Share

Implementasi moderasi beragama dalam Kurikulum Merdeka dengan pembelajaran kolaboratif dan project-based learning

Integrasi Moderasi Beragama dalam Kurikulum Merdeka Belajar: Strategi Implementasi Komprehensif

Pendahuluan: Sinergi Kurikulum Merdeka dan Moderasi Beragama

Moderasi Beragama dalam Kurikulum Merdeka, Kurikulum Merdeka yang resmi diberlakukan sejak 2022 membawa paradigma baru dalam pendidikan Indonesia: pembelajaran berpusat pada siswa, fleksibilitas pembelajaran, dan penguatan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Salah satu dimensi krusial dalam Profil Pelajar Pancasila adalah Berkebhinekaan Global, yang sejalan dengan prinsip moderasi beragama.

Data Kemendikbudristek menunjukkan bahwa per 2024, lebih dari 280.000 sekolah telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, namun integrasi sistematis moderasi beragama masih menjadi tantangan. Artikel ini menyajikan panduan praktis untuk guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan dalam mengintegrasikan moderasi beragama kurikulum merdeka secara efektif.


Mengapa Kurikulum Merdeka Ideal untuk Moderasi Beragama?

1. Pembelajaran Berdiferensiasi Mengakomodasi Keberagaman

Kurikulum Merdeka menekankan bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Prinsip ini paralel dengan moderasi beragama yang menghormati perbedaan tanpa diskriminasi.

Implementasi:

  • Guru PAI dapat menyesuaikan materi dengan konteks latar belakang siswa (urban/rural, mayoritas/minoritas)
  • Siswa dari keluarga multikultural mendapat ruang untuk berbagi pengalaman
  • Pembelajaran tidak satu arah, tetapi dialogis dan reflektif

2. Profil Pelajar Pancasila: Berkebhinekaan Global

Dimensi ini secara eksplisit mencakup:

  • Mengenal dan menghargai budaya: Memahami tradisi keagamaan yang beragam
  • Komunikasi dan interaksi antarbudaya: Dialog lintas iman
  • Refleksi dan tanggung jawab: Komitmen menjaga harmoni sosial
  • Berkeadilan sosial: Menolak diskriminasi berbasis agama

Indikator Capaian: Siswa mampu menunjukkan sikap menghargai keberagaman agama di lingkungan sekolah dan masyarakat.

3. Project-Based Learning (PBL) untuk Isu Kontekstual

P5 memberikan alokasi waktu khusus (20-30% dari total JP) untuk projek yang mengangkat isu nyata, termasuk toleransi beragama, konflik sosial, dan pluralisme.

Contoh Tema P5 Moderasi Beragama:

  • “Harmoni dalam Perbedaan: Memetakan Keberagaman di Lingkunganku”
  • “Stop Hoax Intoleransi: Kampanye Digital Anti-Hate Speech”
  • “Jelajah Rumah Ibadah: Membangun Empati Lintas Iman”

Strategi Integrasi Moderasi Beragama dalam Komponen Kurikulum Merdeka

A. Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

1. Memodifikasi CP Mata Pelajaran PAI

Contoh CP Fase D (Kelas VII-IX) – Sebelum:

“Peserta didik mampu memahami dan menerapkan hukum syariah tentang ibadah dan muamalah.”

Setelah Integrasi Moderasi:

“Peserta didik mampu memahami hukum syariah dalam konteks keberagaman masyarakat Indonesia, menghargai perbedaan pendapat ulama (ikhtilaf), dan menerapkan nilai-nilai toleransi dalam ibadah dan muamalah.”

2. Menyusun ATP yang Inklusif

ATP Semester 1 – PAI Kelas VIII:

MingguTujuan PembelajaranMateriAktivitas Moderasi1-2Memahami konsep wasathiyyah dalam Al-QuranQS. Al-Baqarah: 143Diskusi: "Apa makna 'umat tengah' di era digital?"3-4Menganalisis perbedaan madzhab dalam ibadahFiqh komparatifRole-play: Debat santun antar-madzhab5-6Mengevaluasi sikap toleran dalam kehidupanStudi kasus konflikProject: Video "Harmoni Keberagaman di Sekolahku"7-8Mempraktikkan dialog antarimanPluralisme agamaKunjungan ke gereja/vihara (jika memungkinkan)

B. Modul Ajar Moderasi Beragama

Contoh Modul Ajar: “Toleransi dalam Beribadah”

Informasi Umum:

  • Mata Pelajaran: PAI
  • Fase/Kelas: D / VIII
  • Alokasi Waktu: 3 JP (3 x 40 menit)
  • Moda Pembelajaran: Tatap muka + Blended learning
  • Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL)

Capaian Pembelajaran: Siswa mampu menjelaskan konsep toleransi dalam beribadah menurut Al-Quran dan Hadis, serta menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Profil Pelajar Pancasila: Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis

Langkah Pembelajaran:

Pertemuan 1: Pemahaman Konsep (40 menit)

  1. Apersepsi (5 menit): Tayangan video kasus intoleransi beribadah
  2. Stimulus (10 menit): Guru menyajikan QS. Al-Kafirun dan hadis “Lakum dinukum waliyadin”
  3. Diskusi Kelompok (15 menit):
    • Pertanyaan pemantik: “Apakah toleransi berarti mencampur-adukkan ibadah?”
    • Siswa berdiskusi dalam kelompok 4-5 orang
  4. Presentasi (10 menit): Setiap kelompok menyampaikan kesimpulan

Pertemuan 2: Analisis Kasus (40 menit)

  1. Studi Kasus (20 menit):
    • Kasus A: Tetangga beragama lain merayakan hari raya, bolehkah mengucapkan selamat?
    • Kasus B: Teman sekelas tidak puasa karena sakit, bagaimana sikap yang tepat?
  2. Problem Solving (15 menit): Siswa menyusun solusi berdasarkan prinsip moderasi
  3. Refleksi (5 menit): Jurnal pribadi tentang pengalaman bertoleransi

Pertemuan 3: Aksi Nyata (40 menit)

  1. Project Mini (30 menit): Siswa membuat poster/infografis “10 Cara Toleran di Sekolah”
  2. Presentasi Galeri (10 menit): Karya dipajang di kelas

Asesmen:

  • Formatif: Observasi diskusi, pertanyaan lisan
  • Sumatif: Rubrik project poster (kriteria: akurasi konsep, kreativitas, relevansi)
  • Asesmen Autentik: Jurnal refleksi siswa

Diferensiasi:

  • Konten: Siswa tingkat lanjut diberi teks bahasa Arab, pemula diberi terjemahan
  • Proses: Pilihan aktivitas (menulis, menggambar, atau presentasi oral)
  • Produk: Poster, video TikTok, atau puisi

C. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)

Tema: “Bhinneka Tunggal Ika: Merayakan Keberagaman”

Durasi: 3 minggu (15 JP)

Fase Implementasi:

Minggu 1: Pengenalan dan Riset

  • Siswa membentuk kelompok berdasarkan minat (5-6 orang/kelompok)
  • Memilih subtema: rumah ibadah, tradisi keagamaan, tokoh moderat, atau konflik-resolusi
  • Melakukan riset literatur dan wawancara tokoh agama lokal

Minggu 2: Produksi Konten

  • Membuat output kreatif:
    • Kelompok 1: Dokumenter mini “Sehari di Rumah Ibadah Tetangga”
    • Kelompok 2: Podcast “Ngobrol Santai dengan Pak Pendeta/Biksu”
    • Kelompok 3: Pameran foto “Wajah Toleransi di Kotaku”
    • Kelompok 4: Booklet “10 Tokoh Moderasi Beragama Indonesia”

Minggu 3: Presentasi dan Refleksi

  • Exhibition Day: Undang orang tua dan masyarakat
  • Siswa mempresentasikan hasil project
  • Refleksi: “Apa yang saya pelajari tentang keberagaman?”

Asesmen P5:

AspekIndikatorBobotBerkebhinekaan GlobalMenunjukkan empati dan penghargaan terhadap perbedaan30%Bernalar KritisMenganalisis isu toleransi dengan data valid25%KreatifMenghasilkan karya orisinal dan bermakna20%KolaborasiBekerja sama dalam tim secara efektif15%MandiriMenunjukkan inisiatif dan tanggung jawab10%

Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Moderasi Beragama

1. Diferensiasi Konten

Untuk Siswa Tingkat Dasar:

  • Materi sederhana dengan banyak visual (infografis, video animasi)
  • Fokus pada cerita inspiratif (kisah Nabi tentang toleransi)
  • Vocabulary building: Istilah-istilah moderasi dalam bahasa mudah

Untuk Siswa Tingkat Menengah:

  • Analisis teks Al-Quran dan Hadis dengan tafsir kontemporer
  • Studi kasus nyata dari media
  • Diskusi kelompok dengan panduan struktural

Untuk Siswa Tingkat Lanjut:

  • Riset mendalam tentang pemikiran ulama moderat (Quraish Shihab, KH. Sahal Mahfudz)
  • Debat akademis tentang isu kontroversial (bid’ah, khilafiyah)
  • Menulis esai argumentatif tentang moderasi

2. Diferensiasi Proses

Gaya Belajar Visual:

  • Membuat mind map konsep moderasi
  • Menonton dan menganalisis film/dokumenter
  • Membuat poster atau komik digital

Gaya Belajar Auditori:

  • Mendengarkan podcast atau ceramah ulama
  • Diskusi kelompok dan presentasi oral
  • Membuat audio story/podcast sendiri

Gaya Belajar Kinestetik:

  • Role-play dan simulasi
  • Kunjungan lapangan (field trip)
  • Membuat diorama atau instalasi seni

3. Diferensiasi Produk

Siswa diberi pilihan unjuk pemahaman:

  • Tulis: Esai, puisi, artikel blog
  • Visual: Poster, video, infografis
  • Performance: Drama, monolog, presentasi
  • Digital: Website, game edukasi, aplikasi

Asesmen Autentik Moderasi Beragama dalam Kurikulum Merdeka

A. Asesmen Formatif (Selama Pembelajaran)

1. Observasi Perilaku

Guru mengamati sikap siswa dalam diskusi:

  • Apakah siswa mendengarkan pendapat berbeda dengan respect?
  • Apakah siswa menggunakan bahasa yang santun saat berbeda pendapat?
  • Apakah siswa mampu berargumen dengan data, bukan emosi?

Instrumen: Checklist observasi

2. Exit Ticket

Setiap akhir pembelajaran, siswa menulis:

  • 1 hal baru yang dipelajari
  • 1 pertanyaan yang masih mengganjal
  • 1 komitmen tindakan toleran yang akan dilakukan

3. Peer Assessment

Siswa saling menilai kontribusi anggota kelompok dalam project dengan rubrik yang disepakati bersama.

B. Asesmen Sumatif (Akhir Pembelajaran)

1. Asesmen Berbasis Kinerja

Tugas Autentik: “Mediasi Konflik Keagamaan di Sekolah”

Skenario: Dua kelompok siswa berkonflik karena perbedaan pandangan tentang perayaan Maulid Nabi. Kelompok A menganggap bid’ah, Kelompok B menganggap sunnah hasanah. Anda ditunjuk sebagai mediator.

Yang Dinilai:

  • Kemampuan mengidentifikasi akar masalah
  • Kemampuan mencari dalil dari sumber otoritatif
  • Kemampuan mengkomunikasikan solusi dengan bijak
  • Kemampuan mencapai kompromi tanpa mengorbankan prinsip

Rubrik Penilaian:

KriteriaKurang (1)Cukup (2)Baik (3)Sangat Baik (4)Analisis MasalahTidak identifikasiIdentifikasi sebagianIdentifikasi lengkapIdentifikasi + akar historisDalil Syar'iTidak adaDalil lemahDalil shahihDalil + pendapat ulamaKomunikasiEmosionalCukup tenangPersuasifPersuasif + empatiSolusiTidak adaSepihakWin-loseWin-win

2. Portofolio Digital

Siswa mengumpulkan karya selama satu semester:

  • 3 artikel blog tentang moderasi beragama
  • 2 video refleksi pengalaman bertoleransi
  • 1 project akhir (dokumenter/podcast/pameran foto)
  • Jurnal pembelajaran mingguan

Kriteria Penilaian Portofolio:

  • Kelengkapan dan kualitas karya
  • Perkembangan pemikiran dari awal ke akhir semester
  • Kreativitas dan orisinalitas
  • Refleksi diri yang mendalam

C. Asesmen Diagnostik

Pra-Pembelajaran: Guru perlu mengetahui baseline pemahaman siswa tentang moderasi beragama.

Instrumen: Survei Google Form

  1. Apa yang Anda ketahui tentang moderasi beragama? (Esai singkat)
  2. Seberapa sering Anda berinteraksi dengan teman berbeda agama? (Skala 1-5)
  3. Bagaimana Anda merespons ketika ada yang mengkritik agama Anda? (Pilihan ganda)
  4. Apakah Anda pernah mengalami/menyaksikan intoleransi? Ceritakan. (Opsional)

Hasil Diagnostik Menentukan:

  • Materi mana yang perlu penekanan khusus
  • Kelompok mana yang butuh scaffolding lebih
  • Isu sensitif apa yang harus dihindari atau didekati dengan hati-hati

Kolaborasi Guru Mapel dalam Integrasi Moderasi

Moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab guru PAI, tetapi semua mata pelajaran.

1. PAI + Sejarah: “Jejak Toleransi dalam Peradaban Islam”

  • PAI: Mengkaji dalil wasathiyyah
  • Sejarah: Menganalisis Piagam Madinah sebagai konstitusi pluralis pertama
  • Project kolaboratif: Timeline toleransi dari era Nabi hingga kini

2. PAI + Bahasa Indonesia: “Retorika Damai”

  • PAI: Mempelajari adab berbicara dalam Islam
  • B. Indonesia: Teknik debat konstruktif dan penulisan opini
  • Aktivitas: Lomba pidato bertema moderasi beragama

3. PAI + PPKn: “Pancasila dan Moderasi Beragama”

  • PAI: Moderasi dalam perspektif Islam
  • PPKn: Sila 1 Pancasila dan kebebasan beragama
  • Diskusi: Bagaimana Islam berkontribusi pada ideologi bangsa?

4. PAI + Seni Budaya: “Ekspresi Keberagaman”

  • PAI: Apresiasi seni Islami yang toleran (musik gambus, wayang, batik)
  • Seni Budaya: Membuat karya seni bertema toleransi
  • Pameran: “Seni untuk Harmoni”

5. PAI + IPS: “Geografi Keberagaman Indonesia”

  • PAI: Keberagaman dalam sunnatullah
  • IPS: Pemetaan demografi agama di Indonesia
  • Project: Membuat peta interaktif “Ragam Agama di Nusantara”

Peran Kepala Sekolah dalam Mengawal Implementasi

1. Menyusun Roadmap Integrasi

Tahun 1: Sosialisasi dan Pelatihan

  • Workshop untuk semua guru tentang moderasi beragama
  • Pembentukan tim pengembang kurikulum
  • Audit kebutuhan: buku, media, narasumber

Tahun 2: Piloting dan Evaluasi

  • Implementasi di 1-2 kelas paralel
  • Monitoring dan feedback berkala
  • Perbaikan modul ajar berdasarkan evaluasi

Tahun 3: Scaling Up

  • Implementasi di semua kelas
  • Pelibatan orang tua dan komite sekolah
  • Publikasi best practice

2. Membangun Kultur Sekolah Inklusif

Kebijakan Pro-Toleransi:

  • Larangan bullying berbasis agama/etnis dengan sanksi tegas
  • Ruang ibadah multifungsi yang ramah semua agama
  • Perayaan hari besar agama bersama-sama (tanpa ritual keagamaan)

Program Reguler:

  • Upacara bendera dengan rotation pembina (lintas agama)
  • Dialog lintas iman bulanan
  • Ekstrakurikuler “Relawan Harmoni” yang terbuka untuk semua

3. Kolaborasi dengan Stakeholder

Orang Tua:

  • Parenting class: “Mendidik Anak Toleran di Era Digital”
  • WhatsApp Group untuk sharing progres anak
  • Melibatkan orang tua dalam P5 sebagai narasumber

Tokoh Agama:

  • Mengundang ulama moderat untuk ceramah rutin
  • Membentuk Advisory Board dengan perwakilan multifaith
  • Mediasi saat ada isu sensitif

Pemda/Kemenag:

  • Mengusulkan sekolah sebagai pilot project moderasi
  • Mengikuti kompetisi “Sekolah Ramah Keberagaman”
  • Akses pendampingan dan dana hibah

Studi Kasus: Implementasi Sukses Kurikulum Merdeka Moderasi

Kasus 1: SMAN 1 Salatiga – “Harmony School”

Profil:

  • 920 siswa dari 5 agama berbeda
  • Status: Sekolah Penggerak Angkatan 1 (2021)

Inovasi:

  1. P5 Lintas Agama: Siswa beragama berbeda bekerja sama dalam project
  2. Buddy System: Siswa berbeda agama dipasangkan untuk saling belajar
  3. Interfaith Festival: Setiap agama punya booth untuk share tradisi (tanpa proselitisasi)

Hasil (2024):

  • Zero kasus intoleransi dalam 3 tahun terakhir
  • Nilai Indeks Toleransi siswa: 8,9/10 (survei Setara Institute)
  • Menjadi sekolah model Kemendikbud untuk toleransi

Best Practice: Modul Ajar “Ramadan dan Hari Raya Lainnya” di mana siswa Muslim menjelaskan Ramadan kepada teman non-Muslim, dan sebaliknya teman Kristen menjelaskan Paskah, teman Hindu menjelaskan Nyepi, dll.

Kasus 2: MTsN 3 Sleman – Madrasah Moderat

Profil:

  • Madrasah negeri dengan 100% siswa Muslim
  • Implementasi Kurikulum Merdeka sejak 2023

Inovasi:

  1. Differentiated Learning PAI: Siswa dibagi 3 level (basic, intermediate, advanced)
  2. Magang Virtual: Siswa “berkunjung” ke negara Muslim lain via VR (Turki, Maroko) untuk belajar keberagaman Islam
  3. Critical Hadith Study: Siswa dilatih meng-kritisi hadis lemah yang sering disalahgunakan kelompok intoleran

Hasil:

  • Literasi keagamaan siswa meningkat 35% (pre-post test)
  • 80% siswa mampu membedakan hadis shahih dan dhaif
  • Siswa lebih terbuka terhadap perbedaan madzhab

Tantangan dan Solusi Implementasi

Tantangan 1: Guru Belum Siap

Masalah: Guru PAI senior merasa kesulitan dengan pendekatan student-centered dan teknologi.

Solusi:

  • Mentoring: Guru senior dipasangkan dengan guru muda
  • Micro-Teaching: Praktik mengajar dalam kelompok kecil sebelum implementasi
  • Template Siap Pakai: Kemenag/Kemendikbud menyediakan bank modul ajar
  • Lesson Study: Belajar dari observasi guru lain

Tantangan 2: Resistensi Orang Tua

Masalah: Orang tua konservatif khawatir anak “kebablasan” dalam toleransi (dianggap kompromi aqidah).

Solusi:

  • Edukasi: Parenting class untuk menjelaskan perbedaan toleransi sosial vs aqidah
  • Transparansi: Undang orang tua observasi pembelajaran
  • Konsultasi Ulama: Libatkan ulama lokal yang kredibel untuk endorsement
  • Komunikasi Aktif: WhatsApp blast progres anak dengan bahasa yang menenangkan

Tantangan 3: Minimnya Sarana

Masalah: Sekolah di daerah 3T tidak punya akses internet untuk pembelajaran digital atau anggaran untuk field trip.

Solusi:

  • Low-Tech Alternative: Gunakan media cetak, role-play, storytelling
  • Virtual Field Trip: Gunakan video YouTube (download dulu di wifi publik)
  • Community-Based Learning: Manfaatkan sumber daya lokal (tokoh agama setempat, rumah ibadah terdekat)
  • Kolaborasi Sekolah: Sharing resources antar-sekolah dalam satu kecamatan

Tantangan 4: Waktu Terbatas

Masalah: Guru merasa beban mengajar sudah berat, sulit menambah materi moderasi.

Solusi:

  • Integrasi, Bukan Penambahan: Moderasi diintegrasikan ke materi eksisting, bukan bab baru
  • Flipped Classroom: Materi teori dibaca di rumah, kelas untuk diskusi
  • Project-Based: Satu project bisa untuk penilaian beberapa KD sekaligus
  • Kolaborasi Mapel: Satu project PAI-PPKn-Bahasa bisa triple impact

Tools dan Platform Pendukung

1. Platform Merdeka Mengajar (PMM)

Fitur untuk Moderasi:

  • Perangkat Ajar: Unduh RPP, modul ajar, dan video inspirasi
  • Asesmen Murid: Bank soal moderasi beragama
  • Video Inspirasi: Studi kasus implementasi di sekolah lain
  • Komunitas Belajar: Forum diskusi guru PAI se-Indonesia

Link: https://guru.kemdikbud.go.id

2. Rumah Belajar Kemendikbud

Konten Moderasi:

  • Video animasi “Seri Toleransi” untuk siswa SD-SMP
  • Laboratorium Maya: Simulasi dialog lintas agama
  • Bank Soal: Quiz interaktif moderasi beragama

Link: https://belajar.kemdikbud.go.id

3. PINTAR Kemenag

Untuk Guru Madrasah:

  • E-learning moderasi beragama (gratis + sertifikat)
  • Modul Ajar PAI berbasis Kurikulum Merdeka
  • Webinar bulanan dengan narasumber expert

Link: https://pintar.kemenag.go.id

4. Canva for Education

Untuk Membuat Media:

  • Template poster moderasi beragama
  • Video animasi dengan mudah
  • Infografis untuk materi PAI
  • Gratis untuk guru dengan email sekolah

5. Padlet

Untuk Kolaborasi:

  • Papan diskusi online untuk siswa
  • Upload hasil project siswa
  • Feedback real-time dari guru
  • Dapat diakses via HP

Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah

1. Mandatory Modul Moderasi di KM

Kemendikbud dan Kemenag mewajibkan minimal 2 modul ajar moderasi beragama per semester dalam setiap mata pelajaran agama.

2. Sertifikasi “Sekolah Moderat”

Seperti Sekolah Adiwiyata (lingkungan) atau Sekolah Sehat, perlu ada sertifikasi “Sekolah Moderat” dengan kriteria:

  • Zero bullying berbasis SARA
  • Minimal 1 P5 bertema toleransi per tahun
  • 80% guru terlatih moderasi
  • Kultur sekolah inklusif

Insentif: Prioritas dana BOS, akreditasi otomatis A, publikasi nasional

3. Bank Modul Ajar Nasional

Pemerintah menyediakan repository modul ajar moderasi yang bisa diunduh gratis, dikurasi oleh tim ahli, dan ter-update setiap semester.

4. Kompetisi Inovasi Pembelajaran

Lomba tahunan “Best Practice Moderasi Beragama dalam KM” dengan hadiah besar untuk mendorong inovasi.

5. Subsidi Pelatihan Guru

Anggaran khusus untuk pelatihan guru PAI dan agama lainnya, target 100% guru terlatih dalam 3 tahun.


Kesimpulan: Merdeka Belajar, Merdeka Berpikir, Merdeka Bertoleransi

Kurikulum Merdeka bukan sekadar perubahan struktur kurikulum, tetapi transformasi paradigma: dari menghafal ke memahami, dari pasif ke aktif, dari eksklusif ke inklusif. Integrasi moderasi beragama kurikulum merdeka adalah keniscayaan, bukan pilihan, jika kita ingin generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan toleran.

Kunci keberhasilan:

  1. Komitmen Kepemimpinan: Kepala sekolah sebagai champion
  2. Kompetensi Guru: Pelatihan dan pendampingan berkelanjutan
  3. Kolaborasi Ekosistem: Sekolah, orang tua, tokoh agama, pemerintah
  4. Kultur Sekolah: Toleransi bukan hanya diajarkan, tetapi dimodelkan setiap hari

Dengan implementasi yang sistematis dan konsisten, Kurikulum Merdeka dapat menjadi instrumen efektif untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila yang berkebhinekaan global—generasi yang bangga dengan identitas keagamaannya, namun juga menghormati dan menghargai keberagaman.


FAQ: Pertanyaan Seputar Moderasi Beragama dalam Kurikulum Merdeka

1. Apakah semua sekolah wajib mengimplementasikan moderasi beragama dalam KM?

Ya, Perpres No. 58/2023 mewajibkan semua lembaga pendidikan memperkuat moderasi beragama. Kurikulum Merdeka melalui dimensi Berkebhinekaan Global secara implisit mengamanatkan ini.

2. Bagaimana jika sekolah kami homogen (100% satu agama)?

Moderasi tetap relevan. Fokus pada menghargai perbedaan pendapat dalam internal agama (madzhab, organisasi), dan mempersiapkan siswa hidup dalam masyarakat plural.

3. Berapa alokasi waktu khusus untuk materi moderasi?

Tidak ada alokasi khusus. Moderasi diintegrasikan ke dalam pembelajaran PAI reguler dan P5. Minimal 1 P5 per tahun harus tema toleransi/kebhinekaan.

4. Apakah moderasi beragama sama dengan pendidikan pluralisme?

Mirip tapi tidak sama. Moderasi beragama menekankan sikap tengah (tidak ekstrem), sementara pluralisme lebih pada pengakuan kesetaraan agama. Dalam konteks Indonesia, moderasi lebih diterima karena tidak dianggap menyamakan semua agama.

5. Bagaimana cara mengukur keberhasilan integrasi moderasi dalam KM?

Indikator Kuantitatif:

  • Penurunan kasus intoleransi di sekolah
  • Skor pre-post test pemahaman moderasi siswa
  • Persentase guru terlatih

Indikator Kualitatif:

  • Kualitas diskusi siswa tentang perbedaan
  • Kolaborasi lintas kelompok dalam project
  • Kultur sekolah yang lebih inklusif

6. Apakah orang tua bisa menolak anaknya ikut aktivitas moderasi?

Orang tua berhak keberatan jika ada aktivitas yang dianggap melanggar aqidah (misalnya ikut ritual agama lain). Namun, kegiatan edukatif seperti dialog, kunjungan, atau project sosial adalah bagian dari kurikulum wajib. Solusinya: komunikasi intensif dan jelaskan batasan aktivitas.

7. Bagaimana menangani siswa yang menolak toleransi karena pengaruh keluarga radikal?

  • Pendekatan Personal: Guru BK dan PAI melakukan konseling dengan empati, bukan judgmental
  • Pendekatan Teologis: Tunjukkan dalil-dalil Al-Quran dan Hadis tentang toleransi
  • Melibatkan Orang Tua: Dialog dengan keluarga, libatkan tokoh agama moderat yang mereka hormati
  • Rujukan Profesional: Jika sudah terpapar radikalisme, laporkan ke BNPT/kepolisian untuk deradikalisasi

8. Apakah ada contoh RPP dan modul ajar yang bisa langsung dipakai?

Ya, tersedia di:

  • Platform Merdeka Mengajar (PMM)
  • PINTAR Kemenag
  • Buku “Moderasi Beragama dalam Pembelajaran” terbitan Kemenag (unduh gratis)
  • Website Rumah Moderasi Beragama

9. Bagaimana jika kepala sekolah tidak mendukung?

  • Advokasi: Jelaskan urgency dan manfaat (akreditasi, reputasi)
  • Show Evidence: Tunjukkan data sekolah lain yang sukses
  • Bottom-Up: Mulai dari inisiatif guru, tunjukkan hasil kecil dulu
  • Top-Down: Minta dukungan pengawas atau Diknas/Kemenag

10. Apakah moderasi beragama bertentangan dengan dakwah Islamiyah?

Tidak. Moderasi justru cara berdakwah yang lebih efektif sesuai prinsip “Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah” (berdakwahlah dengan hikmah). Toleransi dalam interaksi sosial tidak mengurangi keyakinan, bahkan menjadikan Islam lebih menarik.


Call to Action

Untuk Guru: Mulai dari modul ajar kecil. Ambil 1 materi PAI minggu depan, modifikasi dengan pendekatan dialogis. Share hasilnya di komunitas guru!

Untuk Kepala Sekolah: Bentuk Tim Pengembang Moderasi Beragama. Alokasikan anggaran untuk pelatihan guru dan pengadaan media pembelajaran inklusif.

Untuk Orang Tua: Dukung program sekolah. Ajak anak diskusi tentang keberagaman di rumah. Model perilaku toleran dalam keseharian.

Untuk Pemerintah: Percepat penyediaan modul ajar standar, tingkatkan frekuensi pelatihan, dan beri insentif bagi sekolah inovatif.


Artikel Terkait:


Sumber:

  1. Kemendikbudristek. (2024). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka.
  2. Kemenag RI. (2023). Moderasi Beragama dalam Kurikulum Pendidikan Islam.
  3. Perpres No. 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama.
  4. Badan Standar Kurikulum dan Asesmen (BSKA). (2024). Capaian Pembelajaran PAI Fase D-F.
  5. Platform Merdeka Mengajar. https://guru.kemdikbud.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca