Share

ayat tentang air dalam Al-Quran sebagai sumber kehidupan dan konservasi penting

10 Ayat tentang Air dalam Al-Quran: Konservasi & Tanggung Jawab Muslim

Ayat tentang air dalam Al-Quran memberikan dasar penting bagi konservasi air muslim.

Air adalah unsur yang paling sering disebut dalam Al-Quran setelah nama Allah dan kata “ilmu”. Terdapat lebih dari 60 ayat yang membahas air dalam berbagai konteks, dari penciptaan hingga peringatan krisis. Artikel ini merangkum sepuluh ayat tentang air dalam alquran yang paling relevan dengan tanggung jawab muslim dalam konservasi air di tengah krisis air global yang semakin mengkhawatirkan.

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa pada tahun 2024, lebih dari dua miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih yang aman. Indonesia sendiri menghadapi tantangan serius, dengan dua puluh persen penduduk kesulitan mendapatkan air bersih menurut data Badan Pusat Statistik. Ayat-ayat tentang air yang diturunkan empat belas abad lalu ternyata memberikan solusi praktis untuk krisis yang kita hadapi hari ini.

Dalam ayat tentang air dalam Al-Quran, Allah menegaskan air sebagai sumber kehidupan.


panduan praktis ayat tentang air dalam Al-Quran untuk hemat air muslim
Visualisasi praktis cara hemat air berdasarkan panduan ayat tentang air dalam Al-Quran dan hadits.

Ayat Pertama: QS Al-Anbiya 30 – Air Basis Semua Kehidupan

Pemahaman ayat tentang air dalam Al-Quran mendorong muslim untuk hemat air.

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS Al-Anbiya: 30)

Ayat ini merupakan pernyataan paling fundamental tentang air dalam Al-Quran. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menekankan kata “segala sesuatu” untuk menunjukkan bahwa tidak ada kehidupan tanpa air, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Ini adalah kebenaran yang baru dibuktikan oleh sains modern setelah berabad-abad kemudian.

Fakta ilmiah mendukung ayat ini dengan sempurna. Sel-sel makhluk hidup mengandung tujuh puluh hingga sembilan puluh persen air. Proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen memerlukan air sebagai bahan baku. Bahkan badan antariksa NASA dalam pencarian kehidupan di planet lain selalu memulai dengan mencari keberadaan air, karena tanpa air, kehidupan sebagaimana kita kenal tidak mungkin ada.


Ayat Kedua: QS Al-Mulk 30 – Pertanyaan Retoris tentang Krisis Air

Ayat tentang air dalam Al-Quran merupakan petunjuk menjaga sumber daya air.

“Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika air kalian menjadi kering, siapakah yang akan mendatangkan air mengalir bagimu?” (QS Al-Mulk: 30)

Ayat ini bukanlah ancaman kosong, melainkan peringatan dini yang terbukti akurat di era modern. Danau Chad di Afrika telah menyusut sembilan puluh persen sejak tahun 1960. Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah hingga dua puluh lima sentimeter per tahun akibat pengambilan air tanah yang berlebihan. Sungai Citarum di Jawa Barat pernah dinobatkan oleh Bank Dunia sebagai sungai terkotor di dunia.

Profesor Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan prinsip preventif, bukan reaktif. Jangan menunggu air kering baru bertindak. Jaga sumber air sebelum terlambat. Ini adalah prinsip konservasi air muslim yang seharusnya menjadi prioritas setiap individu dan pemerintah.


Ayat Ketiga hingga Kelima: Siklus Hidrologi dalam Al-Quran

Selalu penting merujuk pada ayat tentang air dalam Al-Quran saat belajar hemat air.

QS Al-Waqiah ayat enam puluh delapan hingga tujuh puluh menjelaskan siklus air dengan detail yang menakjubkan: “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”

Ayat ini menggambarkan proses yang baru dipahami sepenuhnya oleh sains pada abad ketujuh belas, yaitu enam ratus tahun setelah Al-Quran diturunkan. Air laut menguap, membentuk awan, turun sebagai hujan tawar, mengalir ke sungai, kembali ke laut, dan siklus ini terus berulang. Empat ratus juta kilometer kubik air menguap setiap tahun dari permukaan lautan, membentuk awan yang kemudian menurunkan hujan sebanyak lima ratus lima ribu kilometer kubik per tahun secara global.

QS An-Nahl ayat sepuluh melanjutkan: “Dia-lah yang telah menurunkan air dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu.” Ayat ini mengidentifikasi dua fungsi utama air: kebutuhan langsung manusia untuk minum, dan kebutuhan tidak langsung melalui pertanian. Faktanya, tujuh puluh persen air tawar dunia digunakan untuk pertanian. Jika sistem pertanian rusak, krisis pangan akan menyusul krisis air.

QS Ar-Ra’d ayat tujuh belas menambahkan dimensi keseimbangan: “Allah menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.” Kata “menurut ukurannya” menunjukkan bahwa sistem hidrologi alami sudah seimbang sempurna. Gangguan manusia melalui bendungan berlebihan, deforestasi, dan pengambilan air tanah yang tidak terkontrol menghancurkan keseimbangan ini.


Ayat Keenam dan Ketujuh: Air Menghidupkan Bumi yang Mati

Konservasi air sesuai ayat tentang air dalam Al-Quran membantu keberlanjutan kehidupan.

QS Al-Furqan ayat empat puluh delapan hingga empat puluh sembilan menyatakan: “Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri yang mati, dan Kami beri minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.”

Kata “thahuran” yang diterjemahkan sebagai “sangat bersih” memiliki makna ganda: bersih secara fisik dan mensucikan secara spiritual. Air hujan yang turun membersihkan atmosfer dari polutan dan menghidupkan tanah yang kering menjadi hijau kembali.

QS Al-Mursalat ayat dua puluh tujuh menambahkan: “Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar.” Gunung berfungsi sebagai menara air alami. Salju di puncak gunung mencair menjadi sungai, hutan pegunungan menyerap air hujan seperti spons raksasa. Ketika hutan pegunungan dirusak melalui penebangan liar, wilayah hilir akan mengalami kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan.


Ayat Kedelapan hingga Kesepuluh: Biodiversitas dan Sistem Akuifer

QS Fatir ayat dua puluh tujuh menjelaskan keajaiban biodiversitas yang dimungkinkan oleh air: “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu Kami hasilkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya.” Air yang sama menghasilkan apel, mangga, durian, kurma, dan ribuan jenis buah lainnya. Ini adalah keajaiban kombinasi DNA dengan Hâ‚‚O.

QS Az-Zumar ayat dua puluh satu mengungkap sistem air tanah: “Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dimasukkan-Nya ke dalam sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya.” Proses yang dijelaskan ayat ini adalah infiltrasi air hujan ke dalam tanah, perkolasi turun ke lapisan akuifer, dan kemunculan kembali sebagai mata air atau sumur.

Ancaman terbesar terhadap sistem akuifer adalah pengambilan air tanah yang melebihi kemampuan alam untuk mengisi ulang. Jakarta, Bangkok, dan Mexico City mengalami penurunan permukaan tanah yang parah akibat over-pumping air tanah.

QS Ar-Rum ayat dua puluh empat menutup dengan pengingat: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu dihidupkan-Nya bumi setelah matinya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.”


Hadits tentang Hemat Air: Prinsip Konservasi Sejati

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan contoh konkret konservasi air muslim melalui kehidupan sehari-harinya. Beliau berwudhu dengan hanya satu mudd air, setara dengan nol koma tujuh liter, dan mandi dengan satu sha’, setara dengan dua koma delapan liter. Perbandingan ini sangat mengejutkan jika dibandingkan dengan rata-rata penggunaan air wudhu modern yang bisa mencapai lima hingga sepuluh liter.

Hadits yang paling terkenal tentang hemat air diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam melewati Sa’d bin Abi Waqqash yang sedang berwudhu di tepi sungai. Nabi bertanya, “Apa pemborosan ini?” Sa’d yang terkejut bertanya balik, “Apakah dalam wudhu pun ada pemborosan?” Nabi menjawab dengan tegas, “Ya, meskipun engkau di sungai yang mengalir.”

Hadits ini mengajarkan prinsip fundamental yang revolusioner: hemat air bahkan ketika berada di tengah kelimpahan. Bukan soal ada atau tidaknya air, melainkan soal sikap syukur dan tanggung jawab terhadap nikmat Allah. Ini adalah prinsip sustainability yang diajarkan empat belas abad sebelum konsep tersebut menjadi tren global.


Tujuh Aksi Konkret Konservasi Air Muslim

Berdasarkan ayat tentang air dalam alquran dan hadits Nabi, ada tujuh langkah praktis yang dapat dilakukan setiap muslim untuk berkontribusi dalam konservasi air.

Pertama, wudhu dan mandi hemat. Gunakan maksimal satu liter untuk wudhu dengan cara membasahi tangan, kumur-kumur dan istinsyaq dengan satu cidukan, membasahi wajah dengan dua cidukan, membasahi kedua tangan hingga siku dengan dua cidukan, mengusap kepala dan telinga dengan sisa air di tangan, dan membasahi kaki dengan satu cidukan untuk masing-masing kaki. Untuk mandi, batasi waktu lima belas menit dan tutup keran saat menggosok sabun atau keramas.

Kedua, membangun sumur resapan dan biopori. QS Az-Zumar ayat dua puluh satu mengajarkan bahwa air hujan harus dimasukkan ke dalam tanah untuk mengisi ulang akuifer. Setiap rumah dan masjid seharusnya memiliki sumur resapan atau minimal lubang biopori untuk membantu penyerapan air hujan.

Ketiga, rainwater harvesting atau penampungan air hujan. Air hujan yang jatuh di atap rumah dapat ditampung dalam tangki dan digunakan untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan, atau bahkan untuk toilet. Ini mengurangi beban terhadap sumber air bersih.

Keempat, greywater recycling atau daur ulang air bekas pakai. Air bekas wudhu yang masih bersih secara fisik dapat digunakan untuk menyiram tanaman atau membersihkan halaman. Air bekas cucian sayuran dapat digunakan untuk menyiram kebun. Meskipun air musta’mal tidak boleh digunakan untuk wudhu lagi menurut mayoritas ulama, namun sangat dianjurkan untuk tidak membuangnya begitu saja.

Kelima, teknologi hemat air di rumah. Pasang dual-flush toilet yang menggunakan hanya tiga liter untuk buang air kecil dan enam liter untuk buang air besar. Gunakan shower head bertekanan rendah yang menghemat hingga lima puluh persen air tanpa mengurangi kenyamanan. Pasang aerator pada keran wastafel yang mencampur air dengan udara sehingga aliran terasa deras namun volume air berkurang.

Keenam, menjaga catchment area atau daerah tangkapan air. Dukung program reboisasi di daerah hulu sungai. Tolak aktivitas pertambangan di kawasan resapan air. Hutan di pegunungan adalah spons raksasa yang menyimpan air hujan dan melepaskannya secara perlahan sepanjang tahun. Kehancuran hutan berarti kehilangan sistem penyimpanan air alami.

Ketujuh, wakaf dan zakat air. Bangun sumur atau instalasi air bersih di daerah yang kekurangan akses air menjadi sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir selama sumur tersebut digunakan. Badan Wakaf Indonesia dan berbagai lembaga zakat memiliki program khusus untuk pembangunan infrastruktur air di daerah terpencil.

Mengutip ayat tentang air dalam Al-Quran membangkitkan kesadaran umat muslim tentang air.


sumber air bersih alami sesuai ayat tentang air dalam Al-Quran
Gambar sumber air bersih alami sebagai refleksi ayat Al-Quran yang mengajarkan menjaga alam dan air.

Kesimpulan

Sepuluh ayat tentang air dalam alquran bukan sekadar teori teologis, melainkan panduan praktis konservasi air yang jauh mendahului zamannya. Air adalah dasar kehidupan sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Anbiya ayat tiga puluh. Krisis air yang diperingatkan dalam QS Al-Mulk ayat tiga puluh telah menjadi kenyataan di banyak tempat. Hadits Nabi tentang hemat air mengajarkan bahwa konservasi adalah kewajiban, bukan pilihan, bahkan ketika berada di tengah kelimpahan.

Tanggung jawab muslim terhadap air mencakup tiga dimensi: syukur melalui tidak mubazir, konservasi melalui teknologi dan perilaku hemat, dan keadilan intergenerasi dengan menjaga sumber air untuk anak cucu. Setiap tetes air yang kita hemat hari ini adalah investasi untuk masa depan yang berkelanjutan. Setiap sumur yang kita bangun adalah sedekah jariyah yang mengalir pahalanya hingga hari kiamat. Dan setiap hutan yang kita jaga adalah amanah khalifah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ayat tentang air dalam Al-Quran menyimpan hikmah besar yang menggerakkan hati setiap muslim untuk menjaga dan melestarikan sumber air. Dengan memahami dan menerapkan ajaran ini, seperti hemat air dan konservasi sesuai ayat Al-Quran dan hadits hemat air, kita turut menjaga kelangsungan hidup bumi. Mari belajar lebih dalam, praktikkan langkah konservasi, dan sebarkan pesan mulia ini agar manfaatnya meluas hingga anak cucu kita.

Quote of the Day:
“Air bukan hanya ciptaan Allah, tetapi amanah suci yang harus kita jaga sebagai hamba-Nya yang bertanggung jawab.”


FAQ (4 PERTANYAAN)

Q1: Berapa liter air yang digunakan Nabi untuk wudhu?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwudhu dengan satu mudd yang setara dengan nol koma tujuh liter, dan mandi dengan satu sha’ yang setara dengan dua koma delapan liter sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari. Bahkan ketika sahabat Sa’d berwudhu di sungai yang mengalir deras, Nabi menegurnya karena dianggap boros. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Standar yang realistis untuk muslim modern adalah maksimal satu liter untuk sekali wudhu.

Q2: Apakah boleh menggunakan air bekas wudhu untuk wudhu lagi?

Menurut mayoritas ulama, air bekas wudhu yang disebut sebagai air musta’mal tidak boleh digunakan untuk wudhu atau mandi wajib lagi karena sudah kehilangan sifat kemutlakan sebagai air yang mensucikan. Namun, air tersebut tetap bersih secara fisik dan sangat dianjurkan untuk dimanfaatkan bagi keperluan lain seperti menyiram tanaman, membersihkan halaman, atau digunakan untuk toilet. Ini adalah bentuk konservasi air yang dianjurkan dalam Islam.

Q3: Apa hukum pemborosan air menurut Islam?

Israf atau pemborosan air hukumnya haram berdasarkan hadits Ibnu Majah yang menyatakan bahwa pemborosan dilarang bahkan ketika berada di sungai yang mengalir. Alasannya adalah karena pemborosan menunjukkan ketidaksyukuran terhadap nikmat Allah, merugikan generasi mendatang yang juga berhak atas sumber daya air, dan melanggar prinsip wasathiyah atau moderasi dalam Islam. QS Al-A’raf ayat tiga puluh satu dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Q4: Bagaimana cara mengajarkan anak hemat air sejak dini?

Ada lima metode efektif untuk mendidik anak tentang konservasi air. Pertama, berikan contoh langsung dengan menunjukkan cara wudhu hemat menggunakan satu liter air. Kedua, pasang timer di kamar mandi untuk membatasi waktu mandi maksimal lima belas menit. Ketiga, buat sistem gamifikasi dengan memberikan poin atau reward ketika anak berhasil hemat air. Keempat, ajak anak mengunjungi catchment area seperti hutan atau sungai agar mereka memahami dari mana sumber air berasal. Kelima, ceritakan kisah-kisah Nabi tentang air untuk menanamkan nilai spiritual dalam konservasi.


INTERNAL LINKS

  1. Ekologi dalam Islam: 25 Ayat Al-Quran tentang Lingkungan
    • “ekologi dalam islam dari perspektif Al-Quran”
  2. Tafsir QS Ar-Rum 41: Kerusakan Akibat Tangan Manusia
    • “kerusakan lingkungan akibat perbuatan manusia”
  3. 15 Ayat tentang Pohon dan Tumbuhan dalam Al-Quran
    • “ayat tentang pohon dan tanggung jawab reboisasi”
  4. Khalifah Fil Ardh: 7 Tanggung Jawab Muslim terhadap Bumi
    • “tanggung jawab khalifah terhadap lingkungan”

EXTERNAL LINKS

  1. WHO Water, Sanitation and Hygiene Report 2024
    • Data otoritatif tentang krisis air global dari organisasi kesehatan dunia
  2. UNICEF Water Crisis Information
    • Statistik dan program air bersih untuk anak-anak global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca