Share

bacaan shalat lengkap dengan teks arab latin dan terjemahan

7 Bacaan Shalat Lengkap & Benar — Panduan Wajib Umat Muslim

Pendahuluan

Shalat adalah ibadah paling utama dalam Islam dan menjadi tiang agama. Namun shalat yang diterima bukan hanya soal gerakan, melainkan juga bacaan yang diucapkan dengan benar dan khusyuk. Sebagian umat Muslim, terutama para mualaf dan generasi muda, masih merasa tidak yakin apakah bacaan shalat mereka sudah tepat sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Artikel ini menyajikan seluruh bacaan shalat lengkap — dari takbiratul ihram hingga salam — beserta teks Arab, latin, dan terjemahan yang nyaman dibaca, dilengkapi dalil shahih dan penjelasan ulama mazhab Syafi’i.


Pengertian Bacaan Shalat

Bacaan shalat adalah lafal-lafal yang diucapkan selama pelaksanaan shalat, mulai dari takbiratul ihram hingga salam. Dalam fikih Syafi’i, bacaan terbagi menjadi dua jenis:

Rukun qauli (wajib, batal shalat jika ditinggalkan): takbiratul ihram dan membaca Surah Al-Fatihah di setiap rakaat.

Sunnah qauli (dianjurkan, tidak batal jika ditinggalkan): doa iftitah, ta’awudz, amin, surat setelah Al-Fatihah, dzikir ruku’, dzikir sujud, tasyahud awal, shalawat, dan doa sebelum salam.


Hukum Membaca Bacaan Shalat dalam Islam

Membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat hukumnya wajib/fardhu menurut mazhab Syafi’i. Tanpa membacanya, shalat tidak sah. Adapun bacaan lainnya seperti doa iftitah dan dzikir-dzikir sunah berstatus sunnah muakkadah — sangat dianjurkan untuk meraih kesempurnaan shalat.


Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Dalil Kewajiban Membaca Al-Fatihah

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Lā ṣalāta li man lam yaqra’ bi fātiḥatil kitāb

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394)

Dalil Perintah Mengikuti Shalat Nabi

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Ṣallū kamā ra’aitumūnī uṣallī

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari no. 631)


7 Bacaan Shalat Lengkap dari Awal hingga Akhir

1. Takbiratul Ihram

اللَّهُ أَكْبَرُ

Allāhu Akbar

“Allah Maha Besar.”

Hukum: Rukun shalat — wajib diucapkan dengan lisan dan niat dalam hati bersamaan.


2. Doa Iftitah (Sunnah)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Subḥānakallāhumma wa biḥamdik, wa tabārakasmuk, wa ta’ālā jadduk, wa lā ilāha ghairuk

“Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Maha Berkah nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 775, Tirmidzi no. 243 — hasan)

Dibaca pelan (sirr) setelah takbiratul ihram sebelum ta’awudz.


3. Ta’awudz dan Basmalah

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A’ūdzu billāhi minasy syaiṭānir rajīm

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bismillāhir raḥmānir raḥīm

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”


4. Surah Al-Fatihah (Wajib di Setiap Rakaat)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

Bismillāhir raḥmānir raḥīm (1) Al-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn (2) Ar-raḥmānir raḥīm (3) Māliki yaumid dīn (4) Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn (5) Ihdinaṣ ṣirāṭal mustaqīm (6) Ṣirāṭalladzīna an’amta ‘alaihim ghairil maghḍūbi ‘alaihim wa laḍ ḍāllīn (7)

Terjemahan: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

Setelah Al-Fatihah, makmum maupun munfarid mengucapkan آمِيْن (Āmīn) dengan suara pelan menurut mazhab Syafi’i.


5. Bacaan Ruku’

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

Subḥāna rabbiyal ‘aẓīm

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.” (HR. Muslim no. 772)

Dibaca minimal 3 kali. Sunnah dibaca 7 atau 10 kali pada shalat malam.

Setelah ruku’, saat i’tidal:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Rabbanā wa lakal ḥamdu ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh

“Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah.”


6. Bacaan Sujud

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

Subḥāna rabbiyal a’lā

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.” (HR. Muslim no. 772)

Dibaca minimal 3 kali pada setiap sujud.

Duduk di antara dua sujud:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي

Rabbighfir lī warḥamnī wajburnī warfa’nī warzuqnī wahdinī wa ‘āfinī wa’fu ‘annī

“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku.”


7. Tasyahud Awal dan Akhir serta Salam

Tasyahud (wajib pada rakaat terakhir menurut Syafi’i):

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

At-taḥiyyātul mubārakātuṣ ṣalawātuṭ ṭayyibātu lillāh. As-salāmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan rasūlullāh.

“Segala penghormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan adalah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya terlimpah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan juga tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Muslim no. 403)

Shalawat Ibrahimiyyah (wajib di tasyahud akhir menurut Syafi’i):

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkahilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari no. 3370)

Salam:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

As-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh

“Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah atas kalian.”

Diucapkan dua kali — ke kanan dan ke kiri.


Penjelasan Ulama Mazhab Syafi’i

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menegaskan bahwa membaca Al-Fatihah adalah rukun shalat yang tidak bisa digugurkan oleh apapun kecuali udzur syar’i. Bagi yang belum hafal Al-Fatihah, wajib menggantinya dengan 7 ayat lain dari Al-Qur’an sebagai pengganti sementara dan tetap wajib segera menghafalnya.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa bacaan shalat harus diiringi dengan hudhurul qalb (kehadiran hati). Mengucapkan lafal tanpa memahami maknanya adalah cacat batin dalam ibadah, meskipun shalat tetap sah secara hukum.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj menjelaskan bahwa tuma’ninah — diam sejenak pada setiap gerakan shalat — adalah rukun fi’li yang wajib, dan bacaan yang diucapkan harus jatuh pada fase tuma’ninah agar dianggap sah.


Kondisi Khusus

Tidak hafal Al-Fatihah: Wajib membaca terjemahan dalam bahasa yang dimengerti sebagai darurat, namun wajib segera menghafalkan Al-Fatihah. Ini adalah pendapat yang dirajihkan dalam fikih Syafi’i kontemporer.

Shalat dengan suara keras (jahr) atau pelan (sirr): Shalat Subuh, Maghrib, dan Isya’ dibaca keras pada rakaat yang disunnahkan jahr. Shalat Dzuhur dan Ashar seluruhnya dibaca sirr (pelan). Bacaan makmum selalu pelan kecuali saat imam meminta makmum menjawab.

Bacaan orang yang terbata-bata: Seseorang yang karena udzur tidak bisa mengucapkan huruf Arab dengan sempurna, shalat tetap sah dan tidak wajib mengulang. Ia tetap dianjurkan belajar.


Panduan Praktis

Untuk membantu menghafalkan bacaan shalat secara sistematis, ikuti urutan berikut:

Pertama, hafal Al-Fatihah terlebih dahulu karena ini satu-satunya yang wajib. Kedua, hafalkan tasyahud akhir dan shalawat Ibrahimiyyah karena keduanya wajib di rakaat terakhir menurut Syafi’i. Ketiga, setelah dua kewajiban di atas dikuasai, tambahkan doa iftitah, dzikir ruku’, dzikir sujud, dan doa duduk antara dua sujud satu per satu.

Jangan mencoba menghafal semua sekaligus. Fokus pada satu bacaan per hari, ulangi dalam setiap shalat, dan dalam dua pekan semua bacaan shalat akan tertanam kuat.


Kesimpulan

Bacaan shalat bukan sekadar lafal formalitas. Ia adalah dialog langsung seorang hamba dengan Allah ﷻ. Memahami setiap bacaan — dari takbiratul ihram yang menyatakan keagungan Allah hingga salam yang menutup pertemuan itu — adalah kunci shalat yang bukan hanya sah, tetapi juga bermakna dan khusyuk.

Untuk memahami konteks lebih lengkap, pelajari juga niat shalat 5 waktu yang benar, syarat sah shalat yang wajib dipenuhi, dan rukun shalat secara lengkap agar ibadah Anda sempurna dari segala sisi.


FAQ

1. Apakah bacaan doa iftitah wajib dibaca? Tidak. Doa iftitah hukumnya sunnah muakkadah. Meninggalkannya tidak membatalkan shalat, namun mengurangi kesempurnaan ibadah.

2. Bolehkah membaca surat selain Al-Fatihah di setiap rakaat? Membaca surat setelah Al-Fatihah adalah sunnah pada rakaat pertama dan kedua. Adapun rakaat ketiga dan keempat, cukup Al-Fatihah saja kecuali imam menghendaki lain berdasarkan riwayat tertentu.

3. Apa hukumnya jika lupa bacaan tasyahud awal? Tasyahud awal dalam mazhab Syafi’i termasuk wajib shalat (bukan rukun). Bila terlupa dan sudah berdiri, tidak perlu kembali dan diganti dengan sujud sahwi di akhir shalat.

4. Berapa kali minimal membaca dzikir ruku’ dan sujud? Minimal sekali lafal yang sempurna. Namun para ulama Syafi’iyyah menganjurkan minimal tiga kali agar tuma’ninah terpenuhi dengan sempurna.

5. Apakah boleh membaca doa sebelum salam dalam bahasa Indonesia? Boleh, sebagai doa tambahan setelah membaca doa shahih berbahasa Arab. Dalam mazhab Syafi’i, doa sunnah tambahan boleh dengan bahasa apapun asalkan tidak menggantikan lafal wajib.


Referensi

  1. Al-Nawawi, Yahya ibn Sharaf. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Dar al-Fikr.
  2. Al-Haitami, Ibn Hajar. Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj. Al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra.
  3. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin. Dar al-Ma’rifah.
  4. Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari. Dar Thuq al-Najah.
  5. Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
  6. Abu Dawud, Sulaiman ibn al-Asy’ats. Sunan Abi Dawud. Al-Maktabah al-Asriyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca