Pendahuluan
Perjalanan jauh (safar) dalam Islam bukan sekadar berpindah tempat — ia adalah pengalaman spiritual yang penuh makna. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa safar adalah sepotong dari azab (qaṭ’atun minal-‘adzāb), karena dalam perjalanan seseorang meninggalkan kenyamanan, keluarga, dan rutinitas yang biasanya menjadi sandaran hidupnya.
Namun di sisi lain, safar juga adalah kesempatan untuk merenungkan kebesaran Allah, mempererat persaudaraan, dan mendapat pahala berlipat dari ibadah-ibadah yang dikerjakan dalam perjalanan.
Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan serangkaian doa safar yang menyelimuti seluruh perjalanan — dari saat keluar rumah, naik kendaraan, dalam perjalanan, saat tiba di tujuan, hingga kembali ke rumah. Panduan lengkap ini menyajikan seluruh doa tersebut dalam satu artikel yang komprehensif.
Pengertian Safar dalam Islam
Secara bahasa, safar (سَفَر) berarti perjalanan yang jauh. Secara fikih, safar memiliki definisi teknis yang penting karena berkaitan dengan rukhshah (keringanan) dalam ibadah — seperti shalat qashar, jama’, dan berbuka puasa. Dalam mazhab Syafi’i, batas minimal safar yang membolehkan rukhshah adalah perjalanan sejauh dua marhalah (sekitar 80–89 km) yang ditempuh dalam kondisi normal.
Namun doa safar berlaku untuk semua perjalanan — baik yang memenuhi syarat rukhshah maupun tidak, karena permohonan perlindungan Allah dalam perjalanan tidak terikat jarak.
Dalil Doa Safar
Dalil 1 — Doa Wada’ (Pelepasan) dari Keluarga dan Sahabat
Teks Arab:
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Latin:
Astawdi’ukallāhalladzī lā taḍī’u wadā’i’uh
Terjemahan:
“Aku titipkan kamu kepada Allah yang tidak pernah hilang titipan-titipan-Nya.”
📚 (HR. Ibnu Majah, no. 2825; Ahmad — dinilai hasan)
📌 Doa ini diucapkan oleh yang tinggal kepada yang berangkat safar, sebagai doa pelepasan yang penuh kasih.
Dalil 2 — Doa Berangkat Safar (Dari Rumah)
Teks Arab:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ
Latin:
Allāhumma innī a’ūdzu bika min wa’tsā’is-safar, wa ka’ābatil-manẓar, wa sū’il-munqalabi fil-māli wal-ahl
Terjemahan:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, dari pemandangan yang menyedihkan, dan dari keadaan yang buruk pada harta dan keluarga.”
📚 (HR. Muslim, no. 1343)
Dalil 3 — Doa Inti Safar (Saat Naik Kendaraan & Berangkat)
Doa ini telah dibahas lengkap di artikel Doa Naik Kendaraan. Dalam konteks safar, Rasulullah ﷺ menambahkan:
Teks Arab:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ
Latin:
Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hādzal-birra wat-taqwā wa minal-‘amali mā tarḍā, Allāhumma hawwin ‘alaynā safaranā hādzā waṭwi ‘annā bu’dah, Allāhumma antas-ṣāḥibu fis-safar wal-khalīfatu fil-ahl, Allāhumma innī a’ūdzu bika min wa’tsā’is-safar wa ka’ābatil-manẓar wa sū’il-munqalabi fil-māli wal-ahl
Terjemahan:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (penjaga) bagi keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keadaan buruk pada harta dan keluarga.”
📚 (HR. Muslim, no. 1342; Abu Dawud, no. 2598)
Dalil 4 — Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat
Teks Arab:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Latin:
A’ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq
Terjemahan:
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua yang Dia ciptakan.”
📚 (HR. Muslim, no. 2708)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa singgah di suatu tempat dan mengucapkan doa ini, tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya hingga ia meninggalkan tempat tersebut.”
Dalil 5 — Doa Kembali dari Safar
Teks Arab:
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
Latin:
Āyibūna tā’ibūna ‘ābidūna lirabbinā ḥāmidūn
Terjemahan:
“Kami kembali, bertaubat, beribadah, dan memuji kepada Tuhan kami.”
📚 (HR. Bukhari, no. 1797; Muslim, no. 1344)
Rasulullah ﷺ senantiasa membaca doa ini setiap kali kembali dari perjalanan — menggabungkannya dengan takbir di setiap ketinggian jalan.
Penjelasan Ulama Mazhab Syafi’i
Imam an-Nawawi dalam al-Majmū’ membahas secara khusus adab-adab safar dan menegaskan bahwa doa safar adalah salah satu amalan yang paling dianjurkan sebelum berangkat — bahkan beliau menyebutkan bahwa meninggalkan doa safar adalah bentuk kecerobohan yang tidak layak bagi seorang Muslim yang mengerti.
Beliau juga mencatat bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berangkat dalam satu pun perjalanan tanpa melepas dengan doa dan membekali sahabatnya dengan doa wada’ — menunjukkan betapa pentingnya amalan ini.
Imam ar-Ramli dalam Nihāyatul Muḥtāj menegaskan bahwa doa kembali dari safar (āyibūna tā’ibūna) adalah sunnah yang sangat kuat, karena diriwayatkan secara mutawatir dari berbagai sahabat. Beliau juga mengutip bahwa Rasulullah ﷺ menambahkan takbir di setiap bukit atau ketinggian, dan tasbih di setiap lembah atau turunan, dalam perjalanannya.
Adab Safar dalam Islam
1. Memilih teman safar yang shalih Rasulullah ﷺ menganjurkan agar tidak safar sendirian jika memungkinkan, dan memilih teman perjalanan yang baik agamanya karena ia akan mempengaruhi kualitas ibadah selama perjalanan.
2. Memberitahu keluarga Sebelum berangkat, wajib memberitahu keluarga tentang tujuan dan perkiraan kepulangan.
3. Menyegerakan kembali setelah urusan selesai Rasulullah ﷺ bersabda:
“Safar adalah sepotong dari azab… Maka apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusannya, hendaklah ia segera kembali ke keluarganya.” 📚 (HR. Bukhari, no. 1804)
4. Memperbanyak doa selama perjalanan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa doa musafir termasuk doa yang mustajab (tidak tertolak) — bersama doa orang yang berpuasa dan doa orang yang teraniaya. 📚 (HR. Abu Dawud, no. 1536 — dinilai hasan)
5. Menjaga shalat dalam perjalanan Mengqashar dan menjama’ shalat sesuai ketentuan fikih, serta tidak meninggalkan shalat meskipun dalam kondisi safar yang berat.
Panduan Praktis: 7 Amalan Safar yang Lengkap
| Waktu | Amalan | Dalil |
|---|---|---|
| Sebelum berangkat | Doa perlindungan dari kesulitan safar | HR. Muslim 1343 |
| Kepada yang ditinggal | Doa wada’: astawdi’ukallāh | HR. Ibnu Majah 2825 |
| Naik kendaraan | Basmalah + takbir 3x + subhānalladzī | HR. Muslim 1342 |
| Saat berangkat | Doa inti safar lengkap | HR. Muslim 1342 |
| Singgah di tempat baru | A’ūdzu bikalimātillāh | HR. Muslim 2708 |
| Mendekati tujuan | Perbanyak takbir & doa | HR. Bukhari 1797 |
| Kembali pulang | Āyibūna tā’ibūna | HR. Bukhari 1797 |
Kesimpulan
Doa safar adalah paket perlindungan spiritual terlengkap yang diajarkan Islam — menyelimuti setiap tahap perjalanan dari awal hingga akhir. Tujuh amalan safar yang disebutkan dalam artikel ini adalah warisan Rasulullah ﷺ yang menjamin setiap Muslim yang mengamalkannya mendapat penjagaan Allah, kemudahan jalan, dan keberkahan perjalanan dari-Nya.
FAQ
Q1: Apakah doa safar hanya untuk perjalanan antar kota atau juga untuk perjalanan sehari-hari? Secara terminologi, safar merujuk pada perjalanan jauh. Namun doa perjalanan boleh diamalkan untuk perjalanan sehari-hari sebagai bentuk tawakkal. Yang wajib adalah untuk safar jauh; yang sunnah tetap berlaku untuk semua perjalanan.
Q2: Bolehkah berdoa safar dalam bahasa Indonesia jika tidak hafal doa Arab? Boleh berdoa dalam bahasa apa pun. Namun sangat dianjurkan untuk menghafal doa Arab karena itu yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan lebih afdal. Mulailah dengan menghafal doa yang pendek seperti āyibūna tā’ibūna.
Q3: Apakah doa safar berlaku juga untuk umrah dan haji? Ya, bahkan lebih dianjurkan lagi. Untuk perjalanan ibadah seperti umrah dan haji, doa safar menjadi sangat penting karena perjalanan tersebut adalah perjalanan menuju rumah Allah.
Referensi
- HR. Bukhari, no. 1797, 1804
- HR. Muslim, no. 1342, 1343, 1344, 2708
- HR. Abu Dawud, no. 1536, 2598, 2602
- HR. Ibnu Majah, no. 2825
- Imam an-Nawawi, al-Majmū’, Juz 4; al-Adhkār, Bab Safar
- Imam ar-Ramli, Nihāyatul Muḥtāj, Juz 2
- Sunnah.com — Doa Safar Muslim 1342
- Islamqa.info — Doa Safar











