Share

Seorang Muslim mengawali hari dengan dzikir pagi sebagai perisai dan penyejuk jiwa sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.

50 DZIKIR PAGI DAN PETANG LENGKAP: ARAB, LATIN & KEUTAMAANNYA

1. PENDAHULUAN

Di antara amalan harian yang paling dicintai Allah Ta’ala dan paling banyak dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah dzikir pagi dan petang — yang dalam khazanah ulama dikenal dengan istilah Azkar al-Shabah wa al-Masa’. Bukan sekadar rutinitas spiritual, dzikir pagi dan petang adalah perisai rohani, penjaga jiwa, dan sumber ketenangan yang tak ternilai bagi seorang Muslim dalam menjalani hari.

Namun realitasnya, banyak Muslim yang belum menjadikan dzikir pagi dan petang sebagai amalan konsisten. Sebagian karena tidak hafal bacaannya, sebagian lagi karena tidak mengetahui keutamaannya yang luar biasa, dan sebagian lainnya tidak tahu kapan dan bagaimana cara yang benar mengamalkannya sesuai sunnah.

Artikel ini menyajikan panduan dzikir pagi dan petang secara lengkap — mulai dari pengertian, waktu pelaksanaan, keutamaan yang luar biasa, bacaan dzikir pagi dan petang dengan teks Arab, latin, dan terjemahan, hingga panduan praktis mengamalkannya secara konsisten. Semua bersumber dari hadis shahih dan penjelasan ulama muktabar.

Waktu terbaik dzikir pagi adalah antara Subuh hingga Dhuha, sedangkan dzikir petang dibaca antara Ashar hingga Maghrib.
Waktu terbaik dzikir pagi adalah antara Subuh hingga Dhuha, sedangkan dzikir petang dibaca antara Ashar hingga Maghrib.

2. PENGERTIAN DZIKIR PAGI DAN PETANG

Dzikir secara bahasa berasal dari kata Arab ذَكَرَ (dzakara) yang berarti mengingat atau menyebut. Secara istilah, dzikir adalah:

كُلُّ قَوْلٍ يُقَالُ فِيهِ تَعْظِيمُ اللهِ وَتَمْجِيدُهُ

Kullu qaulin yuqālu fīhi ta’zhīmullāhi wa tamjīduh

“Setiap ucapan yang di dalamnya terkandung pengagungan dan pemuliaan Allah.” (Al-Nawawi, Al-Adzkar)

Dzikir pagi dan petang secara khusus merujuk pada kumpulan bacaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk dibaca pada dua waktu istimewa dalam sehari:

WaktuNama ArabWaktu Pelaksanaan
Dzikir PagiAzkar al-ShabahSetelah Shalat Subuh hingga matahari meninggi (Dhuha)
Dzikir PetangAzkar al-Masa’Setelah Shalat Ashar hingga matahari terbenam (Maghrib)

3. HUKUM DZIKIR PAGI DAN PETANG

Hukum mengamalkan dzikir pagi dan petang adalah sunnah muakkadah — sunnah yang sangat ditekankan dan tidak pernah ditinggalkan Rasulullah ﷺ. Imam al-Nawawi dalam Al-Adzkar menjadikan dzikir pagi dan petang sebagai amalan prioritas yang wajib dijaga konsistensinya oleh setiap Muslim.


4. DALIL AL-QUR’AN DAN HADIS

📖 Dalil Al-Qur’an

Perintah berdzikir di pagi dan petang:

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَٰفِلِينَ

Wadzkur rabbaka fī nafsika tadharru’an wa khīfatan wa dūnal-jahri minal-qauli bil-ghuduwwi wal-āshāli wa lā takun minal-ghāfilīn

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)

Ayat ini adalah perintah langsung Allah Ta’ala untuk berdzikir di waktu pagi (ghuduww) dan petang (āshāl) — menjadi landasan kuat keutamaan dzikir pagi dan petang dalam Islam.


فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

Fa subhānallāhi hīna tumsūna wa hīna tushbihūn

“Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari.” (QS. Ar-Rum: 17)


📜 Dalil Hadis

Keutamaan dzikir pagi dan petang — hadis utama:

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

Man qāla hīna yushbihu wa hīna yumsī: ‘Subhānallāhi wa bihamdihī’ mi’ata marratin, lam ya’ti ahadun yaumal-qiyāmati bi’afdhala mimmā jā’a bihi illā ahadun qāla mitsla mā qāla au zāda ‘alaihi

“Barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ seratus kali di pagi hari dan di sore hari, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa sesuatu yang lebih utama darinya, kecuali seseorang yang mengucapkan seperti yang ia ucapkan atau lebih banyak.” (HR. Muslim no. 2692)


Hadis tentang dzikir sebagai pelindung:

مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى: بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ

Man qāla idzā ashbaha wa idzā amsā: ‘Bismillāhil-ladzī lā yadhurru ma’asmihi syai’un fil-ardhi wa lā fis-samā’i wa huwas-samī’ul-‘alīm’, tsalātsa marrātin, lam yadhurruhu syai’

“Barangsiapa membaca di pagi dan sore hari: ‘Bismillahilladzi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa la fis-sama’i wa huwas-sami’ul ‘alim’ tiga kali — maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya.” (HR. Abu Dawud no. 5088; Tirmidzi no. 3388 — hasan shahih)


5. PENJELASAN ULAMA

Imam al-Nawawi dalam Al-Adzkar — kitab paling otoritatif tentang dzikir dalam mazhab Syafi’i — mendedikasikan seluruh bab khusus untuk dzikir pagi dan petang. Beliau menegaskan bahwa dzikir pagi dan petang adalah “amalan yang paling mulia dan paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.”

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Al-Wabil al-Shayyib menggambarkan dzikir pagi dan petang sebagai “baju besi spiritual” — semakin kuat dan lengkap baju besi itu, semakin terlindungi sang pemakai dari gangguan setan dan musibah.

Ibnu Allan al-Shiddiqi dalam Al-Futuhat al-Rabbaniyah — syarh kitab al-Adzkar karya Imam Nawawi — menjelaskan bahwa konsistensi dalam dzikir pagi dan petang adalah tanda seorang hamba yang benar-benar mengenal dan mencintai Allah Ta’ala.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa dzikir pagi dan petang bagi hati bagaikan air bagi ikan — tanpanya, hati tidak bisa hidup dengan baik.


Menggunakan tasbih untuk menghitung dzikir adalah amalan yang diperbolehkan dan dipraktikkan ulama salaf dalam dzikir pagi dan petang.
Menggunakan tasbih untuk menghitung dzikir adalah amalan yang diperbolehkan dan dipraktikkan ulama salaf dalam dzikir pagi dan petang.

6. BACAAN DZIKIR PAGI DAN PETANG LENGKAP

🌅 DZIKIR PAGI (Setelah Subuh hingga Dhuha)


📿 Dzikir 1 — Ayat Kursi (1x)

اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ… (QS. Al-Baqarah: 255 — baca lengkap)

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)…”

Keutamaan: Siapa yang membaca Ayat Kursi setiap pagi, ia akan selalu dalam perlindungan Allah hingga petang. (HR. Hakim — dishahihkan)


📿 Dzikir 2 — QS. Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas (3x)

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ… (Al-Ikhlas) قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ… (Al-Falaq) قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ… (An-Nas)

Keutamaan: “Cukuplah bagimu membaca tiga surat ini tiga kali di pagi dan petang hari.” (HR. Abu Dawud no. 5082 — hasan)


📿 Dzikir 3 — Sayyidul Istighfar (1x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduk, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’ūdzu bika min syarri mā shana’tu, abū’u laka bini’matika ‘alayya, wa abū’u bidzanbī faghfirlī fa’innahū lā yaghfirudz-dzunūba illā ant

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”

Keutamaan: “Siapa yang membacanya di pagi hari dengan yakin, lalu meninggal dunia di hari itu sebelum petang — ia termasuk ahli surga.” (HR. Bukhari no. 6306)


📿 Dzikir 4 — Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir (100x / 33x tiap bacaan)

سُبْحَانَ اللهِ × 33 Subhānallāh — “Maha Suci Allah”

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ × 33 Alhamdulillāh — “Segala puji bagi Allah”

اَللهُ أَكْبَرُ × 33 Allāhu Akbar — “Allah Maha Besar”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ × 1

Lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr

“Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Keutamaan: Dosa-dosa diampuni meskipun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim no. 597)


📿 Dzikir 5 — Doa Perlindungan Pagi (1x)

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ

Allāhumma bika ashbahnā wa bika amsainā wa bika nahyā wa bika namūtu wa ilaikal-nusyūr

“Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki pagi, dengan-Mu kami memasuki petang, dengan-Mu kami hidup dan mati, dan kepada-Mu (kami) kembali.” (HR. Abu Dawud no. 5068 — hasan)


📿 Dzikir 6 — Doa Perlindungan dari Keburukan Hari (3x)

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillāhil-ladzī lā yadhurru ma’asmihi syai’un fil-ardhi wa lā fis-samā’i wa huwas-samī’ul-‘alīm

“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun yang membahayakan bersama nama-Nya, baik di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Abu Dawud no. 5088 — hasan shahih)


📿 Dzikir 7 — Ridha dengan Allah, Islam, dan Muhammad ﷺ (3x)

رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Radhītu billāhi rabban wa bil-islāmi dīnan wa bi-muhammadin shallallāhu ‘alaihi wa sallama nabiyyan

“Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai nabiku.”

Keutamaan: “Barangsiapa yang membacanya tiga kali, maka hak atas Allah untuk meridhainya di hari kiamat.” (HR. Ahmad — shahih)


🌇 DZIKIR PETANG (Setelah Ashar hingga Maghrib)

Dzikir petang (Azkar al-Masa’) pada dasarnya sama dengan dzikir pagi, dengan perubahan kata:

  • أَصْبَحْنَا (ashbahnā — kami memasuki pagi) diganti أَمْسَيْنَا (amsainā — kami memasuki petang)
  • حِينَ تُصْبِحُونَ diganti حِينَ تُمْسُونَ

Berikut dzikir petang yang khusus dibaca sore hari:


📿 Dzikir Petang 1 — Doa Petang Utama (1x)

اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Allāhumma bika amsainā wa bika ashbahnā wa bika nahyā wa bika namūtu wa ilaikal-mashīr

“Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki petang, dengan-Mu kami memasuki pagi, dengan-Mu kami hidup dan mati, dan kepada-Mu (kami) kembali.” (HR. Abu Dawud no. 5068)


📿 Dzikir Petang 2 — Doa Perlindungan Petang (1x)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Allāhumma innī amsaitu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika wa malā’ikataka wa jamī’a khalqika annaka antallāhu lā ilāha illā anta wahdaka lā syarīka laka wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasūluk

“Ya Allah, sesungguhnya aku memasuki petang dengan mempersaksikan Engkau, para malaikat pembawa Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu, bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.”

Keutamaan: Allah membebaskan seperempat dari api neraka bagi yang membacanya 4 kali. (HR. Abu Dawud no. 5069 — hasan)


📿 Dzikir Petang 3 — Istighfar Petang (100x)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullāha wa atūbu ilaihi

“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” × 100


7. KONDISI KHUSUS

a. Jika Terlewat Waktu Dzikir

Jika dzikir pagi terlewat hingga melewati waktu Dhuha, atau dzikir petang terlewat hingga malam — boleh tetap dibaca meskipun di luar waktu idealnya. Pahala tetap didapat, namun tidak sepenuhnya sama dengan membaca di waktu yang tepat.

b. Dzikir bagi yang Sangat Sibuk

Imam al-Nawawi dalam Al-Adzkar memberikan keringanan: bagi yang sangat sibuk, minimal bacalah:

  1. Ayat Kursi (1x)
  2. Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas (3x)
  3. Sayyidul Istighfar (1x)

Tiga poin ini sudah mencakup pokok dzikir pagi dan petang.

c. Dzikir dengan Suara atau dalam Hati

Dzikir pagi dan petang boleh dibaca dengan suara pelan (sirr) maupun dalam hati. Yang paling utama adalah yang sesuai dengan kondisi — jika di tempat ramai, boleh dalam hati; jika sendirian, bacalah dengan suara yang bisa didengar telinga sendiri.


8. PANDUAN PRAKTIS

✅ Tips Istiqamah dalam Dzikir Pagi dan Petang:

  1. Jadikan rutinitas pasca shalat — dzikir pagi langsung setelah Subuh, dzikir petang langsung setelah Ashar, sehingga tidak mudah terlupakan
  2. Gunakan aplikasi dzikir (seperti Hisnul Muslim) sebagai panduan di awal — sampai hafal secara bertahap
  3. Mulai dari yang minimal — jangan langsung ingin sempurna. Konsisten dengan 3 dzikir utama lebih baik daripada lengkap sekali lalu tidak pernah lagi
  4. Pahami maknanya — dzikir yang dihayati maknanya jauh lebih berkesan dan membekas di hati
  5. Ajak keluarga — dzikir pagi dan petang bersama keluarga akan saling mengingatkan dan memperkuat konsistensi

❌ Kesalahan yang Harus Dihindari:

  1. Membaca terlalu cepat tanpa memahami makna — dzikir bukan perlombaan kecepatan
  2. Melewatkan dzikir pagi karena tidur kembali setelah Subuh
  3. Menganggap dzikir petang tidak penting dan sering diabaikan
  4. Tidak konsisten — membaca penuh hari ini, lalu tidak sama sekali besok

9. KESIMPULAN

Dzikir pagi dan petang adalah amalan harian paling ringan namun berdampak paling besar dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam waktu 15–20 menit setiap pagi dan petang, seorang Muslim bisa mendapatkan perlindungan dari bahaya, ampunan dosa, ketenangan jiwa, dan pahala yang tak terhitung — semua melalui amalan dzikir pagi dan petang yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Imam al-Nawawi merangkumnya dengan indah: “Siapa yang menjaga dzikir pagi dan petang, ia telah menjaga agama, dunia, dan akhiratnya sekaligus.”

Mulailah hari ini — jangan tunda lagi. Baca juga doa bangun tidur dan dzikir setelah shalat untuk melengkapi amalan dzikir harian Anda. Semoga Allah menjadikan lisan kita selalu basah dengan dzikir kepada-Nya. Aamiin.


10. FAQ

❓ Kapan waktu terbaik membaca dzikir pagi dan petang? Waktu terbaik dzikir pagi adalah tepat setelah shalat Subuh hingga matahari meninggi sekitar pukul 08.00–09.00. Waktu terbaik dzikir petang adalah setelah shalat Ashar hingga sebelum Maghrib. Membaca di luar waktu ini tetap boleh dan berpahala, namun tidak maksimal.

❓ Apakah dzikir pagi dan petang harus lengkap semua? Jika tidak sempat bagaimana? Tidak harus semua dilakukan setiap hari jika kondisi tidak memungkinkan. Yang terpenting adalah konsistensi — lebih baik membaca dzikir pagi dan petang yang minimal secara rutin daripada lengkap sekali lalu tidak pernah. Imam Nawawi menyebut Ayat Kursi + 3 Qul + Sayyidul Istighfar sebagai dzikir inti yang wajib dijaga.

❓ Bolehkah membaca dzikir pagi dan petang menggunakan HP atau mushaf? Boleh, bahkan dianjurkan bagi pemula yang belum hafal. Membaca dari HP atau buku tidak mengurangi nilai dzikir. Yang penting adalah kehadiran hati dan pemahaman makna bacaan.

❓ Apakah ada perbedaan dzikir pagi dan dzikir petang? Mayoritas bacaan sama — hanya ada pergantian kata pagi/petang. Beberapa dzikir khusus petang seperti doa istisyhad (persaksian) juga ada. Referensi terlengkap adalah kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dan Hisnul Muslim karya Sa’id al-Qahthani.

❓ Apakah dzikir pagi dan petang perlu dalam kondisi suci (berwudhu)? Tidak wajib berwudhu untuk membaca dzikir pagi dan petang — ini bukan shalat. Namun dianjurkan dalam kondisi suci karena lebih menghormati nama-nama Allah yang disebutkan. Perempuan haid atau nifas pun tetap boleh dan sangat dianjurkan membaca dzikir pagi dan petang.


📚 REFERENSI

  1. Al-Nawawi, Yahya ibn Syaraf. Al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalam Sayyid al-Abrar. Dar al-Minhaj.
  2. Ibnu Allan al-Shiddiqi. Al-Futuhat al-Rabbaniyah ‘ala al-Adzkar al-Nawawiyah. Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi.
  3. Al-Qahthani, Sa’id ibn Ali. Hisnul Muslim min Adzkar al-Kitab wa al-Sunnah. Maktabah Dar al-Salam.
  4. Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Al-Wabil al-Shayyib min al-Kalim al-Thayyib. Dar al-Hadits.
  5. Al-Zuhayli, Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Dar al-Fikr.
  6. Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari. (Hadis no. 6306)
  7. Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. (Hadis no. 597, 2692)
  8. Abu Dawud. Sunan Abu Dawud. (Hadis no. 5068, 5069, 5082, 5088)
  9. Al-Tirmidzi. Sunan al-Tirmidzi. (Hadis no. 3388)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

Paling Banyak Dibaca