Kekeringan dalam Islam dipandang sebagai ujian besar yang menguji berbagai dimensi keimanan seorang Muslim—dari kesabaran dalam menghadapi kesulitan, ketakwaan dalam mengelola sumber daya, hingga solidaritas dalam membantu sesama. Fenomena kekeringan dan musim kemarau panjang yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim bukan sekadar bencana alam yang harus dikeluhkan, melainkan peristiwa yang sarat dengan hikmah mendalam dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas spiritual kita.
Ketika sawah mengering, sumur mulai dangkal, dan tanaman layu kehausan, saat itulah ujian sesungguhnya dimulai: apakah kita akan tetap berpegang pada iman, bersabar dalam kesulitan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT? Ataukah kita akan mengeluh, putus asa, dan melupakan bahwa air yang selama ini mengalir deras adalah nikmat Allah yang tiada tara?
Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi tujuh ujian berat yang terkandung dalam kekeringan—dari ujian kesabaran, ketakwaan, solidaritas, hingga kreativitas dalam mencari solusi—serta bagaimana menghadapinya dengan iman yang teguh, doa yang khusyuk, dan ikhtiar yang maksimal. Kita juga akan mempelajari tata cara shalat istisqa (meminta hujan), doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, dan langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan oleh individu maupun komunitas untuk menghadapi musim kemarau dengan penuh hikmah dan ketabahan.
Daftar Isi
- Air dalam Al-Quran: Nikmat yang Sering Terlupakan
- Penyebab Kekeringan: Antara Sunatullah dan Dampak Ulah Manusia
- Ujian Pertama: Ujian Kesabaran atas Keterbatasan Sumber Daya
- Ujian Kedua: Ujian Ketakwaan dalam Menjaga Amanah Air
- Ujian Ketiga: Ujian Solidaritas dan Kepedulian Sosial
- Ujian Keempat: Ujian Keimanan dalam Berdoa dan Berserah Diri
- Ujian Kelima: Ujian Introspeksi Diri dan Evaluasi Spiritual
- Ujian Keenam: Ujian Kreativitas dan Ikhtiar
- Ujian Ketujuh: Ujian Ketahanan Komunitas dan Ukhuwah
- Panduan Praktis: Doa-doa dan Ibadah saat Kekeringan
- Kisah Inspiratif: Kekeringan di Zaman Nabi dan Sahabat
- Hikmah di Balik Musibah Kekeringan
- Pertanyaan Umum (FAQ)
- Kesimpulan
Air dalam Al-Quran: Nikmat yang Sering Terlupakan
Ayat-ayat tentang Air sebagai Sumber Kehidupan
Sebelum kita membahas kekeringan dalam Islam dan bagaimana menghadapinya, penting untuk memahami betapa agungnya nikmat air dalam perspektif Al-Quran. Allah SWT telah menyebutkan air dalam berbagai ayat sebagai sumber kehidupan dan tanda kekuasaan-Nya.
Dalam Surah Al-Anbiya ayat 30, Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Wa ja’alna minal-ma’i kulla syai’in hayyin afalaa yu’minuun.”
Artinya: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman?”
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa air adalah fondasi kehidupan—tanpa air, tidak ada kehidupan. Setiap makhluk hidup, dari manusia, hewan, tumbuhan, hingga mikroorganisme, semuanya bergantung pada air. Ketika kita mengalami kekeringan, kita baru benar-benar menyadari kebenaran ayat ini.
Dalam Surah An-Nahl ayat 10-11, Allah juga berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ. يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Huwal-ladzii anzala minas-sama’i ma’an lakum minhu syarabun wa minhu syajarun fiihi tusiimun. Yumbitu lakum bihiz-zar’a waz-zaytuuna wan-nakhiila wal-a’naba wa min kullis-tsamaraati inna fii dzalika la’ayatan liqaumin yatafakkaruun.”
Artinya: “Dia-lah Yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.”
Ayat ini menunjukkan betapa luas manfaat air: untuk diminum, untuk tanaman, untuk ternak, untuk berbagai jenis buah-buahan. Ketika kekeringan melanda, semua manfaat ini terancam hilang, dan kita baru menyadari betapa bergantungnya kita pada nikmat air dalam Islam.
Dalam Surah Abasa ayat 24-32, Allah mendeskripsikan proses bagaimana air menghidupkan bumi:
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ. أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا. ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا. فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا. وَعِنَبًا وَقَضْبًا. وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا. وَحَدَائِقَ غُلْبًا. وَفَاكِهَةً وَأَبًّا. مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
“Falyanzhuril-insaanu ila tha’amihi. Anna shabhabnal-ma’a shabban. Tsumma syaqaqnal-ardha syaqqan. Fa-anbatnaa fiiha habban. Wa ‘inaban wa qadhban. Wa zaytuunan wa nakhlan. Wa hada’iqa ghulban. Wa fakihatan wa abban. Mata’al lakum wa li’an’amikum.”
Artinya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, buah-buahan dan rerumputan, untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.”
Baca Juga :
Gempa Bumi: 8 Hikmah Mendalam sebagai Ujian & Peringatan Allah
Proses yang digambarkan Allah—air dicurahkan, bumi dibelah, tanaman tumbuh—adalah proses yang berhenti ketika kekeringan melanda. Ini mengingatkan kita bahwa semua proses alam ini adalah anugerah Allah yang harus disyukuri.
Sikap Syukur terhadap Nikmat Air yang Melimpah
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa air adalah nikmat besar yang sering kita lupakan ketika masih melimpah. Kita baru menghargai air ketika sumur mulai kering, sungai mulai surut, dan hujan tidak kunjung turun.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 68-70:
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ. أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ. لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ
“Afara’aytumul-ma’al-ladzii tasyrabuun. A’antum anzaltumuuhu minal-muzni am nahnul-munziluun. Lau nasya’u ja’alnaahu ujaajan falaulaa tasykuruun.”
Artinya: “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”
Ayat ini adalah peringatan yang sangat kuat: Allah bisa saja menjadikan air yang kita minum menjadi asin dan tidak bisa diminum. Ketika mengalami kekeringan dalam Islam, kita seharusnya ingat bahwa ini adalah pengingat untuk lebih bersyukur atas nikmat air yang selama ini Allah berikan.
Bentuk syukur atas nikmat air mencakup:
- Tidak mubazir dalam menggunakan air, bahkan saat berlimpah
- Menjaga sumber-sumber air dari pencemaran dan kerusakan
- Berbagi air dengan yang membutuhkan melalui sumur wakaf dan bantuan air
- Mengucapkan Alhamdulillah setiap kali mendapat akses air bersih
- Mengingat Allah yang menurunkan hujan dan mengalirkan mata air
Sikap syukur ini akan diuji secara khusus ketika kekeringan melanda—apakah kita akan tetap bersyukur atas sedikit air yang tersisa, ataukah mengeluh dan lupa bahwa Allah-lah yang memiliki kendali atas air?
Penyebab Kekeringan: Antara Sunatullah dan Dampak Ulah Manusia
Faktor Alam dan Siklus Iklim sebagai Ketetapan Allah
Dalam memahami kekeringan dalam Islam, penting untuk mengenali bahwa kekeringan memiliki dua dimensi: sebagai bagian dari sunatullah (hukum alam yang ditetapkan Allah) dan sebagai konsekuensi dari ulah manusia.
Sebagai Sunatullah, kekeringan adalah bagian dari siklus iklim yang telah Allah tetapkan. Bumi memiliki musim-musim yang bergantian—musim hujan dan musim kemarau, periode basah dan periode kering. Ini adalah ketetapan Allah yang sudah berjalan sejak penciptaan bumi.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 164, Allah menyebutkan pergantian siang dan malam, kapal yang berlayar, dan hujan yang menghidupkan bumi sebagai tanda-tanda bagi orang yang berakal:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Inna fii khalqis-samawaati wal-ardhi wakhtilaafil-layli wan-nahaari wal-fulkil-latii tajrii fil-bahri bimaa yanfa’un-naasa wa maa anzalal-laahu minas-sama’i mim-ma’in fa’ahyaa bihil-ardha ba’da mautihaa wa batsa fiihaa min kulli daabbatin wa tashriifir-riyaahi was-sahaabil-musakhkhari baynas-sama’i wal-ardhi la’aayaatil liqaumin ya’qiluun.”
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan membawa sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.”
Baca Juga :
Wabak Justinian: 9 Bukti Pandemi Pertama yang Mengubah Sejarah & Hikmah Islami
Frasa “dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering)” menunjukkan bahwa kekeringan adalah fenomena alami yang telah Allah tetapkan sebagai bagian dari siklus bumi. Setelah kering, bumi akan kembali hidup dengan turunnya hujan—ini adalah sunatullah.
Dari perspektif ilmiah yang dikonfirmasi oleh BMKG, kekeringan terkait dengan berbagai faktor klimatologis: fenomena El Niño yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang, pola cuaca monsun yang berubah, dan siklus iklim global yang kompleks. Semua ini adalah mekanisme alam yang Allah ciptakan.
Peran Manusia dalam Kerusakan Lingkungan dan Kekeringan
Namun, Islam juga mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah (pemimpin) di bumi, dan kelalaian dalam tanggung jawab ini dapat memperparah kekeringan.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dzaharal-fasaadu fil-barri wal-bahri bimaa kasabat aydin-naasi liyudzii qahum ba’dhal-ladzii ‘amiluu la’allahum yarji’uun.”
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini sangat relevan dengan perubahan iklim dalam perspektif Islam dan kekeringan yang semakin parah. “Kerusakan di darat dan di laut” mencakup berbagai bentuk degradasi lingkungan yang menyebabkan atau memperparah kekeringan:
- Deforestasi (penebangan hutan): Mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan mengatur siklus air
- Pencemaran air: Membuat sumber air yang ada menjadi tidak layak pakai
- Penggunaan air berlebihan: Menguras cadangan air tanah lebih cepat dari kemampuan pemulihan alami
- Emisi gas rumah kaca: Menyebabkan perubahan iklim yang membuat pola hujan tidak teratur
- Alih fungsi lahan: Mengubah area resapan air menjadi beton yang tidak bisa menyerap air
Dalam konteks kekeringan dalam Islam, ayat ini mengajarkan bahwa kekeringan yang semakin parah bisa jadi adalah konsekuensi dari ulah manusia sendiri, dan Allah membiarkan kita merasakan akibatnya “agar kita kembali (ke jalan yang benar)”—kembali ke pola hidup yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Oleh karena itu, menghadapi kekeringan tidak cukup hanya dengan berdoa, tetapi juga harus disertai dengan taubat dari kerusakan lingkungan dan komitmen untuk memperbaiki cara kita mengelola air dan alam.
Ujian Pertama: Ujian Kesabaran atas Keterbatasan Sumber Daya
Belajar Sabar dari Nabi Ayyub dan Nabi lainnya
Ujian pertama dalam kekeringan adalah ujian kesabaran. Ketika air semakin langka, harga kebutuhan pokok naik, panen gagal, dan kehidupan menjadi sulit, kesabaran kita diuji dengan sangat keras.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-juu’i wa naqshim minal-amwaali wal-anfusi wats-tsamaraati wa basysyirish-shaabiriina. Alladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun. Ulaa’ika ‘alayhim shalawaatum mir rabbihim wa rahmatun wa ulaa’ika humul-muhtaduun.”
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan “kelaparan” dan “kekurangan buah-buahan”—dua hal yang sangat terkait dengan kekeringan. Allah menjanjikan bahwa orang yang sabar dalam menghadapi ujian ini akan mendapat shalawat (keberkahan), rahmat, dan hidayah (petunjuk).
Teladan terbaik kesabaran dalam ujian adalah Nabi Ayyub AS, yang sabar menghadapi berbagai ujian termasuk kehilangan harta, anak, dan kesehatan selama bertahun-tahun. Allah memuji kesabarannya dalam Surah Shad ayat 44:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Innaa wajadnaahu shaabiran ni’mal-‘abdu innahu awwaab.”
Artinya: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Tuhan-nya).”
Pelajaran dari Nabi Ayyub: Tidak peduli seberapa berat ujian, kesabaran yang disertai ketaatan kepada Allah akan membawa kemuliaan dan akhirnya Allah akan memberikan jalan keluar.
Cara Melatih Kesabaran dalam Kondisi Kekurangan Air
Kesabaran dalam menghadapi kekeringan bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap berikhtiar maksimal sambil menerima ketentuan Allah dengan lapang dada. Berikut cara melatih kesabaran:
1. Memahami bahwa ujian adalah tanda kasih sayang Allah
Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Maa yushiibul-muslima min nashabin wa laa washabin wa laa hammin wa laa huznin wa laa adzan wa laa ghammin hattasy-syaukati yusyaakuhaa illa kaffara-llahu bihaa min khataayaahu.”
Artinya: “Tidaklah menimpa seorang Muslim suatu kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, atau kedukaan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus kesalahannya dengan (musibah) itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kekeringan yang membuat lelah, susah, dan sedih adalah cara Allah menghapus dosa-dosa kita jika kita sabar menghadapinya.
2. Mengingat bahwa setelah kesulitan ada kemudahan
Allah berfirman dalam Surah Asy-Syarh ayat 5-6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Fa’inna ma’al-‘usri yusraa. Inna ma’al-‘usri yusraa.”
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Diulang dua kali untuk menekankan: Setelah musim kemarau panjang, pasti akan ada hujan. Setelah kekeringan, pasti akan ada kelimpahan air lagi. Ini adalah janji Allah.
3. Membaca doa-doa musibah dan memperbanyak dzikir
Saat menghadapi kesulitan akibat kekeringan, perbanyak membaca:
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul-hazna idzaa syi’ta sahlan.”
Artinya: “Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa yang Engkau mudahkan. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, menjadi mudah.”
4. Berbagi cerita dan saling menguatkan dengan sesama yang terdampak
Jangan menghadapi ujian kekeringan sendirian. Bergabunglah dengan komunitas, saling berbagi cerita, dan menguatkan iman bersama-sama.
5. Fokus pada hal-hal yang masih bisa disyukuri
Meskipun air langka, masih ada hal lain yang bisa disyukuri: kesehatan, keluarga, iman, dan sedikit air yang masih tersisa. Fokus pada nikmat yang tersisa, bukan pada yang hilang.
Ujian Kedua: Ujian Ketakwaan dalam Menjaga Amanah Air
Hemat Air sebagai Bagian dari Iman
Ujian kedua dalam kekeringan dalam Islam adalah ujian ketakwaan dalam mengelola air. Apakah kita akan tetap menghemat air bahkan saat masih ada, atau baru hemat ketika sudah hampir habis?
Islam mengajarkan prinsip hemat air bahkan dalam kondisi melimpah. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW melewati Sa’d bin Abi Waqqash yang sedang berwudhu dengan menggunakan air berlebihan. Nabi bersabda:
مَا هَذَا السَّرَفُ يَا سَعْدُ؟ قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ سَرَفٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ
“Maa haadzas-srafu yaa Sa’d? Qaala: Afil-wudhuu’i srafun? Qaala: Na’am, wa in kunta ‘alaa nahrin jaarin.”
Artinya: “Apa pemborosan ini wahai Sa’d?” Sa’d bertanya: “Apakah dalam berwudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab: “Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini sangat penting: bahkan ketika air sangat berlimpah (di tepi sungai yang mengalir), kita tetap dilarang boros. Apalagi ketika menghadapi kekeringan, hemat air adalah kewajiban yang lebih berat lagi.
Prinsip kehematan air dalam Islam mencakup:
- Berwudhu dengan 1 mud (sekitar 0,6 liter): Nabi SAW berwudhu hanya dengan satu mud air
- Mandi dengan 1 sha’ (sekitar 2,4 liter): Nabi SAW mandi hanya dengan satu sha’
- Tidak membiarkan keran terbuka tanpa kegunaan
- Menggunakan kembali air wudhu untuk menyiram tanaman (grey water reuse)
- Memperbaiki kebocoran segera agar tidak ada air yang terbuang
Larangan Mubazir Air Meski dalam Kelimpahan
Allah SWT melarang sikap mubazir (pemborosan) dalam segala hal, termasuk air:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Wa laa tubadzdzir tabdziiraa. Innal-mubadzdzirina kaanuu ikhwaanasy-syayaathiini wa kaanasy-syaithaanu lirabbihi kafuuraa.”
Artinya: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 26-27)
Mubazir air dikategorikan sebagai perbuatan setan karena mengabaikan nikmat Allah dan merusak apa yang Allah titipkan. Dalam konteks kekeringan, sikap mubazir di masa lampau akan menjadi penyesalan di masa kekeringan.
Langkah praktis menjaga amanah air:
- Pasang alat penghemat air di keran dan shower
- Kumpulkan air hujan untuk keperluan non-minum (cuci, siram tanaman)
- Gunakan metode irigasi hemat air seperti drip irrigation untuk pertanian
- Edukasi keluarga tentang pentingnya hemat air dalam Islam
- Buat program penghematan air di masjid dan komunitas
Ketika kekeringan melanda, mereka yang sudah terbiasa hemat air akan lebih siap menghadapi, sementara yang boros akan mengalami kesulitan besar untuk beradaptasi.
Ujian Ketiga: Ujian Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Membantu Saudara yang Kesulitan Air sebagai Ibadah
Ujian ketiga dalam menghadapi kekeringan adalah ujian solidaritas sosial. Apakah kita hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga, atau juga peduli terhadap tetangga dan saudara Muslim lain yang kesulitan air?
Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Man naffasa ‘an mu’minin kurbatan min kurabid-dunyaa naffasa-llahu ‘anhu kurbatan min kurabi yaumil-qiyaamati.”
Artinya: “Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Membantu orang yang kesulitan air adalah salah satu bentuk melepaskan kesusahan, dan pahalanya sangat besar di sisi Allah.
Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Ahabun-naasi ilal-laahi anfa’uhum lin-naas.”
Artinya: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)
Dalam konteks kekeringan, menjadi bermanfaat bagi orang lain bisa berupa:
- Berbagi air dengan tetangga yang sumurnya sudah kering
- Mengantarkan air ke masjid untuk jamaah yang kesulitan berwudhu
- Menyumbang untuk program tanki air keliling di daerah kekeringan
- Membantu petani yang gagal panen dengan sedekah dan zakat
- Mendukung program sumur wakaf untuk masyarakat yang membutuhkan
Program Sumur Wakaf dan Bantuan Air untuk Masyarakat
Salah satu bentuk solidaritas terbaik dalam menghadapi kekeringan adalah membangun infrastruktur air yang berkelanjutan, terutama melalui sumur wakaf.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Idzaa maatal-insaanu inqatha’a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaatsin: illaa min shadaqatin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa’u bihi, au waladin shoolihin yad’uu lahu.”
Artinya: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)
Sumur wakaf adalah salah satu bentuk terbaik dari sedekah jariyah. Setiap orang yang mengambil manfaat dari sumur tersebut—untuk minum, wudhu, mandi, atau mengairi tanaman—pahalanya akan terus mengalir kepada pemberi wakaf meskipun ia sudah meninggal.
Kisah inspiratif: Sa’d bin Ubadah bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal, sedekah apakah yang paling utama untuknya?” Nabi menjawab, “Al-maa’ (air).” Maka Sa’d menggali sumur dan berkata, “Ini untuk ibuku, Ummu Sa’d.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Program solidaritas yang bisa diinisiasi oleh masjid atau komunitas:
- Sumur wakaf komunal di daerah yang sering kekeringan
- Tanki air keliling untuk distribusi air ke rumah-rumah yang kekurangan
- Sistem rain water harvesting (penampungan air hujan) di masjid untuk dibagikan
- Program bantuan pompa air untuk petani yang tidak mampu
- Edukasi pengelolaan air berkelanjutan untuk masyarakat
- Kerjasama dengan lembaga seperti UNICEF untuk program air bersih
Dalam menghadapi kekeringan dalam Islam, solidaritas sosial bukan hanya anjuran tetapi kewajiban moral bagi mereka yang masih memiliki akses air untuk membantu yang tidak.
Ujian Keempat: Ujian Keimanan dalam Berdoa dan Berserah Diri
Kekuatan Doa dan Shalat Istisqa
Ujian keempat adalah ujian keimanan dalam berdoa dan berserah diri kepada Allah. Ketika semua usaha manusia sudah dilakukan namun hujan belum juga turun, saat itulah keimanan kita diuji: apakah kita masih yakin bahwa Allah Maha Kuasa dan bisa menurunkan hujan kapan saja?
Doa adalah senjata mukmin dan dalam konteks kekeringan, Allah telah mengajarkan cara khusus untuk meminta hujan melalui shalat istisqa.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Ad-du’aa’u huwal-‘ibaadah.”
Artinya: “Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)
Berdoa meminta hujan bukan hanya meminta kebutuhan material, tetapi adalah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, pengakuan bahwa hanya Dia yang bisa menurunkan hujan, dan ekspresi ketergantungan total kepada-Nya.
Hadis tentang shalat istisqa:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid RA:
خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَسْقِي فَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ
“Kharajan-nabiyyu SAW yastasqii fatawajjaha ilal-qiblati yad’uu wa hawwala ridaa’ahu tsumma shalla rak’atayni jahara fiihimaa bil-qiraa’ati.”
Artinya: “Nabi SAW keluar untuk shalat istisqa, lalu menghadap kiblat sambil berdoa, membalik jubahnya, kemudian shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.” (HR. Bukhari)
Cara shalat istisqa akan dijelaskan lebih detail di bagian panduan praktis, tetapi poin pentingnya adalah: shalat istisqa adalah manifestasi kerendahan hati umat di hadapan Allah, mengakui ketergantungan total pada rahmat-Nya.
Kisah-Kisah Nabi yang Berdoa Meminta Hujan
Kisah Nabi Muhammad SAW meminta hujan memberikan teladan bahwa pemimpin umat harus memimpin dalam berdoa saat kekeringan melanda.
Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, seorang Arab Badui datang pada hari Jumat saat Nabi sedang berkhutbah dan berkata:
“Wahai Rasulullah, harta binasa, keluarga kelaparan. Mohonlah kepada Allah untuk kami.”
Nabi SAW lalu mengangkat tangannya dan berdoa:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
“Allahumma aghitsnaa, Allahumma aghitsnaa, Allahumma aghitsnaa.”
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Anas bin Malik, perawi hadis, berkata: “Demi Allah, kami tidak melihat sedikitpun awan di langit… Beliau belum turun dari mimbar, kami sudah melihat hujan turun dari janggutnya.”
Kisah ini menunjukkan beberapa pelajaran:
- Kesegeraan Allah menjawab doa ketika diminta dengan tulus
- Pentingnya pemimpin memimpin doa untuk umat
- Doa kolektif memiliki kekuatan besar
- Kepercayaan penuh bahwa Allah Maha Kuasa
Namun ada juga kisah sebaliknya: Seminggu kemudian, Arab Badui yang sama datang lagi saat Nabi berkhutbah dan berkata: “Wahai Rasulullah, rumah-rumah rusak, harta tenggelam. Mohonlah kepada Allah untuk kami.”
Nabi SAW lalu berdoa:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Allahumma hawalaynaa wa laa ‘alaynaa, Allahumma ‘alal-aakaami wadh-dhiraabi wa buthuunil-awdiyati wa manaabitis-syajari.”
Artinya: “Ya Allah, di sekeliling kami, bukan di atas kami. Ya Allah, (turunkanlah hujan) di bukit-bukit, gunung-gunung kecil, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Segera setelah itu, hujan berhenti di pemukiman tetapi tetap turun di tempat-tempat yang disebutkan.
Pelajaran: Doa harus seimbang—meminta hujan saat kekeringan, dan meminta hujan yang bermanfaat (bukan banjir) saat sudah cukup.

Ujian Kelima: Ujian Introspeksi Diri dan Evaluasi Spiritual
Kekeringan sebagai Momentum untuk Muhasabah
Ujian kelima dalam kekeringan dalam Islam adalah ujian introspeksi diri (muhasabah). Apakah kita akan melihat kekeringan hanya sebagai fenomena alam, atau sebagai peringatan Allah untuk memperbaiki diri?
Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang telah disebutkan sebelumnya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Frasa “la’allahum yarji’uun” (agar mereka kembali) sangat penting. Tujuan Allah membiarkan kita merasakan sebagian akibat perbuatan kita adalah agar kita “kembali”—kembali kepada-Nya, kembali ke jalan yang benar.
Muhasabah (introspeksi diri) adalah proses evaluasi spiritual yang harus dilakukan oleh setiap Muslim, terutama saat menghadapi musibah seperti kekeringan. Beberapa pertanyaan muhasabah:
- Apakah kita sudah bersyukur atas nikmat air selama ini?
- Apakah kita sudah hemat dalam menggunakan air?
- Apakah kita pernah mencemari sumber air?
- Apakah kita sudah membantu orang yang kesulitan air?
- Apakah kita masih rajin shalat dan berdoa?
- Apakah kita sudah menjaga lingkungan dengan baik?
- Dosa-dosa apa yang mungkin menyebabkan Allah menahan hujan?
Hadis tentang pentingnya muhasabah:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنَ عَلَيْكُمْ
“Haasibu anfusakum qabla an tuhaasubu, wa zinu a’maalakum qabla an tuuzana ‘alaykum.”
Artinya: “Hisablah (evaluasi) diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat), dan timbang amal kalian sebelum ditimbang atas kalian.” (HR. Tirmidzi)
Perbanyak Istighfar dan Taubat saat Musim Kemarau
Salah satu amalan paling penting saat kekeringan adalah memperbanyak istighfar (memohon ampun) dan taubat.
Allah SWT mengisahkan tentang Nabi Nuh AS yang mengajak kaumnya untuk beristighfar agar diberi hujan. Dalam Surah Nuh ayat 10-12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Faqultus-taghfiruu rabbakum innahu kaana ghaffaaraa. Yursiliss-samaa’a ‘alaykum midraaran. Wa yumdidkum bi’amwaalin wa baniina wa yaj’al lakum jannaatin wa yaj’al lakum anhaaraa.”
Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.'”
Ayat ini sangat jelas: istighfar adalah kunci untuk mendatangkan hujan. Ketika kita memohon ampun atas dosa-dosa, Allah akan menurunkan rahmat-Nya termasuk hujan yang berlimpah.
Rumus dalam ayat ini:
- Istighfar → Hujan deras
- Istighfar → Keberkahan harta dan keturunan
- Istighfar → Taman dan sungai-sungai
Bacaan istighfar yang dianjurkan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Astaghfirullahal-‘azhiimal-ladzii laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuumu wa atuubu ilayh.”
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Atau Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar):
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mas-thatha’tu, a’uudzu bika min syarri maa shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu’u bidzanbii faghfir lii, fa’innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta.”
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha menepati janji dan komitmenku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)
Target istighfar saat kekeringan: Minimal 100x sehari, atau lebih banyak lagi.
Ujian Keenam: Ujian Kreativitas dan Ikhtiar
Mencari Solusi Teknis dengan Tetap Bersandar pada Allah
Ujian keenam dalam kekeringan adalah ujian kreativitas dan ikhtiar. Islam tidak mengajarkan fatalisme—pasrah tanpa usaha—tetapi mengajarkan keseimbangan antara doa dan ikhtiar (usaha).
Nabi Muhammad SAW bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“I’qilhaa wa tawakkal.”
Artinya: “Ikatlah (untamu), kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Prinsip ini sangat penting dalam menghadapi kekeringan: kita harus berikhtiar maksimal mencari solusi teknis (mengikat unta), kemudian baru bertawakal kepada Allah (berserah diri atas hasilnya).
Solusi teknis yang bisa dilakukan saat kekeringan:
1. Rain Water Harvesting (Penampungan Air Hujan)
Memasang sistem penampungan air hujan dari atap rumah ke dalam tangki penyimpanan. Setiap kali hujan turun (meski jarang), air tidak terbuang percuma tetapi ditampung untuk digunakan saat kemarau.
2. Sumur Resapan (Infiltration Well)
Membuat sumur resapan di halaman untuk menambah cadangan air tanah. Air hujan yang turun diserap ke tanah, bukan mengalir ke got, sehingga menaikkan muka air tanah.
3. Drip Irrigation untuk Pertanian
Sistem irigasi tetes yang sangat hemat air, mengurangi pemborosan hingga 50-70% dibanding irigasi konvensional. Sangat sesuai dengan prinsip Islam tentang tidak mubazir.
4. Mulsa (Mulching) pada Tanaman
Menutup permukaan tanah dengan jerami, daun kering, atau plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, sehingga tanaman tetap bisa hidup dengan air minimal.
5. Teknologi Fog Catcher (Penangkap Embun)
Di daerah pegunungan yang sering berkabut, bisa memasang jaring khusus untuk menangkap embun dan menyalurkannya ke tangki air.
6. Desalinasi Air Laut (untuk daerah pesisir)
Meskipun mahal, teknologi desalinasi bisa menjadi solusi jangka panjang untuk daerah pesisir yang mengalami kekeringan kronis.
Inovasi Pengelolaan Air dalam Tradisi Islam
Peradaban Islam di masa lalu sangat maju dalam pengelolaan air, dan kita bisa belajar dari sejarah untuk menghadapi kekeringan modern.
1. Qanat/Kariz di Persia
Sistem saluran air bawah tanah yang menghubungkan sumber air pegunungan ke kota-kota di gurun. Teknologi ini mencegah penguapan dan bisa mengalirkan air ratusan kilometer.
2. Sistem Air Mancur Alhambra
Istana Alhambra di Spanyol memiliki sistem air mancur yang tidak membuang air, tetapi mengalirkannya kembali dalam siklus tertutup—contoh early water recycling.
3. Bendungan di Dunia Islam
Berbagai bendungan dibangun oleh peradaban Islam untuk mengelola air saat musim hujan dan menggunakannya saat kemarau.
4. Sabil (Public Water Fountain)
Tradisi membangun sabil—tempat minum air gratis di tempat umum—yang merupakan wujud solidaritas sosial dalam penyediaan air.
Pelajaran dari tradisi Islam:
- Investasi dalam infrastruktur air jangka panjang
- Teknologi hemat air dan daur ulang air
- Solidaritas sosial dalam akses air
- Penghargaan terhadap air sebagai nikmat berharga
Dalam menghadapi kekeringan, komunitas Muslim bisa menghidupkan kembali tradisi-tradisi ini dengan teknologi modern: membangun waduk komunal, sistem penampungan air hujan di masjid, program sumur wakaf, dan edukasi hemat air.
Ujian Ketujuh: Ujian Ketahanan Komunitas dan Ukhuwah
Gotong Royong Menghadapi Krisis Air Bersama
Ujian ketujuh dan terakhir dalam kekeringan adalah ujian ketahanan komunitas dan ukhuwah (persaudaraan). Apakah kekeringan akan memecah belah masyarakat (saling berebut air), atau justru menguatkan ikatan ukhuwah?
Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Matsalul-mu’miniina fii tawaddihim wa tarahumihim wa ta’atufihim matsalul-jasadi idza isytakaa minhu ‘udhwun tada’a lahu sa’irul-jasadi bis-sahari wal-humma.”
Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, belas kasih, dan kepedulian mereka terhadap satu sama lain adalah seperti satu tubuh; jika satu bagian merasakan sakit, seluruh tubuh akan merasakan demam dan sulit tidur.” (HR. Muslim)
Dalam konteks kekeringan, hadis ini mengajarkan bahwa ketika sebagian masyarakat kesulitan air, seluruh komunitas harus merasakan dan membantu.
Bentuk gotong royong menghadapi kekeringan:
1. Sistem Giliran Penggunaan Air
Di desa-desa yang sumber airnya terbatas, membuat jadwal giliran yang adil untuk pengambilan air, sehingga semua warga mendapat jatah.
2. Kerja Bakti Membuat Sumur Bersama
Bergotong royong membuat sumur dalam atau sumur resapan untuk kepentingan bersama, bukan hanya individual.
3. Patroli Air untuk Mencegah Pemborosan
Membentuk tim sukarelawan yang memantau penggunaan air dan mengedukasi warga yang masih boros.
4. Dapur Umum Hemat Air
Membuat dapur umum di masjid atau balai desa untuk memasak bersama, lebih hemat air daripada setiap keluarga memasak sendiri.
5. Sistem Tanki Air Berjadwal
Mengkoordinasikan distribusi air dari tanki pemerintah atau donatur dengan sistem yang adil dan transparan.
Peran Masjid sebagai Pusat Bantuan dan Koordinasi
Masjid harus menjadi pusat koordinasi dalam menghadapi kekeringan, bukan hanya tempat ibadah ritual tetapi juga pusat solusi komunitas.
Program yang bisa dijalankan masjid:
1. Posko Distribusi Air
Masjid menjadi titik distribusi air bersih untuk warga yang kesulitan, dengan sistem kupon atau pendataan agar adil.
2. Koordinasi Shalat Istisqa Berjamaah
Mengorganisir shalat istisqa secara berkala (setiap Jumat atau setiap minggu) hingga hujan turun, sebagai manifestasi doa kolektif.
3. Edukasi Hemat Air Setelah Shalat
Memanfaatkan waktu setelah shalat berjamaah untuk memberikan edukasi singkat tentang hemat air, tips praktis, dan hikmah kekeringan.
4. Penggalangan Dana Sumur Wakaf
Mengumpulkan donasi untuk membangun sumur wakaf di daerah yang paling terdampak kekeringan.
5. Konseling Spiritual untuk yang Stress
Memberikan bimbingan spiritual bagi warga yang stress akibat kekeringan—kehilangan panen, hutang meningkat, dll—agar tidak putus asa.
6. Hotline Bantuan Air Darurat
Membuat nomor telepon atau grup WhatsApp yang bisa dihubungi warga yang benar-benar kehabisan air untuk mendapat bantuan segera.
Hadis tentang peran masjid:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Khayrun-naasi anfa’uhum lin-naas.”
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, Thabrani)
Masjid yang menjalankan peran sosial dalam krisis kekeringan adalah masjid yang benar-benar bermanfaat bagi umat.
Panduan Praktis: Doa-doa dan Ibadah saat Kekeringan
Tata Cara Shalat Istisqa (Meminta Hujan)
Shalat istisqa adalah shalat sunnah muakkad (sangat dianjurkan) yang dilakukan secara berjamaah untuk meminta hujan kepada Allah saat kekeringan.
Tata Cara Shalat Istisqa:
1. Waktu Pelaksanaan
Seperti waktu shalat Ied, yaitu setelah terbit matahari sampai sebelum matahari tepat di atas kepala (sebelum dzuhur). Paling utama sekitar pukul 8-10 pagi.
2. Tempat Pelaksanaan
Disunnahkan di lapangan terbuka (mushalla), bukan di masjid, kecuali ada udzur (hujan, tidak ada lapangan).
3. Cara Shalat (2 Rakaat)
- Rakaat Pertama: Takbiratul ihram, lalu takbir 7 kali (termasuk takbiratul ihram), setiap takbir diselingi dzikir pendek (“Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar”), lalu baca Al-Fatihah dan surah (disunnahkan Surah Al-A’la atau Qaf)
- Rakaat Kedua: Berdiri untuk rakaat kedua, takbir 5 kali sebelum Al-Fatihah, lalu baca Al-Fatihah dan surah (disunnahkan Surah Al-Ghasyiyah atau Al-Qamar)
- Shalat dilakukan dengan mengeraskan bacaan (jahr) seperti shalat Ied
4. Khutbah Setelah Shalat
Setelah salam, imam menyampaikan khutbah (cukup satu khutbah, bukan dua seperti Jumat). Isi khutbah:
- Bertakbir, bertahmid, bershalawat
- Beristighfar banyak-banyak
- Membaca ayat-ayat tentang hujan
- Berdoa meminta hujan
- Membalik jubah/baju sebagai simbol perubahan keadaan (dari kekeringan ke hujan)
5. Adab Shalat Istisqa
- Keluar dengan pakaian sederhana (bukan pakaian bagus), sebagai tanda kerendahan hati
- Berjalan kaki jika memungkinkan
- Dalam keadaan khusyuk dan merendahkan diri
- Membawa anak-anak, bahkan disunnahkan membawa binatang ternak
- Memperbanyak sedekah sebelum shalat istisqa
Dalil:
خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَسْقِي فَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ
(Telah disebutkan sebelumnya)
Doa-doa Nabi untuk Meminta Hujan
Berikut adalah doa-doa meminta hujan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW:
Doa Utama Meminta Hujan:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Allahummasqinaa ghaitsan mughiitsan, marii’an mari’an, naafi’an ghayra daarrin, ‘aajilan ghayra aajil.”
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, yang menyegarkan, yang merata, yang bermanfaat tidak membahayakan, yang segera tidak ditunda.” (HR. Abu Dawud)
Doa Singkat Meminta Hujan:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
“Allahumma aghitsnaa, Allahumma aghitsnaa, Allahumma aghitsnaa.”
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami (3x).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Doa Saat Melihat Awan:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
“Allahumma shayyiban naafi’aa.”
Artinya: “Ya Allah, (jadikanlah) hujan yang bermanfaat.” (HR. Bukhari)
Doa Saat Hujan Turun:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا
“Allahumma shayyiban hanii’an.”
Artinya: “Ya Allah, (jadikanlah) hujan yang membawa kebaikan.” (HR. Bukhari)
Dzikir Setelah Hujan Turun:
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
“Muthirnaa bifadhlillahi wa rahmatihi.”
Artinya: “Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Amalan-amalan Sunah selama Musim Kemarau
Selain shalat istisqa dan doa, ada amalan-amalan lain yang sangat dianjurkan selama musim kemarau:
1. Memperbanyak Sedekah
Nabi SAW bersabda: “Sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menolak kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi)
Sedekah air adalah sedekah terbaik saat kekeringan: membagikan air minum, membangun sumur, atau membantu biaya pompa air.
2. Shalat Malam (Tahajud)
Bangun di sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud dan berdoa meminta hujan. Waktu ini adalah waktu mustajab (dikabulkan).
3. Puasa Sunnah
Puasa Senin-Kamis, puasa Dawud (sehari puasa sehari tidak), atau puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah). Doa orang yang berpuasa lebih mustajab.
4. Membaca Al-Quran
Terutama surah-surah yang berisi tentang hujan dan air: Surah Nuh, Surah Al-Waqi’ah (ayat 68-70), Surah An-Naba’ (ayat 14-16).
5. Bershalawat kepada Nabi
Memperbanyak shalawat sebagai wujud cinta dan penghormatan kepada Nabi yang telah mengajarkan cara meminta hujan.
6. Tobat dan Istighfar Berkelanjutan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, istighfar adalah kunci turunnya hujan berdasarkan Surah Nuh.
7. Menjaga Shalat Berjamaah
Menjaga shalat lima waktu berjamaah di masjid, karena doa berjamaah lebih dikabulkan.
Kisah Inspiratif: Kekeringan di Zaman Nabi dan Sahabat
Nabi Muhammad SAW dan Doa Beliau untuk Hujan
Telah diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dari Anas bin Malik RA, kisah lengkap tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW merespons kekeringan yang melanda Madinah:
Seorang laki-laki Arab Badui masuk ke masjid pada hari Jumat saat Nabi sedang berkhutbah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, harta binasa, keluarga kelaparan, anak-anak menangis kelaparan. Mohonlah kepada Allah untuk kami.“
Mendengar itu, Nabi Muhammad SAW segera mengangkat kedua tangannya dan berdoa:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Anas berkata: “Demi Allah, kami tidak melihat sedikit pun awan atau gumpalan awan di langit. Dan tidak ada rumah atau bangunan yang menghalangi antara kami dengan Gunung Sal’ (gunung di dekat Madinah). Tiba-tiba dari balik gunung itu muncul awan seperti perisai. Ketika awan itu naik ke tengah langit, ia menyebar lalu turunlah hujan.“
“Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama enam hari. Kemudian pada Jumat berikutnya, laki-laki yang sama (atau laki-laki lain) masuk saat Nabi berkhutbah dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, rumah-rumah rusak, harta tenggelam. Mohonlah kepada Allah untuk kami.’“
Nabi SAW mengangkat tangannya dan berdoa:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Anas berkata: “Hujan berhenti, dan kami keluar berjalan di bawah sinar matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pelajaran dari kisah ini:
- Kecepatan Allah mengabulkan doa Nabi-Nya: Hampir seketika hujan turun
- Doa harus spesifik dan seimbang: Minta hujan saat kering, minta berhenti saat berlebihan
- Kepemimpinan Nabi dalam doa kolektif: Pemimpin harus memimpin umat dalam berdoa
- Kepercayaan penuh kepada Allah: Tidak ada keraguan bahwa Allah Maha Kuasa
Khalifah Umar bin Khattab dan Kebijakan Air
Khalifah Umar bin Khattab RA terkenal dengan kebijakan-kebijakan air yang adil dan berwawasan ke depan, terutama saat menghadapi kekeringan.
1. Tahun Ar-Ramadah (Tahun Abu dan Kekeringan)
Pada tahun 18 Hijriah (639 M), Jazirah Arab dilanda kekeringan parah yang dikenal sebagai ‘Aam ar-Ramadah (Tahun Abu). Tidak ada hujan selama sembilan bulan, tanah menjadi abu (ramad), ternak mati, dan kelaparan melanda.
Respons Umar bin Khattab:
- Menghentikan potong hewan kurban untuk menghemat ternak yang tersisa
- Membuka dapur umum di Madinah untuk memberi makan yang kelaparan
- Menulis surat ke gubernur-gubernur di Syam, Mesir, dan Irak untuk mengirim bantuan makanan
- Tidur di masjid dan menolak makan enak sampai seluruh rakyatnya bisa makan
- Mengorganisir shalat istisqa berjamaah berkali-kali
Diriwayatkan bahwa Umar berdiri di tengah masyarakat dan berkata: “Wahai manusia, jika kalian tidak diturunkan hujan karena dosa-dosa kalian, maka mohonkanlah ampun kepada Allah. Jika karena dosaku, maka aku mohon ampun kepada Allah.“
Kemudian Umar membawa Al-Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) untuk memimpin doa istisqa, karena beliau adalah keluarga Nabi. Al-Abbas berdoa:
اللَّهُمَّ إِنَّهُ لَمْ يَنْزِلْ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَمْ يُكْشَفْ إِلَّا بِتَوْبَةٍ، وَقَدْ تَوَجَّهَ الْقَوْمُ بِي إِلَيْكَ لِمَكَانِي مِنْ نَبِيِّكَ، وَهَذِهِ أَيْدِينَا إِلَيْكَ بِالذُّنُوبِ، وَنَوَاصِينَا إِلَيْكَ بِالتَّوْبَةِ، فَاسْقِنَا الْغَيْثَ
“Allahumma innahu lam yanzil balaa’un illa bidzanbin, wa lam yuksyaf illa bitaubatin, wa qad tawajjahal-qaumu bii ilayka limakaanii min nabiyyika, wa haadzihi aydiinaa ilayka bidz-dzunuubi, wa nawaashinaa ilayka bit-taubati, fasqinal-ghaitsa.”
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya tidak turun bencana kecuali karena dosa, dan tidak terangkat kecuali dengan taubat. Kaum ini telah mengutus aku kepada-Mu karena kedudukanku dengan Nabi-Mu. Ini tangan-tangan kami kepada-Mu dengan dosa-dosa, dan ubun-ubun kami kepada-Mu dengan taubat. Maka turunkanlah hujan kepada kami.”
Belum selesai Al-Abbas berdoa, langit mulai mendung dan turunlah hujan yang deras. Umar bin Khattab berkata: “Inilah wasilah (perantara) yang benar.”
Pelajaran dari kepemimpinan Umar:
- Pemimpin harus merasakan penderitaan rakyat (Umar tidak makan enak saat rakyat lapar)
- Mobilisasi sumber daya dari daerah yang berlebih ke yang kekurangan
- Taubat kolektif dan doa bersama adalah kunci
- Solidaritas lintas wilayah dalam menghadapi kekeringan
2. Kebijakan Pengelolaan Air
Umar bin Khattab juga menetapkan beberapa kebijakan tentang air:
- Air adalah hak bersama yang tidak boleh dimonopoli oleh individu
- Sumur dan sumber air umum harus dijaga aksesnya untuk semua orang
- Tidak boleh mencemari sumber air yang digunakan publik
- Distribusi air harus adil terutama saat kelangkaan
Prinsip-prinsip ini sangat relevan untuk diterapkan dalam menghadapi kekeringan modern.
Hikmah di Balik Musibah Kekeringan
Mengingatkan akan Kekuasaan Allah atas Alam
Hikmah pertama dan utama dari kekeringan dalam Islam adalah mengingatkan manusia akan kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Ketika kita terbiasa dengan air yang mengalir deras dari keran, kita lupa bahwa Allah-lah yang mengendalikan siklus air.
Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 30:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَاءٍ مَّعِينٍ
“Qul ara’aytum in ashbaha maa’ukum ghauran faman ya’tiikum bimaa’im ma’iin.”
Artinya: “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku, jika air (sumber air)mu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'”
Ayat ini adalah pertanyaan retoris yang sangat kuat. Ketika air kita kering, tidak ada seorang pun yang bisa mendatangkan air kecuali Allah. Tidak peduli seberapa canggih teknologi, seberapa kaya seseorang, atau seberapa kuasa suatu pemerintahan—tanpa izin Allah, air tidak akan turun.
Kekeringan mengembalikan perspektif yang benar tentang hubungan manusia dengan Allah: bahwa kita adalah makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya, dan kesombongan manusia modern yang merasa bisa mengendalikan alam adalah ilusi.
Hikmah-hikmah lain dari kekeringan:
- Mengajarkan kesyukuran: Kita baru benar-benar bersyukur atas air setelah merasakan kehilangan
- Membersihkan dosa: Seperti disebutkan dalam hadis, musibah menghapus dosa jika disikapi dengan sabar
- Menguji kualitas iman: Apakah kita tetap beriman saat susah, atau hanya beriman saat mudah
- Meningkatkan ketakwaan: Kekeringan mendorong kita lebih rajin beribadah, berdoa, dan beristighfar
- Membangun solidaritas sosial: Krisis membuat orang peduli satu sama lain
- Menyadarkan akan akibat kerusakan lingkungan: Kekeringan yang diperberat oleh ulah manusia menjadi pelajaran
Memicu Inovasi dan Pengelolaan Air yang Lebih Baik
Hikmah kedua dari kekeringan adalah mendorong inovasi dan perbaikan dalam pengelolaan air. Seperti pepatah, “Necessity is the mother of invention”—kebutuhan adalah ibu dari inovasi.
Contoh-contoh inovasi yang muncul dari krisis kekeringan:
- Teknologi desalinasi yang semakin efisien dan murah
- Sistem rain water harvesting yang kini digunakan luas
- Drip irrigation yang menghemat air hingga 70%
- Pengolahan grey water (air bekas cuci) untuk digunakan kembali
- Sensor kelembaban tanah yang mengoptimalkan irigasi
- Varietas tanaman tahan kekeringan hasil riset pertanian
Dalam perspektif Islam, mencari solusi teknis adalah bagian dari ikhtiar yang diwajibkan. Allah memberikan akal kepada manusia untuk digunakan mencari solusi, bukan hanya pasrah tanpa usaha.
Namun, inovasi teknis harus disertai dengan perbaikan spiritual: tidak hanya mencari cara baru menghemat air, tetapi juga memperbaiki sikap kita terhadap air sebagai nikmat Allah yang harus dijaga.
Program-program yang bisa diinisiasi:
- Pelatihan pertanian hemat air untuk petani
- Workshop teknologi penampungan air hujan untuk masyarakat
- Kampanye “Hemat Air adalah Ibadah” melalui media masjid
- Kompetisi inovasi pengelolaan air dengan hadiah untuk solusi terbaik
- Kerjasama dengan perguruan tinggi untuk riset solusi kekeringan lokal
Kekeringan, meskipun sulit, bisa menjadi katalis untuk perubahan positif dalam cara kita mengelola air—perubahan yang akan bermanfaat bahkan setelah hujan kembali turun.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Q: Apa doa yang diajarkan Nabi saat kekeringan?
A: Doa utama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW saat kekeringan adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Allahummasqinaa ghaitsan mughiitsan, marii’an mari’an, naafi’an ghayra daarrin, ‘aajilan ghayra aajil.”
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, yang menyegarkan, yang merata, yang bermanfaat tidak membahayakan, yang segera tidak ditunda.” (HR. Abu Dawud)
Doa singkat lainnya: “Allahumma aghitsnaa” (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami) diulang 3 kali. Kedua doa ini sangat mustajab (dikabulkan) jika dibaca dengan penuh keyakinan dan kekhusyukan.
Q: Bagaimana tata cara shalat istisqa?
A: Shalat istisqa dilakukan seperti shalat Ied dengan tata cara sebagai berikut: 2 rakaat dengan takbir 7 kali pada rakaat pertama (termasuk takbiratul ihram) dan 5 takbir pada rakaat kedua (sebelum bacaan Al-Fatihah). Bacaan dikeraskan (jahr). Dilaksanakan di lapangan terbuka (bukan di masjid kecuali ada udzur), dengan pakaian sederhana sebagai tanda kerendahan hati. Setelah shalat, imam menyampaikan satu khutbah yang berisi pujian kepada Allah, istighfar, membaca ayat tentang hujan, dan berdoa meminta hujan. Disunnahkan membalik jubah/baju sebagai simbol perubahan keadaan (dari kekeringan ke hujan). Waktu pelaksanaan seperti waktu shalat Ied (setelah matahari terbit sampai sebelum dzuhur).
Q: Mengapa terjadi kekeringan menurut Islam?
A: Menurut Islam, kekeringan terjadi karena dua faktor: (1) Sunatullah (hukum alam) yang ditetapkan Allah—siklus iklim alami dengan musim kemarau dan hujan yang bergantian; (2) Akibat ulah manusia yang merusak lingkungan, seperti deforestasi, pencemaran air, dan pemborosan. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan laut muncul karena perbuatan tangan manusia. Secara umum, kekeringan adalah ujian kesabaran dan ketakwaan bagi orang beriman, serta peringatan dari Allah agar manusia kembali ke jalan yang benar, lebih bersyukur atas nikmat air, dan memperbaiki cara mengelola lingkungan. Bukan selalu merupakan azab, tetapi bisa menjadi momentum untuk introspeksi spiritual dan perbaikan sikap terhadap alam.
Q: Apa yang harus dilakukan saat musim kemarau panjang?
A: Yang harus dilakukan saat musim kemarau panjang meliputi aspek spiritual dan praktis:
- (1) Perbanyak doa meminta hujan dengan doa-doa yang diajarkan Nabi;
- (2) Istighfar dan taubat karena istighfar adalah kunci turunnya hujan (QS. Nuh: 10-12);
- (3) Shalat istisqa berjamaah secara berkala hingga hujan turun;
- (4) Hemat air dalam segala aktivitas, bahkan untuk wudhu dan mandi;
- (5) Membantu sesama yang kesulitan air melalui berbagi air atau sedekah untuk program tanki air/sumur wakaf;
- (6) Meningkatkan ketakwaan dengan menjaga shalat, puasa sunnah, dan amal saleh;
- (7) Ikhtiar teknis seperti membuat penampungan air hujan, sumur resapan, atau sistem irigasi hemat air;
- (8) Hindari pemborosan dan pencemaran air;
- (9) Gotong royong di tingkat komunitas untuk menghadapi krisis bersama;
- (10) Bersedekah karena sedekah menolak bala dan membuka pintu rahmat Allah.
Q: Apakah kekeringan adalah azab dari Allah?
A: Tidak semua kekeringan adalah azab. Dalam Islam, kekeringan bisa memiliki beberapa makna tergantung konteks dan siapa yang mengalaminya:
- (1) Ujian (balā’) bagi orang beriman untuk menguji kesabaran, ketakwaan, dan kualitas iman mereka—ini bukan azab tetapi cara Allah meningkatkan derajat hamba-Nya yang sabar;
- (2) Peringatan (indzār) bagi masyarakat secara umum agar kembali kepada Allah, lebih bersyukur, dan memperbaiki perilaku;
- (3) Konsekuensi alami dari kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia (Surah Ar-Rum: 41);
- (4) Dalam kasus-kasus khusus tertentu, bisa menjadi azab bagi kaum yang sangat durhaka dan menentang rasul mereka (seperti azab pada kaum-kaum terdahulu).
Yang pasti, kita tidak boleh menghakimi bahwa korban kekeringan adalah orang-orang berdosa—itu adalah penilaian yang tidak islami. Respons yang tepat adalah introspeksi diri, berdoa, berikhtiar, dan meningkatkan ketakwaan.
Q: Apa hubungan istighfar dengan turunnya hujan?
A: Hubungan istighfar dengan turunnya hujan dijelaskan secara eksplisit dalam Surah Nuh ayat 10-12, di mana Nabi Nuh AS mengajak kaumnya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu.” Istighfar (memohon ampun) adalah kunci membuka pintu rahmat Allah, termasuk rahmat berupa hujan. Ketika kita mengakui dosa-dosa, bertaubat, dan memohon ampun dengan tulus, Allah akan menurunkan berbagai keberkahan termasuk hujan.
Mekanismenya:
- (1) Istighfar membersihkan dosa yang mungkin menjadi penghalang turunnya rahmat;
- (2) Istighfar menunjukkan kerendahan hati di hadapan Allah;
- (3) Istighfar adalah bentuk ketaatan yang Allah cintai. Oleh karena itu, saat kekeringan, target minimal 100x istighfar per hari, atau lebih banyak lagi, sambil disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Q: Bagaimana cara menghemat air dalam Islam?
A: Cara menghemat air dalam Islam berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW:
- (1) Berwudhu dengan 1 mud (±0,6 liter): Nabi SAW mengajarkan wudhu yang cukup dengan air sesedikit ini;
- (2) Mandi dengan 1 sha’ (±2,4 liter): Nabi SAW mandi hanya dengan satu sha’, sangat jauh dari kebiasaan modern yang menghabiskan puluhan liter;
- (3) Tidak membiarkan keran terbuka tanpa keperluan;
- (4) Memperbaiki kebocoran segera agar tidak ada air yang terbuang percuma;
- (5) Tidak boros meskipun di sungai yang mengalir: Hadis Nabi melarang boros air bahkan saat berada di tepi sungai;
- (6) Menggunakan kembali grey water (air bekas wudhu/cucian) untuk menyiram tanaman;
- (7) Menampung air hujan untuk keperluan non-minum;
- (8) Menggunakan alat penghemat air seperti aerator di keran.
Prinsipnya: air adalah amanah Allah yang harus dijaga, dan boros air adalah perbuatan setan (QS. Al-Isra: 26-27). Hemat air adalah bagian dari iman dan ketakwaan.
Q: Apa itu sumur wakaf dan bagaimana cara melaksanakannya?
A: Sumur wakaf adalah sumur yang dibangun dan diwakafkan untuk kepentingan umum, khususnya untuk masyarakat yang kesulitan air. Ini adalah salah satu bentuk sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir) yang paling dianjurkan dalam Islam. Sa’d bin Ubadah bertanya kepada Nabi SAW tentang sedekah terbaik untuk ibunya yang meninggal, Nabi menjawab: “Al-maa'” (air).
Cara melaksanakannya:
- (1) Identifikasi lokasi yang paling membutuhkan (daerah rawan kekeringan);
- (2) Survey kondisi air tanah untuk menentukan kedalaman dan jenis sumur;
- (3) Hitung biaya (sumur bor dalam bisa 10-30 juta rupiah tergantung lokasi);
- (4) Kumpulkan donasi dari individu atau komunitas;
- (5) Bangun sumur dengan kontraktor terpercaya;
- (6) Buat plakat/papan yang menyebutkan bahwa ini sumur wakaf (tanpa harus menyebut nama donatur);
- (7) Serahkan pengelolaan kepada komunitas setempat atau pengurus masjid;
- (8) Pastikan akses terbuka untuk semua orang yang membutuhkan. Pahala sumur wakaf terus mengalir selama sumur itu digunakan, bahkan setelah pemberi wakaf meninggal.
Kesimpulan: Dari Kekeringan Menuju Ketakwaan yang Lebih Tinggi
Kekeringan dalam Islam, dengan segala kesulitan yang dibawanya, adalah ujian berat yang dirancang Allah untuk mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang sabar dan bertakwa. Melalui tujuh ujian yang telah kita bahas—ujian kesabaran, ketakwaan dalam mengelola amanah air, solidaritas sosial, keimanan dalam berdoa, introspeksi diri, kreativitas dalam ikhtiar, dan ketahanan komunitas—kita diuji dalam berbagai aspek keimanan secara simultan.
Namun, setiap ujian datang dengan panduan untuk melewatinya. Allah telah memberikan kita petunjuk yang jelas melalui Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW: shalat istisqa untuk meminta hujan, doa-doa yang mustajab, istighfar sebagai kunci turunnya rahmat, hemat air sebagai bagian dari iman, dan solidaritas sebagai manifestasi ukhuwah Islamiyyah. Teladan Nabi SAW yang doanya segera dijawab, dan kebijaksanaan Khalifah Umar bin Khattab dalam menghadapi tahun kekeringan, memberikan kita inspirasi bagaimana memimpin dan dipimpin dalam krisis.
Yang terpenting, kekeringan harus mengubah kita menjadi lebih baik: lebih bersyukur atas nikmat air, lebih hemat dalam menggunakan sumber daya, lebih peduli terhadap sesama yang kesulitan, lebih rajin beribadah dan berdoa, lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Seperti yang Allah janjikan dalam Surah Asy-Syarh: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”—setelah kekeringan, pasti akan ada hujan; setelah kesusahan, pasti akan ada kelapangan; setelah ujian, pasti ada kemenangan bagi yang sabar.
Mari kita jadikan kekeringan sebagai momentum untuk transformasi spiritual: dari yang boros menjadi hemat, dari yang egois menjadi peduli, dari yang lupa menjadi ingat, dari yang durhaka menjadi taat. Laksanakan shalat istisqa, perbanyak istighfar, bangun sumur wakaf, berbagi air dengan yang membutuhkan, dan yang terpenting, tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah—karena hanya dengan ketakwaan sejati, kita akan mampu menghadapi setiap ujian, termasuk kekeringan, dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Wallahu a’lam bishawab. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya, menurunkan hujan yang bermanfaat, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan sabar.











