Doa untuk Orang yang Mengalami Trauma: Bacaan untuk Diri & Orang Lain
Ketika Zahra kehilangan rumah dan hampir seluruh harta bendanya akibat kebakaran hebat, ia merasa kehilangan arah. Setiap malam ia terbangun dalam keringat dingin, hatinya dipenuhi ketakutan dan kecemasan yang tak berkesudahan. Di tengah kehampaan itu, ia teringat nasihat ibunya: “Ketika tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan, masih ada satu kekuatan yang tidak akan pernah mengecewakan—doa kepada Allah”. Zahra mulai mencari dan mengamalkan doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk mengatasi kegundahan dan kesedihan. Perlahan namun pasti, ia merasakan ketenangan mulai kembali menghampiri hatinya. Doa untuk orang yang mengalami trauma bukanlah sekadar ritual, tetapi jembatan komunikasi spiritual yang menghubungkan jiwa yang terluka dengan Sang Pencipta yang Maha Penyembuh.
Islam mengajarkan bahwa doa adalah senjata paling ampuh yang dimiliki seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda: اَلدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ “Ad-du’aa silaahul mu’mini wa ‘imaadud-diini wa nuurus-samaawaati wal ardhi” – “Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi” (HR. Al-Hakim). Dalam konteks trauma, doa memiliki fungsi ganda: secara spiritual ia mendekatkan hamba kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, secara psikologis ia memberikan rasa aman, harapan, dan sense of control di tengah situasi yang chaos. Artikel ini akan memberikan sepuluh doa pilihan yang bersumber dari Al-Quran dan hadits shahih, lengkap dengan teks Arab, transliterasi, terjemahan, dan panduan praktis pengamalannya untuk membantu proses pemulihan trauma.

Baca Juga :
Mitos: Trauma = Iman Lemah. Ini Fakta Menurut Islam
Doa dari Al-Quran: Memohon Kelapangan Hati
Al-Quran adalah kalam Allah yang memiliki kekuatan penyembuhan (syifa’) luar biasa. Allah SWT berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa’un wa rahmatun lil mu’miniin”
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)
Salah satu doa terbaik dari Al-Quran untuk orang yang mengalami trauma adalah doa Nabi Musa AS ketika ia merasa tertekan dan takut menghadapi Firaun. Allah mengajarkan doa ini dalam Al-Quran:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Rabbi ishrah lii shadrii wa yassir lii amrii wahlul ‘uqdatan min lisaanii yafqahuu qaulii”
“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25-28)
Doa ini sangat relevan untuk trauma karena ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis, dadanya terasa sesak, pikirannya kacau, dan sulit mengekspresikan perasaan. Memohon kelapangan dada (insyirah ash-shadr) berarti memohon ketenangan jiwa dan kejelasan pikiran. Memohon kemudahan urusan (taysir al-amr) berarti memohon jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Doa ini bisa diamalkan setiap selesai salat wajib atau ketika merasa cemas mulai menyerang.
Doa lain dari Al-Quran yang sangat ampuh adalah doa yang diajarkan untuk mengusir kesedihan dan kecemasan:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Hasbunallahu wa ni’mal wakiil”
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)
Kalimat pendek namun sangat powerful ini adalah doa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS dan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ ketika menghadapi ancaman musuh. Mengucapkan kalimat ini dengan penuh keyakinan memberikan efek psikologis luar biasa: mengingatkan bahwa Allah mencukupi segala kebutuhan kita dan kita tidak sendirian dalam perjuangan ini. Untuk pemahaman lebih mendalam tentang penggunaan doa dalam konteks pemulihan trauma, Anda bisa membaca artikel tentang <a href=”/trauma-pasca-bencana-dalam-perspektif-islam”>trauma pasca bencana dalam perspektif Islam</a>.
Baca Juga :
Cara Menenangkan Diri Saat Trauma : 3 Langkah Darurat
Doa Rasulullah untuk Kegundahan dan Kesedihan
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus yang sangat komprehensif untuk mengatasi kegundahan (al-hamm) dan kesedihan (al-huzn). Beliau sering mengamalkan doa ini dan mengajarkannya kepada para sahabat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal huzni, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhli, wa a’udzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan manusia.” (HR. Bukhari no. 6369)
Doa ini mencakup semua dimensi kesulitan yang mungkin dialami seseorang yang trauma: emosional (gundah, sedih), fisik (lemah, malas), psikologis (pengecut), sosial (hutang, penindasan). Menurut Hadits.id – Database hadits shahih, doa ini adalah salah satu doa yang paling sering diamalkan Rasulullah ﷺ setiap hari. Cara pengamalannya: ucapkan dengan khusyuk setelah salat Subuh dan Maghrib, sambil merasakan makna setiap kalimat. Bayangkan diri Anda benar-benar berlindung dalam naungan kasih sayang Allah dari semua kesulitan tersebut.
Doa lain yang sangat powerful untuk menghilangkan kesedihan mendalam adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجَلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي
“Allahumma inni ‘abduka ibnu ‘abdika ibnu amatika naashiyati biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qadhaa’uka. As’aluka bikulli ismin huwa laka sammaita bihi nafsaka au anzaltahu fii kitaabika au ‘allamtahu ahadan min khalqika awista’tsarta bihi fii ‘ilmil ghaibi ‘indaka an taj’alal qur’aana rabii’a qalbii wa nura shadrii wa jalaa’a huznii wa dzahaaba hammii”
“Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu laki-laki dan hamba-Mu perempuan. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu (Engkau yang menguasai diriku). Keputusan-Mu berlaku padaku, ketetapan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namai untuk diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib-Mu, jadikanlah Al-Quran sebagai musim semi hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghapus kegundahanku.” (HR. Ahmad no. 3712, dishahihkan Al-Albani)
Doa ini memiliki keistimewaan luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang mengamalkan doa ini dengan sungguh-sungguh, Allah akan menghilangkan kesedihannya dan menggantinya dengan kegembiraan. Kunci dari doa ini adalah penyerahan total (tawakkal) kepada Allah yang tercermin dalam kalimat “ubun-ubunku di tangan-Mu” dan permohonan agar Al-Quran menjadi sumber ketenangan hati.
Doa Setelah Musibah: Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un
Ketika musibah atau bencana menimpa, Islam mengajarkan doa khusus yang harus segera diucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Allahummaj-urnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa”
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah bagiku dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)
Doa ini memiliki dua bagian penting. Bagian pertama (إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) adalah pengakuan teologis bahwa semua yang kita miliki sebenarnya milik Allah dan suatu saat akan kembali kepada-Nya. Pengakuan ini membantu melepaskan attachment yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi yang hilang. Bagian kedua adalah permohonan agar Allah memberikan ganti yang lebih baik. Ini adalah doa yang sangat penting untuk menjaga optimisme dan harapan di tengah kehilangan.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah satu istri Rasulullah ﷺ, mengamalkan doa ini ketika suami pertamanya meninggal dunia. Ia bercerita bahwa awalnya tidak percaya akan ada yang lebih baik dari suaminya yang sangat baik. Namun setelah rutin berdoa ini, Allah memberikannya kesempatan untuk menikah dengan Rasulullah ﷺ sendiri, yang tentu saja lebih baik dari siapapun. Kisah ini mengajarkan bahwa kita tidak tahu bentuk “pengganti yang lebih baik” yang akan Allah berikan, tetapi kita harus yakin bahwa janji Allah pasti benar. Untuk teknik-teknik lain yang bisa dikombinasikan dengan doa, baca artikel tentang cara menenangkan diri saat trauma menurut Islam.
Doa Memohon Kekuatan dan Kesabaran
Menghadapi trauma membutuhkan kekuatan (quwwah) dan kesabaran (shabr) yang luar biasa. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa untuk memohon kekuatan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي
“Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fid-dunya wal aakhirati. Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii”
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemaafan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemaafan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.” (HR. Abu Dawud no. 5074, dishahihkan Al-Albani)
Kata ‘aafiyah (عَافِيَة) dalam bahasa Arab sangat luas maknanya: kesehatan fisik, kesehatan mental, keselamatan dari bahaya, perlindungan dari ujian yang berat. Ketika kita memohon ‘aafiyah, kita memohon agar Allah memberikan kekuatan untuk melewati ujian yang sedang dihadapi dan melindungi dari ujian-ujian tambahan yang mungkin melebihi kemampuan kita. Ini adalah doa yang sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap pagi dan petang sebagai benteng perlindungan spiritual.
Doa lain untuk memohon kesabaran adalah:
اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ
“Allahumma bi’ilmikal ghaiba wa qudratika ‘alal khalqi ahyini maa ‘alimtal hayaata khairan lii wa tawaffanii idzaa ‘alimtal wafaata khairan lii. Allahumma inni as’aluka khasyataka fil ghaibi wasy-syahaadati wa as’aluka kalimatal haqqi fir-ridhaa wal ghadlabi wa as’alukal qashda fil faqri wal ghinaa wa as’aluka na’iiman laa yanfadu wa as’aluka qurrata ‘ainin laa tanqathi’u wa as’alukar-ridhaa ba’dal qadhaa'”
“Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang meliputi yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau tahu kehidupan itu baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau tahu kematian itu baik bagiku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu baik tersembunyi maupun terang-terangan, dan aku memohon kepada-Mu ucapan yang benar baik dalam keadaan ridha maupun marah, dan aku memohon kepada-Mu sikap sederhana baik dalam keadaan miskin maupun kaya, dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak pernah habis, dan aku memohon kepada-Mu penyejuk mata yang tidak pernah terputus, dan aku memohon kepada-Mu keridlaan setelah adanya ketetapan.” (HR. An-Nasa’i no. 1305, dishahihkan Al-Albani)
Bagian terakhir dari doa ini sangat penting untuk trauma: وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ (memohon keridlaan setelah takdir). Ini adalah inti dari kesabaran: menerima dengan ridha apa yang sudah terjadi sambil tetap berusaha untuk pulih. Bukan pasrah tanpa usaha, tetapi ridha sambil tetap ikhtiar.
Doa Perlindungan dari Ketakutan dan Mimpi Buruk
Salah satu gejala trauma yang paling mengganggu adalah mimpi buruk berulang dan ketakutan berlebihan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus untuk perlindungan dari ketakutan:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ
“A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min ghadlabihi wa ‘iqaabihi wa syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisy-syayaathiini wa ay-yahdhuroon”
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari bisikan setan-setan dan dari kedatangan mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud no. 3893, dishahihkan Al-Albani)
Doa ini sangat ampuh untuk mengusir ketakutan yang tidak rasional, termasuk ketakutan di malam hari atau mimpi buruk. Cara pengamalannya: ucapkan tiga kali sebelum tidur sambil meniupkan ke telapak tangan lalu usapkan ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau. Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma mengajarkan doa ini kepada anak-anaknya yang sudah dewasa dan menuliskannya untuk anak-anak yang belum bisa menghafal, karena begitu pentingnya perlindungan ini.
Untuk mimpi buruk yang sudah terjadi, Rasulullah ﷺ memberikan panduan khusus:
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ اللَّهِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلَا يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ
“Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia sukai, maka itu dari Allah, hendaklah ia memuji Allah dan menceritakannya. Dan jika ia melihat selain itu yaitu yang ia tidak sukai, maka itu dari setan, hendaklah ia berlindung dari keburukannya dan jangan menceritakannya kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Bukhari no. 6985)
Langkah-langkah praktis ketika mengalami mimpi buruk: (1) Meludah ke kiri tiga kali (gerakan simbolis menolak setan), (2) Berlindung kepada Allah dengan mengucapkan “A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajiim” tiga kali, (3) Tidak menceritakan mimpi buruk tersebut kepada siapapun, (4) Berpindah posisi tidur atau bahkan bangun untuk salat sunnah sebentar, (5) Yakin bahwa mimpi buruk tidak akan menjadi kenyataan selama kita berlindung kepada Allah.
Dzikir Pagi dan Petang sebagai Terapi Harian
Selain doa-doa khusus di atas, rutinitas dzikir pagi dan petang memiliki efek terapeutik jangka panjang untuk pemulihan trauma. Salah satu dzikir paling penting adalah:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Bismillahil-ladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis-samaa’i wa huwas-samii’ul ‘aliim”
“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun yang membahayakan bersama nama-Nya, baik di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Abu Dawud no. 5088, dishahihkan Al-Albani)
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang mengucapkan dzikir ini tiga kali di pagi hari, tidak akan ada sesuatu pun yang tiba-tiba membahayakannya hingga sore hari. Dan siapa yang mengucapkannya tiga kali di sore hari, tidak akan ada sesuatu pun yang tiba-tiba membahayakannya hingga pagi hari. Dzikir ini memberikan rasa aman (sense of safety) yang sangat dibutuhkan oleh orang yang mengalami trauma. Secara psikologis, mengucapkan perlindungan ini setiap hari membantu mengurangi kecemasan antisipatif (ketakutan akan bahaya yang mungkin terjadi).
Dzikir lain yang sangat powerful adalah Ayat Kursi yang dibaca setiap selesai salat wajib dan sebelum tidur:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai salat wajib, tidak ada penghalang baginya untuk masuk surga kecuali kematian. Dan siapa yang membacanya sebelum tidur, Allah akan menjaga dia hingga pagi. Ayat ini mengingatkan tentang kekuasaan mutlak Allah yang menjaga seluruh alam semesta tanpa merasa lelah, maka menjaga kita yang hanya makhluk kecil tentu jauh lebih mudah bagi-Nya. Untuk dzikir-dzikir lain yang menenangkan, baca artikel tentang dzikir penentram hati saat cemas dan takut.
Panduan Praktis: Waktu dan Cara Berdoa yang Efektif
Tidak semua waktu memiliki potensi dikabulkan yang sama. Allah SWT telah mengistimewakan waktu-waktu tertentu sebagai waktu mustajab (waktu di mana doa lebih berpotensi dikabulkan). Untuk orang yang mengalami trauma, memanfaatkan waktu-waktu ini sangat penting:
Sepertiga malam terakhir adalah waktu paling mulia untuk berdoa. Rasulullah ﷺ bersabda: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ – “Tuhan kita Yang Mahasuci lagi Mahatinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni'” (HR. Bukhari no. 1145). Waktu ini adalah kesempatan emas untuk menuangkan seluruh keluh kesah, ketakutan, dan harapan kepada Allah.
Waktu antara adzan dan iqamah juga merupakan waktu mustajab. Rasulullah ﷺ bersabda: الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ – “Doa tidak ditolak antara adzan dan iqamah” (HR. Abu Dawud no. 521, dishahihkan Al-Albani). Manfaatkan 5-10 menit ini untuk berdoa dengan khusyuk sebelum salat berjamaah dimulai.
Saat sujud dalam salat adalah posisi paling dekat hamba dengan Tuhannya. Rasulullah ﷺ bersabda: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ – “Waktu paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa” (HR. Muslim no. 482). Dalam sujud, panjangkan sedikit dan ucapkan doa-doa dari hati dengan bahasa apapun yang Anda kuasai.
Saat turun hujan juga merupakan waktu mustajab karena hujan adalah rahmat yang turun dari langit. Hari Jumat khususnya pada waktu antara duduk imam hingga selesai salat, dan saat berbuka puasa bagi yang berpuasa sunnah. Mengetahui waktu-waktu ini membantu kita lebih strategis dalam berdoa dan meningkatkan harapan bahwa doa kita akan dikabulkan.
Cara berdoa yang baik: mulai dengan memuji Allah (Tahmid, Tasbih), bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, baru kemudian menyampaikan hajat kita, dan ditutup lagi dengan shalawat. Berdoa dengan suara lembut (tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan), menghadap kiblat jika memungkinkan, mengangkat tangan dengan telapak menghadap ke atas, dan penuh keyakinan (yaqin) bahwa Allah akan mengabulkan dengan cara dan waktu yang terbaik.
Doa dengan Bahasa Sendiri: Mengekspresikan Perasaan
Selain doa-doa ma’tsur yang sudah disebutkan di atas, Islam sangat menganjurkan untuk berdoa dengan bahasa sendiri yang spontan dari hati. Allah tidak memandang bahasa Arab atau bahasa lain, yang Dia lihat adalah ketulusan hati. Ketika Anda sedang dalam kondisi emosional yang sangat berat akibat trauma, jangan ragu untuk berbicara kepada Allah dengan bahasa yang paling nyaman bagi Anda, dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau bahasa apapun. Ceritakan apa yang Anda rasakan: ketakutan, kesedihan, kemarahan, kebingungan, bahkan keraguan.
Contoh doa spontan yang bisa diucapkan: “Ya Allah, aku sangat ketakutan. Setiap malam aku terbangun dengan mimpi buruk yang sama. Aku lelah, ya Allah. Aku ingin bisa tidur nyenyak seperti dulu. Aku ingin bisa tertawa lagi tanpa merasa bersalah. Aku ingin sembuh, ya Allah. Berikanlah aku kekuatan untuk melewati hari ini. Kuatkan hatiku yang hampir putus asa. Tunjukkan jalan keluar dari kegelapan ini. Aku percaya Engkau Maha Penyayang dan tidak akan membiarkan hamba-Mu terus menderita. Aku berserah kepada-Mu, ya Allah.”
Doa seperti ini, meskipun tidak menggunakan bahasa yang puitis atau kalimat yang terstruktur, memiliki kekuatan luar biasa karena keluar dari kedalaman jiwa yang tulus. Allah Maha Mendengar dan akan merespons doa yang tulus meskipun diucapkan dengan bahasa yang sederhana. Jangan pernah merasa malu atau tidak layak untuk berdoa. Justru ketika kita merasa paling lemah dan paling tidak layak, itulah saat terbaik untuk datang kepada Allah karena kerendahan hati kita paling tulus pada momen tersebut.
Doa untuk Orang Lain yang Mengalami Trauma
Mendoakan orang lain yang sedang mengalami trauma adalah bentuk kepedulian yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ – “Doa seorang muslim untuk saudaranya (yang didoakan) tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Di kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut mengaminkan dan berkata: ‘Dan untukmu juga yang serupa'” (HR. Muslim no. 2733).
Doa yang bisa diucapkan untuk orang lain yang trauma:
اللَّهُمَّ اشْفِهِ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
“Allahummasy-fihi syifaa’an laa yughaadiru saqaman”
“Ya Allah, sembuhkanlah dia dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2191)
Doa ini bisa digunakan untuk kesembuhan fisik maupun psikologis. Anda juga bisa mendoakan dengan spesifik: “Ya Allah, sembuhkan luka traumanya, hilangkan mimpi buruknya, kembalikan ketenangan tidurnya, pulihkan kegembiraan hatinya, kuatkan kesabarannya, dan tunjukkan jalan keluar dari kesulitannya.”
Ketika mengunjungi orang yang sedang sakit atau trauma, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk mengusap bagian yang sakit sambil mengucapkan:
أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
“Adz-hibil ba’sa rabban-naasi wasy-fi antas-syaafii laa syifaa’a illa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman”
“Hilangkanlah penderitaan ini, wahai Tuhan manusia. Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun.” (HR. Bukhari no. 5675)
Untuk trauma psikologis, Anda bisa mengusap kepala atau pundak orang tersebut (dengan izin dan dalam batasan syar’i) sambil mengucapkan doa ini. Sentuhan fisik yang lembut disertai doa memberikan efek menenangkan secara psikologis karena menunjukkan empati dan kepedulian yang tulus.

Kesimpulan: Doa sebagai Jembatan Kesembuhan
Doa untuk orang yang mengalami trauma adalah salah satu senjata paling powerful yang dimiliki seorang muslim dalam proses pemulihan. Sepuluh doa yang telah disebutkan dalam artikel ini bersumber dari Al-Quran dan hadits shahih, terbukti efektif secara spiritual dan didukung oleh pengalaman ribuan umat selama berabad-abad. Doa bekerja pada dua level: secara vertikal ia menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta yang Maha Penyembuh, secara horizontal ia memberikan efek psikologis berupa rasa aman, harapan, dan kekuatan untuk terus bertahan.
Yang paling penting adalah konsistensi dalam berdoa. Jangan menyerah jika doa belum dikabulkan dengan cara yang kita harapkan. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, dan terkadang jawaban doa bukan dalam bentuk penghapusan ujian, tetapi pemberian kekuatan untuk melewatinya. Terkadang jawaban doa bukan hari ini, tetapi bulan atau tahun mendatang. Terkadang yang kita minta adalah A tetapi Allah memberi B yang ternyata jauh lebih baik. Teruslah berdoa dengan yakin, kombinasikan dengan ikhtiar maksimal termasuk mencari bantuan profesional jika diperlukan, dan serahkan hasilnya kepada Allah.
Untuk panduan lebih komprehensif tentang pemulihan trauma, silakan baca juga artikel terkait di bawah ini. Ingatlah bahwa kesembuhan adalah proses, dan doa adalah teman setia Anda dalam setiap langkah perjalanan pemulihan tersebut. Allah bersama orang-orang yang sabar, dan setiap doa yang Anda panjatkan adalah bukti kesabaran dan keimanan Anda yang tidak pernah padam meskipun dalam kegelapan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Doa untuk Trauma
1. Apakah doa harus dalam bahasa Arab agar dikabulkan?
Tidak harus. Doa ma’tsur (dari Al-Quran dan hadits) memang dalam bahasa Arab dan memiliki keutamaan khusus, tetapi Allah juga sangat mendengar doa dalam bahasa apapun selama diucapkan dengan tulus. Anda bisa mengombinasikan: gunakan doa ma’tsur yang sudah dihafal, lalu tambahkan permohonan spesifik dengan bahasa sendiri yang keluar dari hati.
2. Berapa kali harus mengucapkan doa agar dikabulkan?
Tidak ada ketentuan pasti. Beberapa doa memang dianjurkan diucapkan tiga kali atau tujuh kali, tetapi yang terpenting adalah konsistensi dan keyakinan. Teruslah berdoa setiap hari dengan yakin bahwa Allah pasti mendengar dan akan mengabulkan dengan cara dan waktu yang terbaik. Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk berdoa dengan penuh harap (rajaa’) bukan putus asa.
3. Bagaimana jika saya merasa doa saya tidak dikabulkan?
Allah mengabulkan doa dengan tiga cara: dikabulkan seketika sesuai permintaan, ditunda untuk waktu yang lebih baik, atau diganti dengan menghapus keburukan atau menyimpan pahala untuk akhirat. Tidak ada doa yang sia-sia. Jika belum merasakan perubahan, teruslah berdoa sambil melakukan ikhtiar maksimal dan bersabar. Proses pemulihan trauma memang memerlukan waktu.
4. Bolehkah berdoa sambil menangis atau dengan emosi yang kuat?
Sangat boleh dan justru dianjurkan. Menangis dalam doa adalah tanda ketulusan dan kerendahan hati di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis dalam doanya. Emosi yang kuat menunjukkan bahwa doa tersebut benar-benar keluar dari kedalaman jiwa, dan Allah sangat menyukai hamba yang datang dengan penuh ketulusan meskipun dalam kondisi emosional.
5. Apakah saya perlu wudhu atau kondisi suci untuk berdoa?
Berdoa dalam kondisi suci (berwudhu) lebih utama dan lebih berpotensi dikabulkan, tetapi doa dalam kondisi tidak suci tetap sah dan boleh dilakukan. Jika Anda sedang dalam kondisi emosional yang sangat buruk dan sulit untuk wudhu, langsung saja berdoa kepada Allah. Yang terpenting adalah jangan menunda untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Setelah kondisi membaik, Anda bisa berwudhu dan mengulangi doa dengan lebih khusyuk.
Call to Action
Simpan artikel ini sebagai referensi doa-doa yang bisa diamalkan setiap hari dalam proses pemulihan trauma. Bagikan kepada saudara, teman, atau siapapun yang sedang berjuang dengan luka psikologis agar mereka tahu bahwa ada senjata spiritual yang sangat powerful untuk membantu penyembuhan. Jangan lupa untuk mengamalkan doa-doa ini dengan konsisten dan yakin bahwa Allah pasti mendengar setiap helaan napas hamba-Nya yang memohon pertolongan. Tinggalkan komentar tentang pengalaman Anda dengan doa-doa ini, dan subscribe untuk mendapatkan artikel-artikel bermanfaat lainnya tentang spiritualitas Islam untuk kesehatan mental.
Baca juga:










