Pendahuluan: Madrasah sebagai Benteng Moderasi
Madrasah dan pesantren memiliki peran historis sebagai pusat pendidikan Islam moderat di Indonesia. Dari 85.000 madrasah dan 28.000 pesantren yang tersebar di seluruh nusantara, mayoritas mengusung nilai-nilai Islam wasathiyyah yang selaras dengan Pancasila. Namun, era digital membawa tantangan baru: infiltrasi ideologi ekstrem melalui internet dan literatur transnasional yang tidak sesuai dengan tradisi Islam Nusantara.
Kurikulum moderasi beragama madrasah menjadi solusi strategis untuk memastikan lembaga pendidikan Islam tetap menjadi benteng toleransi, bukan ladang radikalisasi. Artikel ini menyajikan panduan lengkap penyusunan dan implementasi kurikulum moderasi untuk MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), dan pesantren, berbasis pada framework Kemenag dan best practices dari berbagai daerah.
Prinsip-Prinsip Kurikulum Moderasi Beragama Madrasah
1. Berakar pada Tradisi Islam Nusantara
Karakteristik:
- Menggunakan pendekatan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah
- Menekankan tasamuh (toleransi), tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil)
- Menghormati perbedaan madzhab dan pendapat ulama (ikhtilaf)
- Mengakomodasi budaya lokal yang tidak bertentangan dengan syariat
Rujukan Utama:
- Kitab-kitab klasik ulama Nusantara (Nawawi Banten, Mahfudz Termas, Syekh Yasin Padang)
- Pemikiran tokoh moderat (KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Buya Hamka)
- Keputusan Bahtsul Masail NU dan Tarjih Muhammadiyah
2. Menghargai Keberagaman (Pluralisme Positif)
Bukan berarti:
- Menyamakan semua agama
- Sinkretisme atau mencampur-adukkan aqidah
- Kompromi dalam hal ushul (pokok agama)
Tetapi berarti:
- Menghormati hak orang lain beragama sesuai keyakinannya
- Hidup berdampingan secara damai
- Kerjasama dalam kebaikan bersama (ta’awun ‘alal birri wat taqwa)
Landasan:
- QS. Al-Kafirun: 6 “Lakum dinukum waliyadin” (Untukmu agamamu, untukku agamaku)
- QS. Al-Hujurat: 13 tentang penciptaan bangsa-bangsa dan suku-suku untuk saling mengenal
- Piagam Madinah sebagai konstitusi pluralis pertama
3. Anti-Kekerasan dan Ekstremisme
Kurikulum harus:
- Menolak takfirisme (mudah mengkafirkan orang lain)
- Menolak jihadisme ofensif (pemahaman jihad hanya sebagai perang)
- Menolak khilafahisme (obsesi negara Islam global dengan kekerasan)
- Mempromosikan resolusi konflik secara damai
Metode:
- Tafsir kontekstual ayat-ayat jihad dan qital
- Studi kasus sejarah penyebaran Islam tanpa kekerasan (Walisongo)
- Critical thinking terhadap propaganda ekstremis
4. Berkomitmen pada NKRI dan Pancasila
Integrasi dalam Kurikulum:
- Fiqh Siyasah: Membahas hubungan agama dan negara dalam konteks Indonesia
- Sejarah Islam Indonesia: Peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan
- Pancasila dalam Perspektif Islam: Sila-sila Pancasila selaras dengan maqashid syariah
Referensi:
- Khittah NU 1926 yang menerima NKRI sebagai bentuk negara final
- Muktamar Muhammadiyah yang menegaskan komitmen pada Pancasila
- Fatwa MUI tentang wajibnya menjaga NKRI
Struktur Kurikulum Moderasi Beragama untuk Madrasah
A. Kurikulum Inti (Mata Pelajaran Wajib)
1. Aqidah Akhlak – Dengan Perspektif Moderat
MI (Kelas 1-6):
- Tema: Aqidah sederhana dengan penekanan pada rahmat Allah untuk semua makhluk
- Materi:
- Rukun Iman dengan pemahaman inklusif
- Kisah para nabi yang berdakwah dengan hikmah
- Akhlak terpuji: toleransi, kasih sayang, kejujuran
- Metode: Storytelling, role-play, lagu islami moderat
Contoh Pembelajaran:
- Topik: Nabi Muhammad SAW Rahmatan lil Alamin
- Aktivitas: Siswa menonton video animasi tentang toleransi Nabi kepada non-Muslim (kisah paman Abu Thalib, Perjanjian Hudaibiyah)
- Refleksi: “Bagaimana kita bisa meneladani sikap Nabi di sekolah?”
MTs (Kelas 7-9):
- Tema: Tauhid dengan pendekatan filosofis, menghindari dogmatisme
- Materi:
- Aliran-aliran teologi Islam (Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah) secara objektif
- Perbedaan madzhab aqidah sebagai rahmat
- Menghindari sikap takfir
- Metode: Diskusi kelompok, debat santun, studi komparatif
MA (Kelas 10-12):
- Tema: Ilmu Kalam mendalam dengan critical thinking
- Materi:
- Filsafat ketuhanan dalam berbagai tradisi (Islam, Kristen, Hindu, Budha) secara akademis
- Respons moderat terhadap ateisme dan agnostisisme
- Dialog antar-iman: teori dan praktik
- Metode: Seminar, presentasi, research paper
2. Fiqh – Menghargai Khilafiyah
Prinsip Pengajaran:
- Tidak mengklaim satu madzhab sebagai yang paling benar
- Menjelaskan alasan perbedaan pendapat (ikhtilaf)
- Mendorong siswa memilih pendapat yang paling kuat dalilnya, bukan ikut-ikutan
Contoh Materi:
- Topik: Hukum Tarawih 8 atau 20 Rakaat?
- Pendekatan Lama (Dogmatis): “Yang benar adalah 20 rakaat, yang 8 rakaat keliru.”
- Pendekatan Moderasi:
- Dalil 8 rakaat: Hadis Aisyah (HR. Bukhari-Muslim)
- Dalil 20 rakaat: Praktik Umar bin Khattab dan ijma sahabat
- Kesimpulan: Keduanya valid (qaul mu’tabar), pilih sesuai kondisi
- Sikap: Tidak boleh mengkafirkan yang berbeda
Pembelajaran Fiqh Kontemporer:
- Fiqh lingkungan (ekologi dalam Islam)
- Fiqh toleransi (hukum mengucapkan selamat Natal, dll.)
- Fiqh minorias (Muslim hidup di negara non-Muslim)
3. Qur’an Hadis – Tafsir Kontekstual
Metode Tafsir Moderat:
- Melihat Asbabun Nuzul: Memahami konteks historis ayat
- Menggunakan Tafsir Ulama Moderat: Quraish Shihab, Hamka, ath-Thabari
- Menghindari Tafsir Literal-Ekstrem: Terutama ayat-ayat tentang jihad, kafir, dll.
Contoh:
- Ayat: QS. At-Taubah: 5 (Ayat Pedang)
- Tafsir Ekstrem: “Bunuh semua kafir di mana saja!”
- Tafsir Moderat:
- Konteks: Perang dengan kaum Quraisy yang melanggar perjanjian
- Ayat selanjutnya (ayat 6): Jika mereka minta perlindungan, beri perlindungan
- Prinsip: Perang hanya defensif, bukan ofensif apalagi teror sipil
Pembelajaran Hadis:
- Kritik sanad dan matan (ilmu Mushthalah Hadis)
- Membedakan hadis shahih, hasan, dhaif, maudhu
- Warning terhadap hadis palsu yang sering digunakan kelompok radikal
4. Sejarah Kebudayaan Islam – Dengan Narasi Moderasi
Materi yang Harus Ada:
- Sejarah Islam Nusantara: Walisongo, kerajaan-kerajaan Islam Indonesia
- Peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan (Resolusi Jihad 1945)
- Perkembangan ormas Islam moderat (NU, Muhammadiyah, Persis)
- Studi kasus: Konflik antar-Muslim dan resolusinya secara damai
Menghindari:
- Glorifikasi berlebihan terhadap khilafah Bani Umayyah/Abbasiyah tanpa kritik
- Narasi hitam-putih (Islam vs Barat)
- Hero-worshiping terhadap tokoh-tokoh kontroversial
5. Bahasa Arab – Dengan Konten Moderasi
Integrasi:
- Materi percakapan: Dialog lintas budaya, perkenalan dengan orang beda agama
- Teks bacaan: Artikel tentang toleransi, biografi tokoh moderat
- Insya (karangan): Tema-tema perdamaian, keberagaman, persaudaraan
Contoh:
- Topik: “Ziarah ke Tempat Ibadah Lain” (dalam bahasa Arab)
- Siswa menulis esai tentang pengalaman mengunjungi gereja/vihara (jika ada program)
B. Kurikulum Muatan Lokal (Mulok)
1. Studi Kitab Kuning Moderat
Kitab yang Direkomendasikan:
- Adab: Ta’lim Muta’allim (etika belajar), Tanbihul Ghafilin (peringatan bagi yang lalai)
- Tauhid: Aqidatul Awam, Kifayatul Awam (Aswaja)
- Fiqh: Safinatun Najah, Fathul Qarib (Madzhab Syafi’i dengan catatan ikhtilaf)
- Tasawuf: Al-Hikam Ibnu Athaillah, Ihya Ulumuddin Al-Ghazali (selektif)
- Toleransi: Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah KH. Hasyim Asy’ari
Metode:
- Sorogan (belajar privat dengan kyai)
- Bandongan (kyai membaca, santri mendengar)
- Bahtsul Masail (diskusi untuk memecahkan kasus fiqh kontemporer)
2. Praktek Moderasi Beragama
Kegiatan:
- Kunjungan ke Rumah Ibadah Lain: Observasi, bukan partisipasi ritual
- Dialog Lintas Iman: Undang pastor/pendeta/biksu untuk sharing (tanpa debat kusir)
- Proyek Sosial Bersama: Gotong royong dengan komunitas non-Muslim
- Kajian Isu Kontemporer: Diskusi tentang isu hoax, radikalisme, toleransi
3. Pendidikan Kewarganegaraan Islam (Civic Education)
Materi:
- Hak dan kewajiban warga negara Muslim
- Partisipasi politik dalam demokrasi (halal atau haram?)
- Hubungan Islam dan negara (bukan negara Islam, bukan sekuler, tapi Pancasila)
- Nasionalisme dan patriotisme dalam Islam
Integrasi Moderasi dalam Kurikulum Pesantren
1. Pesantren Salafiyah (Tradisional)
Tantangan: Pesantren salafiyah murni kadang resisten terhadap “inovasi” karena takut bid’ah.
Solusi:
- Soft Approach: Jelaskan bahwa moderasi adalah ajaran ulama salaf (Imam Syafi’i, Imam Malik sangat toleran)
- Kitab Kuning sebagai Sumber: Gunakan kitab klasik yang memang mengajarkan moderasi
- Kiai sebagai Role Model: Jika kiai sudah moderat, santri akan mengikuti
Program:
- Bahtsul Masail mingguan dengan tema moderasi
- Kajian hadis-hadis toleransi
- Kunjungan ke pesantren lain (NU, Muhammadiyah) untuk belajar perbedaan
2. Pesantren Modern (Khalafiyah)
Keunggulan: Sudah menggunakan klasikal system dan kurikulum Kemendikbud + Kemenag, lebih mudah integr asi.
Inovasi:
- Ekstrakurikuler Dialog Antaragama
- Debat Bahasa Arab bertema toleransi
- Magang Sosial: Santri magang di LSM lintas iman atau FKUB
Contoh: Pesantren Gontor
- Integrasi bahasa Inggris dan Arab
- Santri dilatih berpikir kritis dan toleran
- Alumni jadi duta Islam moderat di berbagai negara
3. Pesantren Mahasiswa (Ma’had Jami’ah)
Karakteristik: Santri adalah mahasiswa, lebih kritis dan rentan propaganda kampus.
Strategi:
- Mentoring Intensif: 1 pembimbing untuk 5-10 santri
- Diskusi Kritis: Forum kajian isu-isu sensitif (khilafah, jihad, demokrasi) dengan pendekatan moderat
- Kolaborasi Lintas Kampus: Joint program dengan mahasiswa non-Muslim
- Publikasi Ilmiah: Dorong santri menulis paper tentang moderasi
Metode Pembelajaran Moderasi Beragama yang Efektif
1. Problem-Based Learning (PBL)
Contoh Kasus:
Masalah: Ada warga non-Muslim yang meminta izin membangun gereja di desa mayoritas Muslim. Sebagian warga menolak, sebagian setuju. Anda diminta menjadi mediator.
Tahapan:
- Identifikasi Masalah: Apa akar masalah? Teologis atau sosial?
- Riset Dalil: Cari ayat, hadis, pendapat ulama tentang rumah ibadah non-Muslim
- Analisis Konteks: Apakah gereja untuk warga lokal atau misi? Apakah ada kompromi (mis: lokasi)?
- Solusi: Rancang win-win solution
- Presentasi: Kelompok presentasi solusi mereka, kelas berdiskusi
Output: Siswa belajar berpikir kritis, tidak sekadar menghafal fatwa.
2. Socratic Method (Tanya Jawab Kritis)
Contoh:
Guru: “Mengapa kita harus toleran kepada non-Muslim?” Siswa: “Karena diperintahkan Allah.” Guru: “Di mana dalilnya?” Siswa: mencari dalil… Guru: “Jika toleransi diperintahkan, apakah ada batasnya?” Siswa: “Ya, toleransi dalam interaksi sosial, bukan aqidah.” Guru: “Bagaimana jika mereka mengajak ke agamanya?” Siswa: “Kita menolak dengan santun, tetap menghormati.”
Manfaat: Siswa tidak sekadar terima pendapat guru, tetapi memahami secara mendalam.
3. Role-Playing dan Simulasi
Skenario: Simulasi Debat Antar-Madzhab
Kelompok A: Madzhab Syafi’i Kelompok B: Madzhab Hanafi Topik: Hukum qunut subuh
Aturan:
- Setiap kelompok menyiapkan dalil
- Debat dengan adab yang baik
- Moderator (guru) memastikan tidak ada ad-hominem attack
- Kesimpulan: Keduanya valid, tidak boleh saling menyalahkan
Refleksi: Siswa merasakan bahwa perbedaan adalah wajar dan rahmat.
4. Kunjungan Lapangan (Field Trip)
Destinasi:
- Museum Kebangkitan Nasional: Melihat peran ulama dalam kemerdekaan
- Gereja/Vihara: Observasi ibadah (dari luar, tidak ikut ritual)
- FKUB: Wawancara dengan pengurus tentang strategi menjaga kerukunan
- Pesantren Moderat: Study visit ke Tebuireng (NU) atau Pondok Modern Gontor
Pasca-Kunjungan:
- Siswa menulis laporan refleksi
- Presentasi di kelas
- Diskusi: “Apa yang bisa kita terapkan?”
5. Project-Based Learning (PjBL)
Project: “Kampung Toleran”
Durasi: 1 semester
Tahapan:
- Survey: Siswa mapping keberagaman di kampung mereka (berapa Muslim, Kristen, dll.)
- Identifikasi Masalah: Wawancara warga, apakah ada gesekan?
- Rancang Solusi: Buat program (mis: buka puasa bersama lintas iman, kerja bakti)
- Implementasi: Jalankan program dengan izin RT/RW
- Evaluasi: Ukur dampak (apakah toleransi meningkat?)
- Presentasi: Laporan akhir dengan video dokumenter
Penilaian:
- Kreativitas program
- Keterlibatan masyarakat
- Dampak nyata
- Kualitas dokumentasi
Asesmen dan Evaluasi Moderasi Beragama
1. Asesmen Pengetahuan
Instrumen:
- Ujian Tulis: Essay tentang konsep wasathiyyah, contoh kasus toleransi
- Quiz Online: Kahoot tentang dalil-dalil moderasi
- Hafalan: Hadis-hadis tentang toleransi (minimal 10 hadis)
Contoh Soal Essay:
“Kelompok X mengklaim bahwa demokrasi adalah sistem kafir dan harus diganti dengan khilafah. Analisis pernyataan ini dari perspektif Islam moderat dengan dalil yang kuat!”
Rubrik:
- Dalil Al-Quran/Hadis yang relevan (30%)
- Pendapat ulama moderat (NU, Muhammadiyah, MUI) (30%)
- Analisis kritis dan argumen logis (30%)
- Bahasa dan sistematika (10%)
2. Asesmen Sikap
Observasi Perilaku: Guru mengamati:
- Apakah siswa menghormati teman yang berbeda pendapat?
- Apakah siswa menggunakan bahasa santun saat diskusi?
- Apakah siswa mau bekerja sama dengan kelompok lain?
Instrumen: Checklist observasi mingguan
Jurnal Refleksi: Siswa menulis jurnal:
- 1 sikap toleran yang saya lakukan minggu ini
- 1 situasi di mana saya kesulitan bersikap toleran
- Rencana perbaikan
3. Asesmen Kinerja (Performance Assessment)
Tugas Autentik:
- Membuat video kampanye moderasi beragama (TikTok/YouTube)
- Menulis artikel opini di website madrasah
- Menjadi moderator dialog lintas iman
- Memimpin kajian moderasi untuk santri junior
Rubrik Penilaian Video:
KriteriaBobotIndikatorKonten40%Dalil kuat, narasi jelas, tidak menyinggungKreativitas30%Visual menarik, editing bagus, musik tepatDampak20%Viewers, likes, komentar positifKolaborasi10%Kerja tim solid
Peran Stakeholder dalam Implementasi
1. Kementerian Agama
Program:
- Bantuan Teknis: Tim asistensi kurikulum ke madrasah
- Pelatihan Guru: Workshop moderasi untuk guru PAI madrasah
- Buku Pegangan: Distribusi buku “Moderasi Beragama untuk Madrasah” (gratis)
- Monitoring: Evaluasi implementasi setiap semester
2. Kepala Madrasah
Tugas:
- Menyusun Roadmap integrasi moderasi dalam kurikulum
- Memfasilitasi pelatihan guru
- Menyediakan anggaran untuk program moderasi
- Menjadi role model perilaku toleran
3. Guru/Ustadz
Kompetensi yang Harus Dimiliki:
- Pemahaman mendalam tentang wasathiyyah
- Kemampuan menjawab pertanyaan kritis siswa
- Keterampilan fasilitasi diskusi
- Toleransi terhadap pertanyaan “berbahaya”
Pelatihan:
- Ikut Diklat Moderasi Beragama Kemenag
- Belajar dari pesantren moderat
- Bergabung dengan komunitas guru PAI moderat
4. Komite Madrasah dan Orang Tua
Peran:
- Mendukung program moderasi
- Tidak mengintervensi dengan pandangan sempit
- Jadi partner sekolah dalam mendidik anak toleran
- Ikut parenting class moderasi beragama
5. Ormas Islam (NU, Muhammadiyah)
Kontribusi:
- Menyediakan narasumber (kiai, ustadz moderat)
- Memberikan endorsement untuk program madrasah
- Kolaborasi dalam event-event toleransi
Studi Kasus: Madrasah Moderat yang Sukses
Kasus 1: MA Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta
Profil:
- Madrasah boarding school
- 650 santri dari seluruh Indonesia
- Kurikulum kombinasi Muhammadiyah dan Kemendikbud
Inovasi Moderasi:
- Kelas Khusus Studi Agama Perbandingan: Siswa belajar tentang Kristen, Hindu, Buddha secara objektif
- Ekstrakurikuler Interfaith Youth: Kolaborasi dengan SMA Katolik & SMA Negeri untuk project sosial
- Kajian Pemikiran Modern: Membahas pemikiran liberal Islam, feminisme Islam dengan objektif
Hasil:
- 95% alumni aktif di organisasi moderat (IMM, HMI, BEM)
- Zero alumni terlibat radikalisme dalam 20 tahun
- Banyak alumni jadi akademisi dan aktivis toleransi
Kasus 2: Pesantren Tebuireng Jombang
Program “Santri Moderat”:
- Kurikulum: Mengajarkan kitab-kitab KH. Hasyim Asy’ari yang moderat
- Praktik: Santri dilatih jadi mediator konflik di masyarakat
- Networking: Kerjasama dengan pesantren Katolik dan seminari untuk dialog
Best Practice:
- Setiap tahun ada “Pekan Kerukunan” dengan undangan lintas agama
- Santri magang di LSM kemanusiaan (NU Care, Muhammadiyah Disaster, Dompet Dhuafa)
Kasus 3: MTs Negeri 1 Sleman – Madrasah Negeri Moderat
Program:
- Buddy System: Siswa Muslim dengan siswa non-Muslim (dari sekolah tetangga) jadi buddy untuk project bersama
- P5 Moderasi: Setiap semester ada project toleransi (mis: pameran foto rumah ibadah)
- Guru Tamu: Setiap bulan undang tokoh moderat (kyai NU, dai Muhammadiyah, aktivis Gusdurian)
Dampak:
- Madrasah dapat penghargaan Kemendikbud sebagai “Madrasah Ramah Keberagaman” (2023)
- Model untuk madrasah lain di Sleman
Tantangan dan Solusi
Tantangan 1: Resistensi dari Orang Tua Konservatif
Masalah: Orang tua menolak anak belajar tentang agama lain atau kunjungan ke gereja, dianggap murtad.
Solusi:
- Parenting Class: Edukasi orang tua bahwa ini edukatif, bukan ibadah bersama
- Fatwa Ulama: Kiai/ustadz lokal memberikan legitimasi
- Opt-Out Option: Orang tua boleh minta anaknya tidak ikut field trip (diganti tugas lain)
- Transparansi: Live-streaming atau video dokumentasi agar orang tua tenang
Tantangan 2: Guru Belum Terlatih
Masalah: Guru senior terbiasa mengajar dengan metode hafalan dan tidak punya kompetensi moderasi.
Solusi:
- Pelatihan Intensif: Diklat 5 hari dengan materi teologi + pedagogi moderasi
- Mentoring: Guru muda yang progresif jadi mentor guru senior
- Learning Community: MGMP PAI madrasah diskusi rutin tentang best practice
Tantangan 3: Keterbatasan Anggaran
Masalah: Madrasah swasta di daerah tidak punya dana untuk field trip, pelatihan, atau beli buku.
Solusi:
- Bantuan Pemerintah: Akses BOS Madrasah dengan prioritas untuk program moderasi
- CSR: Kerjasama dengan perusahaan lokal
- Crowdfunding: Galang dana dari alumni
- Low-Cost Alternative: Virtual tour (YouTube), guest speaker via Zoom
Tantangan 4: Pengaruh Media Sosial Radikal
Masalah: Santri terpapar konten ekstremis di TikTok, Telegram meski sudah dapat pendidikan moderasi di madrasah.
Solusi:
- Literasi Digital: Ajarkan cara verifikasi konten, deteksi propaganda
- Positive Content: Madrasah produksi konten moderasi yang lebih menarik
- Monitoring: Orang tua dan guru pantau aktivitas online santri (dengan edukasi privasi)
Rekomendasi Kebijakan untuk Kemenag
1. Mandatory Moderasi dalam Akreditasi
Salah satu indikator akreditasi madrasah adalah implementasi kurikulum moderasi (bobot 15%).
2. Insentif untuk Madrasah Moderat
- Dana Hibah: Rp 50-100 juta untuk program moderasi
- Akreditasi Prioritas: Fast-track akreditasi A
- Publikasi: Featured di website Kemenag dan media nasional
3. Bank Modul Ajar Moderasi
Kemenag menyediakan ratusan modul ajar moderasi yang bisa diunduh gratis oleh madrasah.
4. Sertifikasi “Madrasah Moderat”
Seperti sertifikasi ISO, ada sertifikasi khusus untuk madrasah yang memenuhi standar moderasi.
5. Kolaborasi Kemenag-Kemendikbud
Integrasi penuh antara kurikulum Kemenag dan Kemendikbud, sehingga siswa madrasah tidak tertinggal dalam pendidikan karakter Pancasila.
Kesimpulan: Madrasah sebagai Pilar Moderasi Bangsa
Kurikulum moderasi beragama madrasah bukan sekadar tambahan materi, tetapi transformasi paradigma: dari pembelajaran doktriner ke reflektif, dari eksklusif ke inklusif, dari hafalan ke pemahaman. Dengan 85.000 madrasah dan 28.000 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, potensi dampaknya sangat besar.
Kunci Keberhasilan:
- Komitmen Pimpinan: Kepala madrasah dan kiai sebagai champion
- Kompetensi Guru: Terlatih secara teologis dan pedagogis
- Dukungan Orang Tua: Parenting moderat
- Ekosistem Pendukung: Kemenag, ormas, pesantren moderat
Dengan kurikulum yang tepat, madrasah dan pesantren akan terus menjadi benteng moderasi, mencetak generasi Muslim yang shalih (baik secara vertikal) sekaligus shaleh (baik secara horizontal), cinta Allah dan cinta bangsa, teguh dalam iman namun toleran dalam pergaulan.
FAQ: Pertanyaan Seputar Kurikulum Moderasi di Madrasah
1. Apakah kurikulum moderasi wajib untuk semua madrasah?
Ya, berdasarkan Perpres No. 58/2023 dan Permendikbud/Kemenag tentang penguatan moderasi, semua lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah wajib mengintegrasikan nilai-nilai moderasi. Namun, implementasinya bisa disesuaikan dengan konteks lokal.
2. Bagaimana jika madrasah kami berada di daerah homogen (100% Muslim)?
Moderasi tetap relevan. Fokus pada menghargai perbedaan internal Islam (madzhab, ormas), melatih siswa berpikir kritis terhadap radikalisme, dan mempersiapkan mereka hidup di masyarakat plural kelak.
3. Apakah kunjungan ke gereja/vihara wajib dalam kurikulum moderasi?
Tidak wajib. Ini hanya salah satu metode. Jika ada keberatan dari orang tua atau tidak memungkinkan, bisa diganti dengan:
- Virtual tour via video/VR
- Undang tokoh agama lain untuk sharing di madrasah
- Studi komparatif melalui literatur
4. Bagaimana cara mengajarkan moderasi tanpa dianggap liberal?
- Gunakan Dalil Kuat: Setiap ajaran moderasi harus berbasis Al-Quran, Hadis Shahih, Ijma Ulama
- Rujuk Ulama Mainstream: NU, Muhammadiyah, MUI, bukan ulama kontroversial
- Jelaskan Batasan: Toleransi ≠relativisme agama. Kita tetap yakin Islam yang paling benar, tapi hormat hak orang lain
- Transparansi: Komunikasikan metode pembelajaran kepada orang tua
5. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan moderasi dalam kurikulum?
Tahap 1 (Tahun 1): Sosialisasi, pelatihan guru, revisi kurikulum → 6 bulan Tahap 2 (Tahun 1-2): Piloting di beberapa kelas → 6-12 bulan Tahap 3 (Tahun 2-3): Scaling up ke semua kelas → 12 bulan Total: 2-3 tahun untuk implementasi penuh
6. Apakah ada bantuan dana dari pemerintah untuk program moderasi?
Ya, ada beberapa skema:
- BOS Madrasah: Bisa dialokasikan untuk program moderasi
- Hibah Kemenag: Kompetisi proposal program moderasi (Rp 50-100 juta)
- Bantuan Asing: Beberapa NGO internasional (seperti Asia Foundation) beri grant
7. Bagaimana menangani guru yang resisten dengan kurikulum moderasi?
- Pendekatan Personal: Dialog empati, pahami kekhawatirannya
- Edukasi: Kirim ke pelatihan moderasi, belajar dari madrasah sukses
- Peer Pressure Positif: Jika mayoritas guru sudah pro, yang resisten akan ikut
- Ultimatum (Last Resort): Jika menghambat, bisa dimutasi atau tidak diperpanjang kontrak
8. Apakah kurikulum moderasi mengurangi jam pelajaran agama?
Tidak. Moderasi diintegrasikan ke dalam mata pelajaran agama yang sudah ada (Aqidah, Fiqh, Qur’an Hadis), bukan mata pelajaran baru. Malah memperkaya pembelajaran.
9. Bagaimana cara mengukur keberhasilan kurikulum moderasi?
Indikator:
- Kuantitatif: Nilai ujian moderasi, frekuensi konflik antar-siswa (harus turun), jumlah siswa ikut ekstrakurikuler dialog
- Kualitatif: Observasi sikap toleran, testimoni orang tua, alumni tracking (apakah terlibat radikalisme?)
10. Apakah pesantren salaf harus mengubah total sistem pendidikannya?
Tidak perlu total. Yang penting:
- Tambahkan materi moderasi dalam kajian kitab kuning (pilih kitab yang moderat)
- Buka Wawasan: Santri tidak hanya belajar di pesantren, tetapi juga interaksi dengan dunia luar
- Kiai sebagai Model: Jika kiai sudah moderat, santri akan mengikuti
Call to Action
Untuk Kepala Madrasah: Bentuk Tim Pengembang Kurikulum Moderasi. Mulai dari audit kurikulum saat ini, identifikasi gap, dan susun roadmap integrasi.
Untuk Guru/Ustadz: Ikuti pelatihan moderasi beragama. Mulai dari 1 modul ajar minggu depan, praktikkan metode dialogis, lihat responnya.
Untuk Kiai/Pimpinan Pesantren: Berikan restu dan dukungan. Moderasi bukan bid’ah, tetapi warisan ulama salaf dan Walisongo.
Untuk Orang Tua Santri: Percayakan pendidikan anak pada madrasah/pesantren yang menerapkan kurikulum moderasi. Ini investasi masa depan anak yang toleran dan berakhlak mulia.
Untuk Kemenag: Percepat penyediaan sumber daya (modul, pelatihan, dana) untuk madrasah. Moderasi beragama adalah program strategis nasional.
Artikel Terkait:
- Pelatihan Guru PAI dalam Mengajarkan Moderasi Beragama
- Integrasi Moderasi Beragama dalam Kurikulum Merdeka Belajar
- Pesantren sebagai Pusat Moderasi Beragama: Best Practices
- Pendidikan Karakter Berbasis Moderasi Beragama
Sumber:
- Kemenag RI. (2023). Panduan Kurikulum Moderasi Beragama untuk Madrasah.
- Perpres No. 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama.
- Direktorat Pendidikan Madrasah Kemenag. (2024). Buku Pegangan Guru PAI Moderat.
- Azra, Azyumardi. (2023). Pendidikan Islam Moderat di Indonesia. Jakarta: Kencana.
- Pesantren Tebuireng. (2024). Best Practices Kurikulum Moderasi di Pesantren.











