Pendahuluan: Akar Historis Islam Moderat Nusantara
Sejarah moderasi beragama Indonesia adalah kisah panjang tentang bagaimana Islam disebarkan dengan damai, mengakomodasi budaya lokal, dan membangun harmoni sosial. Berbeda dengan wilayah lain yang Islam masuk lewat penaklukan militer, Indonesia menerima Islam melalui perdagangan, pernikahan, dan dakwah kultural yang bijaksana.
Data Kementerian Agama (2024) menunjukkan 87% Muslim Indonesia menganut paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang moderat, hasil dari tradisi panjang yang dimulai sejak abad ke-13. Artikel ini menelusuri jejak sejarah moderasi beragama Indonesia dari masa awal hingga kontemporer.
Era Awal: Islam Masuk Nusantara (Abad 7-13)
Jalur Perdagangan dan Pernikahan
Abad 7-9 M: Islam pertama kali masuk Indonesia melalui pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang singgah di pelabuhan Aceh, Barus (Sumatera Utara), dan pantai utara Jawa.
Karakteristik Awal:
- Tanpa Kekerasan: Tidak ada catatan invasi militer untuk islamisasi
- Pernikahan: Pedagang Muslim menikah dengan perempuan lokal, anak-anaknya jadi Muslim
- Perdagangan: Ketertarikan pada Islam karena pedagang Muslim jujur dan adil
Bukti Arkeologis: Makam Fatimah binti Maimun (1082 M) di Leran, Gresik—bukti Muslim sudah ada di Jawa sejak abad ke-11.
Kerajaan Islam Pertama: Samudera Pasai (1267)
Sultan Malik as-Saleh: Mendirikan Kesultanan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Pendekatan Moderat:
- Mengadopsi hukum Islam tapi tetap hormati adat lokal
- Tidak memaksa rakyat non-Muslim untuk konversi
- Menjadi pusat pendidikan Islam yang terbuka
Pengaruh: Marco Polo (1292) mencatat Pasai sebagai kota kosmopolitan dengan toleransi tinggi.
Era Keemasan: Walisongo dan Islamisasi Jawa (Abad 15-16)
Siapa Walisongo?
Sembilan Wali yang diakui menyebarkan Islam di Jawa:
- Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
- Sunan Ampel (Raden Rahmat)
- Sunan Bonang
- Sunan Drajat
- Sunan Giri
- Sunan Kalijaga
- Sunan Kudus
- Sunan Muria
- Sunan Gunung Jati
Metode Dakwah Kultural Walisongo
1. Seni dan Budaya
Wayang:
- Sunan Kalijaga memodifikasi wayang kulit (awalnya Hindu)
- Cerita Ramayana/Mahabharata diberi pesan Islam
- Lakon baru: kisah para nabi dan sahabat
Gamelan dan Tembang:
- Musik gamelan digunakan untuk dakwah
- Lagu “Tombo Ati” (obat hati) karya Sunan Bonang—ajaran Islam dalam bahasa Jawa
2. Akomodasi Tradisi Lokal
Pakaian:
- Wali tidak pakai jubah Arab, tapi memakai blangkon dan sarung Jawa
- Pesan: Islam tidak menghapus identitas lokal
Arsitektur:
- Masjid Demak (1477) menggunakan arsitektur Jawa (atap tumpang)
- Berbeda dengan masjid Arab yang berkubah
Selamatan dan Ritual:
- Walisongo tidak larang selamatan (ritual Jawa), tapi Islamkan isinya
- Sesajen diganti sedekah, doa animisme diganti doa Islam
3. Pendidikan Pondok Pesantren
Sunan Ampel mendirikan pesantren pertama di Ampel Denta, Surabaya (abad 15).
Kurikulum:
- Ilmu agama (tafsir, hadis, fiqh)
- Ilmu umum (pertanian, perdagangan)
- Akhlak dan adab
Filosofi: “Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah”—tidak hanya hafal, tapi praktik.
Prinsip Moderasi Walisongo
“Alon-alon asal kelakon” (pelan-pelan asal sampai): Tidak memaksakan Islam secara tiba-tiba, tapi bertahap dan bijaksana.
Contoh:
- Sunan Kudus tidak melarang warga Hindu menyembelih sapi (hewan suci Hindu)
- Beliau justru mengharamkan makan daging sapi di wilayahnya untuk hormati tetangga Hindu
- Masjid Menara Kudus arsitekturnya mirip candi (akomodasi estetika lokal)
Era Kesultanan: Islam Nusantara Berkembang (Abad 16-19)
Kesultanan Demak (1475-1548)
Raden Patah (Sultan Pertama):
- Anak Raja Majapahit yang masuk Islam
- Membangun masjid Demak dengan arsitektur Jawa
- Tidak menghancurkan candi Hindu (berbeda dengan invasi Islam di tempat lain)
Kesultanan Mataram Islam (1586-1755)
Sultan Agung (1613-1645):
- Menggabungkan kalender Islam (Hijriyah) dengan kalender Jawa (Saka)
- Kalender Jawa Islam masih dipakai sampai sekarang
- Simbol: Islam adaptif dengan konteks lokal
Kesultanan Banten, Cirebon, Ternate, Tidore
Karakteristik Umum:
- Sistem pemerintahan Islam tapi toleran pada non-Muslim
- Perdagangan terbuka untuk semua agama (Portugis, Belanda, Tionghoa)
- Hukum adat tetap diakui di samping hukum Islam
Era Kolonial: Pesantren sebagai Benteng Moderasi (Abad 19-20)
Perlawanan Non-Radikal
Berbeda dengan Padri dan Diponegoro yang angkat senjata, pesantren lebih fokus pada pendidikan dan preservasi Islam moderat.
KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, 1899):
- Mendirikan pesantren yang ajarkan Aswaja (moderat)
- Tidak anti-Belanda secara membabi buta, tapi pilih strategi diplomasi dan edukasi
- “Musuh terbesar bukan Belanda, tapi kebodohan umat”
Organisasi Massa Islam Moderat
1. Nahdlatul Ulama (NU, 1926)
Pendiri: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah
Prinsip:
- Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)
- Menghormati khilafiyah (perbedaan pendapat ulama)
- Moderat: tidak radikal, tidak liberal
Khittah 1926: NU menerima NKRI dan Pancasila sebagai bentuk negara final (bukan negara Islam).
2. Muhammadiyah (1912)
Pendiri: KH. Ahmad Dahlan
Prinsip:
- Tajdid (pembaruan): kembali ke Al-Quran dan Hadis, buang bid’ah
- Tapi tetap toleran: tidak kafirkan NU yang amalkan tradisi lokal
- Fokus pada pendidikan dan kesehatan (rumah sakit, sekolah)
Moderasi: Muhammadiyah kritik bid’ah, tapi tidak radikal. Tidak pernah bombing atau teror.
Era Kemerdekaan: Moderasi dalam Konteks Kebangsaan (1945-1998)
Soekarno dan “Islam Pancasila”
Piagam Jakarta (22 Juni 1945): Awalnya ada “7 kata”: “…dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
18 Agustus 1945: 7 kata dihapus oleh para pendiri bangsa (termasuk tokoh Islam seperti KH. Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo).
Alasan: Demi persatuan bangsa yang plural. Tokoh Islam moderat rela “berkorban” untuk NKRI.
Peran Ulama dalam Kemerdekaan
Resolusi Jihad (22 Oktober 1945): KH. Hasyim Asy’ari (NU) keluarkan fatwa: Bela NKRI = jihad fi sabilillah.
Hasilnya: Pertempuran Surabaya (10 November 1945)—santri dan ulama berjuang bersama tentara.
Pesan: Islam moderat cinta tanah air, tidak ingin negara Islam tapi komitmen pada NKRI.
Orde Baru: Pancasila sebagai Asas Tunggal (1970-1998)
Kebijakan Soeharto: Semua ormas (termasuk NU, Muhammadiyah) wajib ber-asas tunggal Pancasila.
Respons Moderat:
- NU: Khittah 1926 dihidupkan kembali—kembali ke khidmah (pengabdian sosial), tidak politik praktis
- Muhammadiyah: Terima Pancasila, fokus pada pendidikan
Hasilnya: Organisasi Islam moderat justru makin kuat di basis sosial (pesantren, sekolah, rumah sakit).
Era Reformasi: Tantangan Radikalisme (1998-2010)
Munculnya Kelompok Radikal
Pasca-Reformasi:
- FPI (Front Pembela Islam): Sweeping, main hakim sendiri
- MMI (Majelis Mujahidin Indonesia): Agenda negara Islam
- HTI (Hizbut Tahrir Indonesia): Kampanye khilafah
- JI (Jemaah Islamiyah): Terorisme (Bom Bali 2002)
Penyebab:
- Kebebasan pasca-Soeharto disalahgunakan
- Pengaruh Timur Tengah (Ikhwanul Muslimin, Wahabi)
- Globalisasi internet
Respons Organisasi Moderat
NU:
- Gus Dur (Presiden 1999-2001) vokal lawan radikalisme
- Membela hak minoritas (Ahmadiyah, Syiah, Tionghoa)
- “Tidak ada agama yang benar absolut di dunia, yang absolut hanya Tuhan”—kontroversial tapi berani
Muhammadiyah:
- Din Syamsuddin, Haedar Nashir tegas tolak terorisme
- Fatwa MUI (2005): Terorisme haram
- Kolaborasi dengan pemerintah dalam deradikalisasi
Era Kontemporer: Penguatan Moderasi (2010-Sekarang)
Program Pemerintah
1. Kemenag: Moderasi Beragama sebagai Program Nasional (2019)
Empat Pilar:
- Komitmen Kebangsaan
- Toleransi
- Anti-Kekerasan
- Akomodatif pada Budaya Lokal
Implementasi:
- Kurikulum madrasah dan pesantren
- Pelatihan guru PAI
- Kampanye media sosial
2. BNPT: Deradikalisasi dan Kontra-Terorisme
Program rehabilitasi mantan teroris dengan pendekatan moderasi beragama.
Success Rate: 78% tidak residivis.
Gerakan Sosial Moderasi
1. Gusdurian Network (2010)
Pendiri: Alissa Wahid (putri Gus Dur)
Program:
- Kampanye toleransi digital
- Volunteer kemanusiaan lintas agama
- Dialog lintas iman
2. Jaringan Islam Moderat
Aliansi NU, Muhammadiyah, Persis (yang moderat), MAARIF Institute, Wahid Foundation.
Agenda: Counter-narrative radikalisme, edukasi publik, advokasi kebijakan.
Tantangan Kontemporer
1. Radikalisasi Online
Media sosial (Telegram, WhatsApp) jadi saluran propaganda ekstremis.
Respons: Influencer moderat (Felix Siauw, Hanan Attaki—yang moderat) kampanye digital.
2. Polarisasi Politik
Pemilu 2014 dan 2019 gunakan isu SARA.
Respons: Tokoh moderat (KH. Ma’ruf Amin, Din Syamsuddin) kampanye “Islam Rahmatan lil Alamin.”
Pelajaran dari Sejarah Moderasi Beragama Indonesia
1. Dakwah Kultural Lebih Efektif daripada Militer
Walisongo berhasil Islamkan Jawa tanpa pedang. Hasilnya: Islam Nusantara jadi mayoritas tapi toleran.
2. Akomodasi Budaya Lokal = Kunci Sukses
Islam bukan copy-paste Arab. Di Indonesia, Islam berwajah Jawa, Melayu, Minang, Bugis, dll.
3. Pesantren sebagai Benteng Moderasi
1.000+ tahun pesantren jaga tradisi Islam moderat. Setiap kali ada ancaman radikalisme, pesantren jadi tameng.
4. Organisasi Massa (NU, Muhammadiyah) Penting
Tanpa ormas, Islam Indonesia bisa terfragmentasi dan rentan radikalisasi.
5. Komitmen pada NKRI adalah Pilihan Sadar
Tokoh Islam rela tidak bentuk negara Islam demi persatuan. Ini bukan kekalahan, tapi kemenangan strategis.
Tokoh-Tokoh Kunci dalam Sejarah Moderasi
1. Sunan Kalijaga (Abad 15) Dakwah melalui seni—wayang, tembang, gamelan.
2. KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) Pendiri NU, guru bangsa, pejuang kemerdekaan.
3. KH. Ahmad Dahlan (1868-1923) Pendiri Muhammadiyah, pelopor pembaruan Islam.
4. Abdurrahman Wahid / Gus Dur (1940-2009) Tokoh pluralisme, Presiden RI ke-4, aktivis HAM.
5. Buya Hamka (1908-1981) Ulama, sastrawan, tafsir Al-Azhar—moderat dan intelektual.
Kesimpulan
Sejarah moderasi beragama Indonesia membuktikan bahwa Islam bisa disebarkan dengan damai, beradaptasi dengan budaya lokal, dan membangun masyarakat yang harmonis. Dari Walisongo hingga era digital, moderasi adalah DNA Islam Indonesia.
Tantangan: Radikalisasi, polarisasi, globalisasi yang homogen.
Solusi: Kembali ke akar moderasi, perkuat pesantren dan ormas, kampanye digital moderat.
Pesan: Sejarah adalah guru terbaik. Dengan belajar dari masa lalu, kita bisa membangun masa depan yang lebih toleran.
FAQ
1. Mengapa Islam di Indonesia berbeda dengan Timur Tengah?
Karena metode penyebaran berbeda. Indonesia: perdagangan dan dakwah kultural. Timur Tengah: penaklukan militer. Hasilnya: Islam Indonesia lebih akomodatif.
2. Apakah Walisongo benar-benar ada?
Secara historis, ada debat. Tapi tradisi lisan dan makam mereka jadi bukti kuat bahwa mereka pernah eksis dan berpengaruh.
3. Mengapa NU dan Muhammadiyah tidak bersatu?
Beda pendekatan: NU tradisional, Muhammadiyah modernis. Tapi keduanya moderat dan saling menghormati. “Berbeda tapi tidak bermusuhan.”
4. Apakah moderasi beragama = liberal?
Tidak. Moderat = tengah (tidak ekstrem kanan/kiri). Liberal = longgar dalam aturan agama. NU dan Muhammadiyah moderat tapi tidak liberal.
5. Bagaimana sejarah moderasi menjawab kritik “Islam Indonesia = Islam sinkretis”?
Bukan sinkretis (pencampuran aqidah), tapi akomodatif (budaya lokal yang tidak bertentangan dengan aqidah diakomodasi). Aqidah tetap murni, tapi praktik sosial fleksibel.
6. Apa peran pesantren dalam sejarah moderasi?
Pesantren adalah benteng. Setiap era ada ancaman (kolonialisme, radikalisme), pesantren selalu jaga tradisi moderat dan ajarkan Aswaja.
7. Mengapa tokoh Islam rela hapus 7 kata Piagam Jakarta?
Demi persatuan bangsa. Tokoh Islam moderat paham bahwa NKRI lebih penting daripada simbolisme “negara Islam.”
8. Apakah sejarah moderasi relevan untuk generasi muda?
Sangat. Generasi muda rentan radikalisasi online. Dengan belajar sejarah, mereka tahu bahwa moderasi adalah tradisi luhur, bukan konsep impor Barat.
9. Bagaimana cara melestarikan warisan moderasi Walisongo?
- Pelajari dan praktikkan metode dakwah kultural
- Dukung pesantren dan ormas moderat
- Kampanye digital tentang sejarah moderasi
- Ziarah ke makam wali (bukan untuk minta berkah, tapi untuk belajar sejarah)
10. Apa yang bisa kita pelajari dari sejarah untuk masa depan?
3 Pelajaran Utama:
- Moderasi bukan konsep baru—ini tradisi 700+ tahun
- Dakwah dengan bijaksana lebih efektif daripada kekerasan
- Komitmen pada kebangsaan dan toleransi adalah kekuatan, bukan kelemahan
Artikel Terkait:
- Konsep Wasathiyyah dalam Al-Quran dan Hadis
- Empat Pilar Moderasi Beragama
- Moderasi Beragama dan Pancasila: Sinergi Nilai
- Tokoh Moderasi Beragama Indonesia
Sumber:
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern. Gadjah Mada University Press.
- Azra, Azyumardi. (2006). Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Mizan.
- Bruinessen, M. van. (1995). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Mizan.
- Geertz, Clifford. (1976). The Religion of Java. University of Chicago Press.
- Kemenag RI. (2019). Moderasi Beragama: Dari Indonesia untuk Dunia.











