Share

Urutan wirid dan dzikir setelah shalat fardhu yang diajarkan Nabi ﷺ berdasarkan hadis shahih

10 Dzikir Setelah Shalat Lengkap Beserta Dalil, Arab & Artinya

Pendahuluan

Shalat adalah puncak ibadah seorang Muslim—komunikasi langsung antara hamba dan Allah ﷻ. Namun Nabi ﷺ mengajarkan bahwa momentum ibadah itu tidak berakhir saat salam terucap. Ada rangkaian dzikir setelah shalat yang menjadi penyempurna dan perpanjangan dari shalat itu sendiri—sebuah oase ketenangan spiritual di antara kesibukan dunia.

Sayangnya, banyak Muslim yang langsung berdiri dan pergi setelah salam—melewatkan salah satu momen paling berharga dalam hari mereka. Padahal, Nabi ﷺ secara rutin mengamalkan wirid setelah shalat dan menyebutkan keutamaan-keutamaannya yang luar biasa dalam hadis-hadis yang shahih.

Artikel ini menyajikan sepuluh dzikir setelah shalat yang paling utama—lengkap dengan teks Arab, latin, terjemahan, dalil, keutamaan, serta urutan mengamalkannya yang sesuai sunnah Nabi ﷺ.


Hukum dan Keutamaan Dzikir Setelah Shalat

Allah ﷻ berfirman:

﴿ فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ﴾

Fa iżā qaḍaytumuṣ-ṣalāta fażkurullāha qiyāman wa qu’ūdan wa ‘alā junūbikum

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring.” — (QS. An-Nisā’: 103)

Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ ثُمَّ قَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ… غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ »

“Barangsiapa bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali setelah setiap shalat…dan menyempurnakannya menjadi 100 dengan La ilaha illallah wahdahu la syarikalahu…diampunilah dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” — (HR. Muslim no. 597)


Urutan Dzikir Setelah Shalat yang Utama


Dzikir 1 — Istighfar Tiga Kali

Dimulai segera setelah salam:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (٣×)

Astaghfirullāh (3×)

“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3×)

Lalu dilanjutkan:

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Allāhumma antас-salāmu wa minkas-salāmu tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām

“Ya Allah, Engkaulah As-Salam (Yang Maha Sejahtera) dan dari-Mu keselamatan. Maha Berkah Engkau wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” — (HR. Muslim no. 591)


Dzikir 2 — La ilaha illallah wahdahu

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syay’in qadīr

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” — (HR. Muslim no. 594)

Keutamaan: Dibaca sekali setelah shalat Maghrib dan Subuh memiliki keutamaan khusus—Nabi ﷺ menyebutkan pahala yang sangat besar bagi yang membacanya sepuluh kali di dua waktu tersebut.


Dzikir 3 — Tasbih, Tahmid, Takbir (33×, 33×, 33×)

سُبْحَانَ اللَّهِ (٣٣×) Subḥānallāh (33×) “Maha Suci Allah.” (33×)

الْحَمْدُ لِلَّهِ (٣٣×) Alḥamdulillāh (33×) “Segala puji bagi Allah.” (33×)

اللَّهُ أَكْبَرُ (٣٣×) Allāhu Akbar (33×) “Allah Maha Besar.” (33×)

Lalu disempurnakan menjadi 100 dengan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

— (HR. Muslim no. 597)

Cara Menghitung: Nabi ﷺ menganjurkan menghitung dengan jari-jari tangan kanan—lebih utama dari tasbih/tasbih counter, karena jari-jari akan memberikan kesaksian di hari kiamat.


Dzikir 4 — Ayat Kursi

﴿ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ… ﴾ (QS. Al-Baqarah: 255 — dibaca lengkap)

Keutamaan:

“Barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” — (HR. an-Nasa’i — dishahihkan Ibn Hibban & al-Albani)


Dzikir 5 — Al-Mu’awwidzat (Setelah Subuh & Maghrib)

Setelah shalat Subuh dan Maghrib, Nabi ﷺ menganjurkan membaca:

﴿ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴾ (٣×) ﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴾ (٣×) ﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴾ (٣×)

— (HR. Abu Dawud no. 5082 — dihasankan al-Albani)


Dzikir 6 — Allahumma a’inni

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allāhumma a’innī ‘alā żikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik

“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” — (HR. Abu Dawud no. 1522 — dishahihkan al-Albani)

Nabi ﷺ mengajarkan doa ini secara khusus kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dan mewasiatkannya agar tidak pernah ditinggalkan setelah setiap shalat.


Dzikir 7 — Doa Perlindungan dari Empat Perkara

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Allāhumma innī a’ūżu bika minal-jubni wal-bukhli wa a’ūżu bika an urādda ilā arżalil-‘umuri wa a’ūżu bika min fitnatid-dunyā wa a’ūżu bika min ‘ażābil-qabr

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir; dari dikembalikan ke usia yang paling hina; dari fitnah dunia; dan dari azab kubur.” — (HR. Bukhari no. 6374)


Dzikir 8 — Doa Keselamatan Agama, Dunia & Akhirat

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ (٣×)

Allāhumma innī as’alukal-jannata wa a’ūżu bika minan-nār (3×)

“Ya Allah, aku memohon surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka.” (3×) — (HR. Abu Dawud no. 792 — dishahihkan al-Albani)


Dzikir 9 — Doa untuk Orang Tua dan Seluruh Mukminin

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Rabbighfir lī wa liwālidayya wa lil-mu’minīna yawma yaqūmul-ḥisāb

(QS. Ibrāhīm: 41)


Dzikir 10 — Penutup: Subhanaka Allahumma (Kafaratul Majlis)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Subḥānakallāhumma wa biḥamdika asyhadu allā ilāha illā anta astaghfiruka wa atūbu ilayk

“Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu.” — (HR. at-Tirmidzi no. 3433, Abu Dawud no. 4858 — dishahihkan al-Albani)


Urutan Praktis Dzikir Setelah Shalat

UrutanDzikirJumlah
1Istighfar
2Allahumma antas-salam
3La ilaha illallah wahdahu1× (10× setelah Subuh & Maghrib)
4Tasbih, Tahmid, Takbir33×, 33×, 33× + penutup
5Ayat Kursi
6Al-Mu’awwidzat (Subuh & Maghrib)
7Allahumma a’inni
8Doa perlindunganSesuai kebutuhan
9Doa untuk orang tua & mukminin
10Subhanaka Allahumma (penutup)

Estimasi waktu: Jika dibaca dengan tenang dan tidak terburu-buru, seluruh rangkaian di atas selesai dalam 5–8 menit.


Kondisi Khusus

a. Apakah dzikir harus dibaca dengan suara keras? Tidak. Dzikir setelah shalat boleh dibaca pelan-pelan, lirih, atau dalam hati. Membaca dengan suara sedang yang hanya terdengar diri sendiri adalah yang paling utama.

b. Bagaimana jika tidak hafal semua dzikir? Mulai dari yang paling utama: Dzikir 3 (Tasbih, Tahmid, Takbir 33×) dan Dzikir 4 (Ayat Kursi). Dua dzikir ini saja sudah luar biasa nilainya. Tambahkan satu per satu seiring hafalan bertambah.

c. Apakah dzikir ini wajib dilakukan segera setelah salam? Sangat dianjurkan langsung setelah salam dalam posisi duduk. Boleh dilakukan sambil berdiri atau berpindah tempat jika ada kebutuhan—namun nilai sunnah-nya lebih sempurna jika langsung dilakukan di tempat shalat.


Panduan Praktis

1. Konsistensi lebih penting dari kelengkapan. Lebih baik rutin membaca tiga dzikir setiap hari daripada membaca semua sepuluh tapi hanya sesekali. 2. Cetak atau simpan panduan di HP agar mudah dibaca sambil dihafal secara bertahap. 3. Gunakan jari untuk menghitung—bukan aplikasi atau tasbih semata—agar jari-jari menjadi saksi di akhirat. 4. Jangan berdiri buru-buru setelah salam. Jadikan lima menit pertama setelah salam sebagai zona khusus dzikir yang tidak bisa diganggu gugat. 5. Ajarkan kepada anak-anak sejak dini—mulai dari Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar 33× sebagai langkah pertama.


Kesimpulan

Dzikir setelah shalat adalah jembatan antara ibadah ritual dan kehidupan sehari-hari—jeda spiritual yang menjaga hati tetap terhubung dengan Allah bahkan saat kaki sudah melangkah kembali ke urusan dunia. Sepuluh dzikir di atas adalah warisan langsung Nabi ﷺ yang bersumber dari hadis-hadis shahih, bukan rekaan atau tradisi tanpa dalil. Dengan mengamalkannya secara konsisten, seorang Muslim membangun hubungan yang erat dengan Allah—shalat demi shalat, hari demi hari, hingga akhir hayat.


FAQ

1. Apakah dzikir setelah shalat boleh dibaca dalam bahasa Indonesia? Dzikir yang memiliki lafaz khusus dari hadis sebaiknya tetap dibaca dalam bahasa Arab agar lafaz aslinya terjaga. Namun doa-doa tambahan yang tidak memiliki lafaz baku boleh dibaca dalam bahasa Indonesia.

2. Apakah imam masjid yang langsung pergi setelah salam sah shalatnya? Sah. Dzikir setelah shalat adalah sunnah, bukan rukun atau syarat sah shalat. Meninggalkannya tidak membatalkan shalat, hanya kehilangan pahala yang sangat besar.

3. Bolehkah dzikir setelah shalat dibaca berjamaah dengan suara keras? Para ulama berbeda pendapat. Imam asy-Syafi’i dan Ibn Hazm membolehkan dzikir berjamaah dengan suara keras jika untuk tujuan pengajaran. Namun untuk pengamalan rutin, dzikir individual dengan suara lirih lebih sesuai sunnah.

4. Apakah ada dzikir khusus untuk shalat Jumat? Tidak ada dzikir khusus yang berbeda untuk shalat Jumat. Dzikir setelah shalat Jumat sama dengan shalat fardhu lainnya—dengan tambahan membaca Al-Mu’awwidzat jika ingin mendapat keutamaan khusus hari Jumat.

5. Apakah dzikir setelah shalat sunnah (rawatib, dhuha, dll.) sama dengan setelah shalat fardhu? Tidak ada riwayat khusus yang menetapkan dzikir tersendiri setelah shalat sunnah. Namun boleh membaca dzikir yang sama—pahalanya tetap ada, meskipun keutamaan yang disebutkan dalam hadis-hadis di atas secara spesifik merujuk pada shalat fardhu.


Referensi

Internal Linking:

External Linking:

Referensi Kitab:

  • Imam an-Nawawi, al-Aẓkār, Bab mā Yuqālu ba’da at-Taslīm
  • Sa’id al-Qaḥṭāni, Ḥiṣn al-Muslim, Bab Aẓkār ba’da as-Salām
  • Imam Ibn Qayyim, Zād al-Ma’ād, Juz I
  • Imam Ibn Hajar, Fatḥ al-Bārī, Juz II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca