Pendahuluan
Islam adalah agama ilmu. Perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi ﷺ bukan perintah shalat, bukan perintah puasa—melainkan perintah membaca:
﴿ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴾
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” — (QS. Al-‘Alaq: 1)
Namun Islam tidak hanya memerintahkan mencari ilmu—ia juga mengatur bagaimana cara mencarinya. Inilah yang disebut adab menuntut ilmu: seperangkat nilai dan sikap yang menjadi syarat keberkahan ilmu yang didapat.
Para ulama terdahulu menegaskan bahwa ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah—ada fisiknya, tetapi tidak memberikan manfaat yang seharusnya. Imam Malik rahimahullah berkata kepada seorang pemuda:
“Pelajari adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”
Artikel ini menyajikan sepuluh adab menuntut ilmu yang paling pokok—bersumber dari Al-Qur’an, hadis shahih, dan kitab-kitab adab ulama klasik—yang wajib diketahui dan diamalkan setiap Muslim yang ingin ilmunya berkah dan bermanfaat.
Keutamaan Menuntut Ilmu
« مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ »
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” — (HR. Muslim no. 2699)
« فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ »
“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang.” — (HR. Abu Dawud no. 3641 — dishahihkan al-Albani)

10 Adab Menuntut Ilmu dalam Islam
Adab 1 — Ikhlas Karena Allah (Niatan yang Benar)
Ini adalah adab yang paling mendasar dan paling menentukan. Ilmu yang dicari bukan untuk pamer, bukan untuk debat, bukan untuk mencari jabatan—melainkan semata-mata untuk ridha Allah, mengamalkannya, dan menyebarkan manfaatnya kepada sesama.
« مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »
“Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari demi ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi—ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” — (HR. Abu Dawud no. 3664 — dishahihkan al-Albani)
Adab 2 — Memuliakan Guru
Imam asy-Syafi’i berkata:
“Aku membalik halaman kitab di hadapan guruku (Imam Malik) dengan sangat pelan agar tidak terdengar suaranya—karena segan dan hormat kepadanya.”
Memuliakan guru bukan berarti taklid buta—melainkan mengakui bahwa ilmu yang diterima adalah amanah yang disampaikan melalui perantara yang berhak dihormati.
Adab 3 — Sabar dan Konsisten
Ilmu tidak bisa didapat dalam semalam. Imam Ibn Qayyim berkata:
“Ilmu tidak bisa diperoleh oleh orang yang malas dan tidak bisa diambil kecuali dengan kesungguhan yang panjang.”
Konsistensi kecil yang terjaga jauh lebih bernilai dari semangat besar yang sesaat. Murid yang belajar satu jam setiap hari selama setahun jauh lebih berhasil dari yang belajar dua belas jam sehari lalu berhenti.
Adab 4 — Mengamalkan Ilmu yang Sudah Dipelajari
Ilmu yang tidak diamalkan adalah bencana—ia menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya:
« مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ ثُمَّ لَا يُحَدِّثُ بِهِ كَمَثَلِ الَّذِي يَكْنِزُ الذَّهَبَ ثُمَّ لَا يُنْفِقُهُ »
“Perumpamaan orang yang belajar ilmu lalu tidak mengamalkannya seperti orang yang menimbun emas lalu tidak membelanjakannya.”
Setiap ilmu baru yang dipelajari segera tanyakan: “Bagaimana saya mengamalkan ini hari ini?”
Adab 5 — Rendah Hati dan Tidak Sombong
Sombong adalah musuh ilmu yang paling berbahaya. Allah ﷻ tidak memberikan ilmu-Nya kepada orang yang sombong:
﴿ سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ﴾
“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda kebesaran-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa hak.” — (QS. Al-A’rāf: 146)
Semakin seseorang berilmu, semakin ia sadar betapa banyak yang belum ia ketahui—inilah tanda ilmu yang berkah.
Adab 6 — Diam dan Mendengar saat Guru Berbicara
Allah ﷻ memerintahkan diam dan mendengar dengan saksama saat menerima ilmu:
﴿ وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا ﴾
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah.” — (QS. Al-A’rāf: 204)
Para ulama menerapkan adab ini bukan hanya untuk mendengarkan Al-Qur’an—tetapi juga saat mendengarkan guru. Murid yang terlalu banyak bicara tidak memberikan ruang bagi ilmu untuk masuk.
Adab 7 — Tidak Malu Bertanya
Diam karena malu saat tidak mengerti adalah musuh pemahaman yang sesungguhnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha memuji wanita-wanita Anshar dengan mengatakan:
« نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ »
“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar—rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami ilmu agama.” — (HR. Muslim no. 332)
Adab 8 — Menjaga Waktu dan Tidak Menyia-nyiakannya
Imam asy-Syafi’i membagi waktunya menjadi tiga: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk belajar, dan sepertiga untuk beribadah dan menulis. Penuntut ilmu yang mengeluh tidak punya waktu biasanya bukan tidak punya waktu—mereka tidak mengelola waktu dengan baik.
Adab 9 — Mendoakan Guru dan Orang-orang yang Telah Mengajar
Setiap kali ilmu yang pernah diajarkan seseorang bermanfaat, adalah adab yang mulia untuk mendoakan guru-guru yang telah mengajarkannya. Imam an-Nawawi dalam al-Aẓkār menyebutkan bahwa mendoakan guru adalah bentuk syukur atas ilmu yang telah diterima.
Adab 10 — Menyebarkan Ilmu kepada Orang Lain
Ilmu adalah titipan yang harus diteruskan. Penuntut ilmu yang menyimpan ilmunya sendiri tanpa berbagi adalah seperti orang yang menimbun harta tanpa membayar zakat.
« بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً »
“Sampaikan dariku meskipun satu ayat.” — (HR. Bukhari no. 3461)
Menyampaikan ilmu—meskipun hanya satu kalimat yang bermanfaat kepada satu orang—adalah amal jariyah yang terus mengalir.
Nasihat Ulama tentang Adab Menuntut Ilmu
Ibn al-Mubarak rahimahullah berkata:
“Aku menuntut ilmu adab selama tiga puluh tahun, dan aku menuntut ilmu (agama) selama dua puluh tahun.”
Imam asy-Syafi’i berkata:
“Barangsiapa tidak menjaga adab, ia tidak akan mendapat ilmu—atau mendapatkannya tetapi tidak bermanfaat.”
Imam Malik berkata kepada seorang pemuda:
“Pelajari adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”

Kondisi Khusus
a. Apakah adab menuntut ilmu berlaku untuk ilmu duniawi juga? Ya. Adab seperti ikhlas, konsisten, rendah hati, dan mengamalkan ilmu berlaku untuk semua jenis ilmu yang bermanfaat—termasuk ilmu sains, teknologi, kedokteran, dan bidang lainnya.
b. Bagaimana adab belajar di era digital (YouTube, podcast, online course)? Prinsipnya sama—yang berubah hanya medianya. Ikhlas, konsisten, tidak malu bertanya (di kolom komentar atau forum), dan mengamalkan ilmu yang didapat tetap wajib dijaga.
Panduan Praktis
1. Evaluasi niat sebelum mulai belajar—tanyakan: “Untuk apa aku belajar ini?” 2. Pilih guru atau sumber yang terpercaya—di era informasi, kualitas sumber adalah separuh dari adab menuntut ilmu. 3. Catat setiap ilmu baru yang diterima—tulisan adalah penjaga ingatan yang paling setia. 4. Amalkan sebelum menambah ilmu baru—lebih baik menguasai sedikit dan mengamalkannya daripada menghafal banyak tanpa pengamalan. 5. Jadikan belajar sebagai ibadah harian—bukan hanya saat ada ujian atau kebutuhan mendesak.
Kesimpulan
Adab adalah jiwa dari menuntut ilmu dalam Islam. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi kesombongan. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi alat menyesatkan. Namun dengan adab yang benar—ikhlas, rendah hati, konsisten, memuliakan guru, dan mengamalkan ilmu—setiap ilmu yang didapat akan menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju ridha Allah dan manfaat bagi sesama. Sepuluh adab di atas bukan sekadar aturan—ia adalah kompas yang membimbing perjalanan menuntut ilmu sepanjang hayat.
FAQ
1. Apakah wajib mencari guru langsung atau boleh belajar mandiri dari buku? Idealnya ada guru yang membimbing—terutama untuk ilmu agama—agar tidak salah memahami. Namun belajar mandiri dari buku juga dibolehkan, asal dari sumber yang terpercaya dan tetap berusaha mengkonfirmasi pemahaman kepada ahlinya.
2. Bagaimana adab kepada guru yang ternyata berakhlak buruk? Tetap ambil ilmunya jika ilmunya benar dan bermanfaat—namun tidak harus mengikuti akhlak buruknya. Para ulama mengajarkan: ambil ilmunya, bukan kelakuannya.
3. Apakah membayar guru wajib dalam Islam? Tidak wajib kecuali ada akad sebelumnya. Namun memberikan hadiah atau upah kepada guru sebagai bentuk penghargaan adalah sangat dianjurkan dan termasuk adab mulia.
4. Bagaimana adab murid jika berbeda pendapat dengan guru? Sampaikan dengan hormat dan dengan argumen yang baik—bukan dengan emosi atau penghinaan. Perbedaan pendapat ilmiah adalah hal yang sehat dan selalu ada dalam tradisi keilmuan Islam.
5. Apakah menuntut ilmu duniawi (kedokteran, teknik, hukum) sama pahalanya dengan ilmu agama? Jika diniatkan untuk ibadah dan kemaslahatan umat, ilmu duniawi pun bernilai ibadah. Seorang dokter yang belajar kedokteran karena ingin menolong sesama Muslim mendapat pahala setara dengan niatnya yang mulia.
Referensi
Artikel lain :
- Peran Guru dalam Islam
- Pendidikan Karakter Islami
- Etika Murid dalam Islam
- Pendidikan Pesantren
- Dzikir Pagi dan Petang Lengkap
Sumber :
- Rumaysho.com – Adab Menuntut Ilmu
- Almanhaj.or.id – Keutamaan dan Adab Thalabul Ilmu
- Islamweb.net – Ādāb Ṭālib al-‘Ilm
Referensi Kitab:
- Ibn Jama’ah, Tażkirat as-Sāmi’ wal-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wal-Muta’allim
- Imam al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz I
- Imam an-Nawawi, al-Majmū’, Muqaddimah
- Badr ad-Din az-Zarkasyi, al-Baḥr al-Muḥīṭ, Muqaddimah











