Share

Penanaman Mangrove Sidoarjo: Mahasiswa UNUSIDA Terapkan Aswaja

Dari Ruang Kuliah Aswaja UNUSIDA ke Pesisir Kalanganyar: Kisah Penanaman Mangrove Sidoarjo oleh Mahasiswa

Daftar Isi

  1. Dari Ruang Kuliah Aswaja ke Pesisir Kalanganyar
  2. Motivasi Mahasiswa: Mengapa Memilih Penanaman Mangrove?
  3. Implementasi 3 Nilai Aswaja dalam Konservasi Mangrove
  4. Persiapan Proyek: Dari Konsep hingga Eksekusi
  5. Pelaksanaan Lapangan: 20 Bibit Mangrove untuk Masa Depan
  6. Refleksi Akademik: Aswaja Bukan Hanya Teori
  7. Dampak dan Pembelajaran untuk Mahasiswa Lain
  8. Kesimpulan: Menjadi Khalifah Fil Ardh di Era Milenial

Oleh: Ulil Najwa, Mahasiswa UNUSIDA Sidoarjo

Rabu pagi, 31 Desember 2025, saya—Ulil Najwa, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA)—berdiri di pesisir tambak Desa Kalanganyar dengan 20 bibit mangrove di tangan dan tekad kuat di hati. Ini bukan sekadar tugas mata kuliah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), tetapi implementasi nyata dari nilai-nilai yang selama ini saya pelajari di ruang kelas. Penanaman mangrove Sidoarjo ini adalah jawaban saya terhadap pertanyaan mendasar: bagaimana seorang mahasiswa bisa berkontribusi nyata untuk lingkungan sambil mengamalkan ajaran Islam?

Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, adalah kawasan pesisir yang familiar bagi warga Sidoarjo. Didominasi tambak udang dan ikan, wilayah ini menghadapi ancaman serius: abrasi pantai yang terus menggerus garis pantai 5-8 meter per tahun, intrusi air laut yang merusak kualitas air tambak, dan degradasi ekosistem pesisir akibat hilangnya vegetasi mangrove. Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo menunjukkan bahwa 60% kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo mengalami kerusakan ekosistem mangrove dalam 10 tahun terakhir.

Program penanaman mangrove Sidoarjo yang saya inisiasi ini lahir dari keresahan yang berkembang selama mengikuti perkuliahan Aswaja di UNUSIDA. Dosen kami, Ustadz Dr. H. Sholehuddin, kerap menekankan bahwa nilai-nilai Aswaja—khususnya khidmah (pengabdian), maslahah (kemanfaatan), dan hablum minal ‘alam (hubungan harmonis dengan alam)—harus diwujudkan dalam aksi konkret, bukan sekadar wacana teoritis. Ketika beliau menyinggung QS Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu.

Baca Juga :
Penanaman Mangrove Sidoarjo: Khidmah untuk Bumi Pesisir yang Memberdayakan Petani Tambak

Motivasi Mahasiswa: Mengapa Memilih Penanaman Mangrove Sidoarjo?

Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar di Sidoarjo, saya menyaksikan langsung perubahan dramatis pesisir kampung halaman. Pantai tempat kakek saya dulu mencari ikan kini sudah surut puluhan meter. Tambak-tambak yang menjadi penghidupan ribuan keluarga terancam rusak karena gelombang laut yang semakin ganas tanpa penghalang alami. Inilah yang memotivasi saya untuk fokus pada penanaman mangrove Sidoarjo sebagai proyek implementasi nilai Aswaja.

Tiga Alasan Memilih Mangrove sebagai Fokus Kegiatan

  1. Urgensi Ekologis yang NyataMenurut penelitian dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, degradasi mangrove di pesisir Sidoarjo menyebabkan peningkatan abrasi 300% dalam dekade terakhir. Tanpa intervensi, diproyeksikan 500 hektar tambak produktif akan hilang dalam 10 tahun mendatang. Penanaman mangrove Sidoarjo bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan survival ekonomi masyarakat pesisir.
  2. Relevansi dengan Nilai AswajaDalam mata kuliah Aswaja, kami belajar konsep khalifah fil ardh—manusia sebagai pemimpin di bumi yang bertanggung jawab menjaga kelestarian ciptaan Allah. Penanaman mangrove di Sidoarjo adalah manifestasi konkret dari konsep ini. Setiap bibit yang ditanam adalah amanah yang harus dijaga hingga tumbuh dewasa dan memberikan manfaat bagi ekosistem dan masyarakat.
  3. Dampak Ekonomi bagi Masyarakat LokalSebagai mahasiswa yang sering berinteraksi dengan petani tambak di Kalanganyar, saya memahami bahwa konservasi lingkungan harus sejalan dengan kepentingan ekonomi masyarakat. Ekosistem mangrove yang sehat meningkatkan produktivitas tambak hingga 40% karena berfungsi sebagai nursery ground alami untuk larva udang dan ikan. Ini adalah contoh sempurna dari prinsip maslahah dalam Aswaja—mengambil keputusan yang membawa manfaat maksimal bagi umat.

Dukungan dari Dosen dan Komunitas Kampus

Ketika saya mempresentasikan proposal penanaman mangrove Sidoarjo di kelas Aswaja, respons yang saya terima sangat positif. Ustadz Dr. H. Sholehuddin tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga bimbingan akademik tentang bagaimana mengintegrasikan konsep-konsep Aswaja ke dalam kegiatan lapangan. Beliau mengarahkan saya untuk membaca lebih mendalam tentang hablum minal ‘alam dalam karya ulama klasik seperti Al-Ghazali dan Ibn Khaldun yang ternyata sangat progresif dalam memandang hubungan manusia dengan alam.

Teman-teman sekelas juga antusias. Beberapa menawarkan bantuan pendanaan, dokumentasi, dan bahkan ada yang ingin bergabung di kegiatan serupa di masa depan. Ini menunjukkan bahwa generasi muda kampus, khususnya di UNUSIDA yang berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama dan Aswaja, memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan.

Ulil Najwa, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama Pak Suryanto petani tambak berpengalaman melaksanaan Penanaman Mangrove Sidoarjo
Ulil Najwa, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama Pak Suryanto petani tambak berpengalaman melaksanaan Penanaman Mangrove Sidoarjo

Implementasi 3 Nilai Aswaja UNUSIDA dalam Konservasi Mangrove

Salah satu hal yang saya pelajari dari mata kuliah Aswaja di UNUSIDA adalah bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi way of life komprehensif yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), sesama manusia (hablum minannas), dan alam semesta (hablum minal ‘alam). Program penanaman mangrove Sidoarjo ini saya rancang dengan memperhatikan tiga pilar nilai Aswaja:

1. Khidmah (Pengabdian Tanpa Pamrih)

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Thabrani)

Konsep khidmah dalam tradisi Aswaja mengajarkan bahwa pengabdian tertinggi adalah yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan imbalan materi atau pengakuan sosial. Dalam konteks penanaman mangrove di Sidoarjo, saya menerapkan prinsip ini dengan:

  • Pendanaan Mandiri â€“ Seluruh biaya Rp 179.000 berasal dari tabungan pribadi tanpa mengharapkan reimbursement dari kampus atau pihak manapun
  • Tanpa Publikasi Berlebihan â€“ Saya tidak mengumumkan kegiatan ini di media sosial sebelum pelaksanaan untuk menghindari niat mencari validasi sosial
  • Focus pada Dampak, Bukan Recognition â€“ Yang penting adalah 20 bibit mangrove berhasil tumbuh dan memberikan manfaat, bukan berapa likes atau views yang didapat

Dalam refleksi pasca-kegiatan, saya menyadari bahwa khidmah yang sejati memberikan kepuasan batin yang jauh lebih dalam dibanding apresiasi publik. Ketika Pak Suryanto, petani tambak yang membantu saya, mengatakan “Terima kasih sudah peduli dengan kampung kami, Mbak,” air mata saya hampir keluar. Itulah momen ketika saya benar-benar memahami makna khidmah.

2. Maslahah (Orientasi pada Kemanfaatan Kolektif)

Kaidah fikih yang sering dikutip dosen Aswaja kami adalah:

Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih” (Menolak kerusakan lebih diprioritaskan daripada meraih kemanfaatan)

Dalam konteks penanaman mangrove Sidoarjo, prinsip maslahah saya terapkan dengan memastikan bahwa kegiatan ini membawa manfaat multi-dimensi:

Aspek MaslahahImplementasi dalam Penanaman MangroveDampak yang Diharapkan
Maslahah EkologiRehabilitasi ekosistem pesisir, pencegahan abrasiMenyelamatkan 50+ hektar tambak produktif dalam radius 500 meter
Maslahah EkonomiPeningkatan produktivitas tambak melalui nursery ground alamiPotensi kenaikan hasil panen 20-30% dalam 3-5 tahun
Maslahah SosialKolaborasi mahasiswa-masyarakat, transfer knowledgePeningkatan kesadaran lingkungan dan modal sosial komunitas
Maslahah SpiritualAmal jariyah yang pahalanya terus mengalirSetiap manfaat dari mangrove = pahala berkelanjutan

3. Hablum Minal ‘Alam (Hubungan Harmonis dengan Alam)

Konsep hablum minal ‘alam yang diajarkan di UNUSIDA menekankan bahwa manusia adalah bagian integral dari ekosistem, bukan penguasa yang bisa mengeksploitasi sesukanya. Allah SWT berfirman:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS Al-A’raf: 56)

Dalam praktik penanaman mangrove Sidoarjo, saya menerapkan prinsip ini dengan:

  • Pemilihan Spesies Lokal â€“ Menggunakan bibit Rhizophora mucronata yang merupakan spesies asli pesisir Jawa Timur, bukan spesies invasif
  • Konsultasi dengan Warga Lokal â€“ Melibatkan Pak Suryanto dalam menentukan titik tanam optimal berdasarkan kearifan lokal
  • Zero Waste Approach â€“ Tidak meninggalkan sampah plastik atau material non-degradable di lokasi penanaman
  • Komitmen Monitoring â€“ Berencana melakukan pemantauan pertumbuhan setiap 2 minggu selama 6 bulan pertama

Baca Juga :
Reforestasi Lahan Hunian: 7 Manfaat Luar Biasa untuk Kualitas Hidup Berkelanjutan

Persiapan Proyek: Dari Konsep hingga Eksekusi

Sebagai mahasiswa yang belum pernah terlibat dalam proyek konservasi sebelumnya, persiapan penanaman mangrove Sidoarjo ini membutuhkan riset mendalam dan koordinasi matang. Berikut tahapan yang saya lalui:

Fase 1: Riset dan Studi Literatur (2 Minggu)

Saya memulai dengan membaca berbagai sumber:

  • Jurnal ilmiah tentang ekologi mangrove dari database LIPI dan universitas
  • Panduan teknis penanaman mangrove dari Kementerian Kelautan dan Perikanan
  • Literatur fikih lingkungan, terutama karya Prof. Dr. Quraish Shihab dan Dr. Yusuf Al-Qaradawi tentang Islam dan ekologi
  • Data spesifik kondisi pesisir Kalanganyar dari Dinas Kelautan Sidoarjo

Fase 2: Koordinasi dengan Stakeholder (1 Minggu)

  1. Dosen Pembimbing – Konsultasi dengan Ustadz Dr. H. Sholehuddin untuk memastikan alignment dengan nilai Aswaja
  2. Warga Lokal â€“ Komunikasi dengan Pak Suryanto (petani tambak senior) untuk mendapat insight lokasi dan waktu ideal
  3. Supplier Bibit â€“ Mencari penyedia bibit mangrove berkualitas dengan harga terjangkau (akhirnya dapat dari Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wonorejo)

Fase 3: Perencanaan Logistik dan Anggaran

Dengan dana terbatas Rp 179.000, saya harus memprioritaskan efisiensi:

ItemSpesifikasiBiayaStrategi Efisiensi
Bibit Mangrove20 batang RhizophoraRp 60.000Beli langsung dari BPHM, hindari middleman
Konsumsi2 orang x Rp 20.000Rp 40.000Nasi bungkus sederhana, air mineral curah
TransportasiMotor pribadiRp 30.000Bensin PP Surabaya-Sedati
Buah TanganApresiasi untuk Pak SuryantoRp 50.000Oleh-oleh khas + amplop sederhana

Pelaksanaan Lapangan: 20 Bibit Mangrove untuk Masa Depan Kalanganyar

Rabu, 31 Desember 2025, pukul 06.30 WIB, saya sudah berangkat dari kos di Sidoarjo menuju Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wonorejo untuk mengambil bibit yang sudah dipesan. Anisa Lailatul Rahmadini, teman sekelas yang ditunjuk sebagai dokumenter, bergabung di perjalanan.

Timeline Pelaksanaan Penanaman Mangrove Sidoarjo

08.00 – 08.15 WIB: Persiapan di Lokasi

Setiba di pesisir tambak Desa Kalanganyar, saya disambut Pak Suryanto yang sudah menunggu dengan peralatan sederhana: cangkul kecil, ember, dan air tawar untuk bilas tangan. Pemandangan pagi di pesisir sangat indah—matahari baru terbit, burung-burung pantai beterbangan, dan petambak mulai mengecek jaring mereka.

Kami memeriksa kondisi 20 bibit mangrove yang saya bawa. Pak Suryanto, dengan pengalaman 30 tahun sebagai petani tambak, memberikan tips berharga:

“Mbak, untuk penanaman mangrove di pesisir Sidoarjo, yang penting adalah timing pasang surut. Kita tanam saat air surut rendah, jadi akarnya bisa menancap sempurna di substrat lumpur. Jarak tanam 1,5 meter sudah cukup—nanti kalau sudah dewasa, akarnya akan saling bertautan membentuk barrier alami.”

08.15 – 08.25 WIB: Koordinasi dan Penentuan Titik Tanam

Fase ini sangat krusial dalam keberhasilan penanaman mangrove Sidoarjo. Pak Suryanto menjelaskan bahwa area pesisir Kalanganyar memiliki karakteristik unik:

  • Zona Intertidal â€“ Area yang tergenang air laut saat pasang tinggi dan terbuka saat surut, ideal untuk Rhizophora
  • Substrat Lumpur Berlempung â€“ Tekstur tanah yang cocok untuk pertumbuhan akar tunjang
  • Salinitas 20-25 ppt â€“ Kadar garam yang masih dalam toleransi mangrove muda

Kami memilih lokasi sekitar 15 meter dari pematang tambak, cukup dekat untuk memberikan proteksi tetapi tidak mengganggu operasional tambak. Saya mencatat koordinat GPS (7°24’12.5″S 112°47’08.3″E) untuk monitoring di masa depan.

08.25 – 09.45 WIB: Penanaman 20 Bibit Mangrove

Inilah momen yang paling berkesan dalam proyek penanaman mangrove di Sidoarjo ini. Dengan bimbingan Pak Suryanto, kami menanam bibit satu per satu dengan teknik yang benar:

  1. Pembuatan Lubang Tanam â€“ Kedalaman 30-40 cm, diameter 20 cm
  2. Penempatan Bibit â€“ Posisi tegak lurus, akar propagul masuk sempurna hingga ke cotyledon
  3. Pemadatan Tanah â€“ Tanah di sekitar bibit dipadatkan perlahan untuk stabilitas
  4. Marking â€“ Setiap bibit diberi penanda bambu sederhana dengan nomor urut

Selama proses penanaman, Pak Suryanto bercerita tentang perubahan drastis pesisir Kalanganyar:

“Dulu, waktu saya masih kecil tahun 1990-an, sepanjang pesisir ini penuh mangrove rimbun. Tapi sejak boom tambak intensif tahun 2000-an, banyak yang ditebang untuk ekspansi. Akibatnya, sekarang abrasi parah. Tambak-tambak di barisan depan banyak yang jebol karena gelombang. Makanya saya sangat mendukung kegiatan Mbak ini. Mudah-mudahan 20 pohon ini jadi awal kebangkitan mangrove Kalanganyar lagi.”

Testimoni spontan Pak Suryanto ini membuat saya semakin yakin bahwa penanaman mangrove Sidoarjo bukan sekadar pemenuhan tugas kuliah, tetapi kontribusi nyata untuk masyarakat.

09.45 – 09.55 WIB: Pembersihan dan Dokumentasi

Setelah semua bibit tertanam, kami membersihkan area dari sampah plastik yang terbawa ombak. Ini adalah implementasi dari prinsip hablum minal ‘alam—tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menjaga kebersihan lingkungan secara holistik.

Anisa mengambil dokumentasi foto dari berbagai sudut: close-up bibit yang baru ditanam, panorama pesisir dengan tambak di latar belakang, dan foto bersama dengan Pak Suryanto. Foto-foto ini akan saya gunakan untuk laporan ke dosen Aswaja dan juga sebagai baseline untuk monitoring pertumbuhan.

09.55 – 10.00 WIB: Penyerahan Buah Tangan dan Silaturahmi

Sebagai bentuk penghargaan atas waktu dan kebaikan Pak Suryanto, saya menyerahkan buah tangan sederhana berisi oleh-oleh khas dan amplop kecil. Beliau awalnya menolak, tetapi saya jelaskan bahwa ini adalah bagian dari nilai khidmah dalam Aswaja—menghargai siapapun yang telah membantu.

“Tidak usah sungkan, Pak. Ini bentuk terima kasih saya. Pak Suryanto sudah meluangkan waktu berharga dan berbagi ilmu yang sangat bermanfaat. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak.”

Kami juga berjanji untuk tetap berkomunikasi. Pak Suryanto akan membantu memantau kondisi bibit dan memberikan update jika ada yang perlu ditangani.

Refleksi Akademik: Aswaja Bukan Hanya Teori di Ruang Kelas

Sepulang dari Kalanganyar, dalam perjalanan kembali ke Sidoarjo, saya merenung tentang pengalaman yang baru saja dilalui. Sebagai mahasiswa yang terbiasa belajar Aswaja dari buku dan penjelasan dosen, penanaman mangrove Sidoarjo ini memberikan dimensi pemahaman yang sama sekali berbeda.

Apa yang Tidak Diajarkan di Ruang Kuliah

Dalam mata kuliah Aswaja, kami mempelajari konsep-konsep mulia seperti khidmahmaslahah, dan hablum minal ‘alam secara teoritis. Kami menghapal definisi, memahami dalil-dalil Al-Quran dan hadits yang relevan, serta menganalisis pemikiran ulama klasik dan kontemporer. Namun, ada beberapa hal yang hanya bisa dipahami melalui praktek langsung:

  1. Khidmah itu Fisik dan Menguras EnergiMenanam 20 bibit mangrove dalam kondisi terik matahari, berlumpur hingga lutut, dengan tangan penuh luka kecil dari duri propagul—ini adalah khidmah yang nyata. Bukan sekadar konsep indah dalam teks Arab, tetapi keringat, pegal otot, dan kelelahan yang bermakna. Dan justru di sinilah saya merasakan kepuasan spiritual yang tidak pernah saya dapat dari nilai A di ujian teori.
  2. Maslahah Membutuhkan Kompromi dan NegosiasiKetika menentukan lokasi penanaman, saya harus mempertimbangkan berbagai kepentingan: ekologi mangrove, kepentingan ekonomi petani tambak, aksesibilitas untuk monitoring, dan faktor-faktor teknis lainnya. Ini mengajarkan saya bahwa maslahah dalam dunia nyata jarang yang ideal—selalu ada trade-off yang harus dikelola dengan bijaksana.
  3. Hablum Minal ‘Alam adalah Relationship, Bukan TransactionSaat menanam bibit, saya merasa membangun relasi dengan mangrove—bukan sekadar memasukkan tanaman ke tanah. Ada ikatan emosional: harapan agar mereka tumbuh sehat, kekhawatiran jangan sampai mati karena kurang perawatan, dan rasa tanggung jawab untuk terus memantau. Inilah esensi hablum minal ‘alam: alam bukan objek yang kita manfaatkan, tetapi partner yang kita jaga dengan penuh perhatian.

Integrasi Pembelajaran Akademik dengan Praktek Lapangan

Dalam laporan yang saya susun untuk mata kuliah Aswaja, saya mencoba mengintegrasikan teori dengan pengalaman lapangan:

Konsep Aswaja (Teori)Implementasi dalam Penanaman Mangrove (Praktek)Lesson Learned
Khalifah Fil Ardh (QS Al-Baqarah: 30)Tanggung jawab memilih spesies yang tepat, lokasi optimal, dan komitmen monitoringKepemimpinan ekologis dimulai dari keputusan teknis yang informed
Ihsan dalam Beramal (Hadits Jibril)Penanaman dengan teknik yang benar, bukan asal-asalan meski tidak ada yang mengawasiKualitas lebih penting dari kuantitas—20 bibit berkualitas > 100 bibit sembarangan
Fastabiqul Khairat (QS Al-Baqarah: 148)Tidak menunda-nunda aksi meski dana terbatas dan pengalaman minimAksi imperfect hari ini lebih baik dari rencana sempurna yang tidak pernah terwujud

Dampak dan Pembelajaran untuk Mahasiswa UNUSIDA Lainnya

Setelah mempresentasikan pengalaman penanaman mangrove Sidoarjo di kelas Aswaja, respons teman-teman mahasiswa sangat positif. Beberapa tertarik untuk melakukan kegiatan serupa di wilayah masing-masing. Ini membuktikan bahwa generasi muda UNUSIDA memiliki potensi besar sebagai agen perubahan lingkungan berbasis nilai-nilai Islam.

Rekomendasi untuk Mahasiswa yang Ingin Meniru

Bagi mahasiswa UNUSIDA atau kampus lain yang tertarik melakukan proyek serupa, berikut saran saya:

  1. Mulai dari yang Kecil dan LokalTidak perlu proyek besar dengan ratusan bibit. Mulai dari 10-20 bibit di lingkungan sekitar kampus atau kampung halaman sudah sangat berharga. Penanaman mangrove Sidoarjo saya hanya 20 bibit, tetapi dampaknya sangat bermakna secara personal dan lokal.
  2. Libatkan Warga Lokal sejak AwalJangan datang sebagai “penyelamat” dari luar yang sok tahu. Dengarkan dulu kebutuhan dan kearifan lokal. Pak Suryanto adalah aset terbesar dalam proyek ini—tanpa beliau, saya mungkin salah memilih lokasi atau waktu tanam.
  3. Dokumentasi untuk PembelajaranFoto, video, dan catatan lapangan sangat penting bukan untuk pamer di media sosial, tetapi untuk refleksi dan pembelajaran berkelanjutan. Data baseline yang saya kumpulkan akan sangat berguna untuk evaluasi 6 bulan dan 1 tahun mendatang.
  4. Komitmen Jangka PanjangPenanaman adalah 20% dari keseluruhan proyek—80% sisanya adalah perawatan dan monitoring. Jangan menanam lalu menghilang. Saya sudah membuat jadwal kunjungan rutin setiap 2 minggu selama 6 bulan pertama untuk memastikan survival rate tinggi.
  5. Integrasikan dengan Kurikulum AkademikManfaatkan tugas mata kuliah untuk mendanai dan melegitimasi proyek lingkungan. Penanaman mangrove di Sidoarjo ini adalah bagian dari tugas Aswaja, jadi ada nilai akademik sekaligus dampak sosial-ekologis nyata.

Potensi Replikasi dan Scaling Up

Jika setiap mahasiswa di 10 kampus wilayah Sidoarjo menanam 20 bibit mangrove, itu artinya 200+ bibit per tahun. Dalam 5 tahun, bisa mencapai 1000+ mangrove baru yang akan membentuk hutan bakau muda di sepanjang pesisir. Ini adalah contoh bagaimana aksi kecil individual, jika dilakukan secara kolektif, dapat menghasilkan dampak transformatif.

Saya berencana mengajukan proposal ke Senat Mahasiswa UNUSIDA untuk menjadikan penanaman mangrove Sidoarjo sebagai program tahunan fakultas. Dengan dukungan institusional, kita bisa mobilisasi ratusan mahasiswa, mendapat bantuan bibit dari pemerintah, dan membuat dampak yang jauh lebih besar.

Kesimpulan: Menjadi Khalifah Fil Ardh di Era Milenial

Pengalaman penanaman mangrove Sidoarjo ini mengubah cara saya memandang peran mahasiswa dalam masyarakat. Kami bukan hanya konsumen ilmu pengetahuan yang pasif, tetapi agen perubahan yang aktif. Kami tidak cukup hanya pandai berteori tentang Aswaja di kelas, tetapi harus mampu menerjemahkannya dalam aksi konkret yang berdampak.

Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah—khidmahmaslahah, dan hablum minal ‘alam—bukan warisan masa lalu yang usang, tetapi panduan relevan untuk menghadapi krisis ekologi kontemporer. Ketika saya menanam 20 bibit mangrove di pesisir Kalanganyar, saya tidak hanya menanam pohon, tetapi menanam harapan untuk generasi mendatang, menanam nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, dan menanam kesadaran bahwa setiap individu—termasuk mahasiswa dengan dana terbatas—bisa membuat perbedaan.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sabda Rasulullah SAW yang menjadi inspirasi utama:

Jika hari kiamat telah tegak, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian terdapat biji kurma, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)

Pesan profetik ini mengajarkan bahwa menanam—termasuk penanaman mangrove di Sidoarjo—adalah tindakan yang memiliki nilai intrinsik, terlepas dari hasil jangka pendek. Yang penting adalah niat tulus dan usaha maksimal. Sisanya, kita serahkan kepada Allah yang Maha Menumbuhkan.

Ajakan untuk Mahasiswa UNUSIDA dan Kampus Se-Indonesia

Saya mengajak teman-teman mahasiswa, khususnya di UNUSIDA Sidoarjo dan kampus berbasis nilai-nilai Islam lainnya, untuk:

  1. Jangan Hanya Belajar Teori Aswaja â€“ Cari satu isu lingkungan di sekitar Anda dan lakukan aksi nyata, sekecil apapun
  2. Kolaborasi dengan Masyarakat Lokal â€“ Ilmu akademik kita akan lebih bermakna jika dikombinasikan dengan kearifan lokal
  3. Dokumentasikan dan Sharing â€“ Bukan untuk pamer, tetapi untuk menginspirasi mahasiswa lain dan menciptakan gerakan massal
  4. Komitmen Jangka Panjang â€“ Jangan menanam lalu lupa, tetapi rawat dan pantau hingga benar-benar memberikan dampak

Mari kita buktikan bahwa mahasiswa UNUSIDA Sidoarjo, dengan bekal nilai-nilai Aswaja, bisa menjadi khalifah fil ardh yang amanah di era milenial. Penanaman mangrove Sidoarjo hanyalah satu contoh kecil—masih banyak aksi lain yang menunggu inisiatif kita.

Barakallahu fiikum. Semoga pengalaman sederhana ini menginspirasi gerakan hijau yang lebih besar di kalangan mahasiswa Muslim Indonesia.

Tentang Penulis

Ulil Najwa adalah mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai Aswaja. Ia dapat dihubungi untuk diskusi lebih lanjut tentang implementasi nilai Islam dalam konservasi lingkungan.

Artikel ini adalah refleksi pribadi berdasarkan pengalaman lapangan dan tidak mewakili posisi resmi UNUSIDA Sidoarjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca