Pendahuluan: Pengaruh Moral Tokoh Agama
Survei Litbang Kompas (2024) menunjukkan 68% masyarakat Indonesia menjadikan tokoh agama sebagai rujukan utama dalam beragama, melampaui pengaruh media massa (42%) atau pemerintah (35%). Peran tokoh agama moderasi beragama menjadi krusial karena mereka memiliki moral authority yang luar biasa.
Artikel ini mengupas peran strategis, tantangan, dan strategi tokoh agama dalam menjadi agen moderasi beragama di Indonesia.
Siapa Itu Tokoh Agama?
Definisi
Tokoh agama adalah individu yang memiliki otoritas keagamaan dan pengaruh moral di komunitasnya berdasarkan pengetahuan, kharisma, atau posisi formal dalam hierarki keagamaan.
Tipologi Tokoh Agama
1. Formal (Institutional)
- Islam: Imam masjid, ustadz, kiai pesantren, mubaligh resmi
- Kristen Protestan: Pendeta, gembala, bishop
- Katolik: Pastor, uskup, kardinal
- Hindu: Pandita, pemangku, sulinggih
- Buddha: Biksu, bhikkuni
- Konghucu: Ru (cendekiawan Konghucu)
2. Informal (Charismatic)
- Dai populer (tidak terikat lembaga formal)
- Guru spiritual/mursyid tarekat
- Tokoh adat yang juga pemimpin agama
- Influencer agama di media sosial
3. Akademis (Scholarly)
- Profesor studi agama
- Mujtahid (ahli ijtihad Islam)
- Teolog
- Peneliti agama
Peran Tokoh Agama sebagai Agen Moderasi
A. Pembentuk Opini Publik (Opinion Shaper)
Mekanisme:
- Khutbah/Khotbah: Setiap Jumat, jutaan Muslim mendengarkan khutbah. Konten moderat = dampak masif
- Ceramah: Kajian rutin di masjid, gereja, vihara
- Media Massa: Wawancara di TV, radio, artikel di koran
- Media Sosial: Dakwah via YouTube, Instagram, TikTok
Contoh: Ustadz Abdul Somad (UAS) dengan 8 juta followers Instagram. Satu postingan tentang toleransi bisa reach jutaan orang dalam hitungan jam.
Tanggung Jawab:
- Tidak menyebarkan hoax atau konten intoleran
- Menyampaikan tafsir agama yang kontekstual, bukan literal-ekstrem
- Mengkritik kebijakan pemerintah boleh, tapi tidak dengan cara menghasut
B. Penjaga Ortodoksi Moderat (Guardian of Moderate Orthodoxy)
Fungsi:
- Menjaga kemurnian ajaran agama dari penyimpangan (bid’ah, sesat)
- Sekaligus mencegah tafsir ekstrem yang justru merusak esensi agama
Contoh: KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI 2015-2019, kini Wapres) mengeluarkan fatwa yang menegaskan:
- ISIS dan terorisme haram
- Khilafah dengan kekerasan bertentangan dengan Islam
- Toleransi bukan berarti relativisme agama
Dilema: Tokoh agama harus balance: tidak terlalu kaku (radikal), tidak terlalu longgar (liberal). Ini seni yang sulit.
C. Mediator Konflik (Conflict Mediator)
Kapan Dibutuhkan:
- Konflik internal agama (Sunni-Syiah, madzhab berbeda)
- Konflik antar-agama (pendirian rumah ibadah, konversi agama)
- Konflik politik yang di-SARA-kan
Studi Kasus: Konflik Sampang (Sunni-Syiah, 2012): KH. Abdul Kadir (tokoh NU Madura) berusaha mediasi, meski gagal karena emosi massa terlalu tinggi. Tapi upayanya mencegah konflik meluas ke daerah lain.
Kunci Sukses Mediasi:
- Netralitas: Tokoh tidak berpihak
- Legitimasi: Dihormati kedua kubu
- Kesabaran: Mediasi butuh waktu lama
D. Role Model (Teladan Hidup)
Prinsip: “Actions speak louder than words”
Contoh Keteladanan:
- Gus Dur (Abdurrahman Wahid): Hadir di perayaan Natal, membela hak minoritas Tionghoa, bahkan usul hapus diskriminasi terhadap Ahmadiyah
- Pdt. Dr. Stephen Tong: Tokoh Kristen yang aktif dialog dengan Muslim, menolak eksklusivisme
- Biksu Ashin Jinarakkhita: Mempromosikan dialog Buddha-Islam di Indonesia
Impact: Umat melihat tokoh mereka bertoleransi = ikut bertoleransi.
E. Edukator (Guru Spiritual)
Peran:
- Mengajarkan pemahaman agama yang benar (bukan sekadar ritual)
- Menanamkan nilai-nilai universal: kasih sayang, kejujuran, keadilan
- Counter-narrative terhadap propaganda ekstremis
Metode:
- Pengajian/Katekese: Sistematis, berjenjang
- Mentoring: One-on-one atau kelompok kecil
- Publikasi: Buku, artikel, video edukatif
Karakteristik Tokoh Agama Moderat
1. Berpengetahuan Luas (Well-Educated)
Ciri:
- Menguasai kitab suci dan tafsirnya
- Memahami konteks historis dan sosiologis
- Terbuka pada ilmu lain (filsafat, sains, antropologi)
Contoh: Prof. Quraish Shihab (Ahli Tafsir): Tafsir Al-Misbah-nya kontekstual, tidak literal. Beliau sering merujuk riset akademis modern.
2. Terbuka pada Dialog (Open-Minded)
Ciri:
- Tidak menganggap agama lain sebagai musuh
- Bersedia berdialog, meski tidak kompromi aqidah
- Mengakui kebenaran relatif dalam hal furu’ (cabang)
Contoh: Pastor Franz Magnis-Suseno SJ: Pakar filsafat yang sering dialog dengan Muslim. Bukunya “Etika Jawa” jadi referensi lintas agama.
3. Kontekstual dalam Berfatwa (Contextual)
Ciri:
- Tidak sekadar copy-paste fatwa ulama klasik
- Mempertimbangkan kondisi Indonesia (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika)
- Menggunakan maqashid syariah (tujuan hukum), bukan sekadar literal
Contoh Fatwa Kontekstual: MUI tentang Ucapan Selamat Natal:
- Boleh (dengan syarat tidak mengakui keyakinan agama tersebut)
- Konteks: Indonesia plural, ucapan selamat = sopan santun sosial
- Berbeda dengan fatwa di Saudi (yang melarang total karena konteks berbeda)
4. Berani Mengkritik Ekstremisme (Courageous)
Ciri:
- Tidak takut dikafirkan kelompok radikal
- Tegas menolak terorisme, khilafahisme, takfirisme
- Vokal membela hak minoritas
Contoh: KH. Said Aqil Siradj (PBNU): Sering dikritik kelompok radikal karena dianggap “terlalu liberal,” tapi tetap konsisten kampanye Islam Nusantara.
5. Hidup Sederhana (Humble)
Ciri:
- Tidak hidup mewah (tidak kontras dengan ajaran agama)
- Dekat dengan rakyat kecil
- Tidak korup (banyak tokoh agama yang terlibat korupsi = merusak kredibilitas)
Contoh: Buya Syafii Maarif (Mantan Ketua PP Muhammadiyah): Hidup sederhana, rumahnya tidak mewah, tapi pengaruhnya luar biasa.
Strategi Tokoh Agama dalam Moderasi
A. Dakwah Kultural (Cultural Preaching)
Prinsip: Menyesuaikan dakwah dengan budaya lokal (tidak memaksakan budaya Arab/Timur Tengah)
Contoh: Walisongo: Berdakwah dengan wayang, gamelan, baju lokal (bukan jubah Arab). Hasilnya: Islam diterima tanpa resistensi.
Kontemporer: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): Dakwah dengan musik, puisi, diskusi santai. Audience-nya lintas agama.
B. Fatwa yang Membumi (Grounded Fatwas)
Contoh:
Fatwa tentang Vaksin COVID-19 (MUI 2021):
- Vaksin halal dan wajib (untuk lindungi diri dan orang lain)
- Konteks: Ada narasi anti-vaksin dari kelompok tertentu
- Impact: Mayoritas Muslim jadi mau vaksin
Fatwa tentang Lingkungan (MUI 2014):
- Merusak lingkungan adalah dosa
- Konteks: Indonesia krisis ekologi
- Impact: Pesantren mulai program hijau (eco-pesantren)
C. Kampanye Digital (Digital Preaching)
Platform:
- YouTube: Video ceramah, tanya jawab
- Instagram/TikTok: Konten pendek, menarik
- Twitter/X: Statement cepat tentang isu aktual
- Podcast: Diskusi mendalam
Contoh Tokoh Digital:
- Felix Siauw: 3 juta followers, konten moderat (meski awal karir sempat kontroversial)
- Ustadz Hanan Attaki: 8 juta followers, dakwah anak muda dengan bahasa gaul
- Pdt. Gilbert Lumoindong: Pendeta Kristen dengan konten inspiratif lintas agama
Strategi Konten:
- Short video (1-3 menit) untuk viralitas
- Storytelling (bukan ceramah kaku)
- Respon isu trending (misal: saat ada hoax, langsung debunk)
D. Kolaborasi Lintas Iman (Interfaith Collaboration)
Bentuk:
- Dialog Publik: Tokoh Muslim-Kristen-Hindu diskusi tema universal (misal: keadilan sosial)
- Aksi Sosial Bersama: Baksos ke panti asuhan, bantuan bencana
- Publikasi Bersama: Buku atau artikel co-author lintas agama
Contoh: Gusdurian Network & Komunitas Lintas Iman: Tokoh NU kolaborasi dengan Kristen, Hindu, Buddha untuk advokasi HAM dan toleransi.
E. Pendidikan Kader (Cadre Education)
Program:
- Pelatihan Da’i Muda: NU dan Muhammadiyah punya program training dai moderat
- Pesantren Moderat: Tebuireng, Gontor, Daarut Tauhiid fokus pada santri yang moderat
- Sekolah Pastoral: Untuk calon pendeta yang inklusif
Output: Generasi tokoh agama masa depan yang sudah tercetak moderat.
Tantangan Tokoh Agama Moderat
1. Dikafirkan Kelompok Radikal
Realitas: Tokoh moderat sering difitnah sebagai “liberal,” “kafir,” atau “antek Barat.”
Contoh:
- Gus Dur: Dikritik habis-habisan karena bela Ahmadiyah
- Quraish Shihab: Dituduh menyimpang karena tafsirnya terlalu rasional
- KH. Mustofa Bisri (Gus Mus): Dijuluki “munafik” karena kritik kelompok radikal
Dampak Psikologis: Tekanan mental, ancaman fisik (ada tokoh yang dapat death threat).
Solusi:
- Dukungan Legal: Pemerintah lindungi tokoh moderat
- Solidaritas: Tokoh moderat lain beri dukungan moral
- Tidak Mundur: Tetap konsisten meski dikritik
2. Kompetisi dengan Tokoh Radikal yang “Lebih Seksi”
Realitas: Dakwah radikal seringkali lebih menarik:
- Sederhana (hitam-putih, tidak ada grey area)
- Heroik (jihad, syahid, surga)
- Eksklusif (kita vs mereka)
Sementara dakwah moderat:
- Kompleks (banyak nuansa)
- Tidak heroik (damai, dialog, kompromis)
- Inklusif (kurang identitas kuat)
Solusi:
- Reframing: Moderasi bukan “lunak,” tapi “bijak”
- Storytelling: Cerita tokoh moderat yang heroik (misal: Walisongo, Gus Dur)
- Visual Menarik: Konten digital yang tidak kalah keren
3. Kooptasi Politik
Realitas: Tokoh agama sering dijadikan alat politik. Ada yang jadi “jurubicara partai” kehilangan independensi.
Contoh: Beberapa kiai/pendeta ikut kampanye dengan cara intoleran (misal: kampanye anti-calon non-pribumi).
Solusi:
- Independensi: Tokoh agama harus menjaga jarak dengan politik praktis
- Kriteria Dukungan: Jika dukung calon, karena track record, bukan transaksional
- Transparansi: Jangan terima dana politik yang bikin terkooptasi
4. Generational Gap
Realitas: Tokoh agama senior (60+ tahun) seringkali tidak paham media digital, bahasa anak muda, isu kontemporer.
Dampak: Anak muda cari rujukan di influencer online (yang belum tentu moderat).
Solusi:
- Regenerasi: Cetak tokoh muda yang moderat dan melek digital
- Kolaborasi: Tokoh senior + influencer muda (co-create konten)
- Adaptasi: Tokoh senior belajar teknologi (banyak kiai sekarang punya YouTube)
Studi Kasus Tokoh Agama Moderat
Kasus 1: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Profil:
- Ketua PBNU (1984-1999), Presiden RI (1999-2001)
- Tokoh Islam liberal, pluralis
Kontribusi Moderasi:
- Membela hak minoritas (Tionghoa, Ahmadiyah, LGBT—kontroversial tapi konsisten)
- Dialog lintas iman (teman akrab Pastor, Rabbi, Biksu)
- Humor sebagai senjata (kritik dengan cerdas, tidak kasar)
Legacy:
- Gusdurian Network (ribuan anak muda melanjutkan perjuangannya)
- Budaya NU yang toleran hingga kini
Lesson Learned: Keberanian dan konsistensi = pengaruh jangka panjang.
Kasus 2: Pdt. Dr. Stephen Tong
Profil:
- Pendeta Reformed Injili, penginjil internasional
- Pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII)
Kontribusi Moderasi:
- Meski konservatif teologis, tapi tidak anti-Muslim
- Sering dialog dengan tokoh Islam (misal: diskusi dengan Din Syamsuddin)
- Mengajarkan umat Kristen untuk menghormati Islam tanpa kompromi iman
Pendekatan: “Teguh dalam iman, lembut dalam sikap” (firm in faith, gentle in manner).
Kasus 3: Bhiksu Ashin Jinarakkhita
Profil:
- Pelopor kebangkitan Buddhisme di Indonesia pasca-kemerdekaan
- Pendiri Sangha Theravada Indonesia
Kontribusi Moderasi:
- Aktif dialog Buddha-Islam sejak 1950-an
- Menerjemahkan kitab Buddha ke bahasa Indonesia (aksesibilitas)
- Guru spiritual lintas agama (muridnya ada yang Muslim, Kristen)
Legacy: Buddhisme Indonesia sangat toleran, tidak ada konflik Buddha-Islam yang signifikan.
Rekomendasi untuk Tokoh Agama
1. Continuous Learning
Apa yang Harus Dipelajari:
- Tafsir Kontemporer: Tidak cukup ilmu klasik, perlu update
- Isu Global: Perubahan iklim, AI, teknologi—bagaimana agama merespons?
- Komunikasi Modern: Public speaking, video editing, social media strategy
Cara:
- Ikut short course, seminar
- Baca buku/jurnal terkini
- Belajar dari tokoh muda
2. Build Coalition
Dengan Siapa:
- Tokoh agama moderat lain (lintas agama)
- Akademisi (untuk rigor intelektual)
- Aktivis HAM (untuk grounded advocacy)
- Pemerintah (untuk policy impact)
Bentuk:
- Deklarasi bersama saat ada isu sensitif
- Joint program (misal: baksos bareng lintas agama)
- Lobby pemerintah untuk kebijakan inklusif
3. Leverage Technology
Platform:
- Website pribadi (sebagai hub konten)
- YouTube (video jangka panjang)
- Instagram/TikTok (konten pendek, viral)
- Podcast (diskusi mendalam)
Tim: Tokoh tidak harus jago teknologi, tapi punya tim:
- Content creator
- Video editor
- Social media manager
4. Mentoring Next Generation
Program:
- Setiap tokoh senior punya 5-10 anak asuh (calon tokoh muda)
- Transfer knowledge (teologi + strategi dakwah)
- Transfer network (kenalkan ke tokoh lain, donor, media)
Output: Regenerasi tokoh moderat yang sustain.
Kesimpulan
Tokoh agama memiliki peran vital sebagai agen moderasi beragama. Dengan moral authority yang luar biasa, mereka bisa membentuk opini, mengubah perilaku, dan memediasi konflik.
Kunci sukses:
- Pengetahuan luas + kearifan lokal
- Berani dan konsisten
- Adaptif dengan zaman
- Kolaboratif, tidak eksklusif
Dengan semakin banyak tokoh agama moderat yang vokal, Indonesia akan lebih resilien terhadap radikalisme dan intoleransi.
FAQ
1. Bagaimana cara membedakan tokoh agama moderat dan radikal?
Moderat: Terbuka dialog, tidak mudah kafirkan orang, dukung NKRI, hormati perbedaan
Radikal: Eksklusif, klaim kebenaran tunggal, anti-Pancasila, justifikasi kekerasan
2. Apakah tokoh agama boleh berpolitik?
Boleh, tapi harus hati-hati:
- Jangan sampai terkooptasi (jadi alat kampanye intoleran)
- Jaga independensi moral
- Kriteria dukungan jelas (track record, bukan uang)
3. Bagaimana jika tokoh agama saya radikal?
- Cari rujukan alternatif (tokoh moderat lain)
- Tidak perlu konfrontasi langsung (bisa bahaya)
- Laporkan jika ada indikasi hasutan/terorisme (ke BNPT/Polri)
4. Apakah tokoh agama harus punya gelar formal?
Tidak wajib. Yang penting: pengetahuan, integritas, pengaruh. Banyak tokoh karismatik tanpa gelar formal tapi sangat berpengaruh.
5. Bagaimana peran tokoh agama perempuan?
Sangat penting, tapi seringkali underrepresented. Perlu lebih banyak nyai, pastorin, bhikkhuni yang vokal.
6. Apakah tokoh agama boleh kritik pemerintah?
Boleh, bahkan kewajiban moral jika pemerintah zalim. Tapi kritik harus:
- Berbasis fakta
- Konstruktif (bukan sekadar complain)
- Tidak menghasut kekerasan
7. Bagaimana tokoh agama merespons konversi agama?
- Hormati hak individu (freedom of religion)
- Pastikan tidak ada paksaan
- Jika keluarga konflik, mediasi dengan bijak
8. Apakah tokoh agama perlu bayaran?
Tergantung. Jika full-time (tidak punya pekerjaan lain), wajar dapat honorarium. Tapi tidak boleh komersial berlebihan (misal: jual “air zam-zam palsu”).
9. Bagaimana tokoh agama menangani isu LGBT?
Dilema: Agama mayoritas menolak, tapi HAM mendukung. Tokoh moderat biasanya:
- Tegas soal teologi (LGBT = dosa menurut kitab suci)
- Tapi lembut soal HAM (tidak dukung kekerasan/diskriminasi)
10. Apa yang bisa awam lakukan untuk dukung tokoh moderat?
- Follow media sosial mereka
- Share konten mereka (amplify suara moderat)
- Donasi (jika ada program sosial)
- Doa dan dukungan moral
Artikel Terkait:
- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam Menjaga Toleransi
- Penyelesaian Konflik Keagamaan: Mediasi Berbasis Moderasi
- Moderasi Beragama dalam Keluarga: Mendidik Anak dengan Nilai Toleransi
- Moderasi Beragama di Masyarakat
Sumber:











