SIDOARJO – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kualitas spiritual prajurit di bulan suci Ramadan, Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) pada Rabu, (25/2/26) menggelar acara Buka Puasa Bersama yang bertempat di Gedung Brahmasta Lanudal, Juanda, Sidoarjo. Dengan mengusung tema “Ramadan Membentuk Mental Prajurit TNI yang Prima dan Memegang Teguh Nilai-nilai Tauhid untuk Indonesia Maju“, acara dihadiri langsung oleh Komandan Puspenerbal (Danpuspenerbal), Laksamana Muda TNI Bayu Alisyahbana, beserta jajaran pejabat utama dan seluruh keluarga besar Puspenerbal. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan Widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I sebagai penceramah tamu.

Kegiatan diiringi dengan penampilan Tim hadrah Rajawali Puspenerbal. Selain itu dilakukan pemberian apresiasi kepada tim hadrah Rajawali yang meraih juara 2 Festival Salawat dan Budi Tri Hartanto juara 2 lomba Bilal Jumat TNI-Polri se Jawa Timur oleh Danpuspenerbal Laksda Bayu Alisyahbana serta penyerahan santunan kepada 20 yatim oleh Ketua Gabungan Jalasenastri Puspenerbal Dicca Bayu Alisyahbana.
Dalam sambutannya, Laksda Bayu menyampaikan bahwa dalam menjalankan tugas, seorang prajurit tidak cukup memiliki profesionalitas dan kemampuan teknis semata, tapi juga mental spiritual. “Karena itu kita nanti akan mendapatkan banyak pencerahan dari pak kyai”, ujarnya. Beliau berharap melalui kegiatan ini, seluruh jajaran Puspenerbal dapat meningkatkan profesionalisme yang dibarengi dengan keteguhan iman, sehingga mampu menjalankan tugas negara dengan penuh integritas dan tanggung jawab.

Ramadan sebagai Madrasah Mental Prajurit
Dalam tausiahnya, Dr. H. Sholehuddin yang juga Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo itu menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi mental dan spiritual bagi setiap prajurit. Ia menyampaikan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah “madrasah” untuk membentuk mental prajurit yang prima. Beliau merujuk pada sejarah besar Islam, yakni Perang Badar, yang terjadi justru di bulan Ramadan.
Hal ini membuktikan bahwa kondisi fisik yang sedang berpuasa bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi sumber kekuatan spiritual yang luar biasa.
“Seorang prajurit sejati dengan mental prima tidak hanya diukur dari kekuatan fisiknya saja, tetapi dari kekokohan iman dan lurusnya tauhid yang ia miliki,” ujar dosen IAI Al Khoziny dan UNU Sidoarjo di hadapan ratusan hadirin.

Tiga Pilar Mental Prima: Disiplin, Resiliensi, dan Loyalitas
Dalam pemaparannya, terdapat tiga poin utama yang ditekankan untuk diimplementasikan oleh para prajurit Puspenerbal, pertama Disiplin Tinggi. Puasa melatih ketaatan total. Sebagaimana prajurit patuh pada instruksi pimpinan, puasa melatih kepatuhan mutlak pada aturan Allah SWT. Kedua, Ketahanan (Resiliensi): Kemampuan mengendalikan diri di bawah tekanan adalah ciri prajurit bermental baja. Puasa adalah latihan nyata dalam mengendalikan emosi dan hawa nafsu. Ketiga, Loyalitas dan Keikhlasan: Berlandaskan Surah Al-An’am ayat 162, pengabdian prajurit harus diniatkan sebagai ibadah. Tugas yang dijalankan bukan demi pujian manusia, melainkan sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta.

Tauhid sebagai Pondasi Utama
Lebih lanjut, instruktur Nasional Moderasi Beragana Kemenag RI menjelaskan bahwa Tauhid adalah akar dari keberanian dan integritas. Prajurit yang memegang teguh kalimat La ilaha illallah tidak akan mudah goyah oleh godaan materi atau jabatan, serta memiliki keberanian tinggi karena yakin bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah SWT.
Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama, buka puasa dengan sajian takjil, dan salat Maghrib berjamaah. Setelah janaah maghrib, digelar ramah tamah.











