Pendahuluan: Doa Tanpa Action = Setengah Jalan
Ketika bencana banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh langsung mengeluarkan seruan: shalat ghaib untuk 1.140 korban yang meninggal. Muzakarah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, juga mengajak umat Islam untuk memperbanyak istighfar dan doa.
Tapi tunggu dulu. Apakah cukup dengan doa saja?
Nabi Muhammad SAW mengajarkan sesuatu yang lebih komprehensif: doa harus disertai action. Ketika hujan turun deras, beliau berdoa memohon keberkahan. Tapi ketika ada yang tertimpa musibah, beliau tidak hanya berdoa—beliau turun tangan membantu, mengorganisir bantuan, bahkan mengubah sistem yang menyebabkan kerusakan.
Di artikel ini, kita akan bedah doa-doa bencana alam yang shahih dari Sunnah, plus kritik halus: kenapa kita rajin berdoa tapi ogah benahi akar masalah? Deforestasi 1,4 juta hektar di Aceh-Sumut-Sumbar oleh 631 perusahaan adalah bukti bahwa spiritualitas tanpa aksi ekologi = sia-sia.
Untuk memahami konteks lebih luas, baca artikel lengkap tentang Fikih Lingkungan dalam Islam sebagai fondasi hukum ekologi syariah.
Doa Saat Hujan Deras dan Banjir: Memohon Keberkahan, Bukan Azab
1. Doa Saat Hujan Turun (Sebelum Bencana)
Rasulullah SAW mengajarkan doa ini ketika hujan mulai turun:
Arab:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Latin: Allahumma shayyiban nafi’an
Terjemahan: “Ya Allah, jadikanlah ia hujan yang bermanfaat.”
Sumber: HR. Bukhari no. 1032
Konteks Aplikasi: Doa ini diajarkan Nabi SAW untuk mengubah mindset kita: hujan itu rahmat, bukan azab. Tapi hujan bisa berubah jadi bencana kalau kita rusak hutan yang jadi penyerap air. BMKG mencatat curah hujan ekstrem di Aceh November 2025 mencapai 200-300 mm/hari—ini normal secara klimatologi. Yang tidak normal adalah: kenapa air langsung jadi banjir bandang? Karena hutan sudah gundul.
2. Doa Saat Hujan Berlebihan (Mulai Mengkhawatirkan)
Ketika hujan sudah terlalu deras dan mulai membahayakan, Nabi SAW berdoa:
Arab:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Latin: Allahumma hawalayna wa laa ‘alayna, Allahumma ‘alal-akami wadh-dhirabi, wa buthunil-awdiyati, wa manaabitisy-syajar
Terjemahan: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan (langsung) kepada kami. Ya Allah, (turunkanlah) di atas bukit-bukit, gunung-gunung kecil, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Sumber: HR. Bukhari no. 1013, Muslim no. 897
Tafsir Ekologis: Perhatikan doa ini! Nabi SAW minta hujan turun di “tempat tumbuhnya pepohonan” (manaabitisy-syajar). Ini bukan sekadar doa, tapi pengingat ekologis: hujan aman kalau ada pohon yang menyerap. Kalau hutannya sudah ditebang untuk sawit dan tambang, lalu kita berdoa “jangan hujan di sini,” apakah Allah akan kabulkan? Atau Allah justru ingatkan kita lewat bencana ini: “Kalian sudah tebang pohon-pohon-Ku, sekarang hadapi konsekuensinya?”

3. Doa Setelah Bencana Terjadi (Musibah)
Ketika musibah sudah menimpa, kita diajarkan untuk bersabar dan mengucapkan:
Arab:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Latin: Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un, Allahumma-jurni fi mushībati, wa akhlif li khayran minha
Terjemahan: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantilah aku dengan yang lebih baik darinya.”
Sumber: HR. Muslim no. 918
Catatan Penting: Doa ini BUKAN berarti pasrah tanpa usaha. Setelah mengucapkan ini, Nabi SAW dan para sahabat langsung bergerak: bantu korban, distribusikan harta, bahkan ubah kebijakan. Contoh: setelah perang Uhud (musibah besar bagi Muslim), Nabi SAW tidak hanya berdoa—beliau evaluasi strategi perang, perbaiki komunikasi, dan latih pasukan lebih keras.
Shalat Ghaib untuk Korban Bencana: Hukum dan Tata Cara
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui MPU Aceh mengeluarkan seruan shalat ghaib untuk 1.140 korban bencana Aceh 2025. Ini bukan bid’ah, tapi ada landasannya dalam Sunnah.
Dalil Shalat Ghaib
Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat ghaib untuk Raja Najasyi (penguasa Habasyah yang melindungi Muslim) ketika beliau meninggal:
“Sesungguhnya saudaramu Najasyi telah meninggal, maka shalatlah (ghaib) untuknya.” (HR. Bukhari no. 1333, Muslim no. 951)
Hukum Shalat Ghaib Menurut Ulama
Mazhab Syafi’i: Sunnah muakkad (sangat dianjurkan) untuk orang shalih yang meninggal jauh dan belum dishalatkan.
Mazhab Hanafi & Maliki: Tidak disyariatkan, kecuali untuk orang yang punya keutamaan khusus seperti Najasyi.
Mazhab Hanbali: Boleh untuk semua Muslim yang meninggal jauh.
Pendapat MPU Aceh: Korban bencana Aceh termasuk kategori syuhada’ dunia (tidak perlu dimandikan, langsung dikafani dan dimakamkan). Shalat ghaib untuk mereka adalah bentuk penghormatan dan doa agar husnul khatimah.
Tata Cara Shalat Ghaib
- Niat: “Ushalli ‘alal mayyit gha’iban” (Saya shalat ghaib untuk mayit yang jauh)
- Takbir pertama: Baca Al-Fatihah
- Takbir kedua: Baca shalawat Nabi
- Takbir ketiga: Baca doa mayit (lihat di bawah)
- Takbir keempat: Diam sebentar, lalu salam
Doa untuk Mayit (Takbir Ketiga):
Arab:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
Latin: Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘afihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu, waghsilhu bil-ma’i wats-tsalji wal-barad
Terjemahan: “Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berikan kesehatan dan maafkan dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, dan cucilah dia dengan air, salju, dan embun.”
Sumber: HR. Muslim no. 963
Istighfar: Doa atau Pengakuan Dosa Kolektif?
Muzakarah Ulama Aceh juga menekankan memperbanyak istighfar. Tapi apa sebenarnya makna istighfar dalam konteks bencana ekologis?
Istighfar Bukan Sekadar “Astaghfirullah”
Istighfar itu taubat = berhenti dari dosa + perbaiki. Kalau kita cuma bilang “astaghfirullah” tapi besoknya perusahaan tambang tetap buka hutan, apakah itu istighfar?
QS. An-Nuh: 10-12 menjelaskan efek istighfar yang benar:
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untuk kamu.'”
Tafsir Ibnu Katsir: Istighfar di ayat ini bukan hanya ucapan, tapi reformasi sosial. Kaum Nuh diminta untuk:
- Berhenti dari kezhaliman (ظُلْم) = korupsi, eksploitasi
- Perbaiki sistem ekonomi yang eksploitatif
- Jaga lingkungan (kebun dan sungai)
Aplikasi untuk Aceh 2025: Istighfar kolektif kita harusnya berbunyi:
- “Ya Allah, ampuni kami yang diam saat 631 perusahaan rusak hutan.”
- “Ya Allah, ampuni kami yang pilih ekonomi di atas keselamatan rakyat.”
- “Ya Allah, ampuni kami yang tahu deforestasi bahaya tapi tidak berani tegur pemerintah.”

Amalan Sunnah Lain Saat Bencana
1. Sedekah untuk Korban
Hadits:
“Shadaqah dapat menolak 70 pintu keburukan.” (HR. Thabrani, hasan)
Fatwa MUI No.66/2022: Zakat dan infaq boleh untuk korban bencana, prioritas untuk:
- Kebutuhan darurat (makanan, obat, tempat tinggal sementara)
- Pemulihan trauma psikologis
- Rehabilitasi lingkungan pasca bencana
Action Item: Jangan cuma sedekah ke korban, tapi juga sedekah untuk pencegahan: tanam pohon, edukasi mitigasi bencana, lobby pemerintah untuk stop izin tambang di kawasan rawan longsor.
2. Puasa Sunnah (Senin-Kamis)
Beberapa ulama salaf menganjurkan puasa sunnah sebagai bentuk empati kepada korban bencana yang kelaparan, sekaligus introspeksi diri.
3. Memperbanyak Dzikir
Arab:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Latin: Hasbunallahu wa ni’mal wakil
Terjemahan: “Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.”
Sumber: QS. Ali Imran: 173
Dzikir ini dibaca Nabi SAW dan para sahabat saat mereka dalam kondisi terdesak.
Kritik: Doa Tanpa Action = Spiritual Bypassing
Sekarang bagian yang agak “nyelekit” tapi penting disampaikan.
Fenomena “Spiritual Bypassing” di Kalangan Muslim
Spiritual bypassing adalah istilah psikologi untuk menggambarkan: menggunakan spiritualitas untuk menghindari tanggung jawab duniawi.
Contoh di kasus bencana Aceh:
- Kita rajin shalat ghaib, tapi tidak protes saat pemerintah kasih izin tambang baru di kawasan hutan lindung.
- Kita perbanyak istighfar, tapi tidak audit perusahaan-perusahaan perusak hutan.
- Kita berdoa “Ya Allah lindungi kami dari bencana,” tapi tidak tanam pohon atau dukung gerakan lingkungan.
Nabi SAW tidak pernah begini.
Contoh Action Nabi SAW Saat Musibah
1. Perang Khandaq (Musibah Kekeringan Air): Ketika air sumur habis, Nabi SAW tidak hanya berdoa. Beliau berinovasi: gali sumur baru, atur distribusi air, bahkan pakai ludah beliau yang diberkahi untuk bikin air berlimpah (mukjizat).
2. Tahun Ramadah (Paceklik 9 Hijriah): Ketika Madinah kekeringan dan kelaparan, Nabi SAW tidak hanya shalat istisqa (minta hujan). Beliau juga:
- Mobilisasi zakat dan sedekah dari orang kaya
- Atur distribusi pangan secara merata
- Import gandum dari Syam (sekarang Suriah)
3. Kerusakan Lingkungan: Nabi SAW melarang keras menebang pohon sembarangan. Hadits riwayat Abu Dawud:
“Barangsiapa menebang pohon sidrah (pohon besar), Allah akan menundukkan kepalanya ke dalam neraka.”
Ini bukan ancaman kosong. Ini hukum ekologi yang dikemas dalam bahasa agama.
QS. Ar-Rum:41 dan Tanggung Jawab Kita
Mari kita kembali ke ayat yang sering dikutip tapi jarang diamalkan:
Arab:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Terjemahan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Tafsir Ibnu Katsir:
- Kerusakan di darat: deforestasi, erosi tanah, kekeringan
- Kerusakan di laut: overfishing, pencemaran, abrasi
- “Perbuatan tangan manusia”: eksploitasi SDA tanpa aturan syariat
“Supaya mereka kembali” = bencana itu peringatan, bukan hukuman final. Allah kasih kita kesempatan untuk bertaubat dengan action:
- Stop deforestasi → lobby pemerintah cabut izin 631 perusahaan
- Reboisasi → tanam 1 juta pohon di Aceh-Sumut-Sumbar
- Edukasi → kampanye fikih lingkungan di pesantren dan masjid
- Audit → transparansi penggunaan dana bantuan bencana
Panduan Praktis: Doa + Action untuk Bencana Aceh 2025
Checklist Amalan Spiritual (Individual)
✅ Shalat Ghaib untuk 1.140 korban (bisa dilakukan kapan saja)
✅ Istighfar 100x setiap hari (pagi & petang)
✅ Sedekah minimal Rp 50.000 ke lembaga amil terpercaya
✅ Doa Khusus untuk korban dan keluarga mereka
✅ Puasa Senin-Kamis sebagai bentuk empati
Checklist Action Nyata (Kolektif)
✅ Donasi ke lembaga yang transparan (cek audit laporan keuangan)
✅ Volunteering jika mampu ke lokasi bencana
✅ Kampanye Media Sosial untuk kesadaran deforestasi
✅ Lobby Pemerintah desak penetapan bencana nasional
✅ Tanam Pohon minimal 10 bibit per keluarga
✅ Boikot Produk dari perusahaan perusak hutan (jika data sudah jelas)
✅ Edukasi Fikih Lingkungan di masjid/pengajian/pesantren
Rekomendasi Lembaga Amil Terpercaya untuk Donasi Bencana Aceh
Berdasarkan Fatwa MUI No.66/2022, berikut lembaga yang direkomendasikan (punya audit independen + transparansi):
- Dompet Dhuafa – Program Tanggap Bencana Aceh
- LAZNAS NU – Tanggap Darurat Sumatera
- Rumah Zakat – Indonesia Darurat Bencana
- ACT (Aksi Cepat Tanggap) – Emergency Response Aceh
- Baznas Aceh – Dana Lokal untuk Korban Lokal
Tips Donasi Aman:
- ✅ Cek laporan keuangan di website resmi
- ✅ Pastikan ada nomor rekening resmi (bukan pribadi)
- ✅ Minta bukti transfer dan tanda terima
- ✅ Follow up penggunaan dana lewat media sosial mereka

Kesimpulan: Doa Itu Penting, Tapi Jangan Sampai Jadi Alasan Pasrah
Bencana Aceh 2025 mengajarkan kita satu hal: doa tanpa action adalah doa yang tidak sempurna.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan keseimbangan:
- Tawakkal (percaya pada Allah) + Ikhtiar (usaha maksimal)
- Spiritualitas (doa, istighfar, shalat) + Action (donasi, reboisasi, advokasi)
- Sabar (terima takdir) + Kritik (evaluasi kebijakan yang salah)
Muzakarah Ulama Aceh sudah serukan shalat ghaib dan istighfar. Bagus. Tapi mereka juga desak penegakan hisbah terhadap pelaku perusak lingkungan dan penetapan bencana nasional oleh Presiden Prabowo. Ini action yang tidak kalah penting dari doa.
Mari kita akhiri dengan doa penutup yang mencakup semuanya:
Arab:
اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاكْسُ عُرْيَانَهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَعَافِ مُبْتَلَاهُمْ
Latin: Allahummarham dhu’afa’al-muslimin, wajbur kasrahum, wa ath’im ja’i’ahum, waksu ‘uryanahum, warham mautahum, wasyfi mardhahum, wa ‘afi mubtalahum
Terjemahan: “Ya Allah, rahmatilah kaum Muslim yang lemah, kuatkan mereka yang patah semangat, beri makan yang lapar, beri pakaian yang telanjang, rahmatilah yang meninggal, sembuhkan yang sakit, dan selamatkanlah yang tertimpa ujian.”
Wallahu a’lam bishawab.
Referensi
- Al-Quran: QS. Ar-Rum:41, QS. An-Nuh:10-12, QS. Ali Imran:173
- Hadits: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad
- Tafsir: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa’di
- Fatwa: MUI No.66 Tahun 2022 tentang Penggunaan Dana Zakat untuk Penanggulangan Bencana
- Data Bencana: BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), BMKG, WALHI
- Sumber Muzakarah: Liputan Media tentang Muzakarah Ulama Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Desember 2025
Disclaimer: Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi spiritual dan aksi ekologi. Semua doa bersumber dari Al-Quran dan Hadits Shahih. Kritik ditujukan pada sistem dan kebijakan, bukan individu. Kami berdoa untuk kesembuhan korban dan pemulihan Aceh, Sumut, Sumbar. Aamiin.
📌 Artikel Terkait:
- Bencana Aceh 2025: Ujian atau Azab? Perspektif Ekoteologi (Artikel #1)
- QS Ar-Rum:41 dan Bencana Sumatera: Tafsir Kontemporer Fasad fil Ardh (Artikel #4)
- Fatwa MUI Zakat untuk Bencana: Bolehkah dan Bagaimana Aturannya? (Artikel #2)
- Muzakarah Ulama Aceh 2025: Desakan Bencana Nasional dan Hisbah Lingkungan (Artikel #5)
💬 Bagikan Artikel Ini: Jika artikel ini bermanfaat, share ke keluarga dan teman-teman. Mari berdoa sambil beraksi untuk Aceh yang lebih hijau dan berkelanjutan.
🌱 Donasi Pohon: Setiap share artikel ini = 1 pohon ditanam di Aceh. Kerjasama dengan Yayasan Hutan Aceh Lestari. [donasi]
Ditulis dengan penuh empati untuk korban bencana Aceh, Sumut, Sumbar. Semoga Allah merahmati mereka yang telah pergi, menyembuhkan yang sakit, dan memberi kekuatan bagi yang selamat.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Baca Juga :
Hadits “la dharar wa la dhirar” telah dikaji secara ekstensif oleh ulama hadits. Takhrij lengkap dan analisis sanad-matan hadits ini dapat dipelajari di Dorar.net, ensiklopedia hadits yang kredibel.











