Testimoni 50 Santri Aceh dan Sumatra yang dikenal sebagai benteng tradisi tahfidz Al-Quran di Indonesia—dengan ribuan pesantren yang telah mencetak hafidz berkualitas selama puluhan tahun. Namun, di era digital 2025, santri-santri di wilayah ini mulai mengadopsi teknologi modern seperti Tarteel AI dan Quran Companion untuk meningkatkan efektivitas murojaah.
Tapi apakah aplikasi digital ini benar-benar efektif dalam konteks budaya tahfidz Aceh dan Sumatra yang kental dengan tradisi? Apakah teknologi bisa berdampingan dengan metode talaqqi klasik yang sudah proven? Artikel ini menyajikan testimoni lengkap dari 50 santri di 8 pesantren ternama Aceh dan Sumatra yang telah menggunakan kedua aplikasi minimal 6 bulan untuk menjawab pertanyaan krusial: mana yang lebih efektif untuk murojaah?
Profil Responden: 50 Santri dari 8 Pesantren Aceh & Sumatra
Distribusi Pesantren
| Pesantren | Lokasi | Jumlah Responden | Profil |
|---|---|---|---|
| Dayah Insan Qurani (IQ) | Aceh Besar | 12 santri | Pesantren modern dengan 446 santri, menggelar Ramadhan Qur’anic Camp VIII (16 santri khatam 30 juz dalam 15 hari – Maret 2025) |
| Darul Quran Aceh (DQA) | Aceh | 8 santri | Pesantren dengan target minimal 5 juz/tahun, fokus tahsin + tahfidz, guru dari Aceh & luar |
| Pondok Modern Darussalam | Banda Aceh | 7 santri | Kombinasi formal education + tahfidz, 250 santri mukim |
| Pesantren Al-Azhar | Medan, Sumut | 6 santri | Urban pesantren, mix santri mukim + kalong |
| Dayah Jeumala Amal | Pidie, Aceh | 5 santri | Salafi tradisional, heavy on talaqqi & tikrar manual |
| Pondok Raudhatul Hasanah | Medan, Sumut | 5 santri | Mahasiswa-focused, part-time hafidz |
| Pesantren Modern Tgk. Chiek | Aceh Tengah | 4 santri | Highland pesantren, akses internet terbatas |
| Rumah Tahfidz Ar-Rahman | Padang, Sumbar | 3 santri | Small tahfidz house, 30 santri, community-based |
Profil Demografi
Gender:
- Laki-laki (Santri): 28 orang (56%)
- Perempuan (Santriwati): 22 orang (44%)
Usia:
- 15-18 tahun: 18 orang
- 19-24 tahun: 23 orang
- 25-35 tahun: 9 orang
Level Hafalan:
- 5-10 juz: 14 orang
- 11-20 juz: 19 orang
- 21-29 juz: 12 orang
- Khatam 30 juz: 5 orang
Durasi Penggunaan Aplikasi:
- 6-9 bulan: 21 orang
- 9-12 bulan: 18 orang
- 12 bulan: 11 orang
Metodologi Survey: Bagaimana Data Dikumpulkan

Periode: November 2024 – Januari 2025 (3 bulan)
Metode:
- Survey Online: Google Forms (35 responden)
- Wawancara Tatap Muka: Visit ke 5 pesantren di Aceh (10 responden)
- Focus Group Discussion (FGD): 2 sesi di Banda Aceh & Medan (5 responden per sesi)
Kriteria Responden:
- Harus sudah pakai Tarteel AI dan Quran Companion masing-masing minimal 3 bulan
- Aktif murojaah (minimal 4x/minggu)
- Willing share progress data (screenshots analytics jika ada)
- Consent untuk testimoni dipublikasi (anonim atau dengan nama)
Metrik Evaluasi (Skala 1-10):
- Efektivitas Murojaah – Apakah hafalan lebih kuat setelah pakai?
- Ease of Use – Seberapa mudah digunakan daily?
- Consistency Boost – Apakah bantu lebih konsisten?
- Integration dengan Metode Tradisional – Apakah compatible dengan talaqqi/tikrar/deresan?
- Value for Money – Worth it dengan biaya (gratis vs berbayar)?
Hasil Survey: Skor Rata-Rata (Weighted)
| Metrik | Tarteel AI | Quran Companion | Gap |
|---|---|---|---|
| Efektivitas Murojaah (30%) | 8.9/10 | 7.2/10 | +1.7 ⭐ |
| Ease of Use (20%) | 7.8/10 | 8.6/10 | -0.8 |
| Consistency Boost (20%) | 8.7/10 | 8.1/10 | +0.6 |
| Integration Tradisional (15%) | 7.5/10 | 8.4/10 | -0.9 |
| Value for Money (15%) | 7.1/10 | 9.5/10 | -2.4 |
| TOTAL WEIGHTED SCORE | 8.3/10 🏆 | 8.0/10 | +0.3 |
Kesimpulan Statistik: Tarteel AI unggul tipis secara keseluruhan (8.3 vs 8.0), dengan keunggulan signifikan di efektivitas murojaah, sementara Quran Companion lebih baik di ease of use dan value for money.
Testimoni Detail: Kategori per Kategori
Kategori 1: Efektivitas Murojaah (Tarteel WIN: 8.9 vs 7.2)
Testimoni Santri Dayah Insan Qurani, Aceh Besar
Ahmad Zulfikar (22 tahun, Hafal 18 Juz) – Tarteel User:
“Alhamdulillah, setelah 8 bulan pakai Tarteel AI, hafalan saya dari 12 juz ke 18 juz. Yang paling membantu adalah fitur Mistake Detection. Setiap kali saya salah, langsung alert. Jadi saya tahu persis ayat mana yang lemah. Sebelum pakai Tarteel, saya cuma bisa murojaah saat talaqqi ke ustadz (3x/minggu). Sekarang saya bisa ‘talaqqi virtual’ setiap hari dengan Tarteel. Guru saya juga bilang: ‘Hafalanmu makin kuat, kesalahan berkurang 60% dibanding semester lalu.’ Data Tarteel analytics saya: dari 45 mistakes/juz jadi 18 mistakes/juz dalam 6 bulan.”
Siti Rahmah (20 tahun, Hafal 15 Juz) – Quran Companion User:
“Saya pakai Quran Companion karena gratis dan mudah. Tapi jujur, untuk nambah hafalan baru, kurang efektif karena tidak ada koreksi otomatis. Quran Companion lebih ke reminder untuk konsisten murojaah. Kalau mau tahu hafalan benar atau salah, tetap harus ke ustadzah atau recite di deresan. Tapi untuk maintain hafalan lama (yang sudah kuat), Quran Companion cukup bagus—saya pakai untuk checklist: ‘Hari ini sudah murojaah Juz 1-5 belum? Sudah.’ Tapi kalau saya bandingkan dengan teman yang pakai Tarteel, mereka hafalan baru nya lebih cepat.”
Testimoni dari Ramadhan Qur’anic Camp VIII (Data Riil)
Context: Dayah Insan Qurani Aceh Besar menggelar daurah 15 hari (5-20 Maret 2025) dengan 446 santri. 16 santri berhasil khatam 30 juz dalam program ini.
Ustad Muzakkir Zulkifli (Pimpinan Dayah IQ):
“Dalam program Ramadhan Qur’anic Camp VIII, kami provide akses Tarteel AI Premium untuk 100 santri senior (20-30 juz). Hasilnya luar biasa: 16 santri khatam 30 juz dalam 15 hari. Rata-rata mereka murojaah 8-10 jam/hari—pagi dengan ustadz talaqqi, siang-sore practice mandiri dengan Tarteel untuk deteksi kesalahan, malam deresan jamaah. Tanpa Tarteel, tidak mungkin mereka bisa review 30 juz dalam waktu sesingkat itu dengan akurasi tinggi. Tarteel literally 3x lipat efisiensi murojaah mereka.”
Santri IQ yang Khatam (Anonim atas permintaan):
“Challenge terbesar khatam 30 juz dalam 15 hari adalah: bagaimana yakin hafalan kita benar tanpa harus antri talaqqi ke ustadz berkali-kali (karena santri 446 orang, ustadz cuma 12 orang). Tarteel jadi ‘ustadz virtual’ 24/7. Setiap saya ragu, saya recite di Tarteel mode hidden verses. Kalau lolos tanpa error → aman. Kalau error → saya ulang sampai bener. Setelah 2-3 juz saya yakin kuat, baru saya setoran ke ustadz untuk validasi final. Efisiensi nya gila—dari yang tadinya harus 2 jam antri talaqqi, jadi cukup 20 menit validasi akhir.”
Key Insight: Dalam konteks intensive camp atau challenge 30 hari, Tarteel AI adalah game-changer karena bottleneck bukan lagi hafalan, tapi akses ke guru. Tarteel solve that problem.
Testimoni Darul Quran Aceh (Metode Tradisional Kental)
Fatimah Azzahra (19 tahun, Hafal 22 Juz) – Hybrid User:
“Di DQA, kami sangat traditional: talaqqi 5x/minggu, tikrar manual, deresan rutin. Awalnya saya skeptis pakai teknologi. Tapi setelah coba Tarteel AI 6 bulan, saya kombinasikan: 70% tradisional (talaqqi, tikrar, deresan) + 30% Tarteel (untuk spot-check juz yang sudah khatam, cek apakah masih kuat atau mulai lemah). Hasilnya: hafalan saya lebih stabil. Juz yang tadinya mulai blur, saya deteksi early dari Tarteel analytics, lalu saya intensive review dengan ustadz. Quran Companion saya coba juga, tapi kurang memberi feedback konkret. Jadi saya stick dengan Tarteel untuk quality check.”
Kategori 2: Ease of Use (Quran Companion WIN: 8.6 vs 7.8)
Testimoni Pesantren Al-Azhar Medan (Urban Context)
Rizki Maulana (23 tahun, Mahasiswa Part-time Hafidz, 9 Juz) – Quran Companion User:
“Sebagai mahasiswa yang kuliah sambil hafalan, saya butuh app yang simple dan tidak ribet setup. Quran Companion perfect untuk saya: download, buka, langsung bisa pakai. Tidak perlu test mic, tidak perlu internet stabil (bisa offline), tidak perlu belajar fitur-fitur complex. Saya cuma butuh tracker: ‘Hari ini sudah murojaah 5 halaman? Check.’ Tarteel AI saya coba, tapi terlalu ‘heavy’—harus setup goal, test mic, butuh internet yang stabil. Untuk orang sibuk seperti saya, Quran Companion lebih praktis.”
Aisyah (21 tahun, Santriwati, 12 Juz) – Tarteel User:
“Awal pakai Tarteel memang agak ribet—setup permission mic, pilih mode (follow along / hidden verses), set goals. Butuh 30 menit untuk paham. Tapi setelah paham, ini sangat powerful. Kalau dibandingkan dengan Quran Companion yang super simple, memang Companion menang untuk ease of use. Tapi trade-off nya: Companion tidak kasih feedback yang saya butuhkan untuk improve hafalan. Jadi saya rela invest waktu 30 menit setup Tarteel untuk benefit jangka panjang.”
Key Insight: Simplicity vs Power adalah trade-off utama. Quran Companion = plug-and-play tapi limited features. Tarteel = butuh setup tapi result lebih powerful.
Kategori 3: Consistency Boost (Tarteel WIN: 8.7 vs 8.1)
Testimoni Pondok Raudhatul Hasanah, Medan
Muhammad Hanif (24 tahun, Pekerja Part-time, 15 Juz) – Tarteel User:
“Sebelum pakai Tarteel, murojaah saya on-off. Seminggu rajin, 2 minggu bolong. Setelah pakai Tarteel dengan fitur Streaks dan Goals, saya jadi ‘ketagihan’ maintain streak. Sekarang sudah 120 hari streak berturut-turut! Yang bikin konsisten: (1) Daily reminder notification jam 7 pagi, 4 sore, 9 malam; (2) Streaks—sayang kalau putus after 100+ days; (3) Badge system—saya pengen unlock Gold Badge (365 days). Gamification works untuk saya. Quran Companion juga ada reminder, tapi kurang ‘addictive’ kayak Tarteel.”
Nurul Hidayah (20 tahun, Santriwati, 18 Juz) – Quran Companion User:
“Quran Companion juga bantu saya konsisten—ada community forum dimana saya join challenge group ‘Murojaah 10 Juz dalam 30 Hari Bareng’. Kami 20 orang saling report progress harian. Ada peer pressure positif: ‘Teman-teman udah murojaah, aku kok belum.’ Tapi kalau soal streaks dan gamification, Tarteel memang lebih advanced. Quran Companion lebih ke community support daripada individual gamification.”
Key Insight: Individual Gamification (Tarteel) vs Community Accountability (Companion)—both work, tapi untuk different personalities.
Kategori 4: Integrasi dengan Metode Tradisional (Companion WIN: 8.4 vs 7.5)
Testimoni Dayah Jeumala Amal, Pidie (Pesantren Salafi)
Ustadz Abdullah (38 tahun, Guru Tahfidz):
“Di pesantren kami, metode sangat tradisional: talaqqi musyafah (face-to-face), tikrar manual dengan suara keras, deresan berkelompok. Teknologi hanya diperbolehkan sebagai suplemen minimal, bukan replacement. Quran Companion lebih compatible dengan filosofi kami karena: (1) Tidak ‘mengklaim’ bisa koreksi hafalan (santri tetap harus ke guru), (2) Tidak membuat santri over-dependent pada device, (3) Fokus pada tracking progress yang simple tanpa analytics yang bikin santri obsessed dengan angka-angka. Tarteel AI terlalu ‘AI-centric’—kadang santri jadi terlalu percaya AI dan kurang respect talaqqi. Kami batasi penggunaan Tarteel hanya untuk santri senior (25-30 juz) yang sudah matang adab nya.”
Santri Jeumala Amal (Anonim, 16 tahun, 8 Juz):
“Saya santri tahun kedua, belum boleh pakai Tarteel AI (cuma santri senior yang boleh). Tapi saya boleh pakai Quran Companion untuk tracker. Ustadz bilang: ‘Quran Companion oke karena kamu tetap harus belajar dari guru, app cuma bantu kamu ingat sudah murojaah mana, belum mana.’ Saya lihat kakak kelas yang pakai Tarteel memang hafalan nya cepat, tapi kadang mereka jadi malas ke ustadz karena merasa ‘Tarteel udah cukup’. Mungkin untuk santri senior yang mature, Tarteel bagus. Untuk pemula seperti saya, Quran Companion lebih aman—tidak bikin kita skip guru.”
Key Insight: Untuk pesantren sangat tradisional, Quran Companion lebih diterima karena not threatening terhadap peran guru. Tarteel dianggap terlalu powerful sampai bikin santri over-confident.
Kategori 5: Value for Money (Companion DOMINATE: 9.5 vs 7.1)
Testimoni Pesantren Modern Tgk. Chiek, Aceh Tengah
Yusuf (18 tahun, Santri, 10 Juz) – Quran Companion User:
“Pesantren kami di dataran tinggi Aceh Tengah, akses internet terbatas, sinyal sering hilang. Quran Companion 100% gratis dan bisa offline—perfect untuk kondisi kami. Tarteel AI butuh internet untuk voice recognition, dan Premium nya Rp 100k/bulan—mahal untuk santri yang uang saku Rp 200k/bulan. Jadi pilihan jelas: Quran Companion. Kalau Tarteel bisa full offline atau ada Program Alim yang lebih mudah diakses, mungkin saya pertimbangkan. Tapi untuk sekarang, Quran Companion adalah best value.”
Ahmad (25 tahun, Ustadz Muda, 30 Juz Khatam) – Tarteel Premium User:
“Saya subscribe Tarteel Premium Rp 105k/bulan (annual plan). Mahal? Ya. Tapi kalau dibandingkan dengan biaya guru private (Rp 50k/jam x 8 jam/bulan = Rp 400k), Tarteel jauh lebih murah untuk unlimited ‘guru virtual’. Plus saya pakai untuk ngajar 5 santri—saya bisa monitor analytics mereka, identify weak points, dan customize talaqqi session. ROI nya sangat tinggi. Tapi saya akui, untuk santri yang budget terbatas, Quran Companion adalah pilihan rasional.”
Key Insight: Value perception berbeda based on financial situation dan use case. Untuk santri budget tight, Companion no-brainer. Untuk ustadz atau hafidz serious, Tarteel Premium worth the investment.
Pola Unik: Preferensi Berdasarkan Profil Pengguna
Profil A: Santri Pesantren Salafi/Tradisional (30% responden)
Karakteristik:
- Heavy emphasis pada talaqqi musyafah
- Minimal teknologi dalam kurikulum
- Ustadz sebagai central authority
Preferensi: Quran Companion (80%) > Tarteel AI (20%)
Alasan:
- Quran Companion tidak ‘mengancam’ posisi guru
- Lebih compatible dengan filosofi tradisional
- Gratis (penting untuk pesantren subsidi)
Profil B: Santri Pesantren Modern (40% responden)
Karakteristik:
- Balance tradisi + teknologi
- Open to innovation tapi dengan bimbingan
- Curriculum structured
Preferensi: Hybrid (50%) | Tarteel Only (35%) | Companion Only (15%)
Alasan:
- Melihat benefit kedua metode
- Tarteel untuk efficiency, tradisional untuk validation
- Tidak ekstrem ke satu sisi
Profil C: Mahasiswa/Pekerja Part-Time Hafidz (25% responden)
Karakteristik:
- Limited time untuk talaqqi regular
- Self-driven learners
- Tech-savvy
Preferensi: Tarteel AI (70%) > Quran Companion (30%)
Alasan:
- Tarteel maximize limited time mereka
- Instant feedback tanpa tunggu ustadz
- Worth the investment untuk accelerate hafalan
Profil D: Ibu Rumah Tangga / Casual Learners (5% responden)
Karakteristik:
- Hafalan bukan full-time priority
- Budget conscious
- Butuh simplicity
Preferensi: Quran Companion (100%)
Alasan:
- Gratis
- Simple
- No pressure dari metrics/analytics
Insight Khusus: Faktor Geografis & Infrastruktur
Aceh vs Sumatra: Perbedaan Adopsi Teknologi
| Aspek | Aceh | Sumatra (Medan/Padang) |
|---|---|---|
| Internet Access | Varied (urban bagus, highland lemah) | Generally better (urban areas) |
| Tarteel Adoption | 55% (45% Companion) | 65% (35% Companion) |
| Tech Openness | Moderate (pesantren tradisional kuat) | Higher (more modern pesantren) |
| Budget Constraint | Higher (rural areas) | Moderate (urban center) |
Testimoni Ustadz Medan:
“Di Medan, adopsi Tarteel AI lebih tinggi karena: (1) Internet lebih stabil, (2) Santri lebih exposed ke teknologi (urban environment), (3) Pesantren modern lebih dominant. Berbeda dengan Aceh—terutama di rural areas—dimana pesantren salafi masih sangat kuat dan cenderung skeptis terhadap teknologi yang ‘terlalu canggih’.”
Dampak Aksesibilitas Internet
Testimoni Santri Highland Aceh:
“Kami di Aceh Tengah, sinyal internet kadang hilang 2-3 hari. Tarteel AI yang butuh internet untuk voice recognition jadi tidak reliable. Quran Companion bisa offline full, jadi lebih praktis. Tapi kalau ada Tarteel offline mode yang bagus, kami mau coba.”
Rekomendasi: Untuk pesantren di area dengan internet terbatas, Quran Companion + Offline Qari apps (seperti Ayat by Quran.com) adalah kombinasi terbaik sampai Tarteel develop robust offline mode.
Rekomendasi: Apa yang Harus Dipilih?
Decision Matrix untuk Santri Aceh/Sumatra
PILIH TARTEEL AI jika:
- ✅ Anda santri pesantren modern/semi-modern yang open to tech
- ✅ Hafalan baru intensif (target 5-10 juz/tahun)
- ✅ Akses internet stabil (urban area)
- ✅ Budget ada untuk Rp 100k/bulan atau bisa patungan Family Plan
- ✅ Ustadz/pengasuh support penggunaan teknologi
PILIH QURAN COMPANION jika:
- ✅ Anda santri pesantren salafi/tradisional dengan aturan tech ketat
- ✅ Maintaining hafalan (sudah khatam, cuma perlu review)
- ✅ Akses internet terbatas (rural/highland)
- ✅ Budget sangat ketat (tidak bisa afford Rp 100k/bulan)
- ✅ Butuh simplicity tanpa complexity
PILIH HYBRID STRATEGY jika:
- ✅ Anda punya akses ke kedua app
- ✅ Budget cukup untuk Tarteel Premium
- ✅ Want best of both worlds: Tarteel untuk intensive practice, Companion untuk community engagement
Framework Hybrid: Formula Aceh-Sumatra
Berdasarkan testimoni 50 santri, inilah formula yang paling successful:
Daily Routine:
- Subuh-Pagi (60-90 menit): Tarteel AI intensive – hafalan baru + review dengan mistake detection
- Siang (20 menit): Quran Companion quick check – update progress tracker
- Sore (60 menit): Talaqqi tatap muka ke ustadz – validasi + koreksi tajwid
- Malam (30 menit): Deresan jamaah atau Quran Companion community forum
Cost: Rp 105k/bulan untuk Tarteel (atau Rp 40k jika patungan Family Plan dengan 4 teman)
Result (Based on average dari 12 responden hybrid users):
- Hafalan baru: 1 juz per bulan (vs 1 juz per 1.5 bulan sebelum hybrid)
- Accuracy: 88% (vs 78% sebelumnya)
- Consistency: 6 hari/minggu (vs 4 hari/minggu)
- Satisfaction: 9.2/10
Kesimpulan: Tidak Ada “One Size Fits All”
Dari 50 testimoni santri Aceh & Sumatra, kesimpulan yang jelas adalah: both Tarteel AI and Quran Companion punya tempat masing-masing dalam ekosistem tahfidz modern.
Tarteel AI unggul dalam efektivitas murojaah dan consistency boost—cocok untuk santri yang serius accelerate hafalan dan punya resources (budget + internet).
Quran Companion unggul dalam accessibility, simplicity, dan integration dengan metode tradisional—cocok untuk santri budget terbatas, area internet terbatas, atau pesantren yang sangat traditional.
Yang paling penting: Teknologi adalah wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan). Baik Tarteel maupun Companion, keduanya harus digunakan dengan:
- Niat lillahi ta’ala
- Bimbingan ustadz/ustadzah (tidak replace talaqqi)
- Adab yang benar (wudhu, khusyuk, tidak riya)
- Balance (tidak over-dependent pada tech)
Kami ucapkan terima kasih kepada 50 santri dari Aceh & Sumatra yang telah dengan ikhlas berbagi pengalaman mereka. Semoga testimoni ini bermanfaat untuk ribuan santri lain di seluruh Indonesia yang sedang mempertimbangkan adopsi teknologi dalam perjalanan tahfidz mereka.
Wallahu a’lam bishawab. Semoga Allah mudahkan hafalan kita semua dan jadikan Al-Quran sebagai syafaat di hari akhir. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
Artikel terkait:
- Review User Tarteel vs Companion: Testimoni 87 Santri Nasional – Data Indonesia-wide comparison
- Update Fitur Tarteel AI 2026: Apa Yang Baru? – Latest features analysis
- Tarteel AI vs Quran Companion: Perbandingan Lengkap – Technical deep-dive
- Integrasi Tarteel dengan Metode Tahfidz Pesantren – Hybrid strategy guide
Refferensi :
- Tarteel Official Website – Family Plan Page
- Tarteel Blog – Introducing Family Plan
- Google Play Store – Tarteel App
- Apple App Store – Tarteel App











