Propaganda ekstremisme mengalami peningkatan signifikan dalam ruang digital Indonesia. Laporan BNPT 2024 menunjukkan 62% sebaran konten radikalisme terjadi melalui media sosial, terutama WhatsApp, TikTok, dan YouTube. Sementara itu, riset Kominfo menemukan 1.850 konten ekstremisme terdeteksi dan diturunkan hanya dalam satu semester.
Di tengah derasnya arus disinformasi, ujaran kebencian, dan propaganda kekerasan, counter narrative ekstremisme menjadi strategi kritis yang harus dipahami: bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh pendidik, komunitas, pembuat konten, dan publik luas.
Artikel ini memberikan kerangka praktis, contoh nyata, studi kasus Indonesia, serta metode implementasi yang terbukti efektif berdasarkan standar BNPT, Kemenag, dan UNDP.
1. Memahami Esensi Counter Narrative Ekstremisme
Counter narrative ekstremisme adalah upaya memproduksi narasi positif untuk menandingi pesan kebencian, intoleransi, radikalisme, dan kekerasan yang disebarkan kelompok ekstrem.
Mengapa penting?
- Mencegah audiens netral masuk ke “lorong radikalisasi”
- Menginterupsi propaganda kekerasan
- Mengembalikan ruang diskusi menjadi sehat
- Membangun imunitas kognitif publik
Menurut Kepala BNPT, Komjen Rycko Amelza Dahniel:
“Narasi tandingan adalah vaksin sosial. Ia membangun daya tahan masyarakat terhadap propaganda ekstremisme.”
(BNPT, 2024)
Karakteristik narasi ekstremisme
- Hitam-putih (binary thinking)
- Mengklaim kebenaran tunggal
- Menggunakan ayat/retorika agama secara parsial
- Menawarkan musuh bersama
- Memancing emosi (marah, takut, bangga)
Memahami pola ini penting sebelum membangun narasi tandingannya.
2. Kerangka Kerja Counter Narrative Ekstremisme (CNE Framework)
Framework berikut digunakan BNPT, Google Jigsaw, dan UNDP sebagai model global pencegahan radikalisme.
A. Identify
Kenali jenis konten ekstremisme:
- Kebencian antaragama
- Aksi kekerasan sebagai solusi
- Klaim “agama sedang diserang”
- Narasi khilafah yang anti-NKRI
- Demonisasi kelompok minoritas
Contoh:
Konten viral 2023 yang menuduh kelompok agama tertentu ingin “menguasai pemerintah” padahal informasi tersebut hoax.
B. Understand the Audience
Segmentasi:
- Remaja pencari identitas
- Pengguna internet baru
- Kelompok terpinggirkan
- Audiens religius konservatif
- Komunitas yang sering menerima hoax
Setiap segmen membutuhkan gaya bahasa yang berbeda.
C. Build Counter Message
Gunakan pesan yang:
- Positif (bukan menyerang balik)
- Berbasis data dan regulasi
- Memperkuat akal sehat
- Mengajak dialog
- Meningkatkan rasa aman
D. Select Channels
Rekomendasi kanal distribusi:
- TikTok (narrative micro-content)
- YouTube (long-form explainers)
- WhatsApp (infografis singkat)
- Instagram Reels (storytelling)
- Komunitas offline (kajian, forum pemuda)
E. Measure Impact
Gunakan indikator:
- Engagement positif
- Penurunan share hoax
- Diskusi konstruktif meningkat
- Jumlah laporan konten ekstrem turun
3. Studi Kasus Indonesia: Counter Narrative Ekstremisme yang Terbukti Efektif
Studi kasus berikut menggambarkan bagaimana berbagai lembaga di Indonesia mengembangkan counter narrative ekstremisme (CNE) yang konkret, terukur, dan relevan dengan konteks lokal. Ketiganya menunjukkan bahwa kolaborasi lintas aktor, pemanfaatan media digital, serta narasi keagamaan yang moderat mampu menekan pengaruh narasi kebencian dan kekerasan di ruang publik.
3.1 Case 1: “Narasi Damai BNPT” – YouTube Series
Program “Narasi Damai” yang diinisiasi oleh BNPT bersama kreator YouTube lokal menjadi contoh bagaimana institusi negara dapat memanfaatkan kanal digital populer untuk mendorong literasi kritis dan penolakan terhadap ajakan kekerasan.
3.1.1 Konsep dan Strategi Konten
BNPT tidak memilih pendekatan ceramah yang kaku, tetapi mengemas pesan dalam bentuk video 4–7 menit yang:
- Menjelaskan cara mengenali ajakan kekerasan yang disamarkan dalam bahasa keagamaan, nasionalisme, atau solidaritas kelompok.
- Menggambarkan pola rekrutmen kelompok ekstrem yang sering menggunakan teknik pertemanan, empati palsu, dan “kaderisasi sunyi”.
- Menunjukkan contoh skenario keseharian, misalnya ajakan bergabung ke grup tertutup, konsumsi konten eksklusif, atau tekanan sosial untuk “membuktikan” iman melalui tindakan ekstrem.
Pendekatan ini membuat pesan terasa dekat dengan pengalaman anak muda yang akrab dengan dunia digital, sehingga mereka lebih mudah mengidentifikasi tanda-tanda awal paparan radikalisasi.
3.1.2 Format Video dan Distribusi Digital
Karakteristik utama YouTube series ini antara lain:
- Durasi 4–7 menit: cukup singkat untuk menjaga atensi, namun cukup panjang untuk memberikan penjelasan argumentatif.
- Gaya visual dinamis: kombinasi talking head, ilustrasi, animasi sederhana, dan contoh tangkapan layar (blurred) untuk memperlihatkan pola narasi ekstrem.
- Bahasa yang membumi: menggunakan bahasa sehari-hari, bukan jargon teknis, sehingga dapat dipahami pelajar, mahasiswa, hingga orang tua.
Distribusi dilakukan melalui:
- Kanal YouTube resmi dan kolaborasi dengan kreator lokal.
- Cross-posting ke platform lain (Instagram, TikTok, dan WhatsApp) melalui potongan video pendek.
3.1.3 Dampak Terukur Program
Program ini menunjukkan hasil yang dapat diukur secara kuantitatif:
- 4 juta tayangan: menandakan jangkauan audiens yang luas, terutama di kalangan pengguna internet aktif.
- 20.000 komentar positif: menunjukkan keterlibatan audiens yang tidak hanya menonton pasif, tetapi juga mengapresiasi, bertanya, dan berbagi pengalaman.
- Konten ekstrem yang ditandai turun 18%: menggambarkan bahwa setelah kampanye berjalan, ada penurunan laporan atau penandaan (report/flag) konten ekstrem di ekosistem yang dipantau.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa ketika edukasi dilakukan secara terstruktur dan konsisten, publik menjadi lebih kritis terhadap narasi kekerasan dan lebih aktif melaporkannya.
3.1.4 Insight Praktis dari Case “Narasi Damai”
Beberapa pelajaran penting:
- Kolaborasi negara–kreator lokal efektif untuk menjangkau audiens yang sulit disentuh kampanye formal.
- Format video pendek edukatif dapat menjadi bentuk CNE yang sangat relevan untuk generasi digital.
- Pengukuran dampak (tayangan, komentar, penurunan konten ekstrem) penting untuk memastikan kampanye tidak berhenti pada seremonial, tetapi benar-benar mengubah perilaku pengguna.
3.2 Case 2: NU & Muhammadiyah – Narasi Keagamaan Moderat
Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, memainkan peran strategis dalam membangun narasi keagamaan moderat yang menyeimbangkan gelombang retorika kebencian.
3.2.1 Narasi “Agama sebagai Rahmat”
Keduanya konsisten menguatkan gagasan bahwa:
- Agama adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan instrumen untuk membenci atau menghapus keberadaan kelompok lain.
- Keimanan tidak diukur dari seberapa keras seseorang memusuhi pihak lain, tetapi dari seberapa jauh ia menghadirkan kebaikan dan keadilan.
Narasi ini dijalankan melalui:
- Pengajian, khutbah, dan kajian rutin yang disiarkan secara langsung maupun direkam.
- Buku panduan, modul dakwah, dan materi tarbiyah yang menekankan sikap adil, proporsional, dan penuh kasih.
- Aktivitas sosial lintas kelompok, seperti bakti sosial, pendidikan, dan layanan kesehatan yang terbuka bagi semua.
3.2.2 Respons terhadap Retorika Kebencian
NU dan Muhammadiyah tidak hanya membangun narasi positif, tetapi juga secara eksplisit merespons retorika kebencian yang menyebut:
- Ada agama tertentu yang “mengancam mayoritas”.
- Kelompok berbeda keyakinan sebagai “musuh utama” yang harus dilawan.
Respons diberikan dalam bentuk:
- Pernyataan resmi yang menegaskan komitmen pada NKRI, Pancasila, dan kerukunan antarumat beragama.
- Fatwa, rekomendasi, atau sikap keagamaan yang meluruskan pemahaman tentang jihad, toleransi, dan hubungan antaragama.
- Keterlibatan aktif dalam forum dialog kebangsaan dan dialog lintas iman.
3.2.3 Dampak terhadap Penurunan Hoaks Keagamaan
Menurut data yang dirilis oleh MAFINDO tahun 2023, hoaks yang mengusung narasi “agama tertentu mengancam mayoritas” mengalami penurunan signifikan. Hal ini dapat dibaca sebagai:
- Meningkatnya imunitas publik terhadap narasi ketakutan yang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu.
- Menguatnya kepercayaan terhadap rujukan keagamaan arus utama yang moderat, terutama ketika NU dan Muhammadiyah secara konsisten hadir dengan pesan penyejuk.
Secara praktis, ini menunjukkan bahwa CNE tidak selalu harus berbentuk bantahan langsung; memperkuat narasi moderat secara terus-menerus sudah merupakan bentuk counter narrative yang sangat efektif.
3.2.4 Insight Praktis dari Peran NU & Muhammadiyah
Pelajaran penting:
- Institusi keagamaan arus utama memiliki legitimasi tinggi untuk melawan narasi ekstrem.
- Konsistensi narasi moderat dari mimbar ke ranah digital menciptakan “ruang aman” bagi umat untuk tidak terjebak pada ajakan kebencian.
- Kolaborasi dengan media, sekolah, dan komunitas muda membuat pesan moderasi menjangkau generasi baru yang aktif di media sosial.
3.3 Case 3: FKUB Kota Depok – Kampanye “Teman Lintas Iman”
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok mengembangkan kampanye “Teman Lintas Iman” sebagai bentuk CNE yang menonjolkan pengalaman pertemanan dan dialog antaragama dalam format yang ringan dan mudah dicerna.
3.3.1 Konsep Kampanye “Teman Lintas Iman”
Kampanye ini mengusung gagasan bahwa:
- Kerukunan bukan hanya konsep normatif, tetapi pengalaman sehari-hari dalam bentuk pertemanan lintas iman.
- Dialog tidak selalu harus formal; percakapan santai tentang kehidupan, keluarga, dan cita-cita bisa menjadi jembatan penting.
Konsep ini dikemas dalam:
- Video pendek dialog lintas agama yang menampilkan dua atau lebih anak muda dari latar keyakinan berbeda.
- Obrolan tentang tema-tema ringan dan relevan: pertemanan, sekolah, pekerjaan, dan pengalaman berinteraksi dengan perbedaan.
3.3.2 Format Video dan Distribusi
Ciri utama kontennya:
- Durasi singkat, sehingga cocok untuk platform Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts.
- Visual yang santai: syuting di kafe, taman kota, kampus, atau rumah ibadah yang dibingkai dengan kesan hangat.
- Tidak menggunakan bahasa teologis berat, tetapi tetap menyisipkan nilai penghormatan terhadap perbedaan iman.
Distribusi dilakukan melalui:
- Kanal resmi FKUB dan akun media sosial mitra komunitas.
- Kerja sama dengan sekolah, kampus, dan komunitas pemuda untuk menyebarkan video di lingkungan masing-masing.
3.3.3 Dampak Program di Masyarakat dan Pendidikan
Kampanye ini mencatat beberapa capaian penting:
- Viral dengan 1,2 juta tayangan: menunjukkan bahwa tema toleransi dan pertemanan lintas iman bisa menjadi konten menarik jika dikemas dengan tepat.
- Digunakan oleh 40 sekolah sebagai materi ajar: memperlihatkan bahwa konten digital CNE dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan formal.
Pemanfaatan di sekolah biasanya dalam bentuk:
- Materi diskusi di kelas Pendidikan Agama, PPKn, atau Bimbingan Konseling.
- Pemicu percakapan tentang pengalaman siswa bergaul dengan teman berbeda keyakinan.
- Contoh positif untuk melawan stereotip negatif terhadap kelompok agama lain.
3.3.4 Insight Praktis dari Kampanye FKUB Depok
Beberapa insight kunci:
- CNE yang berbasis pengalaman nyata dan pertemanan lebih mudah menyentuh aspek emosional audiens, khususnya remaja.
- Kolaborasi FKUB dengan sekolah menjadikan upaya CNE bagian dari proses pendidikan karakter, bukan hanya kampanye sesaat.
- Format video pendek yang humanis dan ringan terbukti efektif meredam narasi yang menakut-nakuti atau memusuhi “yang berbeda”.
3.4 Pelajaran Umum dari Tiga Studi Kasus
Dari ketiga studi kasus di atas, terdapat pola keberhasilan CNE di Indonesia yang dapat disarikan sebagai berikut:
- Menggunakan media digital populer (YouTube, TikTok, Instagram) dengan format yang sesuai perilaku konsumsi konten anak muda.
- Mengandalkan narasi moderat dan inklusif, bukan sekadar bantahan teknis, sehingga menyentuh dimensi etis dan emosional.
- Melibatkan aktor kredibel: lembaga negara, ormas keagamaan besar, serta forum kerukunan yang dekat dengan komunitas lokal.
- Mengukur dampak secara kuantitatif (tayangan, komentar, penurunan hoaks, pemanfaatan di sekolah) untuk memastikan efektivitas jangka panjang.
Studi kasus ini dapat menjadi rujukan praktis bagi lembaga, komunitas, maupun kreator konten yang ingin mengembangkan strategi counter narrative ekstremisme berbasis data, narasi positif, dan berkelanjutan.
4. Langkah Praktis Counter Narrative Ekstremisme (5–7 Langkah Utama)
Bagian ini memetakan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan oleh jurnalis, pengelola komunitas, humas lembaga, maupun pegiat media sosial ketika berhadapan dengan narasi ekstremisme di ruang digital. Fokusnya adalah pada strategi yang sistematis, terukur, dan tetap mengedepankan etika komunikasi publik.
1. Identifikasi Narasi Ekstrem yang Muncul
Langkah pertama adalah mengenali secara tepat bentuk, pola, dan kanal penyebaran narasi ekstremisme yang beredar.
a. Memetakan Kanal Penyebaran Utama
Beberapa ruang digital yang perlu dipantau secara rutin:
- Grup WhatsApp
- Grup keluarga, pertemanan, RT/RW, komunitas hobi, dan grup pengajian/komunitas keagamaan.
- Sering menjadi jalur penyebaran konten broadcast yang sulit dilacak sumber pertamanya.
- TikTok FYP (For You Page)
- Algoritma menampilkan konten berdasarkan interaksi pengguna; konten ekstrem yang sering ditonton/di-like dapat muncul berulang.
- Perhatikan video yang mengandung ujaran kebencian, glorifikasi kekerasan, atau narasi “kami vs mereka”.
- Kolom Komentar YouTube
- Menjadi ruang perdebatan ideologis yang sering tidak terkontrol.
- Komentar bisa lebih radikal daripada konten videonya.
- Forum dan Platform Diskusi
- Grup Facebook tertutup, forum anonim, channel Telegram, dan platform diskusi lainnya.
- Sering menjadi ruang koordinasi penyebaran narasi tertentu secara terstruktur.
b. Mengidentifikasi Ciri Narasi Ekstrem
Beberapa indikator narasi ekstrem yang perlu diwaspadai:
- Mengandung ajakan kebencian terhadap kelompok agama, etnis, atau negara tertentu.
- Menggunakan bahasa absolut: “wajib memusuhi”, “tidak boleh hidup berdampingan”, “mereka musuh agama”.
- Mengglorifikasi kekerasan atau tindakan ilegal sebagai bentuk “pembelaan agama/ideologi”.
- Menolak legitimasi negara, konstitusi, dan aturan bersama dengan narasi hitam-putih.
c. Mencatat Pola dan Target
Setiap kali menemukan narasi ekstrem, buat catatan sederhana:
- Siapa target yang diserang (agama, kelompok, institusi).
- Format narasinya (meme, video, teks panjang, kutipan tokoh, potongan ceramah).
- Frekuensi kemunculan dan seberapa sering di-forward atau dibagikan.
Data ini penting untuk menyusun pesan tandingan yang relevan dan tepat sasaran.
2. Lakukan Verifikasi Cepat
Setelah mengidentifikasi narasi, jangan langsung menanggapinya. Langkah berikutnya adalah memeriksa akurasi informasi.
a. Menggunakan Platform Cek Fakta
Beberapa rujukan utama untuk verifikasi cepat:
- TurnBackHoax (MAFINDO)
- Memiliki arsip hoaks yang sangat besar, termasuk isu agama dan politik.
- Banyak hoaks berulang; seringkali konten lama diedarkan lagi dengan konteks baru.
- Situs dan Kanal Resmi Kominfo
- Menyediakan klarifikasi resmi terkait isu-isu nasional, termasuk kabar bohong atau manipulatif.
- Rubrik Cek Fakta Media Arus Utama
- Beberapa media nasional memiliki tim cek fakta yang memverifikasi klaim tertentu, termasuk yang beririsan dengan isu keagamaan dan ekstremisme.
b. Cross-check Sumber Primer
Selain portal cek fakta, lakukan pengecekan langsung ke sumber primer:
- Lembaga keagamaan resmi (MUI, PGI, KWI, Walubi, PHDI, dan lain-lain).
- Lembaga pemerintah terkait (Kemenag, BNPT, Kepolisian, Pemerintah Daerah).
- Pernyataan resmi tokoh atau lembaga melalui situs atau akun media sosial terverifikasi.
c. Prinsip Verifikasi Cepat dan Bertanggung Jawab
- Dahulukan akurasi daripada kecepatan merespons.
- Jika informasi masih abu-abu, gunakan bahasa yang hati-hati:
- Misalnya: “Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi…”
- Hindari memperkuat hoaks dengan mengulang narasinya tanpa konteks klarifikasi.
3. Susun Pesan Tandingan Berbasis Data
Setelah verifikasi, susun counter narrative yang kuat, singkat, dan kredibel.
a. Mengawali dengan Fakta Resmi
Bangun pesan tandingan dengan struktur logis:
- Jelaskan singkat narasi yang beredar (tanpa memviralkan ulang).
- Sajikan fakta resmi yang mematahkan klaim tersebut.
- Tunjukkan bukti berupa data, pernyataan, atau dokumen.
Contoh:
- “Informasi yang beredar bahwa rumah ibadah X akan dibongkar secara sepihak adalah tidak benar. Berdasarkan klarifikasi dari [nama lembaga], proses yang terjadi adalah…”
b. Merujuk Regulasi yang Berlaku
Regulasi membantu menguatkan otoritas pesan. Misalnya:
- PBM 2006 tentang Kerukunan Umat Beragama
- Bisa dijadikan rujukan saat menjelaskan mekanisme pendirian rumah ibadah, peran FKUB, dan pentingnya dialog lokal.
- Peraturan perundang-undangan lain yang relevan dengan kebebasan beragama, penanggulangan terorisme, dan ketertiban umum.
Sertakan kutipan inti regulasi dengan bahasa yang disederhanakan agar mudah dipahami publik.
c. Menggunakan Pendapat Tokoh Otoritatif
Tokoh otoritatif memperkuat daya persuasi pesan:
- Ulama, pendeta, pastor, bhikkhu, rohaniawan, atau pemuka agama yang dikenal moderat.
- Akademisi dan peneliti yang fokus pada studi agama dan radikalisme.
- Pejabat publik atau tokoh masyarakat yang diterima lintas kelompok.
Berikan kutipan singkat yang:
- Menegaskan bahwa kekerasan atau kebencian tidak dibenarkan oleh ajaran agama.
- Mengajak publik untuk tenang, tidak mudah terpancing, dan mengandalkan kanal resmi.
d. Menyusun Format Pesan yang Terstruktur
Gunakan pola sederhana:
- Masalah: Jelaskan narasi ekstrem yang beredar.
- Klarifikasi: Tampilkan data, regulasi, dan pendapat otoritatif.
- Ajakan: Dorong audiens untuk memverifikasi sebelum menyebarkan dan menjaga kerukunan.
4. Gunakan Tone Positif
Pemilihan nada berkomunikasi sangat menentukan apakah pesan tandingan akan diterima atau ditolak.
a. Menghindari Konfrontasi Langsung
- Jangan menyerang balik pihak penyebar narasi ekstrem secara personal.
- Hindari labeling seperti “bodoh”, “sesat”, atau “pengkhianat bangsa”.
- Fokus pada isi pesan, bukan pada individu atau kelompoknya.
b. Mengutamakan Klarifikasi, Bukan Perdebatan
Gunakan bahasa:
- Menjelaskan: “Faktanya…”, “Data menunjukkan…”.
- Mengajak: “Mari kita cek kembali…”, “Sebelum membagikan, ada baiknya…”.
- Menenangkan: “Situasi ini dapat disikapi dengan tenang dan bijak…”.
Tone positif membantu:
- Menurunkan tensi emosi pembaca.
- Mengurangi rasa diserang atau dipermalukan.
- Membuka ruang dialog dan bukan pertengkaran.
c. Menyisipkan Nilai Kebersamaan
Kaitkan pesan dengan nilai bersama:
- Persatuan bangsa.
- Kerukunan antarumat beragama.
- Kepatuhan terhadap hukum dan konstitusi.
Ini membuat pesan tandingan terasa inklusif, bukan milik satu kelompok saja.
5. Buat Format yang Mudah Dicerna
Konten tandingan yang baik harus mudah dipahami dan mudah dibagikan.
a. Video Pendek 30–45 Detik
- Format ideal untuk TikTok, Reels, dan Shorts.
- Fokus pada satu pesan utama: misalnya klarifikasi satu hoaks atau satu ajakan moderasi.
- Gunakan teks di layar (subtitle) agar tetap terbaca meskipun tanpa suara.
Struktur singkat:
- Hook: “Belakangan ini beredar kabar bahwa…”
- Klarifikasi: “Setelah dicek ke [sumber], informasi ini ternyata…”
- Ajakan: “Cek dulu sebelum sebarkan, jaga ruang digital kita tetap sehat.”
b. Carousel Instagram
- Gunakan 5–7 slide dengan alur:
- Slide 1: Judul dan konteks.
- Slide 2–4: Fakta dan data.
- Slide 5–6: Kutipan tokoh/regulasi.
- Slide 7: Ajakan dan call-to-action.
- Desain bersih, teks tidak terlalu panjang, dan gunakan poin-poin utama.
c. Poster WhatsApp
- Format gambar 1 halaman dengan teks ringkas.
- Cocok untuk dibagikan di grup keluarga, RT, komunitas pengajian, dan lain-lain.
- Sertakan: judul, 3–5 poin klarifikasi, logo lembaga/komunitas (jika ada), dan ajakan singkat.
d. Narasi Storytelling
- Gunakan cerita singkat tentang seseorang atau komunitas yang terdampak hoaks/ekstremisme.
- Tunjukkan bagaimana klarifikasi dan dialog mampu meredakan konflik.
- Storytelling membantu audiens merasa dekat dan terlibat secara emosional.
6. Libatkan Figur Kredibel
Pesan tandingan akan lebih dipercaya jika disampaikan oleh orang yang sudah dihormati di lingkungan audiens.
a. Ragam Figur yang Dapat Dilibatkan
- Ulama lokal dan pengurus majelis taklim
- Suara mereka sering lebih didengar dibanding akun resmi pemerintah.
- Akademisi dan peneliti
- Menawarkan penjelasan ilmiah dan perspektif yang lebih luas.
- Ketua pemuda gereja, OMK, atau komunitas lintas iman
- Penting untuk membangun kepercayaan lintas agama.
- Bhikkhu, rohaniwan, dan pemuka agama lain
- Menegaskan bahwa semua agama menolak kekerasan dan kebencian.
- Influencer daerah dan micro influencer
- Memiliki kedekatan emosional dan bahasa yang lebih relevan dengan anak muda.
b. Bentuk Keterlibatan
- Menjadi narator dalam video pendek klarifikasi.
- Menyampaikan pernyataan sikap yang kemudian di-cut menjadi konten digital.
- Mengisi sesi live streaming atau diskusi daring untuk membahas isu yang sedang panas.
c. Keuntungan Melibatkan Figur Kredibel
- Meningkatkan tingkat kepercayaan (trust) audiens.
- Memperluas jangkauan pesan ke komunitas yang mungkin sulit dijangkau kanal resmi.
- Mengurangi kesan bahwa counter narrative hanya datang dari “atas” atau dari pihak yang dianggap berjarak dengan masyarakat.
7. Evaluasi Dampak Secara Berkala
Counter narrative yang efektif harus diukur, bukan sekadar diproduksi.
a. Indikator Kinerja Utama (Key Metrics)
- Reach (jangkauan)
- Berapa banyak orang yang melihat konten tandingan.
- Diukur dari statistik platform (impressions, unique reach).
- Retention (durasi menonton/membaca)
- Berapa lama audiens bertahan menyimak konten.
- Menunjukkan apakah konten cukup menarik dan mudah diikuti.
- Komentar positif dan nada diskusi
- Lihat pergeseran nada di kolom komentar:
- Apakah lebih banyak yang mendukung klarifikasi?
- Apakah muncul narasi moderat dan ajakan menahan diri?
- Lihat pergeseran nada di kolom komentar:
- Share rate (tingkat dibagikan)
- Seberapa sering konten tandingan dibagikan ke orang lain.
- Menandakan bahwa audiens menganggap konten itu bermanfaat.
- Report rate (tingkat pelaporan)
- Seberapa banyak pengguna melaporkan konten ekstrem kepada admin grup/platform setelah kampanye berjalan.
- Bisa menjadi indikator meningkatnya literasi kritis pengguna.
b. Analisis Hasil dan Penyesuaian Strategi
- Jika reach tinggi tapi retention rendah: perbaiki pembukaan dan struktur konten.
- Jika komentar banyak tetapi penuh perdebatan toksik: evaluasi kembali tone dan cara menyampaikan pesan.
- Jika share rate rendah: sederhanakan pesan dan buat call-to-action lebih eksplisit, misalnya “Bagikan ke 3 temanmu di grup keluarga”.
c. Siklus Perbaikan Berkelanjutan
Jadikan evaluasi sebagai siklus:
- Produksi konten tandingan.
- Pantau metrik dan respons audiens.
- Identifikasi yang berhasil dan yang belum.
- Perbaiki format, tone, platform, dan kolaborasi figur.
Dengan pola ini, strategi counter narrative terhadap ekstremisme akan semakin matang, relevan, dan efektif dalam menjaga ruang digital tetap sehat dan kondusif bagi kerukunan sosial.
5. Kesalahan Umum dalam Jurnalisme Agama
Praktik jurnalisme agama membutuhkan ketelitian, sensitivitas, serta pemahaman mendalam mengenai keragaman keyakinan. Kesalahan kecil dapat memicu kesalahpahaman publik, memperkeruh relasi antarumat, atau bahkan memperkuat konflik sosial. Berikut penjelasan komprehensif mengenai kesalahan umum yang sering muncul dalam liputan isu keagamaan.
A. Menyederhanakan Doktrin
Banyak jurnalis tergelincir ketika mencoba menjelaskan ajaran agama secara ringkas, tetapi justru menghilangkan kompleksitas internalnya. Setiap agama memiliki ragam tafsir, mazhab, aliran, latar historis, dan konteks otoritatif yang berbeda.
Mengapa ini bermasalah
• Penyederhanaan membuka celah misinformasi dan mengarahkan publik pada pemahaman dangkal.
• Berpotensi menyinggung kelompok internal yang merasa ajarannya direduksi atau disalahartikan.
• Mengabaikan perbedaan lokal, budaya, serta praktik keagamaan yang tidak seragam.
Contoh umum
• Menyebut “ajaran agama X melarang A” tanpa menjelaskan bahwa pendapat tersebut hanya dianut salah satu mazhab.
• Mengklaim “semua umat agama Y melakukan ritual Z” padahal hanya berlaku dalam kelompok tertentu.
Cara menghindari
• Konsultasikan dengan akademisi studi agama atau ahli tafsir.
• Gunakan sumber referensi resmi seperti kitab, lembaga keagamaan, atau badan otoritas terkait.
• Jelaskan keberagaman internal, minimal dengan frasa “bergantung pada mazhab/denominasi tertentu”.
B. Salah Kutip Tokoh Agama
Kesalahan mengutip sering muncul ketika jurnalis mengambil potongan pernyataan tokoh agama tanpa memastikan konteks lengkap, sehingga maknanya berubah atau terdistorsi.
Faktor penyebab
• Mengambil potongan video pendek yang viral di media sosial.
• Tidak mencatat pernyataan secara utuh.
• Mengabaikan konteks forum, audiens, atau pertanyaan awal yang ditujukan kepada tokoh tersebut.
Dampak yang muncul
• Menciptakan kesan seolah tokoh agama mengeluarkan fatwa atau sikap resmi padahal tidak demikian.
• Memicu perdebatan publik yang tidak perlu.
• Menurunkan kredibilitas media karena dianggap manipulatif.
Praktik terbaik
• Verifikasi rekaman lengkap sebelum mengutip.
• Konfirmasi kepada pihak tokoh untuk memastikan pernyataan tidak dipahami secara keliru.
• Tambahkan konteks: waktu, lokasi, jenis forum, serta tema pembahasan.
C. Menggunakan Judul Provokatif
Dalam jurnalisme digital, clickbait sering menggoda redaksi untuk membuat judul yang memicu emosi pembaca. Namun pada liputan agama, praktik ini sangat berisiko.
Bentuk kesalahan
• Judul yang membesar-besarkan konflik antarumat.
• Judul yang menyiratkan permusuhan atau menyudutkan kelompok tertentu.
• Judul yang menampilkan kutipan tokoh keluar dari konteks demi sensasi.
Konsekuensi
• Meningkatkan tensi sosial dan memperburuk persepsi publik.
• Mengarahkan pembaca pada kesimpulan yang salah sebelum membaca isi berita.
• Menimbulkan stigma terhadap komunitas agama tertentu.
Rekomendasi teknis
• Gunakan judul informatif, faktual, dan proporsional.
• Pastikan judul mencerminkan isi berita secara akurat.
• Hindari bahasa hiperbolik seperti “mengamuk”, “menghancurkan”, atau “mengguncang”.
D. Tidak Mengklarifikasi Informasi Viral
Di era media sosial, isu agama sering menjadi bahan hoaks karena sifatnya sensitif dan mudah memicu reaksi emosional. Ketika media mengutip konten viral tanpa verifikasi, informasi keliru menyebar semakin luas.
Karakter umum hoaks agama
• Konten lama yang dipoles seolah kejadian baru.
• Isu perusakan rumah ibadah, penistaan agama, atau penyerangan simbol keagamaan.
• Kutipan palsu dari tokoh agama atau pejabat publik.
Dampak besar
• Memicu kepanikan massal.
• Menyulut kemarahan komunitas tertentu.
• Menggerus kepercayaan publik terhadap media arus utama.
Protokol verifikasi
• Gunakan sumber cek fakta seperti Kominfo, MAFINDO, dan desk redaksi internal.
• Cari referensi dari lembaga keagamaan, aparat keamanan, atau pemerintah daerah.
• Hindari publikasi sampai validitas informasi dipastikan.
E. Bias Agama Tidak Disadari
Bias adalah kecenderungan subjektif yang muncul tanpa disadari ketika jurnalis memberi ruang lebih besar kepada satu kelompok keyakinan dibanding yang lain.
Bentuk bias yang sering terjadi
• Memberi porsi liputan lebih besar pada agama mayoritas.
• Mengangkat isu minoritas hanya saat terjadi konflik atau kasus ekstrem.
• Menggunakan bahasa yang menguntungkan satu kelompok dan merugikan yang lain.
Implikasi publik
• Menciptakan ketidaksetaraan representasi di ruang media.
• Membentuk persepsi keliru bahwa agama tertentu lebih penting atau lebih bermasalah.
• Menghasilkan jurnalisme yang tidak inklusif.
Strategi mengontrol bias
• Gunakan checklist redaksi untuk memastikan keberimbangan sumber.
• Periksa kalimat yang berpotensi menyudutkan atau memihak.
• Sertakan perspektif lintas agama, bukan hanya tokoh mayoritas.
FAQ
1. Apa itu counter narrative ekstremisme?
Narasi tandingan untuk melawan propaganda kebencian, kekerasan, dan radikalisme di ruang digital.
2. Apakah konten biasa bisa menjadi counter narrative?
Bisa, asalkan mengandung nilai moderasi, data valid, dan menetralkan misinformasi.
3. Bagaimana membuat CNE yang efektif?
Gunakan tone positif, data kuat, format menarik, serta distribusi di kanal yang tepat.
Kesimpulan
Counter narrative ekstremisme adalah fondasi penting dalam menjaga ruang digital Indonesia tetap damai, sehat, dan bebas propaganda kekerasan. Dengan memahami pola radikalisasi, menggunakan framework yang tepat, memproduksi pesan positif, dan melibatkan figur kredibel, setiap komunitas dapat berperan dalam membangun ekosistem moderasi beragama.
Takeaways:
- CNE harus berbasis data, regulasi, dan empati
- Format konten harus mengikuti pola konsumsi digital
- Kolaborasi lintas sektor adalah kunci
- Evaluasi dampak harus berkelanjutan
Perkuat narasi damai, sebarkan akal sehat, jaga ruang digital Indonesia.
Baca Juga :
Cara Melawan Hoax Agama
Literasi Digital Anti-Radikalisme











