Share

Para ulama mendiskusikan tafsir ayat-ayat Al-Quran tentang gempa bumi dan bencana alam

Apakah Gempa Bumi Termasuk Azab? 3 Pandangan Ulama Lengkap

Pada 6 Februari 2023, gempa berkekuatan 7.8 SR mengguncang Turki dan Suriah, menewaskan lebih dari 50.000 jiwa serta menghancurkan 160.000 bangunan. Di tengah reruntuhan, sebuah pertanyaan teologis mengemuka: apakah gempa bumi termasuk azab dari Allah atau sekadar ujian? Di media sosial, perdebatan sengkat terjadi antara yang menyebutnya “hukuman untuk negara sekuler” vs “ujian untuk menguatkan iman”. Sebelum terburu-biru menyimpulkan, penting bagi kita—khususnya umat Islam—untuk memahami perbedaan konseptual antara azab, musibah, dan bala’ sesuai pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Artikel ini akan mengupas tiga pandangan utama ulama disertai dalil Al-Quran dan hadits shahih, dilengkapi lima kriteria membedakan azab dari ujian biasa.

Definisi Konseptual: Musibah, Azab, dan Bala’ dalam Islam

Dalam terminologi Islam, bencana alam dapat dikategorikan dalam tiga konsep berbeda dengan implikasi teologis yang berlainan. Musibah (مُصِيبَةٌ) secara bahasa berarti “sesuatu yang menimpa”, sedangkan secara istilah adalah ujian dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya yang beriman. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jū’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi wat-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah:155)

Sedangkan Azab (عَذَابٌ) adalah hukuman khusus Allah kepada kaum yang mengingkari dakwah para nabi dan terus-menerus dalam kekufuran. Sementara Bala’ (بَلاءٌ) bersifat netral—bisa berupa kebaikan maupun keburukan sebagai ujian. Untuk memudahkan, perhatikan tabel perbandingan berikut:

AspekMusibah (Ujian)Azab (Hukuman)
TujuanMeninggikan derajat, menghapus dosaMemberi pelajaran, menghancurkan kaum kafir
SasaranMukmin & kafir (dengan hikmah berbeda)Dominan pelaku maksiat/kekufuran
Dampak SpiritualSabar → pahala, syukur → tambah nikmatKekecewaan, kehinaan (kecuali bertaubat)
Contoh QuranGempa Madinah zaman UmarGempa kaum Luth (Sodom)
Respons yang DiajarkanIstirja’ (inna lillahi…), sabar, shalatTaubat nasuha, meninggalkan kemaksiatan
Para ulama mendiskusikan tafsir ayat-ayat Al-Quran tentang gempa bumi dan bencana alam
Dialog keilmuan yang mendalam melahirkan pemahaman yang bijak tentang fenomena alam

Pandangan 1: Gempa sebagai Azab untuk Kaum Kafir & Pelaku Maksiat

Pandangan pertama didukung oleh ulama tafsir klasik seperti Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya mengenai ayat tentang azab-azab terdahulu. Dalil utama yang dikemukakan adalah:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنۢبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Fa kullan akhadznā biżambihī, fa min-hum man arsalnā ‘alaihi ḥāṣibā, wa min-hum man akhażat-huṣ-ṣaīḥatu wa min-hum man khasafnā bihil-arḍa wa min-hum man agraqnā, wa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lākin kānū anfusahum yaẓlimūn

Terjemahan: “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS Al-Ankabut:40)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (w. 751 H) dalam kitab Miftah Dar As-Sa’adah menjelaskan bahwa gempa termasuk salah satu bentuk azab yang disebutkan dalam Al-Quran, khususnya bagi kaum yang mengingkari risalah. Contoh historis yang sering dikutip adalah gempa penghancuran kaum Luth di kota Sodom akibat praktik homoseksual yang merajalela. Dalam konteks kontemporer, pendukung pandangan ini sering merujuk pada fatwa MUI tentang kewajiban introspeksi kolektif saat bencana besar terjadi. Namun, mereka juga mengingatkan untuk tidak menghakimi individu korban, karena hanya Allah yang tahu kondisi hati masing-masing.

Pandangan 2: Gempa sebagai Ujian & Peringatan untuk Mukmin

Pandangan kedua yang lebih dominan di kalangan ulama Ahlus Sunnah menyatakan bahwa gempa bumi pada era setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW lebih tepat disebut ujian dan peringatan daripada azab spesifik. Imam Al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa musibah bagi orang beriman adalah “pembersih dosa dan pengangkat derajat”. Dalil utama pandangan ini adalah:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
Wa basysyiriṣ-ṣābirīnal-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn
“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Sungguh kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.'” (QS Al-Baqarah:155-157)

Hadits shahih berikut memperkuat pandangan ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”
‘An Abī Hurairata raḍiyallāhu ‘anhu qāla: Qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Mā yuṣībul-muslima min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hammiin wa lā ḥuznin wa lā adzan wa lā ghammin ḥattasy-syaukata yusyākuhā illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāhu”

Terjemahan: Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kegundahan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal itu.”
(HR. Bukhari No. 5641, Muslim No. 2573)

Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi (w. 2022) dalam bukunya Al-Halal wal Haram fil Islam menjelaskan bahwa menyimpulkan suatu gempa sebagai azab memerlukan bukti wahyu yang spesifik. Karena tidak ada nabi setelah Muhammad SAW yang menyatakan “gempa ini azab untuk kota ini”, maka sikap terbaik adalah menganggapnya sebagai ujian umum. Pandangan ini selaras dengan artikel kami tentang hikmah di balik bencana alam yang menekankan aspek edukatif musibah.

Pandangan 3: Gempa sebagai Fenomena Alam dengan Hukum Tetap

Pandangan ketiga yang berkembang di kalangan ulama kontemporer mengintegrasikan sains modern dengan pemahaman Islam. Prof. Dr. Zaghlul An-Najjar, pakar i’jaz ilmi Al-Quran, menjelaskan bahwa gempa bumi adalah bagian dari sunnatullah (hukum alam) yang telah Allah tetapkan. Dalil pendukung:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلْفُلْكَ تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِأَمْرِهِۦ وَيُمْسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِۦٓ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Alam tara annallāha sakhkhara lakum mā fil-arḍi wal-fulka tajrī fil-baḥri biamrihī wa yumsikus-samāa an taqa’a ‘alal-arḍi illā biiżnih, innallāha bin-nāsi lara`ūfur raḥīm

Terjemahan: “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menundukkan apa yang ada di bumi untukmu, dan kapal-kapal yang berlayar di laut dengan perintah-Nya? Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS Al-Hajj:65)

Dalam perspektif ini, teori lempeng tektonik yang menyebabkan gempa bukan bertentangan dengan iman, justru menunjukkan kebesaran Allah menciptakan sistem yang kompleks. Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Dunia (ISESCO) dalam publikasinya menyatakan: “Memahami mekanisme gempa melalui sains adalah bagian dari perintah Allah untuk ‘mengobservasi alam semesta’ (QS Ali Imran:190-191)“. Namun, ini tidak mengurangi keyakinan bahwa Allah yang menggerakkan segala sebab. Pandangan ini mengajak umat Islam untuk tidak hanya berfokus pada “mengapa gempa terjadi” tetapi “bagaimana menghadapinya dengan ikhtiar ilmiah” seperti sistem peringatan dini yang dibahas dalam artikel mitigasi bencana syariah.

Timbangan simbolik antara Al-Quran dan alat seismograf merepresentasikan integrasi iman dan sains
Islam mengajarkan kita membaca ayat-ayat kauniyah dengan kacamata ayat-ayat qauliyah

5 Kriteria Membedakan Azab vs Ujian dalam Islam

Setelah memahami tiga pandangan ulama, bagaimana kita secara praktis membedakan apakah suatu gempa termasuk azab atau ujian? Berikut lima kriteria berdasarkan kajian kitab-kitab tafsir:

  1. Komposisi Korban – Azab dalam Al-Quran menimpa dominan pelaku maksiat (seperti QS Hud:58 tentang kaum ‘Ad), sedangkan ujian bisa menimpa siapa saja termasuk nabi dan orang shalih.
  2. Intensitas & Frekuensi – Azab cenderung lebih dahsyat dan beruntun seperti tujuh musibah Firaun (QS Al-A’raf:133), sementara ujian bervariasi intensitasnya.
  3. Peringatan Sebelumnya – Azab selalu didahului pengutusan nabi/rasul dengan peringatan jelas (QS Al-Isra:15), sementara ujian bisa datang tiba-tiba.
  4. Respons Komunal – Azab tidak terhenti meski ada taubat individu, kecuali taubat kolektif seluruh kaum seperti Yunus (QS Yunus:98).
  5. Dampak Spiritual – Ujian meninggikan derajat orang beriman (sabar → pahala), azab menghinakan pelaku dosa (kufur → kehinaan).

Studi kasus menarik bisa dilihat dari perbedaan respons masyarakat Aceh pasca tsunami 2004 dengan kota Pompeii yang hancur total tahun 79 M. Di Aceh, terjadi taubat massal, pembangunan masjid meningkat 300%, dan solidaritas sosial menguat—ciri-ciri komunitas yang menjadikan musibah sebagai ujian penguatan iman. Sedangkan Pompeii yang tenggelam dalam abai vulkanik menjadi simbol kehancuran peradaban maksiat tanpa jejak kebangkitan spiritual.

Sikap Muslim yang Bijak Menghadapi Gempa

Terlepas dari perbedaan pandangan ulama tentang apakah gempa bumi termasuk azab, Islam memberikan panduan sikap yang jelas bagi seorang muslim:

Pertama, hindari menghakimi. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu melihat orang yang tertimpa musibah, janganlah kamu mengatakan: ‘Apa yang Allah kehendaki terjadi’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullah wa ma sya’a fa’al’ (Ini takdir Allah, apa yang Dia kehendaki terjadi). Karena kalimat ‘apa’ membuka pintu setan.” (HR. Muslim No. 2664). Menuduh suatu komunitas “terkena azab” termasuk ghibbah yang dilarang.

Kedua, introspeksi kolektif dan individu. Allah berfirman: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura:30). Gempa harus menjadi momentum evaluasi: sudahkah kita menegakkan shalat berjamaah? Menjaga lingkungan? Berbuat adil?

Ketiga, bersegera bertaubat. Taubat nasuha tidak hanya secara pribadi tetapi juga komunitas. Organisasi seperti MUI sering mengimbau shalat taubat dan istighfar berjamaah pasca bencana besar.

Keempat, solidaritas nyata. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel adab menghadapi bencana alam menurut Islam, membantu korban tanpa memandang latar belakang adalah implementasi rahmatan lil ‘alamin.

Kelima, ambil hikmah untuk perbaikan. Gempa mengingatkan kita pada ketidakberdayaan manusia, mendorong perbaikan sistem mitigasi, dan memperkuat ukhuwah islamiyah.

Studi Kasus: Gempa Lisbon 1755 vs Gempa Yogyakarta 2006

Perbandingan dua gempa bersejarah memberikan perspektif menarik tentang interpretasi bencana dalam konteks sosial-keagamaan berbeda:

Gempa Lisbon 1755 (Portugal) berkekuatan 8.5-9.0 SR menewaskan 60,000 jiwa (30% populasi) pada hari raya umat Katolik. Bencana ini memicu krisis teologis besar di Eropa—Voltaire menulis puisi mengkritik doktrin “theodicy” (keadilan ilahi), sementara gereja menyebutnya “hukuman Tuhan atas kota dosa”. Debat filosofis ini bahkan memengaruhi perkembangan Pencerahan Eropa.

Gempa Yogyakarta 2006 berkekuatan 6.3 SR menewaskan 6,000+ jiwa di daerah dengan mayoritas muslim. Respons masyarakat justru berbeda: dalam 48 jam, 92% masjid di Yogya mengadakan shalat taubat berjamaah. Survei UGM menunjukkan 78% korban menganggap gempa sebagai “ujian untuk meningkatkan keimanan”, hanya 12% menyebut “azab”, dan 10% “fenomena alam biasa”. Yang menarik, solidaritas lintas agama justru menguat—gereja-gereja ikut menggalang dana untuk korban muslim.

Pelajarannya jelas: interpretasi masyarakat terhadap bencana sangat dipengaruhi konteks keagamaan dan kualitas dakwah. Di masyarakat dengan pemahaman Islam yang komprehensif, gempa justru menjadi momentum penguatan iman dan solidaritas, bukan saling menyalahkan.

Kesimpulan: Bijak Menyikapi, Fokus pada Perbaikan Diri & Komunitas

Setelah menelaah tiga pandangan ulama tentang apakah gempa bumi termasuk azab, kita sampai pada kesimpulan penting:

  1. Semua pandangan memiliki dasar dalil yang kuat—tugas kita adalah menghormati perbedaan ini selama dalam koridor Ahlus Sunnah.
  2. Hindari kesimpulan gegabah menyebut suatu daerah “terkena azab” karena hanya Allah yang tahu hakikat sebenarnya.
  3. Fokus pada aspek yang disepakati: gempa adalah peringatan untuk introspeksi, momentum taubat kolektif, dan ujian kesabaran.

Call to Action Praktis:

  1. Ikuti shalat taubat berjamaah di masjid terdekat minggu ini
  2. Perbaiki hubungan sosial: selesaikan konflik, kunjungi kerabat, bayar utang
  3. Siapkan mitigasi: pelajari panduan lengkap fikih gempa bumi
  4. Tingkatkan solidaritas: donasikan sebagian rezeki melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS

Mari tutup dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW saat menghadapi kesulitan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
Allāhumma innī a’ūdzu bika min jahdil-balāi wa darakisy-syaqāi wa sūil-qaḍāi wa syamātatil-a’dā`i
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya bala’, tercapainya kesengsaraan, buruknya qadha’, dan kegembiraan musuh.”
(HR. Bukhari No. 6347, Muslim No. 2707)

Gempa bumi—apapun label teologisnya—tetaplah pengingat bahwa kita hanyalah hamba lemah di hadapan Allah. Dengan sikap bijak, musibah bisa menjadi tangga menuju derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya. Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk bencana dan memberikan ketabahan menghadapi ujian. Aamiin.

FAQ: Pertanyaan Seputar Gempa sebagai Azab

1. Benarkah gempa di daerah maksiat lebih besar kemungkinannya sebagai azab?
Tidak ada dalil spesifik yang menyatakan korelasi langsung antara tingkat kemaksiatan suatu daerah dengan besarnya gempa. Gempa besar justru sering terjadi di daerah dengan aktivitas tektonik tinggi, terlepas dari kondisi sosialnya. Sikap terbaik adalah introspeksi tanpa menghakimi.

2. Bagaimana jika ada ustadz menyatakan gempa tertentu adalah azab?
Dengarkan nasihatnya untuk introspeksi, tetapi tetap pegang prinsip bahwa hanya Allah yang tahu hakikat sebenarnya. Rasulullah SAW melarang kita menyimpulkan musibah seseorang sebagai hukuman (HR. Bukhari). Fokuslah pada pesan perbaikan diri, bukan pada label “azab”-nya.

3. Apakah bersedih saat gempa berarti tidak sabar?
Tidak. Menangis dan bersedih saat kehilangan orang tercinta adalah manusiawi dan tidak mengurangi pahala sabar. Nabi Yakub menangis hingga buta karena kehilangan Yusuf, dan itu tidak dianggap kurang sabar. Sabar adalah menahan diri dari mengeluh kepada Allah, bukan menahan ekspresi kesedihan.

4. Bagaimana menjelaskan pada anak tentang gempa dari sudut pandang Islam?
Gunakan bahasa sesuai usia: “Allah ingin mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik, saling menolong, dan mendekat kepada-Nya. Seperti ujian di sekolah yang membuat kita lebih pintar, ujian dari Allah membuat kita lebih sabar dan dekat dengan-Nya.” Hindari narasi menakutkan tentang azab.

5. Apakah memperbanyak istighfar bisa mencegah gempa?
Istighfar adalah sebab turunnya rahmat Allah (QS Nuh:10-12), termasuk perlindungan dari bencana. Namun, gempa sebagai fenomena alam tetap mungkin terjadi sesuai sunnatullah. Yang terpenting, istighfar menyelamatkan kita secara spiritual apapun yang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca