Share

hukum niat puasa Ramadan menurut 4 mazhab Syafii Hanafi Maliki Hanbali

Niat Puasa Ramadan 2026: Hukum, Rukun, dan Perbedaan 4 Mazhab yang Wajib Dipahami

🔎 Ditinjau oleh Ahli

Artikel ini telah melalui proses telaah substansi oleh Dr. H. Sholehuddin, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo, guna memastikan ketepatan dalil, konsistensi pendapat mazhab, serta kesesuaian dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Memahami hukum niat puasa Ramadan dengan benar adalah kunci utama kesahan ibadah puasa kita. Banyak umat Islam yang masih bingung: apakah niat harus dilafalkan? Apakah niat harus dilakukan setiap malam? Bagaimana pendapat ulama empat mazhab tentang masalah ini?

Artikel ini menyajikan penjelasan komprehensif tentang hukum niat, rukun, dan syarat sah puasa Ramadan menurut perspektif empat mazhab dalam Islam (Syafii, Hanafi, Maliki, dan Hanbali) yang menjadi rujukan utama umat Islam ASWAJA di Indonesia. Anda akan mendapatkan pemahaman mendalam berbasis dalil Al-Quran, hadis shahih, dan pendapat para ulama muktabar.

Pengertian Niat dalam Fikih Puasa Ramadan

Niat secara bahasa (lughawi) berarti al-qashd (القصد) yang artinya maksud atau kesengajaan. Sedangkan secara istilah syariat (syar’i), niat adalah menyengaja melakukan sesuatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam konteks ibadah puasa Ramadan, niat adalah kesengajaan di dalam hati untuk melakukan ibadah puasa wajib di bulan Ramadan karena Allah Taala semata. Niat ini menjadi syarat sah sekaligus rukun puasa yang tidak boleh ditinggalkan.

Kedudukan Niat dalam Islam

Niat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam seluruh ibadah Islam. Tidak ada satu pun ibadah yang sah tanpa niat yang benar. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Innamal-a’malu bin-niyyat, wa innama likulli mri’in ma nawa

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Hadis ini menunjukkan bahwa niat adalah ruh (jiwa) dari setiap amal ibadah. Tanpa niat yang benar, ibadah menjadi seperti jasad tanpa ruh—tidak bernilai di sisi Allah SWT.

Dalil tentang Kewajiban Niat Puasa Ramadan

Kewajiban niat dalam puasa Ramadan didasarkan pada beberapa dalil dari Al-Quran dan hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Dalil dari Al-Quran

Allah SWT berfirman tentang perintah beribadah dengan ikhlas:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

Wa ma umiru illa liya’budullaha mukhlisina lahud-dina hunafa’a

“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap ibadah harus dilakukan dengan keikhlasan, dan keikhlasan tidak mungkin ada tanpa niat yang benar.

Dalil dari Hadis

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda secara khusus tentang niat puasa:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Man lam yubayyitis-siyama qablal-fajri fala siyama lah

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud no. 2454, Tirmidzi no. 730, dan Nasa’i no. 2331)

Hadis ini secara tegas menyatakan bahwa niat adalah syarat sah puasa. Imam Tirmidzi menilai hadis ini hasan, dan para ulama empat mazhab menjadikannya sebagai dalil utama kewajiban niat dalam puasa.

Rukun Puasa Ramadan

Para ulama menetapkan bahwa puasa Ramadan memiliki dua rukun utama yang harus dipenuhi. Jika salah satu rukun tidak ada, maka puasa menjadi batal.

Rukun 1: Niat

Niat adalah rukun pertama dan paling penting dalam puasa. Sebagaimana telah dijelaskan, niat berfungsi untuk:

  • Membedakan puasa wajib dari puasa sunnah
  • Membedakan puasa Ramadan dari puasa qadha atau kafarat
  • Menentukan keikhlasan ibadah semata-mata karena Allah
  • Menjadi pembeda antara ibadah dengan kebiasaan (seperti orang yang tidak makan karena diet vs puasa)

Rukun 2: Menahan Diri (Imsak)

Rukun kedua adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, yaitu:

  • Menahan dari makan dan minum sejak terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari
  • Menahan dari hubungan suami istri (jima’)
  • Menahan dari mengeluarkan mani dengan sengaja
  • Menahan dari segala yang disamakan hukumnya dengan makan dan minum

Dalil rukun ini adalah firman Allah SWT:

فَٱلۡـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِ

Fal-ana basyiruhunna wabtagu ma kataballahu lakum, wa kulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul-khaitul-abyadu minal-khaitil-aswadi minal-fajr, tsumma atimmus-siyama ilal-lail

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Syarat Sah Puasa Ramadan

Selain rukun, puasa Ramadan juga memiliki syarat sah yang harus dipenuhi. Jika syarat sah tidak terpenuhi, maka puasa tidak sah meskipun rukun sudah dilakukan.

Syarat Sah yang Disepakati Ulama

  • Islam: Puasa hanya sah dari orang Muslim. Orang kafir tidak dituntut untuk berpuasa dan puasanya tidak sah.
  • Tamyiz (dapat membedakan): Anak kecil yang belum bisa membedakan baik dan buruk, puasanya tidak sah menurut jumhur ulama.
  • Mengetahui kewajiban puasa: Orang yang tidak tahu bahwa puasa Ramadan itu wajib, puasanya tidak sah (ini jarang terjadi di kalangan Muslim).
  • Waktu yang diperbolehkan puasa: Tidak boleh puasa pada hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) serta hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah).
  • Bersih dari haid dan nifas: Wanita yang sedang haid atau nifas, puasanya tidak sah meskipun ia berpuasa. Ini berdasarkan ijma’ ulama.

Syarat Sah yang Diperselisihkan

Beberapa syarat diperselisihkan oleh ulama empat mazhab:

  • Berakal sehat sepanjang hari: Jumhur ulama mensyaratkan orang yang berpuasa harus berakal sepanjang hari. Jika gila di tengah hari, puasa batal.
  • Tidak dalam keadaan junub saat fajar: Mazhab Maliki mensyaratkan tidak boleh dalam keadaan junub saat terbit fajar, namun jumhur ulama (Syafii, Hanafi, Hanbali) membolehkan berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi pernah mandi junub setelah fajar.

Perbedaan 4 Mazhab dalam Masalah Niat Puasa Ramadan

Para ulama empat mazhab sepakat bahwa niat adalah rukun puasa, namun mereka berbeda pendapat dalam beberapa detail pelaksanaannya. Berikut penjelasan lengkap perbedaan tersebut:

1. Mazhab Syafii (Prioritas ASWAJA-NU Indonesia)

Pendapat Mazhab Syafii:

  • Niat wajib dilakukan setiap malam untuk setiap hari puasa Ramadan
  • Waktu niat: sejak terbenam matahari hingga terbit fajar
  • Niat cukup dalam hati, tidak wajib dilafalkan
  • Niat harus spesifik: “Saya niat puasa wajib Ramadan esok hari karena Allah”
  • Jika lupa niat di malam hari, tidak boleh niat di siang hari (puasa batal)

Dalil Mazhab Syafii:

Imam Syafii rahimahullah berdalil dengan hadis:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Man lam yubayyitis-siyama minal-laili fala siyama lah

“Barangsiapa yang tidak menetapkan niat puasa di malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Nasa’i no. 2334 dan Ibnu Khuzaimah no. 1933)

Keterangan:

Mazhab Syafii adalah mazhab yang dominan di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Pendapat ini menjadi rujukan utama Nahdlatul Ulama (NU) dan organisasi Islam ASWAJA di Indonesia. Kehati-hatian mazhab Syafii dalam masalah niat bertujuan menjaga kesempurnaan ibadah.

2. Mazhab Hanafi

Pendapat Mazhab Hanafi:

  • Niat puasa Ramadan cukup satu kali di awal bulan
  • Niat di tengah bulan juga sah untuk hari-hari berikutnya
  • Jika ada pembatal niat (seperti berbuka karena sakit), perlu niat ulang
  • Niat boleh dilakukan hingga sebelum Dhuhur jika belum makan/minum
  • Niat tidak harus spesifik menyebut “Ramadan”, cukup niat puasa

Dalil Mazhab Hanafi:

Imam Abu Hanifah rahimahullah berdalil bahwa puasa Ramadan adalah satu kesatuan ibadah dalam satu bulan, sehingga tidak perlu niat terpisah setiap hari, seperti halnya salat Jumat yang cukup satu niat untuk dua rakaat.

Keterangan:

Mazhab Hanafi memberi kemudahan dengan membolehkan niat hingga waktu Dhuhur. Ini berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu anha: “Rasulullah pernah datang kepada kami dan bertanya, ‘Apakah ada makanan?’ Kami jawab tidak. Beliau bersabda, ‘Kalau begitu aku berpuasa.'” (HR. Muslim no. 1154)

3. Mazhab Maliki

Pendapat Mazhab Maliki:

  • Niat puasa Ramadan cukup satu kali di awal bulan
  • Tidak perlu niat ulang setiap malam kecuali ada pembatal
  • Waktu niat: sejak Maghrib hingga terbit fajar
  • Jika berbuka karena udzur (sakit/safar) lalu sembuh, perlu niat ulang
  • Niat harus dari malam, tidak boleh niat di siang hari

Dalil Mazhab Maliki:

Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa puasa Ramadan adalah ibadah yang sudah jelas waktunya dan kewajiban nya, sehingga cukup satu niat di awal. Beliau berdalil dengan praktik sahabat yang tidak diriwayatkan berniat setiap malam secara khusus.

Keterangan:

Mazhab Maliki dominan di Afrika Utara dan sebagian Afrika Barat. Pendapat ini moderat antara Syafii dan Hanafi.

4. Mazhab Hanbali

Pendapat Mazhab Hanbali:

  • Niat puasa wajib Ramadan cukup satu kali di awal bulan
  • Niat puasa sunnah dan qadha harus setiap hari
  • Waktu niat: sejak Maghrib hingga terbit fajar
  • Boleh niat di siang hari sebelum Dhuhur jika belum makan/minum (seperti Hanafi)
  • Jika ada pembatal niat, perlu niat ulang

Dalil Mazhab Hanbali:

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah membedakan antara puasa wajib yang sudah pasti waktunya (Ramadan) dengan puasa yang tidak pasti waktunya (sunnah, qadha). Puasa Ramadan cukup satu niat karena waktunya sudah pasti.

Keterangan:

Mazhab Hanbali dominan di Arab Saudi dan beberapa negara Teluk. Pendapat ini dekat dengan Maliki dalam masalah niat.

Apakah Niat Puasa Ramadan Harus Dilafalkan?

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan umat Islam adalah: apakah niat puasa harus diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati? Berikut penjelasan lengkap berdasarkan dalil dan pendapat ulama.

Kesepakatan Para Ulama

Para ulama empat mazhab sepakat bahwa:

  • Niat yang wajib adalah niat di dalam hati (niyyatul qalb)
  • Mengucapkan niat dengan lisan bukanlah syarat sah, melainkan sunnah menurut sebagian ulama
  • Tempat niat yang sebenarnya adalah hati, bukan lisan
  • Jika seseorang berniat di dalam hati tanpa mengucapkan, puasanya sah

Dalil Bahwa Niat di Hati Sudah Cukup

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu’ menyatakan:

“Niat itu tempatnya di hati. Mengucapkan dengan lisan itu sunnah menurut pendapat yang shahih dalam mazhab kami (Syafii). Tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini di kalangan para ulama kami.”

Dalil bahwa niat cukup di hati adalah karena niat adalah kesengajaan (qashd), dan kesengajaan adalah perbuatan hati, bukan perbuatan lisan.

Hukum Mengucapkan Niat dengan Lisan

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengucapkan niat:

  • Pendapat Pertama (Mazhab Syafii): Sunnah muakkad (sangat dianjurkan) karena lisan membantu meneguhkan niat hati.
  • Pendapat Kedua (Mazhab Hanafi dan Hanbali): Mubah (boleh) tetapi tidak disunnahkan karena tidak ada dalil dari Nabi.
  • Pendapat Ketiga (Mazhab Maliki dan sebagian Hanabilah): Bid’ah jika diyakini wajib atau syarat sah.

Lafal Niat yang Dianjurkan (Bagi yang Mau Melafalkan)

Bagi yang ingin mengucapkan niat (mengikuti pendapat Syafii), berikut lafal yang dianjurkan:

Lafal Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri ramadhana hadzihi sanati lillahi ta’ala

Artinya:

“Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadan tahun ini karena Allah Taala.”

Lafal Sederhana (Bahasa Indonesia):

“Saya niat puasa wajib Ramadan esok hari karena Allah.”

Kesimpulan Praktis

  • Yang wajib: Niat di dalam hati
  • Yang sunnah (menurut Syafii): Mengucapkan dengan lisan untuk meneguhkan niat hati
  • Yang bid’ah: Meyakini ucapan lisan sebagai syarat wajib atau sah puasa
  • Jika lupa mengucapkan tetapi niat di hati sudah ada: Puasa tetap sah

7 Kesalahan Umum dalam Niat Puasa Ramadan

Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang sering terjadi di kalangan umat Islam terkait niat puasa Ramadan:

  • Kesalahan 1 – Meyakini Ucapan Lisan adalah Wajib: Banyak yang mengira bahwa tanpa mengucapkan lafal niat dengan lisan, puasanya tidak sah. Padahal yang wajib adalah niat di hati. Ucapan lisan hanya sunnah muakkad menurut Syafii.
  • Kesalahan 2 – Niat di Pagi Hari Setelah Fajar (bagi Pengikut Syafii): Sebagian orang berniat puasa setelah terbit fajar atau bahkan setelah salat Subuh. Ini tidak sah dalam mazhab Syafii. Niat harus dilakukan antara Maghrib hingga sebelum fajar.
  • Kesalahan 3 – Tidak Berniat Sama Sekali: Ada yang beranggapan karena sudah bulan Ramadan, otomatis puasa tanpa niat. Ini keliru. Niat tetap wajib meskipun hanya di dalam hati.
  • Kesalahan 4 – Niat Global untuk Seluruh Bulan Tanpa Pembaruan (Khusus Syafii): Pengikut mazhab Syafii wajib niat setiap malam. Niat satu kali di awal bulan tidak cukup menurut mazhab ini.
  • Kesalahan 5 – Melafalkan Niat dengan Keras Berjamaah: Melafalkan niat secara berjamaah dengan keras di masjid adalah bid’ah. Niat adalah urusan pribadi dengan Allah, tidak perlu dijamaahkan.
  • Kesalahan 6 – Ragu-Ragu dalam Niat: Niat harus tegas dan yakin. Jika seseorang ragu apakah akan puasa atau tidak, niatnya tidak sah. Contoh: “Besok kalau bangun, saya puasa. Kalau tidak bangun, tidak puasa.”
  • Kesalahan 7 – Niat Puasa Sambil Lalu: Niat harus disertai kesadaran penuh. Niat yang dilakukan sambil mengantuk berat atau tidak sadar penuh, dikhawatirkan tidak sah.

Solusi dan Nasihat

  • Pelajari hukum niat sesuai mazhab yang Anda ikuti
  • Bagi pengikut Syafii: Biasakan niat setiap malam setelah Maghrib atau sebelum tidur
  • Niat cukup dalam hati dengan kesadaran penuh
  • Jika ingin melafalkan, ucapkan pelan-pelan sendiri, bukan berjamaah
  • Fokus pada makna niat, bukan hanya hafalan lafal

Ringkasan Perbedaan 4 Mazhab dalam Niat Puasa Ramadan

Berikut adalah tabel ringkasan perbedaan pendapat empat mazhab dalam masalah niat puasa Ramadan:

AspekSyafiiHanafiMalikiHanbali
Frekuensi NiatSetiap malamCukup 1x awal bulanCukup 1x awal bulanCukup 1x awal bulan
Waktu NiatMaghrib – FajarMaghrib – DhuhurMaghrib – FajarMaghrib – Dhuhur
Niat di Siang HariTidak sahSah sebelum DhuhurTidak sahSah sebelum Dhuhur
Spesifikasi NiatHarus spesifik “Ramadan”Cukup niat puasaHarus spesifikHarus spesifik
Lafal LisanSunnah muakkadMubahTidak disunnahkanTidak disunnahkan
Dominan diIndonesia, SEAAsia Tengah, TurkiAfrika UtaraSaudi, Teluk

Catatan Penting:

Bagi umat Islam Indonesia yang mengikuti mazhab Syafii (mayoritas NU dan organisasi ASWAJA), wajib berniat setiap malam antara Maghrib hingga sebelum Fajar. Ini adalah pendapat paling hati-hati untuk menjaga kesahan ibadah puasa.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Niat Puasa Ramadan

Berikut adalah 5 pertanyaan yang paling sering ditanyakan tentang niat puasa Ramadan:

1. Apakah boleh niat puasa setelah salat Subuh?

Tidak boleh menurut mazhab Syafii yang dominan di Indonesia. Niat harus dilakukan antara Maghrib hingga sebelum terbit fajar. Namun menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, boleh niat hingga sebelum Dhuhur jika belum makan atau minum. Bagi pengikut mazhab Syafii (mayoritas umat Indonesia), untuk kehati-hatian sebaiknya niat dilakukan sejak malam hari.

2. Bagaimana jika lupa niat puasa Ramadan di malam hari?

Menurut mazhab Syafii, jika lupa niat sama sekali di malam hari, maka puasa hari itu tidak sah dan wajib diqadha. Namun ini situasi yang jarang terjadi karena biasanya seseorang pasti punya niat meskipun tidak mengucapkan. Yang penting adalah ada kesengajaan di hati untuk berpuasa. Jika memang benar-benar lupa total, maka wajib mengganti puasa tersebut.

3. Apakah niat puasa harus dengan lafal Arab?

Tidak wajib. Niat boleh menggunakan bahasa apa saja yang dipahami, termasuk bahasa Indonesia. Yang penting adalah ada kesengajaan di hati untuk berpuasa wajib Ramadan karena Allah. Mengucapkan dengan bahasa Arab adalah kebiasaan yang baik dan membantu menjaga keaslian lafal, tetapi bukan syarat wajib. Niat dalam bahasa Indonesia seperti “Saya niat puasa wajib Ramadan esok hari karena Allah” sudah sah.

4. Apakah cukup niat satu kali di awal Ramadan?

Tergantung mazhab yang diikuti. Mazhab Syafii mewajibkan niat setiap malam. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali membolehkan niat satu kali di awal bulan. Bagi umat Indonesia yang mayoritas mengikuti mazhab Syafii dan manhaj ASWAJA-NU, disarankan berniat setiap malam untuk kehati-hatian dan mengikuti pendapat yang lebih kuat dalam mazhab.

5. Bagaimana hukum niat puasa berjamaah di masjid?

Niat puasa berjamaah dengan mengikuti imam atau membaca lafal secara bersama-sama bukanlah amalan yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat. Ini termasuk bid’ah dalam tata cara ibadah. Niat adalah urusan pribadi antara hamba dengan Allah, dilakukan di dalam hati atau diucapkan pelan-pelan sendiri. Tidak ada anjuran untuk melafalkan niat secara berjamaah dengan suara keras di masjid.

Memahami hukum niat puasa Ramadan dengan benar sesuai mazhab yang diikuti adalah kunci kesahan ibadah puasa kita. Bagi umat Islam Indonesia yang mengikuti mazhab Syafii dan manhaj ASWAJA, sangat dianjurkan untuk berniat setiap malam antara Maghrib hingga sebelum Fajar, meskipun cukup di dalam hati tanpa harus dilafalkan.

Semoga artikel ini bermanfaat sebagai panduan praktis dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan benar dan sempurna. Wallahu a’lam bishawab.

INTERNAL & EXTERNAL LINKING

Artikel terkait dalam cluster Fikih Puasa:

  • [LINK] Fikih Puasa Ramadan 2026: 9 Hukum Penting yang Sering Disalahpahami (Core #1)
  • [LINK] Pembatal Puasa Ramadan: Panduan Lengkap dengan Dalil (Support – akan datang)
  • [LINK] Fidyah Puasa: Ketentuan dan Cara Membayarnya (cluster: Zakat & Fidyah)
  • [LINK] Keutamaan Sahur dalam Puasa Ramadan (Support – akan datang)
  • [LINK] Doa Berbuka Puasa yang Mustajab (cluster: Doa & Ibadah)
  • [LINK] Qadha Puasa Ramadan: Cara dan Hukumnya (Support – akan datang)

External links (authority sources):

  • [LINK] https://mui.or.id – Fatwa MUI tentang Puasa Ramadan
  • [LINK] https://islam.nu.or.id – Portal Nahdlatul Ulama tentang Fikih Puasa
  • [LINK] https://islamqa.info – Fatwa tentang Niat Puasa (English/Arab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca