Pendahuluan
Setiap hari, seorang Muslim meninggalkan rumahnya untuk menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Perjalanan ke tempat kerja, ke pasar, ke sekolah — semua membawa potensi risiko yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan manusia. Namun Islam mengajarkan bahwa ada satu kalimat pendek yang, jika diucapkan dengan tulus saat melangkah keluar pintu, menghadirkan tiga penjagaan sekaligus dari Allah ﷻ: kecukupan, bimbingan, dan perlindungan.
Itulah doa keluar rumah — tiga kata yang mengubah setiap langkah menjadi ibadah dan setiap perjalanan menjadi perjalanan yang terlindungi.
Pengertian Doa Keluar Rumah
Doa keluar rumah adalah lafal dzikir yang dibaca seorang Muslim saat akan meninggalkan rumah menuju aktivitas apapun di luar. Ia bukan sekadar kebiasaan — ia adalah pernyataan tawakal (penyerahan diri) kepada Allah sebelum menghadapi hari, dan permohonan agar Allah menjadi pelindung dalam setiap langkah yang akan diambil.
Baca Juga :
doa masuk rumah yang mengundang berkah
Hukum Membaca Doa Keluar Rumah
Hukumnya sunnah muakkadah menurut mazhab Syafi’i. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan doa ini sebagai salah satu dzikir situasional yang paling penting untuk diamalkan setiap hari, karena kandungan maknanya yang sangat kuat — tawakal, permintaan hidayah, dan permohonan kecukupan — semuanya terkumpul dalam satu kalimat pendek.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Dalil Al-Qur’an — Perintah Tawakal
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Wa man yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Dalil Hadis Utama — Doa Keluar Rumah
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ — يُقَالُ لَهُ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ، وَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ
Idzā kharaja ar-rajulu min baitihi fa qāla: Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāhi, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhi — yuqālu lahu: Hudīta wa kufīta wa wuqīta, wa tatannaḥḥā lahus syayāṭīn
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda: ‘Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāhi lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh — maka dikatakan kepadanya: Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi. Dan para setan pun menyingkir darinya.'” (HR. Abu Dawud no. 5095, Tirmidzi no. 3426 — shahih)
5 Lafal Doa Keluar Rumah
Lafal 1 — Paling Shahih dan Lengkap (Riwayat Abu Dawud)
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāhi, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Abu Dawud no. 5095, Tirmidzi no. 3426 — shahih)
Lafal 2 — Dengan Tambahan Permohonan Perlindungan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
Allāhumma innī a’ūdzu bika an aḍilla au uḍālla, au azilla au uzālla, au aẓlima au uẓlama, au ajhala au yujhala ‘alayy
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari menzalimi atau dizalimi, dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan bodoh.” (HR. Abu Dawud no. 5094, Tirmidzi no. 3427 — shahih)
Lafal 3 — Ringkasan Doa Tawakal
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ
Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah.”
Lafal ini boleh dibaca sebagai versi ringkas bagi yang terburu-buru, namun lafal pertama lebih sempurna dan lebih utama.
Lafal 4 — Doa Gabungan Masuk-Keluar (dari Artikel #38)
بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا
Bismillāhi warajnā, wa bismillāhi kharajnā, wa ‘alallāhi rabbinā tawakkalnā
“Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Allah Tuhan kami, kami bertawakal.” (HR. Abu Dawud no. 5096 — shahih)
Lafal ini mencakup doa masuk dan keluar sekaligus, cocok dibaca saat keluar rumah sebagai rangkuman keduanya.
Lafal 5 — Doa Singkat Sehari-hari
حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Ḥasbiyallāhu wa ni’mal wakīl
“Cukuplah Allah bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)
Penjelasan Ulama Mazhab Syafi’i
Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa doa keluar rumah adalah salah satu dzikir terpenting yang menggabungkan tiga unsur ibadah sekaligus: penyebutan nama Allah (basmalah), pernyataan tawakal, dan pengakuan bahwa segala daya hanya milik Allah (lā ḥaula wa lā quwwata). Beliau menganjurkan agar doa ini dibaca dengan penghayatan penuh, bukan sekadar rutinitas lisan.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa tawakal yang benar bukan berarti pasif — ia adalah keyakinan hati bahwa segala sebab hanyalah alat, sementara Allah-lah penentu hasil. Membaca doa keluar rumah adalah manifestasi tawakal ini: kita keluar dengan usaha penuh, namun hati bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadis ini menyatakan bahwa hadis doa keluar rumah adalah salah satu hadis paling kuat dalam babnya dan diamalkan oleh para ulama sejak generasi pertama Islam.
5 Adab Keluar Rumah dalam Islam
Pertama, mendahulukan kaki kanan saat melangkah keluar pintu — ini adalah sunnah umum untuk semua aktivitas yang baik. Kedua, membaca doa keluar rumah sebelum atau tepat saat melangkah keluar. Ketiga, mengucapkan salam kepada penghuni rumah yang ditinggalkan sebagai bentuk perpisahan yang bermartabat dan doa keselamatan bagi mereka. Keempat, memastikan aurat sudah tertutup sempurna dan penampilan rapi sebelum keluar — ini bagian dari menjaga kehormatan seorang Muslim di ruang publik. Kelima, tidak keluar dalam keadaan marah atau emosi tidak stabil, karena kondisi hati yang tidak baik berpengaruh pada kualitas aktivitas di luar rumah.
Kondisi Khusus
Keluar dalam keadaan darurat atau tergesa-gesa: Tetap usahakan membaca lafal terpendek — bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh — meski sambil berjalan. Doa tidak harus dilakukan dalam keadaan diam. Keluar malam hari: Beberapa ulama menambahkan doa perlindungan khusus malam seperti ayat Kursi sebelum keluar malam. Keluar untuk perjalanan jauh: Gabungkan dengan doa safar untuk perjalanan jauh dan doa naik kendaraan untuk perlindungan yang lebih menyeluruh.
Panduan Praktis
Tempelkan lafal doa keluar rumah di bagian dalam pintu depan — tepat di posisi mata saat akan membuka pintu. Ini menciptakan visual cue yang mengingatkan secara otomatis sebelum keluar. Dalam tiga minggu pertama penggunaan, baca dengan suara pelan agar terekam oleh ingatan. Setelah hafal, cukup dibaca dalam hati dengan penghayatan penuh.
Kesimpulan
Tiga kalimat dalam doa keluar rumah menyimpan kekuatan luar biasa: bismillāh menghubungkan setiap langkah dengan Allah, tawakkaltu ‘alallāh menyerahkan hasil kepada-Nya, dan lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh mengakui bahwa kita tidak punya kekuatan apa pun tanpa-Nya. Hadis menjanjikan tiga hal bagi siapa yang membacanya: petunjuk, kecukupan, dan perlindungan. Tidak ada perlindungan perjalanan yang lebih baik dari ini. Pelajari juga doa masuk rumah yang mengundang berkah agar pergi dan pulangnya selalu dalam bingkai nama Allah.
FAQ
1. Apakah doa ini hanya untuk keluar rumah ke perjalanan jauh atau juga perjalanan pendek? Untuk semua perjalanan tanpa terkecuali — bahkan keluar ke halaman sebentar pun dianjurkan membacanya. Tidak ada batas jarak minimum.
2. Haruskah doa ini dibaca sebelum melangkah atau boleh saat sudah di luar? Lebih utama dibaca sebelum atau tepat saat melangkah keluar pintu. Jika lupa, baca segera setelah teringat meskipun sudah beberapa langkah dari pintu.
3. Bolehkah doa ini digabung dengan doa safar? Boleh dan sangat dianjurkan untuk perjalanan jauh — baca doa keluar rumah terlebih dahulu, lalu doa naik kendaraan, lalu doa safar secara berurutan.
4. Apakah setan benar-benar menyingkir ketika kita membaca doa ini? Ya, ini adalah khabar dari Rasulullah ﷺ yang wajib dipercaya. Namun perlindungan ini terkait dengan keikhlasan dan kekhusyukan dalam membacanya, bukan sekadar ritual lisan.
5. Bagaimana jika anggota keluarga yang belum terbiasa — apakah perlu diingatkan setiap hari? Cara terbaik adalah dengan mencontohkan, bukan sekadar mengingatkan. Jika setiap anggota keluarga melihat satu orang konsisten membacanya, kebiasaan itu akan menular secara alami.
Referensi
- Al-Nawawi, Yahya ibn Sharaf. Al-Adzkar. Dar al-Minhaj, Jeddah.
- Abu Dawud, Sulaiman ibn al-Asy’ats. Sunan Abi Dawud no. 5094–5096. Al-Maktabah al-Asriyyah.
- Al-Tirmidzi, Muhammad ibn Isa. Sunan al-Tirmidzi no. 3426–3427. Maktabah Mushthafa al-Babi al-Halabi.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin (Bab al-Tawakkul). Dar al-Ma’rifah, Beirut.
- Al-Haitami, Ibn Hajar. Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj. Al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra.











