Banjir Nabi Nuh AS adalah salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah umat manusia yang tercatat dalam Al-Quran dan menjadi pengingat abadi tentang kekuasaan Allah SWT. Kisah air bah Nabi Nuh ini bukan sekadar narasi kuno, melainkan bukti nyata keadilan ilahi yang menyelamatkan orang-orang beriman sekaligus memberikan azab kepada kaum yang durhaka. Peristiwa banjir Nabi Nuh mengguncang peradaban zamannya, menenggelamkan segala bentuk keangkuhan dan kesombongan, namun di saat bersamaan menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang taat.
Melalui bahtera Nuh yang megah, Allah menyelamatkan sekelompok kecil orang beriman beserta pasangan hewan dari kehancuran total. Dalam artikel komprehensif ini, kita akan menyelami 7 fakta lengkap tentang banjir Nabi Nuh AS, mulai dari latar belakang dakwah beliau, kronologi terjadinya air bah terdahsyat, bukti sejarah dan arkeologi, hingga hikmah mendalam yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Daftar Isi
- Siapa Nabi Nuh AS dan Kaumnya yang Durhaka?
- Perintah Allah dan Pembuatan Kapal yang Ajaib
- Kronologi Lengkap Terjadinya Air Bah Terdahsyat
- Bukti Sejarah dan Arkeologi Banjir Nabi Nuh
- Hikmah dan Pelajaran Abadi dari Musibah Banjir Nabi Nuh
- Kisah Banjir Nabi Nuh dalam Al-Quran dan Hadis
- Pertanyaan Umum (FAQ) seputar Banjir Nabi Nuh
Siapa Nabi Nuh AS dan Kaumnya yang Durhaka?
Nabi Nuh AS adalah salah satu rasul ulul azmi yang diutus Allah SWT kepada kaumnya yang telah tenggelam dalam kesesatan dan kemaksiatan. Beliau hidup pada masa dimana penyembahan berhala merajalela, ketidakadilan sosial memuncak, dan manusia telah jauh dari fitrah ketauhidan. Kisah banjir Nuh dimulai dari kondisi moral masyarakat yang sudah sangat rusak, dimana kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran menjadi karakter dominan kaum tersebut.
Untuk memahami lebih dalam tentang perjalanan hidup beliau, Anda dapat membaca Kisah Nabi Nuh AS Lengkap yang mengupas biografi komprehensif sang nabi.
Misi Dakwah Nabi Nuh dan Penolakan Kaumnya
Dakwah Nabi Nuh AS berlangsung selama 950 tahun menurut firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 14. Bayangkan kesabaran luar biasa yang ditunjukkan beliau dalam menghadapi penolakan demi penolakan dari kaumnya. Misi utama dakwah Nabi Nuh sangat jelas dan sederhana:
- Menyeru kepada tauhid – mengesakan Allah dan meninggalkan penyembahan berhala
- Mengingatkan azab Allah – memperingatkan konsekuensi dari kedurhakaan
- Mengajak pada kebaikan – mendorong keadilan sosial dan akhlak mulia
- Memberikan kabar gembira – menjanjikan pahala bagi yang beriman
Namun, kaum Nabi Nuh justru merespons dengan penolakan keras. Mereka menuduh beliau sebagai orang gila, penyihir, dan pembohong. Para pemuka kaum yang sombong bahkan melarang pengikut mereka untuk mendengarkan dakwah Nabi Nuh. Mereka berargumen bahwa hanya orang-orang miskin dan rendahan yang mengikuti Nabi Nuh, sementara para elite dan pembesar menganggap diri mereka terlalu mulia untuk tunduk kepada ajaran seorang manusia biasa.
Al-Quran mencatat dalam Surah Nuh ayat 6-7 bahwa setiap kali Nabi Nuh menyeru kaumnya untuk memohon ampunan kepada Allah, mereka justru menutup telinga dan membungkus diri dengan pakaian mereka, menunjukkan sikap penolakan total.

Permohonan Nabi Nuh kepada Allah atas Keingkaran Kaum
Setelah berabad-abad berdakwah tanpa hasil signifikan, dengan hanya segelintir orang yang beriman, Nabi Nuh akhirnya berdoa kepada Allah. Doa beliau yang termaktub dalam Surah Nuh ayat 26-28 menjadi titik balik menuju terjadinya azab kaum Nabi Nuh melalui banjir dahsyat:
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.”
Permohonan Nabi Nuh ini bukan lahir dari kebencian pribadi, melainkan dari keprihatinan mendalam terhadap generasi masa depan yang akan lahir dari kaum yang sudah sangat keras hatinya. Beliau khawatir keturunan mereka akan mewarisi kekafiran dan menyebarkan kesesatan lebih luas lagi.
Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Nuh dengan memberitahukan bahwa tidak akan ada lagi dari kaumnya yang beriman. Wahyu ini menjadi isyarat bahwa azab besar akan segera datang, dan Nabi Nuh diperintahkan untuk mempersiapkan diri dengan membangun sebuah kapal raksasa yang akan menjadi sarana penyelamatan.
Untuk memahami lebih dalam tentang doa-doa yang dipanjatkan beliau, kunjungi artikel Doa-doa Nabi Nuh yang menghimpun berbagai permohonan beliau kepada Allah.

Perintah Allah dan Pembuatan Kapal yang Ajaib
Setelah Allah SWT memutuskan untuk menurunkan azab kepada kaum Nabi Nuh yang durhaka, datanglah perintah ilahi untuk membangun sebuah kapal Nabi Nuh yang akan menjadi simbol penyelamatan dan mukjizat arsitektur zamannya. Pembuatan bahtera Nuh ini adalah bagian dari rencana agung Allah untuk memisahkan yang hak dari yang batil.
Instruksi Pembuatan Kapal dalam Al-Quran
Allah SWT memberikan instruksi langsung kepada Nabi Nuh untuk membangun kapal. Firman Allah dalam Surah Hud ayat 37 berbunyi:
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
Beberapa poin penting dari perintah Allah mengenai kapal Nabi Nuh:
- Dibuat dengan bimbingan wahyu – Bukan berdasarkan teknologi manusia semata, tetapi dengan petunjuk langsung dari Allah
- Menggunakan kayu dan paku – Al-Quran menyebut penggunaan material kayu dan paku besi dalam konstruksinya
- Dirancang untuk menampung banyak makhluk – Kapal harus cukup besar untuk menampung pasangan dari setiap spesies hewan
- Tahan terhadap gelombang dahsyat – Konstruksi harus kuat menghadapi air bah yang akan menenggelamkan segalanya
Proses pembuatan bahtera Nuh berlangsung di daratan, jauh dari laut atau sungai besar. Hal ini menjadi bahan ejekan kaum Nabi Nuh. Mereka mengolok-olok beliau yang membangun kapal besar di tengah padang pasir. Namun Nabi Nuh dengan sabar menjawab bahwa mereka akan segera mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan.

Spesifikasi dan Teknologi Kapal Nabi Nuh Menurut Kajian
Meskipun Al-Quran tidak menyebutkan dimensi detail kapal Nabi Nuh, berbagai riwayat dan kajian sejarah memberikan gambaran tentang besarnya bahtera tersebut:
Dimensi Kapal:
- Panjang: Diperkirakan sekitar 300 hasta (kurang lebih 135-150 meter)
- Lebar: Sekitar 50 hasta (22-25 meter)
- Tinggi: Sekitar 30 hasta (13-15 meter)
- Struktur: Memiliki tiga tingkat/dek untuk menampung berbagai jenis makhluk
Teknologi Konstruksi:
Para ulama dan peneliti mencatat beberapa aspek teknologi luar biasa dalam pembuatan bahtera Nuh:
- Material waterproofing – Penggunaan ter atau zat kedap air yang diilhamkan Allah
- Sistem drainase – Desain untuk mengalirkan air yang masuk ke kapal
- Ventilasi udara – Sistem sirkulasi udara untuk penghuni kapal
- Pembagian ruangan – Kamar-kamar terpisah untuk manusia dan hewan
Menurut penelitian modern yang dikutip dari Encyclopedia Britannica tentang Noah’s Ark, desain kapal dengan rasio panjang-lebar-tinggi seperti yang digambarkan dalam literatur kuno menunjukkan stabilitas luar biasa dalam menghadapi gelombang besar. Rasio ini mirip dengan kapal-kapal modern yang dirancang untuk pelayaran jarak jauh.
Mukjizat dalam pembuatan kapal ini juga terletak pada bagaimana seorang nabi yang tidak memiliki latar belakang sebagai pembuat kapal mampu mengonstruksi bahtera raksasa yang sempurna secara teknis. Ini membuktikan bahwa ilmu dan kekuatan datang dari Allah SWT.
Para pengikut Nabi Nuh yang sedikit jumlahnya membantu dalam proses konstruksi, bekerja siang malam mengikuti instruksi wahyu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang berbagai keajaiban para nabi termasuk Nabi Nuh, kunjungi artikel Mukjizat 25 Nabi dan Rasul.

Kronologi Lengkap Terjadinya Air Bah Terdahsyat
Banjir Nabi Nuh tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui serangkaian tahapan yang telah ditetapkan Allah SWT. Kronologi peristiwa air bah Nabi Nuh ini menunjukkan kesempurnaan rencana ilahi dan memberikan pelajaran tentang kesabaran serta kepastian janji Allah.
Tanda-tanda Awal dan Penumpangan Penghuni Kapal
Setelah kapal Nabi Nuh selesai dibangun, Allah memberikan tanda khusus kepada Nabi Nuh bahwa azab akan segera dimulai. Tanda-tanda awal yang disebutkan dalam berbagai riwayat:
- Tanur (tungku) yang meluap – Al-Quran menyebutkan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 27 bahwa tanda dimulainya banjir adalah ketika tanur memancarkan air
- Perintah untuk naik ke kapal – Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk segera memasukkan penghuni kapal
- Penolakan terakhir kaum kafir – Bahkan ketika tanda-tanda sudah muncul, kaum Nabi Nuh masih mengejek dan menolak untuk beriman
Penghuni bahtera Nuh yang diselamatkan:
- Keluarga Nabi Nuh yang beriman – termasuk anak-anaknya yang taat (tidak termasuk putranya yang kafir)
- Orang-orang mukmin – sekelompok kecil pengikut setia Nabi Nuh, menurut beberapa riwayat jumlahnya antara 80-100 orang
- Sepasang dari setiap jenis hewan – jantan dan betina dari berbagai spesies makhluk hidup
- Persediaan makanan dan air – untuk keberlangsungan hidup selama masa banjir
Proses penumpangan dilakukan dengan bismillah, sebagaimana firman Allah dalam Surah Hud ayat 41: “Naiklah ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.”
Proses Turunnya Hujan dan Munculnya Mata Air
Ketika semua penghuni sudah berada di dalam bahtera Nuh, dimulailah air bah Nabi Nuh yang dahsyat. Al-Quran menggambarkan proses ini dengan detail yang menakjubkan dalam Surah Al-Qamar ayat 11-12:
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan hujan yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”
Dua sumber air banjir:
- Hujan dari langit – Hujan deras yang belum pernah terjadi sebelumnya, turun tanpa henti
- Mata air dari bumi – Mata air menyembur dari dalam tanah, menambah volume air secara masif
Kombinasi kedua sumber air ini menciptakan banjir Nabi Nuh yang menenggelamkan segala sesuatu di permukaan bumi. Air terus naik hingga menutupi bahkan puncak-puncak gunung tertinggi di wilayah kaum Nabi Nuh.
Kapal Nabi Nuh yang megah itu berlayar di tengah gelombang setinggi gunung. Al-Quran menggambarkan dalam Surah Hud ayat 42: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.”
Moment paling menyayat hati terjadi ketika Nabi Nuh melihat salah satu putranya yang kafir berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke gunung. Beliau memanggil putranya untuk naik ke kapal, tetapi sang anak menolak. Akhirnya gelombang memisahkan mereka, dan putra Nabi Nuh itu termasuk yang ditenggelamkan. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa ikatan darah tidak berarti apa-apa jika tidak ada ikatan keimanan.
Durasi dan Puncak Banjir yang Menenggelamkan Segalanya
Berapa lama banjir Nabi Nuh terjadi? Berdasarkan berbagai riwayat dan tafsir:
- Hujan deras turun selama 40 hari 40 malam secara terus-menerus
- Air tetap menggenangi bumi selama 150 hari sebelum mulai surut
- Proses keseluruhan hingga daratan benar-benar kering memakan waktu sekitar 1 tahun
Selama periode ini, kapal Nabi Nuh terus berlayar mengikuti arus dan gelombang, dilindungi oleh pemeliharaan Allah. Tidak ada navigasi manusia yang mengendalikan, semuanya diserahkan kepada kehendak dan penjagaan Allah SWT.
Puncak banjir terjadi ketika seluruh kaum yang kafir telah tenggelam, tidak tersisa seorang pun. Allah telah menetapkan bahwa tidak ada yang akan selamat dari azab kaum Nabi Nuh kecuali mereka yang beriman dan naik ke dalam bahtera.
Setelah azab selesai, Allah berfirman sebagaimana tercantum dalam Surah Hud ayat 44:
“Dan difirmankan: ‘Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan), berhentilah,’ dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu berlabuh di atas Bukit Judi.”
Bukit Judi (atau Al-Judi) menjadi tempat berlabuhnya bahtera Nuh setelah air surut. Lokasi ini hingga kini menjadi objek penelitian dan pencarian arkeologis, yang akan kita bahas di bagian selanjutnya.
Untuk memahami konteks banjir Nabi Nuh dalam kerangka lebih luas tentang bencana-bencana yang disebutkan dalam kitab suci, baca artikel Bencana Alam dalam Al-Quran.

Bukti Sejarah dan Arkeologi Banjir Nabi Nuh
Pertanyaan tentang bukti sejarah banjir Nuh telah menjadi topik perdebatan dan penelitian selama berabad-abad. Apakah ada bukti fisik yang mendukung peristiwa dahsyat ini? Mari kita telusuri berbagai temuan dan kajian yang ada.
Penemuan Kapal di Gunung Judi/Ararat: Fakta dan Kontroversi
Al-Quran secara eksplisit menyebutkan Bukit Judi sebagai tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Para peneliti dan arkeolog telah melakukan berbagai ekspedisi untuk mencari bukti sejarah banjir Nuh di wilayah-wilayah yang diduga sebagai lokasi Bukit Judi:
Lokasi-lokasi yang Diteliti:
- Gunung Ararat, Turki – Gunung tertinggi di Turki (5.137 mdpl) yang secara tradisi diyakini sebagai tempat berlabuhnya bahtera
- Wilayah Cudi Dağı – Bukit di perbatasan Turki-Irak yang namanya mirip dengan “Judi”
- Pegunungan Armenia – Wilayah yang disebutkan dalam literatur kuno sebagai lokasi kapal Nuh
Temuan Kontroversial:
- Formasi Kapal Durupınar (1959) – Sebuah formasi geologis berbentuk kapal ditemukan dekat Gunung Ararat. Beberapa peneliti mengklaim ini adalah kapal Nabi Nuh, namun mayoritas ilmuwan menganggapnya formasi alami
- Ekspedisi satelit NASA – Citra satelit menunjukkan anomali berbentuk kapal di pegunungan Ararat, memicu penelitian lanjutan
- Temuan kayu kuno – Beberapa ekspedisi mengklaim menemukan potongan kayu yang diawetkan di ketinggian gunung, meski dating dan verifikasinya masih diperdebatkan
Perspektif Ilmiah:
Penting untuk dicatat bahwa bukti definitif tentang lokasi persis bahtera Nuh belum ditemukan dengan konsensus ilmiah. Namun, ketiadaan bukti bukan berarti pembuktian ketiadaan. Beberapa faktor yang mempersulit pencarian:
- Erosi ribuan tahun – Kayu dan material organik akan hancur dalam waktu lama
- Perubahan geografis – Bentang alam telah berubah drastis sejak zaman Nabi Nuh
- Keterbatasan teknologi – Wilayah pegunungan yang sulit dijangkau membatasi penelitian
Jejak Geologis dan Kisah Banjir Besar dalam Beragam Peradaban
Yang menarik, kisah banjir Nuh bukan hanya ada dalam tradisi Islam, tetapi juga dalam berbagai peradaban kuno di seluruh dunia. Ini memberikan indikasi kuat bahwa memang pernah terjadi peristiwa banjir besar yang terekam dalam memori kolektif umat manusia.
Kisah Banjir Besar dalam Berbagai Tradisi:
- Epik Gilgamesh (Mesopotamia) – Kisah Utnapishtim yang selamat dari banjir dengan membangun kapal
- Tradisi Hindu – Kisah Manu yang diselamatkan dari banjir oleh dewa Matsya
- Mitologi Yunani – Kisah Deucalion dan Pyrrha yang selamat dari banjir Zeus
- Legenda Tiongkok – Kisah Gun dan Yu yang mengendalikan banjir besar
- Cerita suku asli Amerika – Berbagai suku memiliki legenda tentang banjir dahsyat
Bukti Geologis:
Para geolog menemukan beberapa indikasi yang mungkin terkait dengan air bah Nabi Nuh:
- Endapan sedimen – Lapisan sedimen luas di berbagai wilayah Timur Tengah yang menunjukkan tanda-tanda banjir masif
- Black Sea Deluge Theory – Hipotesis yang menyatakan Laut Hitam pernah mengalami banjir katastropik sekitar 5600 SM
- Fosil kelautan di pegunungan – Penemuan fosil makhluk laut di ketinggian yang menunjukkan pernah terendam air
Menurut beberapa kajian yang dipublikasikan dalam jurnal arkeologi, ada kemungkinan banjir Nabi Nuh adalah peristiwa regional yang sangat besar sehingga bagi penduduk saat itu terasa seperti meliputi “seluruh dunia mereka.”
Pertanyaan Skala Banjir:
Apakah banjir Nabi Nuh bersifat global atau lokal? Para ulama berbeda pendapat:
- Pendapat mayoritas ulama klasik: Banjir meliputi seluruh permukaan bumi
- Pendapat sebagian ulama kontemporer: Banjir meliputi wilayah yang dihuni kaum Nabi Nuh, yang pada masa itu adalah “dunia yang dikenal”
Kedua pendapat ini sama-sama valid dalam kerangka pemahaman Islam, karena yang terpenting adalah hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, bukan sekadar detail geografisnya.
Untuk penelusuran lebih mendalam tentang temuan arkeologis, Anda dapat mengunjungi situs-situs penelitian seperti Encyclopedia Britannica yang mendokumentasikan berbagai teori dan temuan terkait bahtera Nuh.

Hikmah dan Pelajaran Abadi dari Musibah Banjir Nabi Nuh
Hikmah banjir Nabi Nuh sangat mendalam dan relevan sepanjang zaman. Allah SWT tidak menurunkan azab tanpa maksud, dan tidak mencatat kisah ini dalam Al-Quran kecuali untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Tanda Kekuasaan Allah dan Pentingnya Ketaatan
Kekuasaan mutlak Allah terpancar jelas dalam peristiwa banjir Nabi Nuh. Beberapa hikmah utama:
- Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu – Mampu mendatangkan air dari langit dan bumi secara bersamaan dalam skala masif
- Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah – Gunung-gunung tertinggi pun tidak mampu melindungi dari azab-Nya
- Ketaatan lebih penting dari ikatan darah – Kisah putra Nabi Nuh yang menolak beriman menunjukkan bahwa keimanan adalah ikatan terkuat
Pentingnya ketaatan juga terlihat dari keselamatan yang diberikan kepada orang-orang beriman. Mereka yang taat kepada Allah dan mengikuti petunjuk Nabi Nuh, meskipun sedikit jumlahnya dan dianggap lemah oleh masyarakat, justru yang diselamatkan.
Pelajaran kunci:
- Keimanan adalah pelindung sejati – Bukan harta, kedudukan, atau kekuatan fisik
- Mengikuti petunjuk Allah adalah kunci keselamatan – Bahkan jika terlihat tidak masuk akal (membangun kapal di padang pasir)
- Kesombongan adalah akar kehancuran – Kaum Nabi Nuh binasa karena arogansi dan penolakan terhadap kebenaran
Pelajaran tentang Kesabaran, Dakwah, dan Keadilan Ilahi
Kesabaran Nabi Nuh selama 950 tahun berdakwah adalah teladan luar biasa bagi setiap da’i dan muslim. Beliau tidak pernah putus asa meskipun menghadapi penolakan terus-menerus. Ini mengajarkan:
- Dakwah adalah proses panjang – Hasil tidak selalu instan, kadang membutuhkan waktu sangat lama
- Tugas da’i adalah menyampaikan – Hidayah adalah hak prerogatif Allah
- Kesabaran dalam menghadapi hinaan – Nabi Nuh tetap santun meski terus diejek
Keadilan ilahi juga sangat jelas dalam kisah banjir Nuh. Allah tidak sembarangan menurunkan azab:
- Peringatan diberikan terlebih dahulu – Melalui dakwah Nabi Nuh selama berabad-abad
- Kesempatan taubat selalu terbuka – Hingga detik-detik terakhir sebelum azab turun
- Azab hanya untuk yang menolak – Orang-orang beriman diselamatkan dengan cara mukjizat
- Tidak adaظلم (kezaliman) dari Allah – Setiap kaum yang binasa adalah karena perbuatan mereka sendiri
Mukjizat Nabi Nuh dalam bentuk bahtera yang dapat mengarungi gelombang setinggi gunung juga menunjukkan bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang beriman, bahkan dalam situasi yang tampak mustahil.
Relevansi Kisah Banjir Nuh dengan Bencana Alam Masa Kini
Banjir Nabi Nuh memiliki relevansi kuat dengan kondisi masa kini, khususnya terkait bencana alam dan krisis moral:
Paralel dengan Kondisi Modern:
- Bencana banjir yang semakin sering – Perubahan iklim menyebabkan banjir bandang di berbagai belahan dunia
- Degradasi moral masyarakat – Seperti kaum Nabi Nuh, banyak masyarakat modern yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan
- Mengabaikan peringatan – Banyak orang mengabaikan peringatan tentang bencana alam dan krisis lingkungan
Pelajaran untuk Masa Kini:
- Bencana adalah peringatan Allah – Tidak untuk membinasakan, tetapi untuk menyadarkan
- Persiapan menghadapi bencana – Seperti Nabi Nuh mempersiapkan kapal, kita harus bersiap menghadapi musibah
- Kembali kepada nilai-nilai ketuhanan – Solusi fundamental bukan hanya teknologi, tetapi juga spiritual
- Tanggung jawab terhadap lingkungan – Menjaga bumi dari kerusakan adalah amanah
Hikmah personal yang dapat dipetik:
- Jangan sombong dengan pencapaian duniawi
- Selalu terbuka terhadap kebenaran
- Membangun “bahtera” iman untuk menghadapi gelombang kehidupan
- Kesabaran akan membuahkan hasil
- Percaya pada rencana Allah meski tidak kita pahami sepenuhnya
Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana mengambil hikmah dari musibah, baca artikel Hikmah Dibalik Musibah Banjir yang membahas perspektif fikih tentang bencana alam.
Kisah Banjir Nabi Nuh dalam Al-Quran dan Hadis
Kisah banjir Nuh disebutkan dalam berbagai surah Al-Quran dengan detail yang saling melengkapi, menunjukkan pentingnya kisah ini sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Surah dan Ayat Penting yang Mengisahkan Peristiwa Ini
Al-Quran menceritakan banjir Nabi Nuh dalam beberapa surah dengan penekanan berbeda:
1. Surah Hud (11:25-49)
Surah ini memberikan narasi paling lengkap tentang air bah Nabi Nuh. Anda dapat membaca langsung di Quran.com Surah Hud. Dalam surah ini dijelaskan:
- Dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya
- Pembuatan kapal dan ejekan kaum kafir
- Tanda dimulainya banjir (tanur yang meluap)
- Proses banjir dan tenggelamnya kaum kafir
- Dialog Nabi Nuh dengan putranya yang kafir
- Berlabuhnya kapal di Bukit Judi
2. Surah Nuh (71:1-28)
Surah yang secara khusus dinamai dengan nama Nabi Nuh ini fokus pada:
- Proses dakwah beliau selama berabad-abad
- Berbagai metode dakwah yang digunakan (siang-malam, terang-terangan, sembunyi-sembunyi)
- Penolakan keras kaum Nuh
- Doa Nabi Nuh meminta agar tidak ada orang kafir yang tersisa
3. Surah Al-Qamar (54:9-17)
Surah ini menggambarkan banjir Nabi Nuh dengan gaya yang dramatis:
- “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan hujan yang tercurah”
- “Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air”
- “Kami selamatkan dia beserta penghuni kapal yang terbuat dari papan dan paku”
4. Surah Al-Ankabut (29:14-15)
Menyebutkan durasi dakwah Nabi Nuh: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.”
5. Surah Al-A’raf, Al-Mu’minun, Asy-Syu’ara, dan lainnya
Berbagai surah lain juga menyinggung kisah banjir Nuh dengan fokus pada aspek-aspek tertentu seperti peringatan, keimanan, dan azab.
Hadis Shahih tentang Nabi Nuh:
Dalam Shahih Bukhari 3346, Rasulullah SAW bersabda tentang syafaat di hari kiamat, dimana umat akan mendatangi para nabi termasuk Nabi Nuh. Ini menunjukkan kedudukan tinggi Nabi Nuh sebagai salah satu Ulul Azmi (nabi-nabi yang memiliki keteguhan luar biasa).
Penjelasan Ulama tentang Makna dan Ibrahnya
Para ulama tafsir telah memberikan penjelasan mendalam tentang hikmah banjir Nabi Nuh:
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan:
- Banjir sebagai pembersihan bumi dari kemusyrikan dan kekafiran
- Kapal sebagai simbol iman yang menyelamatkan dari azab
- Pentingnya mengikuti petunjuk Allah dalam setiap aspek kehidupan
Imam Al-Qurthubi menekankan:
- Kesabaran dalam dakwah – Nabi Nuh tidak putus asa meski 950 tahun ditolak
- Keadilan Allah – Azab tidak turun kecuali setelah peringatan berkali-kali
- Keluarga bukan jaminan keselamatan – Yang menyelamatkan adalah keimanan
Syekh Muhammad Abduh memberikan perspektif modern:
- Relevansi kisah dengan kondisi kontemporer – Setiap generasi menghadapi ujian serupa
- Pentingnya persiapan menghadapi krisis – Seperti Nabi Nuh mempersiapkan kapal
Poin-poin ibrah (pelajaran) utama menurut para ulama:
- Kebenaran pasti menang – Meski sementara terlihat lemah
- Dakwah memerlukan kesabaran luar biasa – Hasil ada di tangan Allah
- Iman lebih kuat dari ikatan darah – Putra Nabi Nuh yang kafir tidak terselamatkan
- Persiapan adalah bagian dari iman – Membangun kapal adalah ikhtiar yang diperintahkan Allah
- Allah tidak menzalimi siapapun – Setiap azab adalah konsekuensi dari perbuatan manusia sendiri
- Mukjizat Allah tidak terbatas – Kapal yang berlayar di gelombang setinggi gunung
- Harapan pada Allah – Bahkan dalam situasi paling sulit, Allah menyediakan jalan keluar
Kontekstualisasi untuk Masa Kini:
Para ulama kontemporer juga menghubungkan kisah banjir Nuh dengan tantangan zaman modern:
- Krisis lingkungan – Banjir modern sebagai akibat kerusakan alam oleh manusia
- Degradasi moral – Pentingnya kembali kepada nilai-nilai ketuhanan
- Teknologi dan iman – Seperti kapal Nabi Nuh, teknologi harus diiringi petunjuk ilahi
Pertanyaan Umum (FAQ) seputar Banjir Nabi Nuh
Berikut beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang banjir Nabi Nuh beserta jawabannya berdasarkan Al-Quran, hadis, dan kajian ulama:
Q: Berapa lama banjir Nabi Nuh terjadi?
A: Berdasarkan berbagai riwayat dan tafsir, hujan lebat terjadi selama 40 hari 40 malam tanpa henti. Air kemudian menggenangi bumi dan baru benar-benar surut setelah sekitar 150 hari. Proses keseluruhan dari mulai turunnya hujan, puncak banjir, surutnya air, hingga daratan benar-benar kering dan layak dihuni memakan waktu sekitar 1 tahun. Durasi ini menunjukkan dahsyatnya air bah Nabi Nuh yang melanda.
Q: Di mana kapal Nabi Nuh berlabuh?
A: Al-Quran secara eksplisit menyebutkan dalam Surah Hud ayat 44 bahwa bahtera Nuh berlabuh di atas Bukit Judi (Al-Judi). Para ahli tafsir dan sejarawan mengidentifikasi beberapa kemungkinan lokasi: wilayah pegunungan di perbatasan Turki-Suriah, kawasan Armenia, atau pegunungan di Turki tenggara. Gunung Ararat di Turki secara tradisional dipercaya sebagai lokasi Bukit Judi, meski ada perbedaan pendapat di kalangan peneliti.
Q: Apa hikmah utama dari bencana banjir Nabi Nuh?
A: Hikmah banjir Nabi Nuh sangat mendalam dan berlapis. Pertama, sebagai bukti kekuasaan Allah SWT yang mutlak atas alam semesta. Kedua, sebagai teguran keras atas keingkaran dan kesombongan kaum yang menolak kebenaran. Ketiga, sebagai penyelamatan bagi orang-orang beriman yang taat kepada Allah dan rasul-Nya. Keempat, mengajarkan tentang keadilan ilahi – bahwa Allah tidak menzalimi siapapun dan selalu memberi peringatan sebelum menurunkan azab. Kelima, pentingnya kesabaran dalam dakwah – Nabi Nuh berdakwah 950 tahun tanpa menyerah. Keenam, kepastian janji Allah bahwa orang-orang beriman pasti akan diselamatkan meski dengan cara yang tidak terduga.
Q: Apakah banjir Nabi Nuh bencana lokal atau global?
A: Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ilmuwan tentang skala banjir Nabi Nuh. Pandangan mayoritas ulama klasik menyatakan banjir ini bersifat global, meliputi seluruh permukaan bumi. Namun, sebagian ulama kontemporer berpendapat bahwa banjir meliputi wilayah yang dihuni kaum Nabi Nuh, yang pada masa itu dianggap sebagai “seluruh dunia mereka” karena belum ada peradaban lain yang dikenal. Kedua pendapat ini sama-sama dapat diterima dalam kerangka pemahaman Islam, karena yang terpenting adalah hikmah dan pelajaran yang terkandung dalam peristiwa tersebut, bukan sekadar detail geografisnya.
Q: Siapa saja yang selamat dari banjir Nabi Nuh?
A: Yang selamat dari azab kaum Nabi Nuh adalah: (1) Nabi Nuh AS sendiri, (2) Keluarganya yang beriman – tidak termasuk putranya yang kafir dan istrinya yang tidak beriman, (3) Sekelompok kecil orang-orang mukmin yang mengikuti dakwah Nabi Nuh, menurut beberapa riwayat jumlahnya antara 80-100 orang, dan (4) Sepasang dari setiap jenis hewan (jantan dan betina) yang dibawa ke dalam kapal Nabi Nuh untuk melestarikan spesies.
Q: Mengapa kaum Nabi Nuh menolak dakwahnya?
A: Al-Quran mencatat beberapa alasan penolakan: (1) Kesombongan – mereka menganggap Nabi Nuh hanya manusia biasa seperti mereka, (2) Fanatisme terhadap tradisi nenek moyang – enggan meninggalkan penyembahan berhala yang diwarisi, (3) Diskriminasi sosial – mereka menolak karena pengikut Nabi Nuh kebanyakan dari kalangan lemah dan miskin, (4) Kepentingan elit – para pemuka kaum khawatir kehilangan pengaruh dan kekuasaan, (5) Keangkuhan materialistis – merasa kuat dengan harta dan kedudukan mereka.
Q: Apa mukjizat Nabi Nuh selain kapal?
A: Selain bahtera Nuh yang merupakan mukjizat Nabi Nuh paling terkenal, beberapa mukjizat lain yang dikaitkan dengan beliau: (1) Umur panjang – hidup hingga 950 tahun untuk berdakwah, (2) Kemampuan bertahan hidup di kapal selama lebih dari setahun tanpa kehabisan persediaan, (3) Penguasaan teknologi pembuatan kapal yang diilhamkan Allah meski beliau bukan ahli perkapalan, (4) Perlindungan kapal di tengah gelombang setinggi gunung, dan (5) Kesabaran luar biasa menghadapi penolakan berabad-abad yang merupakan mukjizat akhlak.
Q: Bagaimana cara Nabi Nuh mengumpulkan semua hewan ke dalam kapal?
A: Al-Quran tidak menjelaskan detail teknis ini, tetapi para ulama menyimpulkan bahwa ini adalah bagian dari mukjizat Nabi Nuh. Allah yang memerintahkan Nabi Nuh untuk membawa sepasang dari setiap jenis hewan, dan Allah pula yang memudahkan prosesnya. Kemungkinan Allah mengilhamkan hewan-hewan untuk datang sendiri ke kapal, atau memberikan kemudahan luar biasa kepada Nabi Nuh dalam mengumpulkan mereka. Yang pasti, ini adalah perintah dan pertolongan Allah, bukan semata-mata usaha manusia.

Kesimpulan: Refleksi atas Kekuasaan dan Kasih Sayang Allah
Banjir Nabi Nuh AS adalah peristiwa monumental yang menggabungkan dua sisi dari sifat Allah: keadilan yang tegas sekaligus kasih sayang yang melimpah. Kaum yang durhaka mendapat azab setimpal, sementara orang-orang beriman diselamatkan dengan cara yang mukjizat. Kisah ini mengajarkan kita bahwa tidak ada tempat bagi kesombongan dan keingkaran dalam hidup seorang mukmin.
Air bah Nabi Nuh bukan sekadar catatan sejarah kuno, melainkan cermin bagi setiap generasi untuk merenung: apakah kita termasuk golongan yang taat atau yang sombong? Hikmah banjir Nabi Nuh mengajak kita untuk membangun “bahtera iman” di tengah gelombang kehidupan modern yang penuh ujian. Kesabaran Nabi Nuh selama 950 tahun berdakwah adalah teladan sempurna tentang keteguhan dalam kebenaran.
Di tengah bencana alam yang semakin sering melanda dunia modern, kisah banjir Nuh mengingatkan kita untuk kembali kepada nilai-nilai ketuhanan, menjaga lingkungan, dan bersiap menghadapi ujian dengan iman yang kokoh. Semoga kita semua termasuk golongan yang diselamatkan oleh Allah, seperti penghuni bahtera Nuh yang taat dan sabar. Wallahu a’lam bishawab.
Kata Kunci: banjir nabi nuh, air bah nabi nuh, kapal nabi nuh, kisah banjir nuh, bahtera nuh, bukti sejarah banjir nuh, hikmah banjir nabi nuh, mukjizat nabi nuh, bukit judi, azab kaum nabi nuh
Artikel ini ditulis dengan merujuk pada Al-Quran, Hadis Shahih, dan kajian ulama terpercaya. Semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan memperkuat iman kita semua. Aamiin.










