Indonesia menyimpan sekitar 3,4 juta hektar hutan mangrove, setara hampir seperlima mangrove dunia, namun ratusan ribu hektar sudah hilang dalam beberapa dekade terakhir akibat tambak, reklamasi, dan polusi. Di sisi lain, ekosistem ini justru menjadi benteng pertama jutaan Muslim pesisir dari abrasi, banjir rob, hingga tsunami, sekaligus sumber rezeki halal dari ikan, udang, dan kepiting yang mereka tangkap setiap hari.
Bagi seorang Muslim, mangrove bukan hanya “pohon pesisir”, melainkan ayat kauniyah yang hidup; Al-Quran berulang kali menyebut pertemuan laut dan daratan, zona estuari, dan laut sebagai sumber rezeki yang ditundukkan Allah. Artikel ini mengajak pembaca memahami mangrove dalam islam: mulai dari isyarat Al-Quran, data saintifik terbaru, krisis mangrove Indonesia, sampai cara konkret sedekah jariyah melalui program penanaman mangrove syariah.
Mangrove: Pohon Ajaib yang Terlupakan
Secara ekologi, mangrove adalah salah satu ekosistem paling produktif di bumi, dengan kemampuan menyimpan karbon dan menopang rantai makanan laut dari level plankton hingga ikan konsumsi. Namun perluasan tambak, pemukiman, dan infrastruktur pesisir membuat Indonesia kehilangan sebagian besar mangrove historisnya, sehingga banyak desa menghadapi abrasi, intrusi air laut, dan penurunan hasil tangkapan nelayan.
Di banyak komunitas Muslim, mangrove sering dipandang biasa saja atau bahkan dianggap penghalang perluasan tambak dan pemukiman, padahal fungsinya justru menyelamatkan permukiman dari gelombang dan badai. Cara pandang mangrove perspektif islam perlu digeser dari “lahan cadangan ekonomi” menjadi “wakaf hijau” yang melindungi pesisir, menyerap karbon, dan memberi rezeki jangka panjang bagi generasi nelayan dan santri.
Ayat Al-Quran tentang Laut dan Zona Pesisir
Al-Quran beberapa kali menggambarkan fenomena dua laut yang bertemu namun tidak bercampur secara sempurna, kondisi yang secara ilmiah dikenal sebagai zona estuari tempat air tawar dan air asin bertemu. Zona inilah habitat utama bakau dalam islam, di mana mangrove tumbuh dengan akar tunjang yang menstabilkan lumpur dan menjadi transisi antara sungai, laut, dan daratan.
Ayat-ayat lain menggambarkan lautan sebagai ruang berlapis yang kompleks dan sebagai sumber rezeki yang ditundukkan untuk manusia, mulai dari pelayaran kapal hingga ikan sebagai sumber makanan. Membaca mangrove pohon ajaib quran dari perspektif ini membantu umat Muslim melihat bahwa ekosistem pesisir bukan ruang kosong, tetapi sistem yang sengaja didesain Allah untuk melindungi manusia dan menyediakan karunia lewat ikan, garam, dan jalur perdagangan.

7 Keajaiban Mangrove: Data Saintifik yang Menguatkan Iman
1. Carbon Sink 5x Pohon Darat
Berbagai studi menunjukkan ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon per hektar jauh lebih tinggi daripada sebagian besar hutan darat, terutama karena sebagian besar karbon tersimpan di sedimen anaerobik di bawah tegakan mangrove. Artinya, ketika Muslim mendukung tanam mangrove islam, mereka ikut mengurangi potensi pemanasan global dengan cara yang sangat efisien per satuan luas lahan.
Konsep ini sejalan dengan tanggung jawab khalifah fil ardh untuk mencegah fasad (kerusakan) di bumi, karena setiap hektar mangrove yang dipertahankan menyimpan karbon dalam jumlah besar dalam jangka waktu puluhan hingga ratusan tahun. Sedekah pohon mangrove bisa dibaca sebagai sedekah jariyah yang efek ekologisnya terus berjalan bahkan setelah pewakaf wafat.
2. Benteng Tsunami dan Abrasi
Penelitian di berbagai negara pesisir mencatat bahwa sabuk mangrove mampu meredam energi gelombang dan mengurangi ketinggian ombak secara signifikan sebelum mencapai daratan. Di Indonesia, daerah yang mempertahankan vegetasi mangrove cenderung mengalami abrasi lebih rendah dibanding garis pantai yang gundul dan terpapar langsung oleh gelombang dan arus.
Bagi desa Muslim pesisir, sabuk mangrove ibarat tameng tak terlihat yang bekerja 24 jam tanpa gaji, menjaga pemukiman, tambak, dan fasilitas publik dari hantaman badai dan banjir rob. Ketika konservasi mangrove syariah diposisikan sebagai bagian dari menjaga jiwa dan harta, diskursus fikih lingkungan menjadi sangat konkret dan mudah dipahami jamaah.
3. Nursery Ratusan Spesies Ikan Halal
Berbagai laporan menunjukkan Indonesia memiliki stok ikan laut yang besar namun semakin tertekan akibat degradasi habitat termasuk hilangnya mangrove. Di banyak kawasan, larva dan juvenil ikan konsumsi, udang, dan kepiting memanfaatkan akar mangrove sebagai tempat berlindung dari predator dan sumber makanan sebelum bermigrasi ke perairan yang lebih dalam.
Tanpa mangrove pesisir indonesia, rantai rekrutmen ikan konsumsi terganggu sehingga hasil tangkapan nelayan kecil menurun dan pendapatan keluarga Muslim pesisir ikut tertekan. Menjaga bakau dalam islam berarti menjaga keberlanjutan rezeki halal yang setiap hari diambil dari laut, sehingga nelayan tidak dipaksa menggunakan cara-cara destruktif seperti bom atau racun.
4. Filter Polutan dan Penjaga Air Tawar
Akar dan sedimen mangrove dapat memerangkap sedimen, nutrien berlebihan, dan sebagian jenis polutan yang terbawa aliran sungai dari hulu ke laut. Hal ini membantu melindungi ekosistem lain seperti padang lamun dan terumbu karang yang menjadi habitat ikan, sekaligus mengurangi risiko pencemaran di kawasan wisata bahari.
Dari sisi pesisir, akar mangrove juga membantu mengurangi intrusi air laut ke daratan dengan menstabilkan garis pantai dan mempengaruhi dinamika air tanah. Banyak kasus menunjukkan, ketika mangrove dibabat habis, sumur warga di belakang garis pantai mulai menjadi asin dan tak layak konsumsi, padahal air tawar adalah kebutuhan dasar setiap rumah Muslim.
5. Rumah Satwa Endemik dan Sumber Bahan Baku Halal
Hutan mangrove Indonesia menjadi rumah bagi berbagai satwa unik seperti primata khas pesisir, burung air, dan reptil yang banyak di antaranya berstatus dilindungi. Keanekaragaman hayati ini memperkaya khazanah ciptaan Allah di kawasan pesisir dan membuka peluang pengembangan ekowisata islami yang etis.
Selain itu, sejumlah spesies mangrove dan tumbuhan asosiasi menyediakan kayu, nira, madu, dan bahan lain yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan bila diatur dengan baik. Dengan pendekatan konservasi mangrove syariah, pemanfaatan ini bisa diarahkan agar tidak merusak struktur ekosistem, misalnya melalui pemanenan selektif, rotasi panen, dan penegakan zona inti yang tidak boleh ditebang.
Hadis tentang Pohon Kokoh di Lingkungan Ekstrem
Dalam hadis shahih, Nabi menggambarkan pohon kurma sebagai perumpamaan seorang Muslim karena akar dan daunnya yang kokoh dan senantiasa memberi manfaat bagi sekitar. Secara ekologi, posisi kurma di padang pasir mirip dengan mangrove di pesisir: tumbuh di kondisi ekstrem, menguatkan tanah, dan menjadi sumber hidup bagi banyak makhluk.
Jika dianalogikan, mangrove dalam islam dapat dipahami sebagai Muslim yang tetap teguh dalam iman di tengah tekanan arus globalisasi dan krisis iklim. Akar tunjang yang kuat, kemampuan hidup di air asin, dan ketahanan menghadapi ombak menjadi metafora spiritual bagi Muslim yang kokoh di tengah fitnah, menyaring hal yang baik dan menahan mudarat dari masyarakat.
Krisis Mangrove Indonesia: Ancaman Nyata bagi Umat Pesisir
Kajian sumber kelautan Indonesia menunjukkan tutupan mangrove nasional menurun sekitar 11% sejak awal 2000-an akibat konversi ke tambak, pemukiman, dan proyek infrastruktur. Sementara peta terbaru menunjukkan luas mangrove sekitar 3,44 juta hektar dengan hampir 770 ribu hektar area yang masih berpotensi direstorasi, yang berarti ada “utang ekologis” yang harus dibayar generasi sekarang.
Hilangnya mangrove memperburuk abrasi, banjir rob, dan penurunan stok ikan yang langsung memukul ekonomi nelayan kecil dan komunitas pesisir. Kerusakan ini bertentangan dengan mandat khalifah untuk menjaga bumi dan generasi mendatang, sehingga tanam mangrove islam perlu diletakkan dalam kerangka kewajiban moral dan sosial, bukan sekadar tren filantropi.
3 Program Penanaman Mangrove Muslim Terpercaya
Di Indonesia, sudah muncul beberapa inisiatif penanaman mangrove yang melibatkan lembaga keagamaan dan platform donasi yang dapat dimanfaatkan Muslim yang ingin menjadikan mangrove sebagai sedekah jariyah. Program-program ini biasanya menggandeng peneliti, komunitas lokal, dan lembaga pemerintah untuk memastikan lokasi, jenis bibit, dan monitoring sesuai standar.
- Program yang dikelola lembaga kebencanaan ormas besar menawarkan paket donasi per pohon dengan fokus pada penguatan ketahanan pesisir terhadap bencana, sering kali dikombinasikan dengan edukasi kebencanaan di komunitas Muslim.
- Lembaga zakat nasional menyediakan skema penanaman mangrove di sekitar pesantren pesisir, di mana santri dilibatkan sebagai pengelola dan penjaga, sehingga ada transfer ilmu dan tanggung jawab ekologis lintas generasi.
- Platform kampanye lingkungan membuka kesempatan donasi mangrove skala kecil dengan lokasi tersebar di seluruh Indonesia, memanfaatkan pelacakan digital untuk transparansi dan pelaporan pertumbuhan pohon.
Ketiga model ini dapat dibingkai sebagai konservasi mangrove syariah, di mana donatur mendapatkan pahala sedekah jariyah sekaligus berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim dan perlindungan desa Muslim pesisir.
Cara Praktis Berkontribusi bagi Muslim Pesisir
1. Donasi Online Mangrove sebagai Sedekah Jariyah
Langkah paling mudah adalah memilih satu program penanaman mangrove dan berdonasi secara berkala, misalnya paket 5–10 pohon per bulan yang nilainya masih terjangkau bagi kelas menengah Muslim kota. Ketika donasi ini dikomunikasikan sebagai “wakaf hijau” atau “sedekah mangrove dalam islam”, jamaah akan merasa lebih dekat karena manfaatnya jelas: melindungi desa nelayan, menyerap karbon, dan menambah stok ikan.
2. Volunteer Penanaman dan Dakwah Lapangan
Bagi yang tinggal dekat pesisir, bergabung dengan komunitas lokal yang rutin mengadakan penanaman mangrove dapat menjadi bentuk ibadah sosial sekaligus sarana belajar ilmu ekologi. Dai, ustaz, dan santri bisa mengintegrasikan kegiatan ini dengan kajian tematik di tepi pantai tentang ayat-ayat Al-Quran yang menyebut laut dan daratan sehingga dakwah menjadi sangat konkret.
3. Edukasi Mangrove dalam Kurikulum Pesantren dan Masjid
Pengelola pesantren, madrasah, dan takmir masjid dapat memasukkan materi mangrove perspektif islam dalam kajian fikih lingkungan, khutbah Jumat tematik, atau pelatihan santri. Dengan begitu, generasi muda Muslim memahami bahwa menjaga hutan mangrove sama pentingnya dengan menjaga masjid, karena keduanya adalah “benteng” kehidupan umat di darat dan pesisir.

FAQ Mangrove dalam Islam
Q1: Apakah mangrove disebut jelas dalam Al-Quran?
Mangrove tidak disebut dengan nama spesifik, tetapi Al-Quran berulang kali menyebut fenomena pertemuan dua laut, laut sebagai sumber rezeki, dan batas antara air tawar dan asin yang secara ilmiah merupakan habitat utama mangrove. Dari sini ulama kontemporer membaca mangrove dalam islam sebagai bagian dari ekosistem yang ditunjukkan Allah agar manusia merenungi dan menjaganya.
Q2: Bolehkah menebang mangrove untuk tambak?
Secara prinsip, segala aktivitas yang menimbulkan bahaya besar bagi masyarakat seperti abrasi, banjir rob, dan hilangnya sumber rezeki halal nelayan bertentangan dengan kaidah menghindari mudarat. Karena itu, banyak ulama menilai penggundulan total mangrove tanpa pertimbangan ilmiah dan sosial bisa jatuh pada kategori makruh berat hingga haram, apalagi bila ada alternatif lahan non-mangrove.
Q3: Apakah pahala tanam mangrove sama dengan sedekah pohon lain?
Dari sudut pandang manfaat, pohon mangrove memberi manfaat pada manusia, ikan, burung, dan banyak makhluk lain sekaligus, sehingga logis bila pahala sedekahnya sangat besar. Selain itu, sebagai carbon sink dan pelindung pesisir, manfaatnya terus berlangsung puluhan tahun sehingga masuk kategori sedekah jariyah jangka panjang.
Q4: Berapa lama mangrove menjadi “dewasa” dan efektif melindungi pesisir?
Secara umum, beberapa jenis mangrove dapat mencapai ukuran yang cukup besar dan mulai berfungsi sebagai habitat ikan serta penahan gelombang dalam beberapa tahun pertama setelah penanaman, meski fungsi maksimal sebagai sabuk pelindung baru tercapai setelah tegakan menjadi rapat dan tinggi. Hal ini menegaskan pentingnya penanaman dini dan perawatan berkelanjutan, terutama di desa yang sudah mengalami abrasi.
Q5: Bagaimana cara memastikan program tanam mangrove yang saya dukung kredibel?
Beberapa indikator penting antara lain adanya kerja sama dengan lembaga riset atau pemerintah, pemilihan lokasi berbasis peta mangrove nasional, transparansi biaya, serta laporan berkala dengan dokumentasi lapangan. Bagi Muslim, aspek kepatuhan syariah juga penting, misalnya melalui pengawasan lembaga zakat atau ormas Islam yang memiliki reputasi baik.
Rekomendasi Artikel terkait Yokersane.com :
- Reboisasi dalam Islam: 7 Kewajiban Syariah – artikel pilar yang membahas dasar fikih reboisasi dan sedekah pohon secara umum, menjadi pengantar teologis sebelum masuk ke kasus khusus mangrove.
- Sedekah Pohon Online: Platform Terpercaya untuk Muslim Indonesia – cluster/support yang mengulas perbandingan platform sedekah pohon, bisa dijadikan CTA bagi pembaca yang ingin aksi setelah memahami mangrove.
- Khalifah Fil Ardh: Tanggung Jawab Muslim terhadap Bumi – pilar konsep yang menguatkan landasan teologis mengapa menjaga mangrove termasuk bagian dari mandat khalifah.
- Taman Quran: Konsep & Implementasi di Jawa Timur – support artikel tentang integrasi ruang hijau dan edukasi Al-Quran di area pesantren dan masjid, relevan sebagai analog darat dari konservasi mangrove.
Refferensi :
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) – rilis resmi dan peta mangrove nasional untuk data luas, kondisi, dan target rehabilitasi mangrove Indonesia, penting sebagai rujukan otoritatif.
- Laporan kelautan dan perikanan WRI/KKP – memberikan konteks keadaan stok ikan, degradasi ekosistem, dan peran mangrove dalam menunjang perikanan tangkap nasional.
- Artikel ilmiah or jurnal universitas tentang stok karbon mangrove – sumber data saintifik tentang cadangan karbon dan laju penyerapan CO₂ ekosistem mangrove rehabilitasi.
- Platform program penanaman mangrove yang memiliki transparansi data dan kerja sama dengan lembaga resmi, berguna sebagai rujukan praktis bagi pembaca yang ingin berdonasi atau volunteer.











