Share

ayat tentang pohon dalam alquran reboisasi sedekah jariyah hadits tanam pohon fotosintesis yasiin 80

15 Ayat tentang Pohon dalam Al-Quran: Reboisasi sebagai Sedekah Jariyah

Pohon adalah makhluk hidup yang paling sering disebutkan dalam Al-Quran setelah manusia. Terdapat lebih dari lima puluh ayat yang membahas pohon dalam berbagai konteks, mulai dari pohon-pohon surga hingga pohon sebagai sumber kehidupan di bumi. Artikel ini merangkum lima belas ayat tentang pohon dalam alquran yang paling relevan dengan tanggung jawab muslim dalam reboisasi dan pelestarian hutan di tengah krisis deforestasi global.

Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sebanyak sepuluh juta hektar hutan menghilang setiap tahunnya. Indonesia sendiri kehilangan sembilan koma tujuh juta hektar hutan antara tahun 2000 hingga 2020 menurut Global Forest Watch. Namun jauh sebelum istilah “deforestasi” dan “carbon sink” menjadi populer, Al-Quran telah menjelaskan peran vital pohon dalam ekosistem bumi dan menjadikan penanaman pohon sebagai ibadah yang pahalanya mengalir hingga hari kiamat.


7 cara reboisasi muslim sedekah pohon online platform tanam pohon sendiri wakaf hutan lindung agroforestry
7 metode reboisasi berdasarkan 15 ayat tentang pohon dalam Al-Quran dan hadits Nabi: tanam di rumah, sedekah pohon online, wakaf hutan, dukung agroforestry

Ayat Pertama: QS Yasiin 80 – Pohon Hijau Penghasil Api dan Oksigen

“Yang menjadikan api untukmu dari pohon yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari pohon itu.” (QS Yasiin: 80)

Ayat ini menjelaskan paradoks yang luar biasa: pohon hijau yang basah ternyata menjadi sumber api. Pada masa ayat ini diturunkan, masyarakat Arab menggunakan kayu dari pohon markh dan ‘afar untuk menyalakan api dengan cara menggosokkan dua batang kayu kering. Namun tafsir kontemporer mengungkap makna yang lebih dalam.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengisyaratkan proses fotosintesis meskipun belum menggunakan terminologi modern. Pohon hijau menyerap karbon dioksida dari udara, menggunakan energi matahari, dan menghasilkan oksigen yang kita hirup. Dalam proses ini, pohon menyimpan energi dalam bentuk karbohidrat. Ketika kayu dibakar, energi yang tersimpan selama bertahun-tahun dilepaskan dalam bentuk api.

Professor Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menambahkan dimensi ekologis. Satu hektar hutan dapat menyerap enam ton karbon dioksida per tahun, setara dengan emisi tiga mobil. Pohon bukan hanya penghasil oksigen, tetapi juga mesin penyerap polusi alami yang diciptakan Allah jauh sebelum manusia menemukan teknologi carbon capture.


Ayat Kedua hingga Keempat: Pohon sebagai Tanda Kekuasaan Allah

QS Ar-Rahman ayat sepuluh hingga dua belas menjelaskan: “Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk-Nya. Di sana ada buah-buahan, pohon kurma yang memiliki kelopak, biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum.” Ayat ini menegaskan bahwa bumi dengan segala tumbuh-tumbuhannya bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk semua makhluk.

Kata “lil-anam” yang berarti “untuk makhluk” mencakup manusia, hewan, serangga, mikroorganisme, dan semua bentuk kehidupan lainnya. Ini adalah prinsip ekologi holistik yang mengakui bahwa setiap spesies memiliki hak untuk hidup dan mendapatkan manfaat dari pohon. Ketika manusia menebang hutan secara masif, mereka tidak hanya merampas hak generasi manusia mendatang, tetapi juga merampas hak jutaan spesies lain untuk bertahan hidup.

QS Abasa ayat dua puluh empat hingga tiga puluh dua memberikan katalog lengkap tanaman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air dengan melimpah, kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun yang lebat, buah-buahan dan rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk hewan ternakmu.”

Ayat ini menyebutkan delapan jenis tanaman secara spesifik: biji-bijian seperti gandum dan padi, anggur yang kaya antioksidan, sayur-sayuran untuk gizi seimbang, zaitun yang minyaknya disebutkan berkali-kali dalam Al-Quran, kurma sebagai pohon yang paling mulia, taman-taman lebat untuk keanekaragaman hayati, buah-buahan beraneka jenis, dan rumput sebagai pakan ternak. Kedelapan kategori ini mencerminkan sistem pertanian berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian ekosistem.

QS An-Nahl ayat sebelas melanjutkan: “Dengan air itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” Pengulangan penyebutan pohon kurma, zaitun, dan anggur menunjukkan pentingnya ketiga pohon ini dalam peradaban Islam.


Ayat Kelima hingga Ketujuh: Pohon Kurma – Pohon Paling Mulia

Pohon kurma disebutkan sebanyak dua puluh tiga kali dalam Al-Quran, lebih sering daripada pohon lainnya. QS Maryam ayat dua puluh lima menceritakan Maryam yang melahirkan Nabi Isa di bawah pohon kurma: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memilih pohon kurma bukan tanpa alasan. Kurma memiliki kandungan gula alami yang tinggi, serat untuk memperlancar pencernaan, kalium untuk mengontrol tekanan darah, dan magnesium yang membantu kontraksi rahim. Bagi seorang ibu yang baru melahirkan, kurma adalah superfood yang sempurna untuk pemulihan cepat. Ini adalah pengetahuan nutrisi yang baru sepenuhnya dipahami oleh sains modern pada abad kedua puluh.

QS Qaf ayat sepuluh menyebutkan: “Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun.” Kata “basiqat” yang diterjemahkan sebagai “tinggi-tinggi” juga berarti “menjulang tegak” yang melambangkan keteguhan iman. Pohon kurma dapat tumbuh hingga dua puluh lima meter dan hidup lebih dari seratus tahun, melambangkan keberlangsungan dan keberlanjutan.

QS Al-An’am ayat sembilan puluh sembilan menambahkan dimensi keanekaragaman: “Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang hijau, Kami keluarkan dari tanaman yang hijau itu butir yang banyak, dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan zaitun, dan delima yang serupa dan tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.”

Ayat ini mengajarkan konsep biodiversitas atau keanekaragaman hayati. Meskipun semua pohon tumbuh dari air yang sama dan tanah yang sama, namun menghasilkan buah yang beraneka ragam dalam bentuk, rasa, warna, dan manfaat. Ini adalah keajaiban genetika yang menunjukkan kekuasaan Allah sebagai Sang Pencipta yang Maha Kreatif.


Ayat Kedelapan hingga Kesepuluh: Pohon Zaitun – Pohon Penuh Berkah

Pohon zaitun disebutkan tujuh kali dalam Al-Quran dan selalu dalam konteks yang positif. QS An-Nur ayat tiga puluh lima menggunakan pohon zaitun sebagai simbol cahaya ilahi: “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki.”

Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa pohon zaitun digambarkan “tidak di timur dan tidak di barat” karena pohon zaitun terbaik tumbuh di wilayah Mediterania yang mendapat sinar matahari sepanjang hari, tidak terhalang oleh gunung di timur atau barat. Minyak zaitun extra virgin memiliki titik asap tinggi dan mengandung antioksidan polifenol yang melindungi jantung. Penelitian modern membuktikan bahwa konsumsi rutin minyak zaitun mengurangi risiko penyakit kardiovaskular hingga tiga puluh persen.

QS At-Tin ayat satu bahkan bersumpah dengan nama pohon ini: “Demi buah Tin dan buah Zaitun.” Ulama menafsirkan sumpah ini sebagai penghormatan tertinggi terhadap kedua pohon yang memberikan manfaat luar biasa bagi kesehatan manusia. Buah tin mengandung serat tinggi untuk pencernaan, sementara zaitun mengandung lemak sehat untuk otak dan jantung.

QS Al-Mu’minun ayat dua puluh melengkapi gambaran tentang zaitun: “Dan pohon yang keluar dari Thursina yang menghasilkan minyak dan lauk bagi orang yang makan.” Thursina atau Bukit Sinai tempat Nabi Musa menerima wahyu dipenuhi pohon zaitun, menghubungkan pohon ini dengan sejarah kenabian dan spiritualitas Islam.


Ayat Kesebelas dan Kedua Belas: Pohon Anggur dan Buah-buahan

QS An-Nahl ayat sebelas dan enam puluh tujuh menyebutkan anggur sebagai salah satu nikmat Allah: “Dengan air itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan… Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang yang mengerti.”

Ayat ini turun sebelum khamr atau minuman memabukkan diharamkan. Namun ayat ini mengakui bahwa buah anggur sendiri adalah nikmat yang baik, hanya saja pengolahannya menjadi alkohol yang kemudian dilarang. Anggur segar mengandung resveratrol, antioksidan kuat yang melindungi sel dari kerusakan dan memperlambat penuaan.

QS Yasiin ayat tiga puluh empat memberikan gambaran holistik tentang kebun buah: “Dan Kami jadikan di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” Sistem irigasi dengan mata air alami adalah metode pertanian berkelanjutan yang tidak menguras air tanah berlebihan seperti sistem pompa modern.


Ayat Ketiga Belas: Pohon Pisang Surga

QS Al-Waqi’ah ayat dua puluh sembilan menyebutkan pohon pisang sebagai salah satu tanaman surga: “Dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.” Kata “thalhun mandud” menggambarkan pohon pisang yang buahnya tersusun rapi dalam tandan, tidak seperti pohon lain yang buahnya terpisah-pisah.

Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa penyebutan pohon pisang dalam konteks surga menunjukkan keistimewaannya. Pisang adalah buah sempurna yang dikemas alam dalam wadah biodegradable berupa kulit yang dapat menjadi pupuk kompos. Pisang kaya kalium untuk kesehatan jantung, vitamin B6 untuk fungsi otak, dan karbohidrat kompleks untuk energi berkelanjutan. Tidak seperti buah-buah impor yang memerlukan pengawet kimia, pisang dapat matang secara alami dan dikonsumsi langsung dari pohon.


Ayat Keempat Belas: Pohon Sidrah – Pohon Batas Akhir Pencapaian Ilmu

QS An-Najm ayat empat belas hingga enam belas menyebutkan Sidratul Muntaha, pohon bidara paling ujung di surga tingkat tujuh: “Di Sidratul Muntaha, di sisinya ada surga tempat tinggal, ketika Sidrah itu diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam melihat pohon ini saat peristiwa Isra Mi’raj.

Pohon sidrah atau bidara di dunia memiliki karakteristik unik. Daunnya dapat digunakan untuk memandikan jenazah sesuai sunnah Nabi. Buahnya yang manis dapat dimakan langsung. Akarnya yang kuat mencegah erosi tanah. Batangnya yang keras cocok untuk bangunan. Ini adalah pohon multifungsi yang melambangkan kesempurnaan penciptaan Allah.


Ayat Kelima Belas: Pohon Zaqqum – Peringatan bagi yang Merusak

QS Ad-Dukhan ayat empat puluh tiga hingga empat puluh enam menyebutkan pohon zaqqum sebagai siksa bagi penduduk neraka: “Sungguh, pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa, seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa pohon zaqqum adalah antitesis dari pohon-pohon surga yang disebutkan sebelumnya. Jika pohon kurma, zaitun, dan anggur memberikan kehidupan dan kesehatan, maka pohon zaqqum menyimbolkan kehancuran akibat kezaliman. Dalam konteks ekologi modern, kita dapat menafsirkan bahwa orang-orang yang merusak hutan dan lingkungan adalah seperti menanam pohon zaqqum untuk diri mereka sendiri, sebuah siksa yang akan mereka rasakan baik di dunia melalui bencana alam maupun di akhirat.


sedekah jariyah pohon hingga kiamat 7 generasi manfaat reboisasi muslim tanggung jawab khalifah
Satu pohon yang kita tanam hari ini = sedekah jariyah untuk 7 generasi mendatang hingga hari kiamat. Investasi akhirat terbaik menurut hadits Nabi.

Hadits Tanam Pohon: Sedekah Jariyah Hingga Kiamat

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan motivasi luar biasa untuk menanam pohon melalui beberapa hadits yang sangat terkenal. Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”

Hadits ini mengajarkan konsep sedekah jariyah atau sedekah yang pahalanya terus mengalir. Setiap kali burung memakan buah dari pohon yang kita tanam, kita mendapat pahala. Setiap kali orang berteduh di bawah pohon itu, kita mendapat pahala. Setiap kali pohon itu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, kita mendapat pahala. Pahalanya terus mengalir bahkan setelah kita meninggal dunia, selama pohon itu masih hidup dan memberikan manfaat.

Hadits kedua yang lebih menakjubkan lagi diriwayatkan oleh Imam Ahmad: “Jika hari kiamat akan terjadi, dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon kurma, maka jika dia mampu untuk tidak berdiri sampai dia menanamnya, maka hendaklah dia menanamnya.”

Bayangkan, bahkan ketika langit terbelah dan bumi bergoncang menandakan hari kiamat telah tiba, seorang muslim masih diperintahkan untuk menanam pohon jika ada bibit di tangannya. Ini menunjukkan bahwa menanam pohon bukan hanya tentang manfaat duniawi, tetapi tentang sikap hidup yang optimis dan produktif hingga detik terakhir kehidupan. Ini adalah pesan anti-fatalisme yang mengajarkan bahwa setiap usaha baik memiliki nilai, meskipun kita tidak akan melihat hasilnya.

Hadits ketiga dari Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tujuh hal yang pahalanya terus mengalir untuk seorang hamba setelah matinya ketika dia berada di dalam kuburnya: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf Al-Quran, atau meninggalkan anak yang mendoakan dia setelah kematiannya.”

Menanam pohon disejajarkan dengan mengajarkan ilmu dan membangun masjid sebagai amal jariyah terbaik. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi ibadah spiritual yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah.


Tujuh Aksi Konkret Reboisasi Muslim

Berdasarkan lima belas ayat tentang pohon dalam alquran dan hadits-hadits Nabi, ada tujuh langkah praktis yang dapat dilakukan setiap muslim untuk berkontribusi dalam reboisasi dan pelestarian hutan.

Pertama, tanam pohon di lahan sendiri. Jika memiliki halaman rumah, tanamlah minimal satu pohon produktif seperti mangga, jambu, atau jeruk, dan satu pohon peneduh seperti trembesi atau mahoni. Jika tinggal di apartemen, tanam pohon dalam pot besar di balkon. Bahkan satu pohon kecil di rumah dapat menyerap hingga sepuluh kilogram karbon dioksida per tahun.

Kedua, ikut program sedekah pohon online. Beberapa platform seperti LindungiHutan.com, KitaBisa.com, dan Alam Sehat Lestari menyediakan program donasi untuk penanaman pohon dengan sistem tracking yang transparan. Dengan donasi lima puluh ribu rupiah, kita bisa menanam sepuluh pohon mangrove di pesisir atau sepuluh pohon mahoni di pegunungan, lengkap dengan sertifikat digital dan update pertumbuhan pohon secara berkala.

Ketiga, wakaf tanah untuk hutan lindung. Badan Wakaf Indonesia membuka program wakaf tanah untuk dijadikan kawasan konservasi yang tidak boleh dialihfungsikan selamanya. Ini adalah investasi akhirat yang nilainya terus bertambah selama hutan itu lestari.

Keempat, dukung petani agroforestry. Sistem agroforestry menggabungkan pohon kayu dengan tanaman pertanian, sehingga petani tetap punya penghasilan sambil menjaga tutupan hutan. Beli produk dari petani agroforestry seperti kopi organik bersertifikat rainforest alliance atau cokelat dari hutan lindung.

Kelima, tolak produk penyebab deforestasi. Boikot produk dari perusahaan yang terbukti membakar hutan untuk perkebunan sawit atau tambang. Gunakan aplikasi seperti Palm Oil Scanner untuk mengecek apakah produk mengandung minyak sawit dari sumber yang tidak berkelanjutan.

Keenam, edukasi anak tentang pohon sejak dini. Ajak anak menanam pohon bersama dan beri nama pohon tersebut sesuai nama anak. Setiap tahun di hari ulang tahun anak, ajak mereka mengukur tinggi pohon dan bandingkan dengan tinggi badan mereka. Ini akan menciptakan ikatan emosional antara anak dengan alam.

Ketujuh, advokasi kebijakan pro-hutan. Tanda tangani petisi penolakan izin tambang di kawasan hutan lindung. Laporkan pembalakan liar ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui hotline 0812-1250-5360. Pilih pemimpin yang komit terhadap target pengurangan deforestasi Indonesia sebesar tujuh puluh lima persen pada tahun 2030 sesuai kesepakatan Paris Agreement.


Kesimpulan

Lima belas ayat tentang pohon dalam alquran mengajarkan bahwa pohon bukan sekadar sumber daya ekonomi, melainkan makhluk hidup yang memiliki hak untuk dihormati dan dilestarikan. Pohon adalah simbol kehidupan sebagaimana dijelaskan dalam QS Yasiin ayat delapan puluh tentang fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Pohon adalah sumber pangan dan obat sebagaimana dijelaskan dalam QS Abasa tentang berbagai jenis buah-buahan. Pohon adalah instrumen sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga hari kiamat sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi.

Tanggung jawab muslim terhadap pohon mencakup tiga dimensi yang saling terkait. Dimensi pertama adalah dimensi ibadah, dimana menanam dan merawat pohon adalah amal saleh yang bernilai pahala sangat tinggi, disejajarkan dengan membangun masjid dan mengajarkan ilmu. Dimensi kedua adalah dimensi ekologi, dimana pohon berfungsi sebagai paru-paru bumi yang menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, mencegah erosi tanah, mengatur siklus air, dan menjadi habitat bagi ribuan spesies makhluk hidup lainnya. Dimensi ketiga adalah dimensi keadilan intergenerasi, dimana kita wajib mewariskan bumi yang hijau dan lestari kepada anak cucu kita, bukan bumi yang gundul dan rusak.

Setiap pohon yang kita tanam hari ini adalah warisan hijau untuk tujuh generasi mendatang. Setiap hutan yang kita jaga adalah amanat khalifah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dan setiap upaya reboisasi sekecil apapun adalah investasi akhirat yang tidak akan pernah merugi. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, tanam lah pohon meskipun besok adalah hari kiamat, karena nilai sebuah amal bukan terletak pada hasilnya yang kita saksikan, melainkan pada niat dan usaha yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah.


FAQ (4 PERTANYAAN)

Q1: Apa hukum menanam pohon dalam Islam?

Menanam pohon hukumnya sangat dianjurkan dan termasuk dalam kategori sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah kita meninggal dunia. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, setiap manfaat yang diambil dari pohon yang kita tanam, baik oleh manusia, burung, maupun hewan, menjadi sedekah bagi kita. Hadits lain dari Imam Ahmad bahkan memerintahkan kita untuk tetap menanam pohon meskipun kiamat sudah di depan mata, menunjukkan bahwa menanam pohon adalah sikap hidup yang optimis dan produktif yang sangat dihargai dalam Islam. Ulama kontemporer seperti Yusuf Al-Qaradawi menyatakan bahwa reboisasi dalam konteks krisis iklim modern dapat dikategorikan sebagai fardhu kifayah atau kewajiban kolektif umat.

Q2: Pohon apa yang paling dianjurkan untuk ditanam menurut Sunnah?

Pohon kurma adalah pohon yang paling sering disebutkan dalam Al-Quran sebanyak dua puluh tiga kali dan dalam banyak hadits Nabi. Hadits dari Anas bin Malik secara spesifik menyebut menanam pohon kurma sebagai salah satu dari tujuh amal jariyah yang pahalanya terus mengalir setelah kematian. Selain kurma, pohon zaitun juga sangat dimuliakan dalam Islam hingga Allah bersumpah dengan namanya dalam QS At-Tin. Namun dalam konteks Indonesia, ulama sepakat bahwa prinsip umum hadits tersebut berlaku untuk semua jenis pohon yang bermanfaat, baik pohon buah lokal seperti mangga, rambutan, dan durian, maupun pohon peneduh seperti trembesi dan mahoni yang efektif menyerap karbon dioksida.

Q3: Apakah menebalkan hutan termasuk jihad fisabilillah?

Ulama kontemporer memiliki pandangan progresif tentang hal ini. Pada Muktamar Nahdlatul Ulama tahun 2019 di Jombang, peserta bahtsul masail menetapkan bahwa menjaga kelestarian lingkungan termasuk dalam kategori jihad fisabilillah dalam makna yang luas, yaitu perjuangan di jalan Allah untuk menegakkan kemaslahatan umat. Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya “Ri’ayatul Bi’ah fil Syariah Al-Islamiyyah” menjelaskan bahwa menghadapi kerusakan lingkungan dengan upaya nyata seperti reboisasi, konservasi, dan edukasi adalah bentuk jihad kontemporer yang sangat dibutuhkan. Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, juga menyatakan bahwa para aktivis lingkungan yang berjuang melawan deforestasi dan polusi adalah mujahid zaman modern yang sedang membela kehidupan di bumi.

Q4: Bagaimana cara memilih platform sedekah pohon yang terpercaya?

Ada lima kriteria untuk memilih platform sedekah pohon yang amanah. Pertama, transparansi lokasi tanam dengan koordinat GPS yang dapat diverifikasi melalui Google Maps atau Google Earth. Platform seperti LindungiHutan.com menyediakan peta interaktif yang menunjukkan lokasi persis setiap pohon yang ditanam. Kedua, sistem tracking pertumbuhan pohon dengan foto update berkala, minimal setiap tiga bulan sekali untuk tahun pertama dan setiap enam bulan untuk tahun-tahun berikutnya. Ketiga, kerjasama dengan lembaga resmi seperti Dinas Kehutanan, Taman Nasional, atau LSM lingkungan yang kredibel. Keempat, sertifikat digital yang mencantumkan nama donatur, jenis pohon, jumlah pohon, lokasi tanam, dan tanggal penanaman. Kelima, laporan keuangan yang audit dan dipublikasikan secara terbuka, menunjukkan berapa persen dari donasi yang benar-benar sampai ke program penanaman pohon setelah dikurangi biaya operasional.


Rekomendasi Artikel :

  1. Ekologi dalam Islam: 25 Ayat Al-Quran tentang Lingkungan
    • “panduan lengkap ekologi dalam Al-Quran”
  2. 10 Ayat tentang Air dalam Al-Quran
    • “ayat tentang air sebagai sumber kehidupan”
  3. Tafsir QS Yasiin 80: Api dari Pohon Hijau
    • “tafsir lengkap QS Yasiin 80 tentang fotosintesis”
  4. Khalifah Fil Ardh: 7 Tanggung Jawab Muslim terhadap Bumi
    • “tanggung jawab khalifah dalam menjaga hutan”

Refferensi :

Global Forest Watch Indonesia Data

FAO State of the World’s Forests 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca