasi lewat lembaga, boleh gunakan nama samaran atau “Hamba Allah”.
3. Ingat Kematian
Bayangkan jika mati setelah membantu—apakah Allah terima amal kita yang penuh riya’?
4. Dzikir Istighfar
Setelah membantu, langsung istighfar: “Astaghfirullah, jangan-jangan ada riya’ dalam hatiku.”
5. Baca Kisah Salafush Shalih
Para salaf sangat menjaga keikhlasan. Ada yang bersedekah di malam hari agar tidak diketahui siapa yang memberi.
Adab #3: Prioritas Bantuan – Siapa yang Didahulukan? {#prioritas-bantuan}
Dalam adab membantu korban bencana, ada urutan prioritas yang harus diperhatikan agar bantuan tepat sasaran dan sesuai syariat.
Urutan Prioritas Bantuan dalam Islam
1. Keluarga Terdekat
Urutan:
- Orangtua
- Anak
- Saudara kandung
- Kerabat dekat
Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah kepada orang miskin pahalanya satu, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua: sedekah dan menyambung silaturrahim.” (HR. Tirmidzi – Hasan Shahih)
Contoh: Jika ayahmu terkena bencana dan kamu punya uang Rp 10 juta, prioritaskan ayahmu dulu baru sisanya untuk orang lain.
2. Tetangga
Rasulullah SAW bersabda:
“Jibril senantiasa berpesan kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.” (HR. Bukhari-Muslim)
3. Sesama Muslim di Daerah Sendiri
Orang miskin di daerah kita lebih prioritas daripada orang kaya yang terkena bencana di daerah lain.
4. Korban Bencana Secara Umum
Setelah prioritas di atas terpenuhi, barulah bantu korban bencana secara luas.
Jenis Bantuan yang Diprioritaskan
1. Kebutuhan Darurat (Primer):
- 🚑 Nyawa (evakuasi, P3K)
- 🍚 Makanan & air
- 🏥 Obat-obatan
- ⛺ Tempat tinggal sementara
2. Kebutuhan Penting (Sekunder):
- 👕 Pakaian & selimut
- 🧼 Peralatan kebersihan
- 💡 Listrik & penerangan
- 📱 Komunikasi
3. Kebutuhan Pemulihan (Tersier):
- 🏠 Rumah permanen
- 💼 Modal usaha
- 📚 Pendidikan anak korban
- 🏥 Terapi psikologis
Siapa yang Lebih Prioritas?
Jika harus memilih, prioritaskan:
- Yang paling membutuhkan (bukan yang paling dekat dengan kita)
- Anak yatim & janda (sangat lemah)
- Lansia & difabel (tidak bisa mencari sendiri)
- Yang benar-benar miskin (bukan yang pura-pura)
Dalil:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin…” (QS At-Taubah: 60)
Adab #4: Etika Foto & Video di Lokasi Bencana {#etika-foto}
Di era digital, etika foto dan video menjadi adab yang sangat penting namun sering dilanggar.
Hukum Foto/Video Korban Bencana
Hukum Dasar: MAKRUH bahkan bisa HARAM tergantung niat dan cara.
HARAM jika:
- ❌ Untuk pamer/riya’
- ❌ Tanpa izin korban
- ❌ Merekam aurat atau kondisi memalukan korban
- ❌ Merendahkan martabat korban
- ❌ Membuat korban tidak nyaman
BOLEH jika:
- ✅ Untuk dokumentasi resmi
- ✅ Galang dana (dengan izin)
- ✅ Edukasi mitigasi bencana
- ✅ Dengan sensor wajah/aurat
- ✅ Atas izin korban
Adab Foto/Video yang Benar
1. Minta Izin Terlebih Dahulu
Jangan asal rekam! Tanya dulu: “Assalamu’alaikum bapak/ibu, boleh kami foto untuk dokumentasi?”
2. Sensor Wajah jika Diperlukan
Terutama untuk:
- Korban dalam kondisi memprihatinkan
- Anak-anak
- Perempuan
- Jenazah
3. Fokus pada Objek, Bukan Wajah
Foto:
- ✅ Bantuan yang diberikan
- ✅ Proses distribusi
- ✅ Kondisi lokasi
- ❌ Close-up wajah korban menangis
4. Jangan Jadikan Konten Hiburan
- ❌ Edit dengan musik kekinian
- ❌ Buat konten “emotional” untuk views
- ❌ Clickbait: “KORBAN NANGIS LIHAT BANTUAN INI!”
5. Gunakan Caption yang Sopan
Contoh Caption Baik: “Bantuan untuk korban Aceh. Semoga bermanfaat. Doakan mereka.”
Contoh Caption Buruk: “Kasihan banget liat mereka 😭 Alhamdulillah aku udah bantu 🙏 #relawan #bencana #viral”
Fatwa Ulama tentang Foto Korban
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya tentang foto orang yang sedang dalam kesusahan. Beliau menjawab:
“Jika tujuannya untuk merendahkan atau membuat malu mereka, maka haram. Jika untuk tujuan baik seperti galang dana dengan izin mereka, maka boleh.”
Adab #5: Menjaga Kehormatan dan Privacy Korban {#menjaga-kehormatan}
Adab membantu korban bencana yang sering terlupakan adalah menjaga kehormatan dan privacy mereka.
Jangan Merendahkan Korban
Sikap yang Dilarang:
❌ “Kasihan banget ya kalian…”
❌ “Untung aku nggak kena bencana…”
❌ “Sabar ya, ini cobaan dari Allah…” (sambil memandang rendah)
❌ Membanding-bandingkan: “Rumahku masih bagus, punyamu hancur…”
Sikap yang Benar:
✅ “Semoga Allah permudah urusan Bapak/Ibu.”
✅ “Kami datang untuk membantu, ada yang bisa kami lakukan?”
✅ Perlakukan korban dengan hormat setara, bukan kasihan berlebihan
✅ Bantu dengan senyum, bukan dengan wajah kasihan
Dalil:
“Janganlah kamu sia-siakan sedekahmu dengan menyebut-nyebut pemberianmu dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS Al-Baqarah: 264)
Jaga Privacy Korban
Yang Harus Dijaga:
- Privacy Tempat Tinggal
- Jangan masuk tenda/rumah tanpa izin
- Ketuk/salam dulu sebelum masuk
- Privacy Keluarga
- Jangan tanya-tanya detail yang sensitif
- “Siapa yang meninggal?” “Berapa kerugian?”
- Privacy Data
- Jangan sebar data pribadi korban
- Nomor HP, alamat, dll harus dijaga
- Privacy Kondisi
- Jangan ceritakan kondisi memalukan korban ke orang lain
- “Tadi ada yang nggak punya celana dalam…”
Adab Berbicara dengan Korban
Ucapan yang Dianjurkan:
Saat bertemu: “Assalamu’alaikum. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami turut berduka. Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik.”
Saat memberi bantuan: “Ini sedikit bantuan dari kami. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang.”
Saat pamit: “Kami doakan Bapak/Ibu selalu dalam lindungan Allah. Semoga lekas pulih.”
Ucapan yang Dihindari:
❌ “Sabar ya, ini ujian…” (bisa menyakitkan jika diucapkan sembarangan) ❌ “Kamu harus ikhlas…”
❌ “Mungkin ini karena dosa…” (HARAM menghakimi!) ❌ “Alhamdulillah aku nggak kena…” (menyakiti perasaan)
Adab #6: Koordinasi dengan Pihak Berwenang {#koordinasi}
Adab membantu korban bencana juga mencakup koordinasi dengan pihak yang berwenang agar bantuan efektif dan tidak berantakan.
Mengapa Koordinasi Penting?
- Menghindari tumpang tindih (bantuan ke satu lokasi terus, lokasi lain terlupakan)
- Efisiensi distribusi (bantuan sampai ke yang membutuhkan)
- Keamanan relawan (ada arahan tentang daerah aman/berbahaya)
- Profesionalisme (relawan tidak asal-asalan)
Dengan Siapa Harus Koordinasi?
1. BNPB/BPBD (Badan Penanggulangan Bencana)
- Daftar sebagai relawan resmi
- Ikuti briefing dan arahan
- Lapor jika ada masalah
2. Organisasi Relawan Terpercaya
- MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)
- ACT (Aksi Cepat Tanggap)
- Rumah Zakat
- Dompet Dhuafa
- PMI (Palang Merah Indonesia)
3. Tokoh Masyarakat/Ulama Setempat
- Lebih tahu kondisi lokal
- Bisa membantu distribusi
- Mencegah kesalahpahaman
Adab Saat Koordinasi
✅ Yang Benar:
- Dengarkan arahan koordinator
- Taat aturan yang ditetapkan
- Lapor jika ada kendala
- Kerja tim, bukan individual
❌ Yang Salah:
- Asal datang tanpa lapor
- Ngotot maunya sendiri
- Tidak mau diatur
- Membuat tim/kelompok sendiri tanpa koordinasi
Dalil Pentingnya Koordinasi
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, karena jika berselisih kamu akan lemah dan akan hilang kekuatanmu.” (QS Al-Anfal: 46)
Koordinasi = kekuatan. Tidak koordinasi = chaos.
Adab #7: Jaga Ibadah dan Akhlak Saat Menjadi Relawan {#jaga-ibadah}
Adab terakhir dan sangat penting: jangan sampai ibadah dan akhlak kita rusak saat menjadi relawan.
Jaga Shalat 5 Waktu
Kondisi Darurat:
- Boleh jama’ taqdim/ta’khir
- Boleh qashar (jika musafir)
- Tapi TIDAK BOLEH ditinggalkan!
Tips:
- Tetapkan waktu shalat bersama tim
- Cari masjid/mushalla terdekat
- Jika tidak ada tempat, shalat di lokasi aman
Ingat:
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)
Jaga Pergaulan dengan Lawan Jenis
Di Lapangan Bencana:
- Laki-laki dan perempuan sering berbaur
- Harus extra hati-hati jaga pandangan dan sentuhan
- Hindari berduaan (khalwat)
Aturan:
- Laki-laki urus korban laki-laki
- Perempuan urus korban perempuan
- Jika terpaksa berinteraksi, jaga adab
Dalil:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya…” (QS An-Nur: 30)
Jaga Ucapan dan Akhlak
Hindari:
- ❌ Berkata kasar/kotor
- ❌ Bergunjing tentang korban
- ❌ Marah-marah ke sesama relawan
- ❌ Sombong karena sudah membantu
Lakukan:
- ✅ Ucapan santun dan lembut
- ✅ Sabar menghadapi situasi sulit
- ✅ Rendah hati
- ✅ Senyum dan ramah
Dalil:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS Al-Hijr: 88)
Jaga Kesehatan Mental
Menjadi relawan bencana bisa traumatis. Jaga kesehatan mental dengan:
- Dzikir dan doa secara rutin
- Istirahat yang cukup
- Curhat ke sesama relawan atau konselor
- Jangan memaksakan diri jika sudah lelah
- Tawakal bahwa semua adalah kehendak Allah
FAQ: 5 Pertanyaan Seputar Adab Membantu Bencana {#faq}
1. Apakah boleh posting bantuan di media sosial untuk memotivasi orang lain?
Jawab: Boleh dengan syarat ketat:
- Niat utama: Memotivasi dan edukasi, BUKAN pamer
- Cara: Fokus pada info/proses, bukan pada diri sendiri
- Izin: Dapat izin dari korban jika ada wajah mereka
- Sopan: Caption dan konten tetap menjaga kehormatan korban
- Hati-hati riya’: Sering introspeksi niat
Lebih aman: Rahasiakan. Jika ingin motivasi orang, cukup ajak langsung tanpa pamer apa yang sudah kita lakukan.
2. Bagaimana jika korban menolak bantuan kita dengan kasar?
Jawab: Bersabar dan tetap sopan. Ingat:
- Mereka sedang dalam trauma dan stress berat
- Mungkin sudah bosan dengan relawan yang datang
- Mungkin merasa martabatnya direndahkan
Yang harus dilakukan:
- Tetap senyum dan sopan
- Ucapkan “Maaf mengganggu, semoga Allah permudahkan”
- Tinggalkan bantuan di posko (jika memang mereka butuh)
- Doakan mereka
- Jangan marah atau tersinggung
Ingat hadits:
“Bukanlah orang yang kuat itu yang jago berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya saat marah.” (HR. Bukhari-Muslim)
3. Bolehkah meminta sumbangan dengan cara “mempertontonkan” kondisi memprihatinkan korban?
Jawab: Makruh bahkan haram jika:
- Merendahkan martabat korban
- Tanpa izin mereka
- Berlebihan dalam menampilkan penderitaan
- Eksploitasi kesedihan untuk uang
Boleh jika:
- Dengan izin korban
- Tetap menjaga kehormatan mereka
- Tujuannya murni galang dana, bukan sensasi
- Sensor hal-hal yang memalukan
Cara yang lebih baik:
- Jelaskan kondisi dengan bahasa yang sopan
- Gunakan data/fakta, bukan eksploitasi emosi
- Fokus pada solusi, bukan dramatis
4. Apakah wajib membagi bantuan secara merata kepada semua korban?
Jawab: Tidak wajib merata, yang wajib adalah adil dan sesuai kebutuhan.
Prinsip:
- Yang lebih membutuhkan dapat lebih banyak
- Yang kaya (meski terkena bencana) tidak prioritas
- Anak yatim, janda, lansia, difabel diprioritaskan
- Transparansi: Jelaskan kenapa ada yang dapat lebih/kurang
Dalil:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin…” (QS At-Taubah: 60)
Ayat ini menunjukkan bantuan harus tepat sasaran, bukan sekadar merata.
Contoh: Keluarga A: Ayah meninggal, ibu sakit, 3 anak kecil → dapat bantuan lebih banyak Keluarga B: Keluarga kaya yang rumahnya rusak → dapat bantuan minimal atau tidak
5. Bagaimana jika melihat relawan lain yang tidak beradab (pamer, kasar, dll)?
Jawab: Nasihati dengan cara yang baik.
Langkah-langkah:
1. Nasihati secara pribadi (empat mata)
- Jangan di depan orang banyak (agar tidak malu)
- Gunakan bahasa lembut: “Maaf ya, kayaknya lebih baik kalau…”
- Ingatkan dengan dalil jika perlu
2. Jika tidak berubah, laporkan ke koordinator
- Agar ditegur oleh yang berwenang
- Jangan dibiarkan karena merusak citra relawan Muslim
3. Jika masih bandel, pisahkan diri
- Jangan ikut-ikutan perilaku buruk
- Fokus pada tugas kita
Dalil:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS Ali Imran: 104)
Cara nasihati yang benar:
- ✅ Empat mata, bukan di depan umum
- ✅ Dengan lembut: “Akhi/ukhti, boleh saya kasih masukan?”
- ✅ Fokus pada tindakan, bukan pada orangnya
- ✅ Doakan agar diberi hidayah
Cara yang salah:
- ❌ Nasihati di depan orang banyak (mempermalukan)
- ❌ Kasar: “Kamu salah! Jangan gitu!”
- ❌ Menyebarkan aibnya ke orang lain
- ❌ Sombong: “Aku lebih baik dari dia”
Kesimpulan
Adab membantu korban bencana bukan sekadar teknis memberikan bantuan, tetapi mencakup seluruh aspek—dari niat, cara, hingga sikap kita terhadap korban. Islam mengajarkan bahwa amal yang diterima Allah adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas, sopan, dan menjaga kehormatan sesama.
Ringkasan 7 Adab Wajib Relawan Muslim:
1. Niat Ikhlas Karena Allah
- Hindari riya’ dan pamer
- Rahasiakan sedekah sebisa mungkin
- Fokus pada ridha Allah, bukan likes/views
2. Hindari Riya’ dan Ujub
- Jangan bangga diri
- Ingat semua dari Allah
- Dzikir istighfar setelah membantu
3. Prioritas Bantuan yang Benar
- Keluarga > Tetangga > Umum
- Yang paling membutuhkan > Yang paling dekat
- Yatim, janda, lansia, difabel prioritas
4. Etika Foto/Video
- Minta izin terlebih dahulu
- Sensor wajah jika perlu
- Jangan jadikan konten hiburan
- Fokus pada objek, bukan eksploitasi kesedihan
5. Jaga Kehormatan Korban
- Jangan merendahkan
- Jaga privacy
- Ucapan yang sopan dan menyejukkan
- Perlakukan setara, bukan kasihan berlebihan
6. Koordinasi dengan Pihak Berwenang
- Daftar ke BNPB/organisasi resmi
- Ikuti arahan koordinator
- Kerja tim, bukan individual
- Profesional dan terorganisir
7. Jaga Ibadah dan Akhlak
- Shalat 5 waktu tetap dijaga
- Jaga pergaulan dengan lawan jenis
- Ucapan dan sikap tetap Islami
- Jaga kesehatan mental
Pesan Penting
Rasulullah SAW bersabda:
“Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
Bantuan sebesar apapun, jika tidak disertai adab yang benar dan niat yang ikhlas, tidak akan ada nilainya di sisi Allah. Sebaliknya, bantuan yang kecil namun dengan adab sempurna dan ikhlas karena Allah, akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Doa untuk Relawan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’a, wa rizqan thayyiba, wa ‘amalan mutaqabbala
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”
Semoga artikel ini bermanfaat bagi para relawan dan donatur Muslim untuk membantu korban bencana dengan cara yang benar, beradab, dan diridhai Allah SWT. Semoga Allah menerima semua amal kebaikan kita dan menjadikannya sebagai bekal di akhirat. Aamiin.
Bacaan Terkait:
Kategori Hukum & Adab:
- Fikih Bencana Alam: Panduan Syariah Lengkap untuk Korban & Relawan
- Hukum Mengungsi Saat Bencana dalam Islam
- Hukum Shalat Saat Terjadi Bencana Alam
- Hukum Jenazah Korban Bencana Alam
- Hukum Puasa Ramadan bagi Korban Bencana
- Panduan Praktis Relawan Bencana Muslim
Kategori Zakat & Sedekah:
- Zakat untuk Korban Bencana Alam: Hukum & Tata Cara
- Sedekah untuk Korban Bencana: Keutamaan & Cara
- Hukum Menggunakan Dana Masjid untuk Korban Bencana
Kategori Doa & Dzikir:
Kategori Hikmah:
Sumber Referensi:
- Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kemenag RI
- Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
- Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah
- “Riyaadush Shalihin” – Imam An-Nawawi (Bab Tolong-Menolong)
- “Al-Adab Al-Mufrad” – Imam Bukhari
- “Ihya Ulumuddin” – Imam Al-Ghazali (Bab Ikhlas dan Riya’)
- “Fiqhus Sunnah” – Sayyid Sabiq (Bab Sedekah)
- Fatwa MUI tentang Etika Penggalangan Dana
- “Panduan Relawan Bencana” – BNPB
- “Code of Conduct for Humanitarian Relief” – adapted for Islamic context
- “Ethics in Disaster Relief” – Islamic Relief Worldwide
- “Adab dan Akhlak dalam Dakwah” – KH. Ali Mustafa Yaqub
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits sahih, dan adab-adab yang diajarkan para ulama salaf. Setiap Muslim yang ingin membantu korban bencana sangat dianjurkan untuk mempelajari dan mengamalkan adab-adab ini agar bantuan diterima oleh Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.











